
Sepulang dari taman kini Cinta kembali melamun karena dia masih teringat dengan Ilham.
Kenapa sih aku harus ketemu lagi sama mas Ilham? dan kenapa juga jantungku masih berdetak kencang ketika melihat wajahnya? bung jauh-jauh perasaanmu Cinta, mas Ilham sudah menjadi Suami oranglain, bahkan dia sekarang sudah menjadi seorang Ayah, batin Cinta yang kini berada dalam dilema.
"Bunda yuk main sama Dita," ujar Dita dengan menarik tangan Cinta, sehingga Cinta pun kini tersadar dari lamunannya.
"Dita memang mau main apa?" tanya Cinta.
"Dita mau belajar Solat seperti yang Ayah dan Bunda sering lakukan," ucap Dita sehingga membuat Cinta meneteskan airmata.
"Alhamdulillah ternyata anak Bunda ini Putri yang saleha ya, Bunda jadi makin sayang deh sama Dita, kalau begitu sini Bunda pakaikan mukenanya," ujar Cinta kepada Dita dengan memakaikan mukena.
Dika kini telah pulang dari tempat kerjanya dan seperti biasa dia langsung menuju kamar Cinta setiap pulang bekerja.saat ini Dika melihat Cinta yang sedang mengajarkan Solat kepada Dita, sehingga membuat hatinya menghangat.
Kamu memang perempuan yang sempurna sayang, seandainya kamu dan Dita adalah Istri dan anak aku, aku pasti akan menjadi lelaki yang sangat beruntung, batin Dika.
"Hayo Nak Dika lagi ngapain ngintip-ngintip nanti bintitan lho," ujar Mbok Nah sehingga membuat Dika kaget.
"Astagfirulloh Mbok, bikin Dika kaget aja tau," ujar Dika.
"Iya maaf Nak Dika, habisnya Si Mbok penasaran Nak Dika sedang lihatin apa," ujar Mbok Nah.
"Dika barusan lihatin Cinta yang lagi ngajarin Solat sama Dita," ujar Dika.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan Dita bisa tumbuh menjadi anak yang saleha seperti Nak Cinta ya," ujar Mbok Nah.
"Iya Mbok, Amin mudah-mudahan saja," ujar Dika.
"Si Mbok tau kalau Nak Dika masih menyimpan perasaan sama Nak Cinta, Nak Dika yang sabar ya, memang melupakan seseorang itu sangat sulit," ujar Mbok Nah.
"Iya Mbok, lagian Dika juga besok punya kejutan buat Cinta," ujar Dika dengan tersenyum.
"Kasih tau Si Mbok dong," ujar Mbok Nah.
"Enggak ah, aku takut nanti Mbok Nah bocorin lagi sama Cinta, besok juga Mbok Nah tau," ujar Cinta dengan berlalu ke kamarnya meninggalkan Mbok Nah yang masih terlihat kepo.
__ADS_1
......................
Hari ini adalah hari penyambutan Kepala Rumah Sakit yang baru, sebagai pemilik rumah sakit Dika dan Cinta pun datang untuk menghadiri acara tersebut.
Kamu sebentar lagi akan bertemu dengan calon imammu Dek, hanya ini yang bisa Kakak lakuin untuk kebahagiaan kamu supaya kamu dapat segera melupakan Ilham, batin Dika.
Cinta dan Dika kini melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung tempat acara di selenggarakan, mereka berdua pun disambut spesial oleh Panitia penyelenggara.
Setelah Cinta dan Dika dipersilahkan untuk naik ke atas panggung, Kepala Rumah Sakit yang baru pun kini dipanggil untuk segera naik ke atas panggung juga.
Deg..deg..deg..
Jantung Cinta kini berdetak lebih kencang melihat Kepala Rumah Sakit yang baru yang tidak lain adalah Arya Alfarizqi, Dokter tampan yang pernah mengisi hari-harinya pada tiga tahun yang lalu.
Jadi Kepala Rumah Sakit yang baru adalah mas Arya, ucap Cinta dalam hati, dan dia pun melihat wajah Dika Kakaknya yang tersenyum kepadanya.
"Hanya ini yang bisa Kakak lakukan untuk kamu Dek," bisik Dika, dan Cinta pun masih diam mematung tanpa berbicara satu patah kata pun.
"Selamat datang Dokter Arya, Selamat bergabung kembali di Rumah sakit kami," ujar Dika dengan memeluk tubuh Arya.
"Terimakasih Tuan Dika, Anda sudah berkenan untuk menerima kembali saya di Rumah Sakit milik Anda," ujar Arya.
Setelah selesai melakukan penyambutan, kini Cinta, Dika dan Arya oun turun dari atas panggung.
"Mulai sekarang Dokter Arya jangan panggil saya Tuan ya, Dokter Arya bisa panggil Kakak ipar saja, karena sebentar lagi Dokter Arya bakalan menjadi Adik ipar saya," ujar Dika sehingga mendapat pelototan dari Cinta.
"Kakak malu-maluin saja sih," bisik Cinta.
"Malu-malu tapi mau kan?" goda Dika, sehingga membuat Cinta tersipu malu.
"Dokter Arya kalau mau pinjam Cinta boleh kok," goda Dika sehingga membuat Arya salah tingkah.
Dika yang mengerti jika Arya dan Cinta butuh waktu berdua pun kini pergi meninggalkan mereka, meskipun tadi Cinta memegang tangannya supaya tidak meninggalkannya, tapi Dika beralasan jika dia mau ke Toilet.
Hatiku rasanya sakit karena harus melepaskan perempuan yang sangat aku cintai untuk hidup bersama oranglain, tapi aku harus ikhlas dan ikut bahagia juga demi kebahagiaan Adikku satu-satunya, batin Dika dengan meneteskan airmata.
__ADS_1
Dika terus berjalan dengan tertunduk sampai dia tidak tau jika dia telah menabrak seorang perempuan sehingga perempuan tersebut jatuh.
Aduh
ujar perempuan tersebut karena saat ini dia duduk terjatuh di atas lantai.
"Maaf Mbak saya tidak sengaja," ujar Dika yang kini mencoba untuk membantu perempuan tersebut berdiri.
"Maaf mas kita bukan muhrim, jadi tidak boleh saling bersentuhan," ujar perempuan tersebut dengan menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, dan perkataan perempuan tersebut sontak membuat Dika tercengang.
Ternyata di jaman seperti ini masih ada perempuan seperti itu, dia persis seperti Cinta, batin Dika.
Dika masih diam mematung sampai dia tidak sadar jika perempuan tersebut telah berlalu dari hadapannya.
"Lho kemana perempuan tadi? padahal aku mau ngajak dia kenalan," ujar Dika.
Arya dan Cinta memutuskan untuk mengobrol di taman, supaya tidak terlalu ramai.
Keduanya masih diam tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun, sampai akhirnya mereka berdua berbarengan membuka suara.
"Mas"
"Cinta"
"Silahkan mas duluan saja," ujar Cinta.
"Ladies first, jadi kamu duluan sayang," ujar Arya yang kini sudah keceplosan memanggil Cinta dengan panggilan sayang sehingga dia kini menepuk-nepuk mulutnya secara perlahan.
"Mas apa kabar?" tanya Cinta mencoba untuk membuka suara.
"Alhamdulillah mas baik-baik saja, tapi selama tiga tahun mas tinggal di luar negri hati mas tertinggal di sini bersamamu," ujar Arya yang kini menatap Cinta dengan penuh kerinduan.
"Mas..aku," ujar Cinta, belum juga Cinta melanjutkan perkataannya secara tiba-tiba Arya langsung memeluk tubuh Cinta dengan erat.
"Mas sangat merindukanmu sayang, mas tidak tau kalau dulu kamu mencari mas sampai kamu menyusul ke Bandara, seandainya mas mengetahuinya dari dulu, mungkin mas tidak harus menyiksa perasaan mas karena harus berpisah dengan perempuan yang sangat mas cintai," ujar Arya dengan menangis.
__ADS_1
"Maafin aku mas karena telah salah paham terhadap mas Arya, aku sangat menyesal," ujar Cinta yang kini ikut menangis juga.
Dika yang melihat Cinta dan Arya berpelukan pun kini tersenyum lalu meneteskan airmata.