Pengorbanan Cinta

Pengorbanan Cinta
Bab 32 ( Terbongkarnya Rahasia besar Clara )


__ADS_3

Di tempat lain kini Ilham pingsan setelah menerima Undangan Pernikahan Cinta dan Dika. Ibu Salma pun kini merasa cemas sehingga beliau meminta bantuan kepada perawat yang berada di Rumah Sakit, karena kebetulan mereka berdua masih menunggu Broto yang semakin hari penyakitnya semakin parah.


"Ilham sayang kamu kenapa Nak," ucap Bu Salma dengan mengelap keringat di kening Ilham. Dan Ilham terus saja mengigau dengan menyebut nama Cinta.


"Cinta..Cinta..Cinta.." ucap Ilham yang masih belum sadar juga. Sehingga Bu Salma merasa prihatin melihat keadaan Ilham.


"Kasihan sekali nasibmu Nak, kamu harus menjadi korban dari keserakahan Bapak mu sendiri," ucap Bu Salma dengan sedih.


Beberapa saat kemudian Ilham kembali sadar dari pingsannya.


"CINTA," teriak Ilham disaat pertama kali dia sadar, kemudian ketika Ilham melihat Ibunya yang kini berada di sampingnya, Ilham pun langsung memeluk tubuh Bu Salma.


"Sebenarnya apa yang terjadi sayang?" tanya Bu Salma dengan mengelus lembut kepala belakang Ilham.


"Cinta bu, Cinta mau Menikah dengan Dika minggu depan, Ilham belum siap jika harus melihat dia bersanding dengan lelaki lain," ucap Ilham yang terdengar sesenggukan karena menangis.


"Kamu yang sabar ya sayang, karena urusan Jodoh serta hidup dan mati seseorang itu sudah ditentukan oleh Alloh SWT, seberapa keras Ilham berusaha untuk mendapatkan Cinta, tetapi jika dia bukan jodoh Ilham semuanya tidak bisa kamu paksakan sayang," ujar Bu Salma memberi pengertian kepada Ilham.


"Tapi Ilham sangat mencintainya Bu," ujar Ilham.


"Ibu tahu Nak tentang perasaan cintamu yang begitu besar untuknya. Serahkan semuanya kepada Alloh SWT, jika memang Ilham berjodoh dengan Cinta, pasti akan ada jalannya untuk kalian bersatu. Akan tetapi jika Cinta bukan jodoh Ilham, ikhlaskan dan do'akan supaya dia bahagia dengan oranglain," ucap Bu Salma dengan bijak, sehingga Ilham kini sedikit merasa tenang.


......................

__ADS_1


Seminggu Kemudian..


Besok adalah hari Pernikahan Cinta dan Dika, mereka sudah menyebar semua Undangan Pernikahannya. Dan kini di kediaman Dika pun sudah di dekor dengan indahnya.


Mbok Nah menyuruh Cinta dan Dika supaya tidak bertemu terlebih dahulu selama beberapa hari ini sampai besok mereka bertemu di acara Pernikahan.


"Mbok, kenapa sih harus pake acara pingit-pingitan segala, Dika kan sudah kangen banget sama Cinta, boleh ya Dika nemuin Cinta sekarang," rengek Dika.


"Nak Dika tuh kalau dibilangin ngeyel banget sih, baru juga tiga hari kalian gak ketemu, tapi seperti yang sudah bertahun-tahun gak ketemu saja," ledek Mbok Nah.


"Mbok gak ngerasain sih apa yang Dika rasakan sekarang," ujar Dika dengan menidurkan kepalanya di pangkuan Mbok Nah.


"Si Mbok juga pernah muda Nak, jadi pernah ngerasain jatuh cinta juga, tapi mungkin Mbok Nah belum Alloh kasih jodoh di dunia ini makanya si Mbok gak ngalamin Nikah," ujar Mbok Nah dengan mengelus lembut kepala Dika.


"Mbok, apa boleh Dika egois jika ingin terus memiliki Cinta apabila nanti kenyataan sebenarnya dia adalah adik kembarku?" ucap Dika.


"Iya Mbok Dika juga tahu, tapi Dika ingin memiliki Cinta seumur hidup Dika sampai maut yang memisahkan kita," ujar Dika.


"Itu namanya Nak Dika terlalu terobsesi terhadap Nak Cinta, jadi selama ini Nak Dika belum mencari tahu tentang semua kebenarannya?" ucap Mbok Nah.


"Belum Mbok, Dika belum siap," ujar Dika.


Karena Pintu kamar Dika sedikit terbuka, Dika dan Mbok Nah pun bisa melihat jika saat ini Bi Ijah sedang mengendap-endap hendak masuk ke dalam kamar Clara, sehingga Dika dan Mbok Nah memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Nak Clara sekarang Bibi takut jika perbuatan kita yang menculik bayi Nyonya Diana akan segera terungkap, karena Bibi curiga jika Bayi yang waktu itu Bibi kira sudah hanyut di sungai adalah Neng Cinta calon istrinya Den Dika," ujar Bi ijah yang kini membuat Clara berteriak karena kaget mendengar perkataan Bi Ijah.


"Apa maksud Bibi? tidak mungkin bisa sampai kebetulan bahwa Cinta adalah adik kembarnya Dika, memangnya apa buktinya?" tanya Clara.


"Bibi tadi sempat melihat kalung yang dipakai oleh Neng Cinta, dan itu sama persis dengan yang dipakai oleh bayi Nak Diana yang dulu kita culik, karena di Liontin nya bibi melihat jelas ada tulisan Ka dan Ta dibawahnya," ujar Bi Ijah.


"Tidak mungkin Bi, aku sudah susah payah menculik anak Diana meskipun baru berhasil mengambil satu bayi saja, karena tadinya aku sudah berniat ingin menculik keduanya supaya Diana langsung mati, tapi ternyata satu bayi saja sudah membuatku berhasil menyingkirkannya dari kehidupan mas Anjas," ujar Clara dengan tertawa puas.


"Tapi Neng Cinta berasal dari daerah yang sama dengan tempat Bibi dulu membawa bayi Nak Diana pergi dari Jakarta, dan Nak Clara bisa melihat sendiri wajah Neng Cinta sangat persis dengan Den Dika," ujar Bi Ijah dengan gemetaran.


"Tenang saja Bi, aku akan berusaha menyingkirkan gadis kampungan itu, dan jika aku sudah berhasil menguasai seluruh kekayaan Pratama, aku juga akan secepatnya menyingkirkan Dika," ujar Clara dengan tersenyum licik.


"Taubat Nak Clara, mungpung kita masih diberikan kesempatan, jangan sampai hawa nafsu menguasai akal sehatmu," ujar Bi Ijah mencoba untuk mengingatkan keponakannya.


"Sudah kepalang tanggung Bi aku berdosa, karena sebenarnya penyebab kematian mas Anjas juga akulah penyebabnya, aku tidak sengaja membunuhnya Bi, tadinya aku berniat ingin meracuni Dika supaya anak itu mati, tapi ternyata minuman mas Anjas dan Dika tertukar sehingga mas Anjas lah yang meninggal," ucap Clara yang kini menangis lalu kemudian tertawa kembali seperti orang gila.


"Tidak ada kata terlambat Nak Clara, lebih baik kita bertaubat dan menyerahkan diri kepada Polisi, Bibi lebih takut mendapatkan siksa di akhirat nanti," ujar Bi Ijah.


"Kamu tidak usah menggurui aku, sekarang juga kamu pergi dari kamarku, kamu harus sadar diri, meski pun kamu Bibi kandungku, tapi sekarang kamu hanyalah seorang pembantu di rumah ini, Cepat Keluar !!" teriak Clara.


Dika dan Mbok Nah yang sedari awal mendengar percakapan antara Ijah dan Clara kini merasa geram, untung saja Dika sudah merekam semua percakapan mereka supaya menjadi bukti kejahatan Clara yang sudah dibantu oleh Bi Ijah dan mereka pun segera pergi menuju kamar Dika sebelum Bi Ijah keluar dari kamar Clara.


"Mbok, kita harus segera melaporkan semua kejahatan yang sudah mereka lakukan, aku tidak menyangka jika selama ini Mamih Clara lah yang sudah menghancurkan keluargaku," ujar Dika yang kini terlihat marah. Namun, tiba-tiba Dika merasa kesakitan di bagian perut bawahnya.

__ADS_1


"Mbok, sepertinya penyakit Ginjal yang Dika derita selama ini sudah semakin parah, sebaiknya Mbok Nah segera panggil Cinta supaya bisa mengantar Dika ke Rumah Sakit," ujar Dika.


"Dan Mbok tolong simpan bukti rekaman ini baik-baik ya, Mbok harus pura-pura tidak mengetahui apa pun tentang kebusukan Mamih Clara sebelum kami pulang dari Rumah Sakit, karena Dika gak mau kalau sampai mereka juga mencelakai Mbok Nah, ujar Dika yang kini dijawab oleh anggukan kepala oleh Mbok Nah.


__ADS_2