
Cinta dan Dika kini melanjutkan perjalannya untuk pulang ke kediaman Dika.
"Sayang, sudah dong jangan nangis terus," ucap Dika dengan mengelus bahu Cinta.
"Tapi aku merasa gagal menjadi seorang kakak mas, dan sekarang aku mencemaskan keadaan Tia, dia mau pulang kemana kalau tidak pulang ke rumah mas Dika?" ucap cinta.
"Maafin aku Cinta karena sudah mengusir Tia, tapi aku gak tega kalau harus mendengar kamu dibentak terus oleh Tia, dia selalu seenaknya menghina kamu sayang, dan itu membuatku sakit hati juga," ujar Dika.
"Mas tidak perlu merasa bersalah, mungkin dengan begitu Tia akan belajar menyadari kesalahan yang sudah dia perbuat," jawab Cinta.
Akhirnya mereka berdua tiba di kediaman Dika. Namun, ternyata Tia sudah berada disana terlebih dahulu, dan kini Tia ditemani oleh Stella dan mamih Clara yang sudah siap untuk berdebat dengan Dika.
Cinta yang melihat Tia sudah berada di rumah pun kini terlihat bahagia sehingga berlari untuk memeluk tubuh Tia. akan tetapi, Tia langsung mendorong tubuh Cinta, sehingga hampir saja Cinta terjatuh membentur lantai, untung saja Dika bergerak cepat menahan tubuh Cinta.
"Apa-apaan kamu Tia? kenapa kamu kembali lagi ke rumahku?" bentak Dika.
"Lagian salah sendiri, ngapain peluk-peluk segala, badan aku tuh alergi sama anak pungut !" teriak Tia tidak mau kalah.
"Lancang sekali kamu Tia, berani sekali kamu menghina calon Istriku !" Dika kini semakin emosi.
"APA? kamu gak salah ngomong kan Dika?" teriak Clara.
"OMG, mimpi apa Stella semalam sampai mendengar kabar mau punya kakak ipar si Upik abu, no_no_no_" teriak Stella.
"Dengan atau tanpa persetujuan kalian, Dika akan tetap menikahi Cinta, dan untuk kamu Tia, cepat angkat kaki dari rumah ini !" ujar Dika yang kembali mengusir Tia.
"Tia gak akan pernah pergi dari rumah ini, karena ini juga rumah mamih !" jawab Clara yang kini berpihak kepada Tia.
"Ya sudah terserah kalian saja. Akan tetapi, siapa pun yang mengganggu Cinta, maka akan berhadapan langsung dengan Dika, dan harus kalian ingat, Cinta bukan pembantu di rumah ini, tapi dia adalah Ratu disini !" tegas Dika.
"Ayo Cinta sebaiknya kita ke kamar biar kamu bisa istirahat. Kamu tidak usah memperdulikan omongan siapa pun di rumah ini, karena sekarang kamulah Nyonya di rumah ini," ucap Dika dengan menarik lembut tangan Cinta.
"Mas, aku gak enak sama bu Clara, kalian berdua jadi bertengkar gara-gara aku," ucap Cinta.
"Kamu tidak usah takut dengan mereka Cinta, meski pun mereka adalah keluargaku, tetapi mereka tidak benar-benar tulus menyayangiku, karena yang mereka inginkan hanyalah hartaku saja," ujar Dika yang kini terlihat sedih.
"Lalu kenapa mas Dika percaya padaku? padahal kita belum lama saling mengenal?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Entahlah Cinta, rasanya hatiku berkata bahwa aku sudah lama mengenal dirimu," ucap Dika dengan tersenyum.
"Cinta, mulai besok aku akan membawamu kemana pun aku pergi, bahkan ke kantor sekali pun. Aku tidak mau kalau sampai ada orang yang menyakitimu, dan nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, biar kamu juga mengikuti kesetaraan SMA di ruangan khusus yang berada di kantorku," ujar Dika.
"Tapi mas_" ujar Cinta yang kini ucapannya dipotong oleh Dika.
"Maaf Cinta, aku tidak menerima penolakan,"
ucap Dika dengan tersenyum.
"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat ya sayang, aku mau mengecek laporan dulu," ucap Dika dengan mengelus lembut kepala Cinta lalu kemudian keluar dari kamar Cinta.
Terimakasih mas atas semuanya, kamu adalah malaikat pelindung untukku, Bathin Cinta.
......................
Keesokan harinya, seperti biasa Cinta terbangun sebelum Sholat Subuh. Setelah mandi dan melakukan Sholat, Cinta bergegas untuk pergi ke dapur. Namun, dia terkejut karena disaat membuka pintu kamarnya Dika sudah nampak berdiri di depan pintu.
"Astagfirulloh mas ngapain subuh-subuh gini sudah ada di depan pintu kamarku? bikin aku kaget aja tau," ucap Cinta dengan mengelus dadanya karena kaget.
"Terus kamu sendiri mau kemana?" tanya Dika.
"Pasti mau ke dapur kan?" tanya Dika.
"Aku gak enak mas kalau tinggal disini secara gratis, jadi sebisa mungkin aku akan melakukan pekerjaan yang aku bisa," ujar Cinta.
"Apa kamu gak ingat omongan aku kemarin? kamu itu Ratu di rumah ini, jadi kamu gak boleh mengerjakan apa pun karena aku gak mau kalau kamu sampai kecapean, terus kamu nanti sakit lagi," jelas Dika.
"Iya_iya deh aku nurut saja. Oh iya, mas Dika habis dari mana? kok pakaiannya rapi banget sama pake peci juga?" tanya Cinta.
"Aku habis dari Masjid sayang, aku kan harus belajar buat jadi imam kamu," ucap Dika dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga selalu istiqomah ya mas, dan mas Dika semakin rajin Sholat nya, terus nanti tambah Sholat sunat nya juga," ujar Cinta.
"Iya insyaAlloh sayang, ya sudah kalau kamu kekeuh mau ke dapur ayo aku antar, tapi kamu hanya boleh masak buat aku saja, sekarang aku juga mau di buatin kopi sama kamu," ucap Dika.
"Oke, siap bos," jawab Cinta dengan memberi hormat kepada Dika, dan akhirnya mereka melangkahkan kaki ke dapur dengan diiringi canda dan tawa.
__ADS_1
Setibanya di dapur Cinta langsung membuatkan kopi dan roti bakar untuk Dika, di sana juga sudah nampak Mbok Nah dan Bi ijah sedang memasak, sehingga Cinta pun menghampiri mereka serta berkenalan dengan Bi Ijah.
"Mbok Nah, Neng Cinta itu Adiknya Den Dika ya? tanya Bi Ijah setelah Cinta pergi dari sana.
"Bukan Bi, Nak Cinta itu calon Istrinya Nak Dika," jawab Mbok Nah.
"Tapi kok wajah mereka mirip banget ya? kayak Anak kembar," ucap Bi Ijah.
Deg
Mbok Nah pun kaget dengan ucapan Bi Ijah.
Jadi ternyata selama ini bukan hanya aku yang mempunyai pemikiran seperti itu, bahkan Bi Ijah pun yang baru pertama kali bertemu dengan mereka mempunyai pikiran yang sama, Mudah-mudahan saja dugaanku selama ini tidak benar, ujar Mbok Nah dalam hati.
"Mbok Nah_Mbok Nah, teriak Clara mencoba untuk memanggil Mbok Nah.
"Bi Ijah, tolong samperin dulu nyonya Clara ya, dia pasti membutuhkan sesuatu, kalau dia nanyain Si Mbok, bilang saja tanggung lagi masak," ujar Mbok Nah. Bi ijah pun pergi dari dapur untuk menemui Clara.
"Maaf Nyonya, Mbok Nah nya lagi masak, katanya tanggung sebentar lagi mau matang. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ijah.
Namun, ketika Clara melihat ke arah Bi Ijah ia nampak terkejut sehingga menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang.
Prang
terdengar suara gelas yang terjatuh hingga hancur berkeping-keping.
"Ka_ka_mu" ucap Clara dengan tergagap.
"Nak Clara," ucap Bi Ijah yang sama terkejutnya dengan Clara.
"Kenapa Bi Ijah bisa sampai berada disini? pada saat itu aku kan sudah memberi Bibi banyak uang untuk membawa bayi mas Anjas dan Diana pergi jauh," ucap Clara yang kini merasa cemas.
"Maaf Nak Clara, sekarang ini Bibi sangat membutuhkan uang, jadi Bibi mencoba mencari pekerjaan ke Kota ini, dan Bibi sama sekali tidak mengetahui bahwa ini adalah rumah Nak Clara, jawab Bi Ijah.
"Bi, tolong jangan panggil aku dengan sebutan Nak, mulai sekarang bibi harus panggil aku Nyonya jika masih mau bekerja di rumah ini, karena aku gak mau kalau sampai ada orang yang tahu tentang rahasia kita yang sudah tersimpan selama 20 tahun lamanya," ucap Clara.
"Baik Nyonya," dengan terpaksa Bi Ijah memanggil keponakannya sendiri dengan panggilan Nyonya.
__ADS_1
"Terus sekarang dimana Putrinya Diana? tanya Clara.
"Bibi dulu membawanya ke sebuah kampung yang berada di daerah Cianjur. Akan tetapi, pada saat Bibi melewati jembatan Bibi terpeleset sehingga bayinya nak Diana terjatuh ke bawah jembatan. Bibi sudah mencoba untuk mencarinya, tapi bibi tidak menemukannya karena sepertinya bayi itu sudah meninggal terbawa arus sungai," ucap Bi Ijah, dan Clara pun kini tertawa bahagia.