
Cinta terlihat panik ketika masuk ke dalam kamar Dika, karena Dika kini sudah pingsan.
"Mbok apa yang sebenarnya terjadi sama mas Dika?" tanya Cinta dengan berlinang airmata.
"Nak Cinta, sebaiknya kita harus segera membawa Nak Dika ke Rumah Sakit, Si Mbok takut kalau penyakit Ginjal Nak Dika semakin parah, ujar Mbok Nah.
"Iya Mbok, kalau begitu Cinta coba telpon dulu Supir sama Satpam buat bantuin kita gotong mas Dika," ujar Cinta.
......................
Setelah setengah jam perjalanan mereka pun sampai di Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan Cinta terus saja menangis dengan menggenggam erat tangan Dika.
"Mas Dika harus bertahan ya, mas harus kuat, aku pasti bakalan selalu ada di samping mas Dika," ujar Cinta, Dika kini terlihat sedikit membuka matanya.
"Sayang, kamu jangan nangis, Kakak pasti akan baik-baik saja," ucap Dika dengan lirih, sebelum akhirnya dia kembali pingsan.
"Maaf Nona, sebaiknya anda keluar dulu, kami harus segera memeriksa keadaan tuan Dika," ujar salah satu Dokter yang menangani Dika.
"Mbok aku takut mas Dika kenapa-napa," ujar Cinta dengan memeluk Mbok Nah.
"Nak Cinta yang sabar ya, Nak Dika pasti akan baik-baik saja," ujar Mbok Nah mencoba untuk menenangkan Cinta.
"Tapi tadi mas Dika sempat sadar sebentar tapi anehnya dia memanggil dirinya kakak," ujar Cinta yang terlihat heran.
"Nanti kalau Nak Dika sudah sembuh, dia pasti menceritakan semuanya pada Nak Cinta, yang penting sekarang kita berdo'a saja untuk kesembuhannya," ujar Mbok Nah.
"Iya Mbok aku pasti selalu mendo'akan yang terbaik buat mas Dika," ujar Cinta.
Kenapa Ya Alloh, disaat aku sudah berusaha membuka hatiku untuk mas Dika ada saja cobaan yang terjadi, padahal besok adalah hari Pernikahan kami, ucap Cinta dalam hati.
Dokter pun terlihat keluar dari ruangan mas Dika, dan mereka bergegas untuk menghampirinya.
"Dok gimana keadaan mas Dika?" tanya Cinta kepada Dokter.
__ADS_1
"Tuan Dika harus segera mendapatkan Donor Ginjal, karena keadaan beliau sudah semakin parah.
"Kalau begitu ambil saja Ginjal saya Dok," ucap Cinta tanpa berpikir panjang.
"Tapi Nak Cinta, Si Mbok takut Nak Cinta kenapa-napa, dan nanti Nak Dika pasti marah," ucap Mbok Nah.
"Sudahlah Mbok yang penting sekarang kita harus berusaha menolong mas Dika, Mbok do'akan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar," ujar Cinta kepada Mbok Nah.
"Kalau begitu silahkan Nona ikut dengan Dokter Arya, karena beliau yang akan memeriksa kecocokan ginjal Nona dengan tuan Dika," ucap salah satu Dokter yang menangani Dika.
Cinta dan Dokter Arya pun kini masuk ke dalam suatu ruangan untuk memeriksa kecocokan ginjal pada Cinta dan Dika.
"Maaf sebelumnya Nona, apa anda mempunyai hubungan darah dengan pasien?" tanya Dokter Arya.
"Tidak Dok, saya calon istrinya, malah besok rencananya kami akan melangsungkan Pernikahan," jawab Cinta dengan tersenyum kecut.
Kenapa ya kalau dilihat-lihat Non Cinta dan Tuan Dika begitu mirip sekali seperti anak kembar? tanya Dokter Arya dalam hati.
"Saya turut berduka atas musibah yang menimpa kalian, mudah-mudahan saja ginjal Non Cinta cocok, karena biasanya kalau tidak ada hubungan darah jarang sekali terjadi kecocokan," ujar Dokter Arya.
"I_i_ya Cinta," ucap dokter Arya dengan gugup.
Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang ya disaat melihat senyuman Cinta yang begitu manis? Astagfirulloh...fokus-fokus Arya, Cinta itu calon istri orang, ucap Arya dalam hati.
"Dok apa bisa kita memulai pemeriksaannya sekarang?" tanya Cinta yang kini menyadarkan Arya dari lamunannya.
"Eh iya maaf Cinta, mari kita lakukan tes darah dulu," ujar Dokter Arya.
Akhirnya serangkaian tes sudah Cinta lakukan dan hasilnya Seratus persen Cocok.
"Alhamdulillah...aku bisa mendonorkan ginjal ku untuk mas Dika," ujar Cinta.
Aku merasa ada keanehan disini, kenapa orang yang tidak ada hubungan darah bisa seratus persen mempunyai kecocokan, ujar Arya dalam hati.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya Dokter Arya?" tanya salah satu Dokter yang akan mengoperasi Dika.
"Pendonor mempunyai kecocokan dengan Pasien Dok," ucap Arya.
"Kalau begitu mari kita lakukan operasinya sekarang, karena keadaan tuan Dika sudah semakin kritis," ujar Dokter.
"Si Mbok do'akan ya Nak Cinta, semoga operasi kalian berjalan dengan lancar, si Mbok bakalan selalu nungguin kalian disini," ucap Mbok Nah.
"Terimakasih ya Mbok, mudah-mudahan mas Dika bisa cepet sembuh," ujar Cinta yang sesaat kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang operasi.
"Apa Dokter gak ikut masuk ke ruang operasi?" tanya Mbok Nah pada Dokter Arya.
"Tidak Bu, saya bukan Dokter Bedah, disini saya Dokter Umum," jawab Dokter Arya dengan tersenyum.
"Oh begitu, Panggil saja saya si Mbok, maaf Dok si Mbok mau nanya, apa ada kemungkinan bahwa Nak Cinta dan Nak Dika itu saudara kembar?" tanya Mbok Nah.
"Sebenarnya saya juga aneh Mbok, karena tidak mungkin orang yang sama sekali tidak mempunyai hubungan darah bisa memiliki kecocokan hingga seratus persen, makanya saya juga berpikir kalau mereka adalah anak kembar," jawab Dokter Arya.
"Kalau begitu Si Mbok minta tolong sama Dokter buat melakukan tes DNA kepada mereka berdua," pinta Mbok Nah.
"Tapi Mbok saya tidak punya wewenang tersebut, karena harus ada persetujuan dari yang bersangkutan," jawab Dokter Arya.
"Si Mbok mohon, karena si Mbok sudah lama curiga kalau mereka adalah saudara kembar yang telah lama berpisah, Si Mbok gak mau kalau sampai terjadi Pernikahan sedarah," ujar Mbok Nah.
"Kalau begitu alasannya saya akan usahakan, kebetulan sampel darah mereka masih ada pada saya. Tapi saya minta tanda tangan Mbok ya sebagai penanggung jawab," ujar Dokter Arya.
"Iya Dok, saya bersedia menjadi penanggung jawab mereka, karena bagi saya Nak Dika sudah seperti cucu saya sendiri," jawab Mbok Nah.
Kemudian Arya dan Mbok Nah pun masuk ke dalam ruangan Dokter Arya, dan Mbok Nah langsung saja menandatangani persetujuan tes DNA Cinta dan Dika.
"Mungkin hasilnya paling cepat akan keluar dalam satu minggu Mbok," ucap Dokter Arya.
"Iya tidak apa-apa, terimakasih banyak Dokter sudah membantu saya," ujar Mbok Nah dengan tersenyum.
__ADS_1
"Mbok panggilnya Arya saja ya," ucap Dokter Arya dengan tersenyum.
"Iya Nak Arya, Mbok Nah pamit dulu ya mau nungguin mereka lagi di depan ruang Operasi," ujar Mbok Nah yang kini melangkahkan kaki keluar dari ruangan Dokter Arya.