Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 49 ( Kecelakaan Maut )


__ADS_3

Usia Kandungan Tia kini sudah memasuki taksiran persalinan, tapi Soni yang hiperseks tidak pernah ada puasnya sehingga setelah Soni melakukan perbuatan bejatnya Tia pun mengalami pendarahan.


Soni yang panik kini menelpon Kirana supaya datang ke rumahnya.


"Sayang kenapa kamu terlihat panik?" tanya Kirana yang kini telah tiba di rumah Soni.


"Tia mengalami pendarahan sayang, sepertinya dia mau melahirkan," ujar Soni.


Kirana pun langsung memeriksa kondisi Tia, tapi dia menemukan sisa sper*ma masih menempel di selangkangannya.


Deg


Cairan sper*ma siapa ini? apa mungkin Tia mengalami pendarahan karena Soni sudah melakukan tindakan tidak senonoh kepada Tia? tanya Kirana dalam hati.


"Soni apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan sama Tia?" tanya Kirana.


"Aku tidak melakukan apa-apa sayang, apa maksudmu bertanya seperti itu?" ujar Soni.


"Memangnya aku bodoh sehingga kamu bisa-bisanya terus membohongiku !" teriak Kirana.


"Kamu lihat sendiri, aku menemukan sisa sper*ma di ************ Tia, jika ini bukan bekasmu, lalu siapa yang sudah melakukannya hemm !" Kirana kini berteriak semakin keras.


sial kenapa aku bisa lupa untuk membersihkannya, batin Soni.


"Sakit..sakit..Dokter tolong perutku sakit," ucap Tia dengan lirih.


"Sayang, ini bukan waktunya kita berdebat, sekarang kita harus segera membawa Tia ke Rumah Sakit," ujar Soni mencoba menyadarkan Kirana yang saat ini masih menangis.


"Aku belum selesai membuat perhitungan denganmu Soni," ujar Kirana yang kini membantu Soni membawa Tia ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Soni terus saja membujuk Kirana yang masih marah.


"Sayang, aku mohon kamu jangan diemin aku seperti ini, aku minta maaf sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi" ujar Soni.


"Kamu gak ngerti gimana perasaanku saat ini, kamu tega sekali mengkhianatiku, apa kamu masih kurang puas denganku sehingga kamu masih saja melakukannya dengan perempuan lain?" tanya Kirana yang saat ini membuat Soni prustasi.

__ADS_1


"Mungkin selama ini aku bodoh karena sudah mengkhianati Arya yang jelas-jelas selalu menjaga kehormatanku," tambah Kirana.


"Stop Kirana, jangan pernah kamu menyebut nama Arya ketika kamu bersamaku !" ujar Soni yang kini terlihat emosi.


"Kenyataannya Arya memang lebih baik segala-galanya di bandingkan denganmu !" teriak Kirana.


Sehingga Soni kini semakin emosi dan tidak fokus menyetir, bahkan dia tidak menyadari kalau telah menerobos lampu merah.


BRAK


terdengar suara dentuman yang sangat keras ketika mobil yang mereka tumpangi tertabrak oleh sebuah mobil Truk sehingga mobil mereka pun berguling-guling dan terpental jauh.


Semua saksi mata yang berada di tempat kejadian kini menelepon Ambulance. Dan Polisi yang sedang berpatroli pun mengamankan tempat kejadian. Kini mereka bertiga pun dibawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.


Pihak Rumah Sakit segera menelpon keluarga korban, karena kebetulan mereka juga dibawa ke Rumah Sakit milik Dika.


Beberapa saat kemudian Dika datang ke Rumah Sakit bersama Mbok Nah.


"Dokter bagaimana keadaan para korban saat ini?" tanya Dika ketika bertemu dengan Dokter yang menangani mereka.


"Dokter Kirana dan Dokter Soni telah meninggal dunia di tempat kejadian, sedangkan Tia sekarang masih kritis dan tim medis masih berusaha untuk menyelamatkan bayi yang berada dalam kandungannya," jawab Dokter.


Beberapa jam kemudian akhirnya tim medis yang menangani Tia kini keluar dari ruang operasi, Dika dan Mbok Nah pun kini menghampiri salah satu Dokter penanggung jawab operasi tersebut.


"Dok bagaimana operasinya?" tanya Dika.


"Maaf Tuan Andhika, kami sudah melakukan yang terbaik, tapi kami hanya dapat menyelamatkan nyawa bayinya saja dan pasien tidak dapat bertahan sehingga menghembuskan napas terakhirnya saat operasi," ujar Dokter.


Dika dan Mbok Nah pun kini mengucapkan kembali Innalillahi secara bersamaan.


"Mbok jika Cinta sampai mengetahui kabar Tia yang telah meninggal, dia pasti akan sangat terpukul," ujar Dika.


"Iya Nak Dika, Nak Cinta pasti akan sangat sedih, karena bagaimanapun juga Nak Cinta sangat menyayangi Tia meski pun selama ini Tia sudah banyak berbuat salah kepada Nak Cinta." ujar Mbok Nah.


"Bagaimana sekarang dengan nasib bayi Tia Mbok?" tanya Dika.

__ADS_1


"Sebaiknya kita merawat bayi Tia saja, kasihan nasib bayi Tia yang sekarang hidup sebatang kara tanpa mengetahui kedua orangtuanya," jawab Mbok Nah.


"Iya Mbok bagaimanapun juga bayi Tia tidak berdosa, kalau begitu Dika akan menjadikan bayi Tia sebagai anak angkat Dika," ujar Dika, dan Mbok Nah menjawabnya dengan anggukan kepala.


Beberapa saat kemudian bayi Almarhumah Tia pun di pindahkan ke ruangan bayi, Dika dan Mbok Nah kini berniat untuk melihat bayi Tia terlebih dahulu sebelum akhirnya mengurus pemakaman Tia.


"Tuan Andhika silahkan jika Anda ingin mengadzani bayinya," ujar salah satu perawat, dan Dika pun kini mengadzani bayi tersebut.


"Nak Dika mau kasih nama apa kepada bayinya?" tanya Mbok Nah.


"Aku mau kasih nama bayi perempuan ini Dita Mbok, gabungan dari nama Dika dan Cinta," ujar Dika.


"Nama yang bagus, semoga kelak Dita berhati mulia seperti Nak Cinta ya," ujar Mbok Nah. Akhirnya Dika memberi nama Dita Pratama kepada anak Tia.


"Seandainya Cinta berada di sini, dia pasti akan bahagia karena dapat membesarkan Dita Mbok," ujar Dika.


"Iya Nak Dika, kita do'akan saja semoga Nak Cinta segera kembali," ujar Mbok Nah.


"Kenapa sih Mbok Cinta belum juga ditemukan, padahal dia sudah hampir satu tahun menghilang, dan Dika juga sudah mengerahkan semua anak buah Dika untuk mencarinya," ujar Dika.


"Mungkin belum saatnya Nak Cinta kembali, Si Mbok yakin suatu hari nanti Nak Cinta pasti akan berkumpul kembali bersama kita. Oh ya Nak Dika bagaimana kemarin sidang putusan Nyonya Clara?" tanya Mbok Nah.


"Mamih Clara dikenakan hukuman berlapis akibat perbuatannya, dan dia divonis seumur hidup. Sedangkan Bi Ijah dihukum Lima tahun penjara karena dia berkelakuan baik dan dari awal sudah berniat untuk menyerahkan diri," ujar Dika.


"Lalu bagaimana dengan kedua Preman suruhan Nyonya Clara?" tanya Mbok Nah.


"Mereka dihukum selama dua puluh tahun penjara Mbok karena sudah terlalu banyak kejahatan yang mereka perbuat, dan mungkin hukumannya akan semakin bertambah karena saat ini masih banyak korban yang melapor tentang kejahatan mereka," jawab Dika.


"Astagfirulloh Si Mbok sampai lupa, sebaiknya sekarang Nak Dika segera menghubungi Ahmad, supaya Ahmad bisa menghadiri pemakaman Kakaknya," ujar Mbok Nah.


Dika pun kini menghubungi Ahmad untuk mengabarkan tentang meninggalnya Tia, dan Dika meminta tolong kepada supir yang berada di Asrama tempat Ahmad mondok supaya segera mengantarkan Ahmad ke ke Jakarta.


Beberapa jam kemudian Jenazah Tia pun selesai dimandikan, dan Dika kini membawa Jenazah tersebut ke kediamannya sebelum dimakamkan.


Setelah Dika sampai di rumahnya, ternyata Ahmad sudah nampak berada di sana, dan Dika pun kini menghampiri Ahmad serta memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Ahmad yang sabar ya," ujar Dika.


"Iya Kak, mungkin ini semua sudah nasib Kak Tia, dan Ahmad sekarang hanya bisa mendo'akan supaya Alloh SWT mengampuni semua dosa yang telah diperbuat oleh kak Tia semasa hidupnya."


__ADS_2