
Cinta dan Dika kini memutuskan untuk pulang setelah membicarakan semuanya. Dika juga sudah menelpon anak buahnya supaya secepatnya membuat Undangan untuk acara Pernikahannya dengan Cinta.
"Sepertinya sudah tidak banyak waktu lagi sayang untuk kita menyebar Undangan, kalau begitu untuk tamu yang jauh kita sebaiknya buat undangan digital saja ya," ucap Dika yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Cinta.
"Sayang tidak apa-apakan kalau aku mengundang Ilham?" tanya Dika.
"Gak apa-apa kok mas, lagian mas Ilham itu cuma masalalu untukku," jawab Cinta.
"Terimakasih ya sayang, soalnya aku gak enak kalau gak ngundang dia, Ilham kan teman yang paling dekat denganku.
"Iya mas aku ngerti kok, kita kan sudah mempunyai kehidupan masing-masing, apalagi sekarang mas Ilham juga sudah mempunyai istri, jadi sebaiknya kita jangan pernah memutus tali silaturahmi," ucap Cinta.
Akhirnya mereka berdua sampai rumah berbarengan dengan Clara dan Stella yang baru pulang Shopping.
"Assalamu'alaikum," ucap Cinta dan Dika kepada mereka.
"Wa'alaikumsalam," ucap Clara dan Stella dengan ketus, karena Clara tidak pernah menyukai Cinta apalagi sekarang melihat hubungan Dika dan Cinta yang semakin dekat.
Melihat wajah Dika yang terlihat bahagia, akhirnya Clara pun penasaran.
"Kamu kenapa Dika wajahnya terlihat bahagia sekali?" tanya Clara.
"Iya dong Mih, karena minggu depan aku dan Cinta akan melangsungkan Pernikahan," jawab Dika.
"APA? pokoknya Mamih gak setuju ya kamu mau Nikah sama gadis kampungan itu, dia itu gak selevel sama kita," ujar Clara.
"Iya, Kak Dika malu-maluin aja sih, gadis udik kayak gitu gak pantes menjadi bagian keluarga Pratama," ujar Stella.
"Dika mohon Mih, Stella, kalian berhenti menghina Cinta, karena dia adalah kebahagiaan buat Dika, kalian merestui atau tidak hubungan Dika dan Cinta, Dika gak peduli," ucap Dika.
"Kamu mau jadi anak durhaka ya Dika beraninya ngelawan Mamih !" teriak Clara.
"Maaf Mih, apa selama ini kalian peduli dengan kebahagiaan Dika? kalau memang kalian tidak mau mendukung Dika, maka jangan salahkan Dika kalau semua ATM dan kartu kredit Dika Blokir !" Dika pun tidak mau kalah.
"Jangan gitu dong sayang, Mamih dan Stella pasti akan dukung semua keputusan kamu," ucap Clara yang merasa ketakutan karena ancaman Dika.
__ADS_1
"Ayo Cinta lebih baik kita masuk saja," ajak Dika kepada Cinta.
"Mari Bu, Stella, saya masuk duluan," ucap Cinta. Sehingga Clara dan Stella pun terpaksa menunjukan senyum palsunya dihadapan Cinta dan Dika.
Setelah Dika dan Cinta masuk, Clara pun kini nampak kesal.
"Dasar anak gak tahu diri, kalau dia bukan pewaris tunggal Pratama Grup, mamih gak bakalan sudi nurutin semua kemauan dia," ucap Clara dengan kesal.
"Iya Mih, aku juga ogah banget nerima gadis kampungan itu menjadi kakak iparku kalau kak Dika gak ngancam kita mau blokir semua ATM dan kartu kredit. Tapi Mih, kalau diperhatikan Cinta sama kak Dika itu wajahnya mirip banget ya kayak anak kembar," ujar Stella.
Degg
Clara pun merasa kaget dengan perkataan Stella.
Kalau dilihat-lihat memang benar Cinta dan Dika itu begitu mirip, dan mereka juga lahir di tanggal, bulan, bahkan tahun yang sama, apa mungkin Cinta adalah anak Diana yang aku culik? tapi kan Bi Ijah bilang kalau anak itu sudah hanyut di sungai, ucap Clara dalam hati.
"Mamih kenapa sih kok melamun saja?" tanya Stella.
"Mamih gak apa-apa kok, ya sudah ayo sebaiknya kita masuk," ajak Clara kepada Stella.
......................
"Sayang kamu mau pilih yang mana Undangannya?" tanya Dika, namun Cinta sedang melamun sehingga tidak mendengar perkataan Dika.
"Sayang, hei..kamu kenapa melamun terus? kamu baik-baik saja kan?" tanya Dika lagi.
"Eh apa mas? maaf aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja," jawab Cinta.
"Kamu lagi mikirin apa sih? ayo cepat katakan padaku," ujar Dika.
"Aku hanya sedang teringat dengan mendiang kedua orangtuaku mas, seandainya saja mereka masih hidup, Ibu dan Bapak pasti akan bahagia melihat Pernikahan kita," jawab Cinta.
"Kamu yang sabar ya, jangan lupa kirim do'a untuk mereka, oh iya, apa kamu mempunyai petunjuk tentang kedua orangtua kandungmu?" tanya Dika.
"Aku hanya mempunyai kalung ini mas," ucap Cinta dengan memperlihatkan kalung yang dia pakai.
__ADS_1
Kenapa kalung Cinta sama persis dengan kalung punyaku ya? Liontin nya juga sama berbentuk setengah hati, ucap Dika dalam hati.
"Mas kenapa diam saja? tanya Cinta.
"Gak apa-apa kok sayang, sebaiknya kamu lihat dulu deh contoh Undangannya, biar nanti bisa langsung dicetak," ujar Dika, sehingga Cinta pun kini sibuk memilih contoh Undangan.
Kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh semua orang, kalau wajahku dan Cinta memang mirip seperti anak kembar, apa mungkin kita berdua anak kembar? tapi ayah bilang aku anak tunggal, dan soal kalung itu mungkin hanya mirip saja karena pasti banyak juga orang yang memilikinya, gumam Dika dalam hati.
Hati Dika sebenarnya saat ini sedang diliputi oleh rasa khawatir, dia sangat takut apabila kenyataannya dia dan Cinta adalah saudara kembar. Sehingga Dika memutuskan untuk mencari kebenarannya lewat Mbok Nah.
Aku sebaiknya harus bertanya kepada Mbok Nah, karena Mbok Nah sudah lama bekerja di rumah ini, bahkan jauh sebelum Ayah dan Ibu Menikah, batin Dika
"Sayang aku mau cari Mbok Nah dulu ya sebentar, aku lupa belum memberitahukan tentang Pernikahan kita, kamu pilih-pilih saja dulu Undangannya," ujar Dika, kemudian dia berlalu ke kamar Mbok Nah.
tok..tok..tok..
Kini Dika mengetuk pintu kamar Mbok Nah, dan sesaat kemudian Mbok Nah pun membukanya.
"Nak Dika ada apa cari si Mbok?" tanya Mbok Nah.
"Ada sesuatu yang mau Dika tanyakan Mbok, ini mengenai Cinta," jawab Dika.
"Ya sudah sebaiknya Nak Dika masuk dulu, supaya tidak ada orang yang mendengar pembicaraan kita," ajak Mbok Nah, kemudian Dika pun kini masuk ke dalam kamar Mbok Nah.
"Ada apa sebenarnya dengan Nak Cinta? kenapa Nak Dika terlihat khawatir?" tanya Mbok Nah.
"Begini Mbok, sebenarnya Dika dan Cinta sudah memutuskan akan melangsungkan Pernikahan kami pada hari minggu, tapi saat ini ada sesuatu hal yang mengganjal hati Dika," ujar Dika.
"Alhamdulillah, Nak Cinta memang gadis yang baik, dan dia juga pasti akan menjadi Istri dan Ibu yang baik nantinya. Tetapi kenapa Nak Dika terlihat bingung?" tanya Mbok Nah.
"Sebenarnya Dika tadi melihat sebuah petunjuk mengenai keluarga kandung Cinta, dan petunjuk tersebut adalah sebuah kalung yang sama persis dengan punya Dika pemberian dari mendiang Ibu," jawab Dika.
Kini Mbok Nah pun merasa khawatir akan kebenaran Dika dan Cinta.
"Mbok Nah kan sudah bekerja selama puluhan tahun di rumah ini, apa ada yang Mbok Nah ketahui?" tanya Dika.
__ADS_1
Apa sekarang sudah saatnya ya Nak Dika mengetahui tentang saudara kembarnya? ucap Mbok Nah dalam hati.
"Mbok tolong jujur sama Dika, karena semua orang selalu bilang kalau Dika dan Cinta seperti saudara kembar dan kami juga lahir di tanggal, bulan, bahkan tahun yang sama, Dika jadi curiga kalau Cinta adalah saudara kembar Dika," ujar Dika dengan tertunduk sedih.