
Cinta dan Dika kini telah sampai di rumah Arya yang tidak terlalu jauh dari kediaman Dika. Namun, rumah tersebut terlihat sepi dan pagarnya pun di gembok.
"Assalamu'alaikum," ucap Cinta, tapi tidak ada orang yang menjawabnya, sehingga tetangga yang mendengar suara Cinta pun kini terlihat keluar rumah menghampirinya.
"Mba cari Dokter Arya ya?" tanya tetangga Arya yang juga bekerja mengurus rumah Arya.
"Iya Bu, mas Arya nya kemana ya? kok gerbangnya di gembok?" tanya Cinta.
"Pada saat tadi saya bersih-bersih di rumahnya Dokter Arya sempat datang, tapi cuma sebentar sepertinya hanya mengambil koper saja karena katanya mau langsung berangkat ke luar negeri," ujar Ibu tersebut.
Deg
Kini jantung Cinta rasanya berhenti berdetak, dadanya terasa sakit mendengar berita tentang kepergian Arya ke luar negri, sehingga Dika pun kini mencoba untuk menyadarkan Cinta.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dika dengan memegang bahu Cinta.
"Mas sekarang juga kita harus cari mas Arya, ayo mas kita susul mas Arya ke Bandara, aku gak mau kalau sampai dia ninggalin aku," ucap Cinta yang kini terlihat panik.
Sebenarnya Dika tidak mau mengantarkan Cinta pergi ke Bandara untuk mencegah kepergian Arya, tapi dia tidak tega melihat Cinta yang terus menangis.
"Ya sudah ayo cepat naik, kita akan susul Arya ke Bandara," ajak Dika, dan Cinta pun bergegas naik ke dalam mobil.
Dika kini membelah jalanan Ibukota yang selalu macet, apalagi sekarang jam pulang kerja karyawan.
"Bagaimana ini mas, kenapa mobilnya gak gerak-gerak," ujar Cinta yang kini terlihat khawatir.
"Kamu yang sabar ya sayang, Arya pasti belum berangkat," ujar Dika mencoba untuk menenangkan Cinta.
Aku berharap Arya sudah pergi, dan dia pergi untuk selama-lamanya dari kehidupan Cinta. maafin Kakak Cinta, tapi Kakak belum bisa merelakanmu untuk lelaki lain, batin Dika.
__ADS_1
Jalanan masih juga macet, jarak ke Bandara pun masih 1 km lagi. Tiba-tiba Cinta kini keluar dari dalam mobil.
"Sayang kamu mau kemana?" tanya Dika dengan panik ketika melihat Cinta keluar dari mobilnya.
"Mas aku jalan kaki saja ya, aku gak mau kalau sampai mas Arya keburu pergi," ujar Cinta yang kemudian berlari dengan cepat, sehingga beberapa kali menabrak orang.
Dika ingin turun mengejar Cinta, tapi tidak mungkin karena jalanan macet dan mobilnya sekarang berada di tengah, sehingga akhirnya dia tetap di dalam mobil menunggu kendaraan yang berada di depannya bergerak.
Setelah Cinta berlari sejauh 1 km, kini dia sampai juga di Bandara. Dengan nafas yang terengah-engah dia melihat ke sekeliling tapi Arya sudah tidak ada di sana, dan Cinta pun berlari ke sana kemari mencari keberadaan Arya tapi tidak ketemu juga sehingga kini dia putus asa dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai Bandara.
Mas Arya kenapa sih tega ninggalin aku? maafin aku mas, karena ternyata akulah yang telah menorehkan luka di hati mas Arya, aku sangat menyesal, batin Cinta.
Dika yang kini melihat Cinta menangis pun berlari menghampirinya kemudian dia memeluk tubuh Cinta dengan erat.
"Jangan menangis sayang, mungkin suatu saat nanti Arya pasti akan kembali ke Indonesia," ujar Dika.
Akhirnya Cinta dan Dika pun memutuskan untuk pulang, karena mereka juga harus mempersiapkan acara tahlil Almarhumah Tia.
"Sayang kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Dika.
"Aku gak apa-apa kok mas, aku kan harus tetap kuat buat Dita," ujar Cinta.
Sepertinya Cinta sangat terpukul dengan kepergian Arya, maafkan Kakak ya Cinta, Kakak memang sudah egois, tapi rasa cinta ini gak bisa Kakak buang, Kakak memang salah karena sudah terobsesi untuk memilikimu, tapi hanya kamu satu-satunya perempuan yang membuat Kakak bahagia dan ingin selalu Kakak miliki, batin Dika.
"Makasih banyak ya mas karena selalu membantuku, aku bakalan kerja buat menyicil semuanya," ujar Cinta.
"Kamu jangan berkata seperti itu sayang, karena semua yang aku punya adalah milikmu juga, dan aku sudah mengubah beberapa aset yang aku miliki atas nama kamu," ujar Dika.
"Gak bisa gitu dong mas, kita kan belum menikah," ujar Cinta. Tapi Dika hanya diam tanpa menjawabnya.
__ADS_1
Meski pun kita berdua tidak Menikah semua itu juga milik kamu Cinta, karena itu adalah harta peninggalan orangtua kita, maaf jika Kakak belum bisa jujur tentang semua kenyataannya, batin Dika yang selalu saja dalam dilema.
Beberapa saat kemudian mereka berdua akhirnya sampai di kediaman Dika. Mata Cinta kini terlihat sembab karena daritadi Cinta menangisi kepergian Arya dari kehidupannya.
Mas Arya dimana pun mas berada semoga Allah SWT selalu melindungi mas, maaf jika aku baru mengetahui semua kebenarannya ketika mas Arya telah pergi, batin Cinta yang kini menahan sesak di dada.
Cinta dan Dika pun kini masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan Salam.
"Mbok Ahmad sama Dita dimana ya?" tanya Cinta.
"Mereka ada di kamar Nak, sebaiknya Nak Cinta makan dulu, Si Mbok udah masak makanan kesukaan Nak Cinta," ujar Mbok Nah.
"Makasih banyak Mbok, tapi aku belum lapar," ujar Cinta.
"Sayang sebaiknya kamu makan dulu, aku gak mau ya kalau kamu sampai sakit, tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu harus kuat demi Dita," ujar Dika yang kini terus saja menggenggam erat tangan Cinta seakan dia takut jika harus berpisah lagi dengannya.
Akhirnya dengan terpaksa Cinta mengikuti Dika yang kini membawanya ke meja makan.
Dika kini mengambilkan nasi dan lauk untuk Cinta karena daritadi Cinta hanya diam saja dan terlihat melamun.
Mas Arya gimana ya makannya, selama dia bersamaku dia kan tidak pernah mau makan masakan oranglain, batin Cinta yang kini terus saja memikirkan Arya.
"Sayang ayo makan," ujar Dika yang kini berusaha menyuapi Cinta.
"Mas biar aku makan sendiri saja, mas juga ayo makan, kasihan mas pasti cape karena udah nganterin aku ke sana ke mari. Maaf ya mas jika kedatanganku selalu merepotkan mas Dika," ujar Cinta yang kini merasa tidak enak karena sudah membuat Dika selalu repot.
"Sayang kok kamu ngomongnya gitu sih? kamu itu gak pernah ngerepotin aku sama sekali, karena kamu adalah kebahagiaan untukku, bahkan mungkin aku sudah gak ada di dunia ini jika kamu tidak mendonorkan ginjal untuk kesembuhanku," ujar Dika yang kini terlihat meneteskan airmata.
"Maaf ya mas, aku tidak bermaksud membuat mas Dika sedih, mas senyum donk sekarang aku sudah mutusin bagaimana kalau kita Nikahnya minggu ini saja," ujar Cinta sehingga membuat Dika bahagia tapi sekaligus sedih karena itu semua tidak akan mungkin terlaksana.
__ADS_1
Seandainya kamu bukan Adikku aku pasti sangat bahagia karena akan Menikah dengan perempuan yang sangat aku Cintai, batin Dika.