
Kehidupan Cinta dan Arya kini semakin bahagia, mereka menjalani hari dengan penuh cinta. Arya yang tulus mencintai Cinta selalu menjaga kehormatannya.
Arya kini mengabdikan diri di Puskesmas yang tidak jauh dari kediamannya, karena jaraknya yang dekat Arya selalu berjalan kaki menuju Puskesmas sekalian berolahraga. dan ketika Arya lewat semua mata perempuan yang tinggal di daerah sana selalu jelalatan melihat pesona sang Dokter.
"Sayang mas berangkat kerja dulu ya," ujar Arya.
Cinta pun kini mengantarkan Arya sampai ke depan rumah dengan membawakan tas kerjanya.
"Hati-hati ya mas nanti takutnya ada yang nyulik," canda Cinta yang sengaja meninggikan suaranya karena melihat Ibu-ibu di depan rumahnya sudah bersiap untuk menggoda Arya, meski pun dengan pura-pura membeli sayuran.
Arya yang sudah mengerti maksud Cinta pun tersenyum mendengar perkataannya. Kemudian Arya merangkul tubuh Cinta menuju Ibu-ibu yang kini sedang berbelanja sayuran.
"Sayang bukannya mau belanja sayuran ya?" tanya Arya.
"Iya mas, ya sudah mas hati-hati ya di jalan," ujar Cinta dengan mencium punggung tangan Arya, dan Arya membalasnya dengan mencium kening Cinta sehingga membuat Ibu-ibu yang berada di sana membulatkan matanya.
"Kalau udah beli sayurannya cepetan masuk rumah ya sayang, awas matanya jangan nakal liatin Suami orang !" sindir Arya kepada Ibu-ibu yang sedang membeli sayuran sehingga Cinta pun tersenyum mendengarnya.
"Duh Neng Cinta beruntung banget ya punya suami Dokter, udah gitu ganteng lagi," ujar salah satu Ibu-ibu yang memilih sayuran.
"Kadang rumput tetangga memang selalu terlihat hijau Bu, tapi sebaiknya seorang Istri memelihara rumputnya sendiri di rumah," jawab Cinta sehingga membuat ibu tersebut menjadi malu.
"Oh ya Cinta, katanya denger-denger Dokter Arya ngambil jurusan Spesialis juga ya, mau donk penyakit sakit jantung saya di obati," celetuk seorang perempuan yang berstatus janda.
"Nanti ya Mbak kalau sudah ada pisaunya saya suruh Suami saya buat periksa penyakitnya," ujar Cinta.
"Lho kenapa harus pakai pisau?" tanya perempuan tersebut.
"Soalnya Suami saya ngambil jurusannya kan Spesial bedah, jadi kalau mau di obati sama mas Arya ya harus di buka dulu jantungnya pake pisau bedah," jawab Cinta sehingga membuat janda ganjen tersebut menelan salivanya.
"Kalau begitu saya gak jadi berobat sama Dokter Arya deh," ujar Janda ganjen dengan berlari dari sana sehingga membuat Cinta tersenyum. Dan akhirnya Ibu-ibu tersebut membubarkan diri ke rumah masing-masing.
"Harap maklum ya Neng Cinta, Ibu-ibu di sini memang pada jelalatan kalau lihat Pria ganteng," ujar penjual sayur.
"Iya gak apa-apa Mang, Suami saya juga gak bakalan pernah tergoda," ujar Cinta dengan tersenyum.
__ADS_1
"Tapi Neng Cinta hebat bisa membuat Ibu-ibu merasa malu," ujar penjual sayur.
"Saya tidak berniat mempermalukan siapa pun Mang, tapi saya hanya mencoba mengingatkan saja," jawab Cinta.
Kemudian Cinta pun kembali masuk ke dalam rumah setelah membayar belanjaannya, serta mengucapkan Salam kepada tukang sayuran.
***
Waktu makan siang pun tiba, tapi tidak seperti biasanya Arya belum pulang juga ke rumahnya, sampai akhirnya Cinta memutuskan untuk menelpon Arya.
Assalamu'alaikum Mas, kenapa mas belum pulang untuk makan siang? tanya Cinta.
Wa'alaikumsalam, sayang maaf ya mas sekarang sedang sibuk di Puskesmas, jadi gak bisa pulang, kamu makan aja duluan ya, biar nanti mas makannya pulang kerja aja," jawab Arya.
Kasihan sekali Suamiku, saking sibuk kerja sampai gak bisa makan siang, kalau begitu lebih baik aku anterin makanan aja ke Puskesmas, sekalian makan di sana juga, gumam Cinta. Lalu kemudian dia bergegas berangkat ke Puskesmas mengantarkan makanan untuk Arya.
Ketika Cinta berada di depan ruang praktek Arya dia bertemu dengan seseorang yang wajahnya begitu familiar, tapi Cinta sama sekali tidak mengingatnya.
"Heh Anak pungut, ngapain kamu berkeliaran di tempat ini !" ujar perempuan paruh baya tersebut, tapi Cinta tidak mengerti dengan maksud pembicaraannya.
"Maaf apa Anda mengenal saya?" tanya Cinta.
Tiba-tiba Arya keluar karena mendengar keributan di depan ruangannya.
"Maaf ada apa ya kok ribut-ribut?" tanya Arya.
"Maaf Dokter, ini saya ketemu sama keponakan saya yang tidak tahu diri, tapi dia malah sok_soan gak ngenalin saya," ujar Surti pada Arya.
"Mungkin Ibu salah orang, karena ini Istri saya," ujar Arya dengan merangkul tubuh Cinta. Sehingga Surti dan Suaminya pun kini merasa malu lalu kemudian meminta maaf.
"Maaf ya Neng, saya sudah salah mengenali orang," ujar Surti yang kini salah tingkah.
"Iya tidak apa-apa Bu, tapi sebaiknya lain kali Ibu tanya dulu secara baik-baik jangan asal marahin orang," jawab Cinta dengan tersenyum.
Aneh banget, masa iya ada orang yang bisa sama persis tanpa perbedaan sedikit pun, ujar Surti dalam hati.
__ADS_1
"Sayang kenapa repot-repot datang kesini segala? nanti kan mas makannya bisa pas pulang kerja aja," ujar Arya yang kini merangkul Cinta untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Nanti mas keburu pingsan kalau nungguin pulang kerja, mas sih gak pernah mau makan masakan orang lain," ujar Cinta dengan memeluk tubuh Arya.
"Terimakasih ya sayang kamu sudah repot-repot datang ke sini, gak tau kenapa sejak mas makan masakan kamu, mas jadi gak suka masakan orang lain," ujar Arya yang kini membalas pelukan Cinta dengan erat.
"Ya sudah ayo kita makan dulu mungpung makanannya masih anget," ajak Cinta.
"Lho kok aku bawa sendoknya cuma satu ya," ujar Cinta.
"Asyik donk jadi ada alasan buat mas supaya bisa di suapi sama Istri mas yang cantik ini," ujar Arya dengan tersenyum.
"Ya sudah aku suapi deh Suamiku yang ganteng ini, Pak Dokter Idola semua perempuan," jawab Cinta.
"Yang penting kan hati mas cuma buat kamu seorang," goda Arya sehingga membuat wajah Cinta merah merona.
"Baca do'a dulu mas, jangan gombal terus, nih aku suapi, ayo buka mulutnya !" ujar Cinta yang kini memasukan makanan ke dalam mulut Arya.
"Aku beruntung banget ya, udah punya Istri cantik, pinter masak lagi, jadi makin Cinta deh," ujar Arya yang tidak hentinya menatap wajah Cinta.
"Jangan muji terus mas, aku kan jadi mau, eh malu maksudnya," ujar Cinta, sehingga Arya kini mendekatkan wajahnya dengan wajah Cinta. Hembusan nafas Arya kini terasa menyapu wajah Cinta sehingga reflek Cinta menutup matanya.
Beberapa saat kemudian,
"Ngapain matanya kamu tutup sayang? kamu berharap aku nyium kamu ya?" goda Arya.
"Enggak kok, mas PD banget sih, terus ngapain mas wajahnya maju-maju gitu?" tanya Cinta dengan malu.
"Aku cuma mau ngambil bulu mata kamu yang jatuh di pipi," ujar Arya dengan tersenyum.
Sebenarnya aku ingin sekali mencium bibir kamu sayang, tapi aku gak mau mengambil ciuman pertama kamu sebelum kita Menikah, ujar Arya dalam hati.
"Ya sudah ayo suapi mas lagi," ujar Arya.
"Enak gak mas makanannya?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Bukan hanya enak sayang, tapi enak banget apalagi disuapi sama kamu, ayo gantian sekarang kamu yang mas suapi," ujar Arya.
Sehingga siang itu mereka lalui dengan canda tawa.