
Cinta dan Dika pun kini telah sampai di Jakarta.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Cinta, ayo bangun kita sudah sampai," ucap Dika.
Dika pun nampak heran karena dia sudah berkali-kali membangunkan Cinta, namun, Cinta tidak bangun juga, hingga akhirnya Dika memegang kening Cinta dengan punggung tangannya.
"Astagfirulloh, kenapa badan Cinta jadi panas begini? lebih baik aku segera membawa Cinta ke Rumah Sakit, aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengannya." ujar Dika.
"Mas Ilham...mas Ilham..." Cinta terdengar mengigau memanggil nama Ilham.
Sungguh beruntung sekali Ilham, bahkan di dalam bawah sadarnya yang Cinta ingat hanyalah Ilham, apakah begitu besarnya rasa Cinta kamu untuk Ilham? ujar Dika dalam hati.
"Astagfirulloh Dika...ini bukan saatnya kamu cemburu," gumam Dika kemudian. Namun, tiba-tiba disaat mobil Dika akan kembali keluar dari halaman, Cinta kini nampak terbangun.
"Mas kita sudah sampai ya?" tanya Cinta.
"Iya Cinta, tapi sekarang aku akan membawa kamu ke Rumah Sakit, aku takut kamu kenapa-napa," jawab Dika
"Aku gak apa-apa kok mas, palingan juga cuma masuk angin, nanti juga sembuh, sebaiknya kita masuk saja ya, kasihan mas Dika pasti cape, besok kan mas harus kerja," ujar Cinta
"Kamu yakin gak apa-apa? badan kamu sekarang panas banget lho," ujar Dika yang masih khawatir dengan keadaan Cinta.
"Mas Dika gak usah khawatir, nanti biar aku minta tolong mbok Nah buat kerokin badanku supaya lebih enakan," ujar Cinta.
"Ya sudah, lebih baik sekarang cepat kita masuk, nanti biar aku yang bicara sama mbok Nah," ucap Dika.
"Gak usah mas, kasihan mbok Nah kalau kita bangunin sekarang, lebih baik besok saja yah, aku juga sudah ngantuk banget," ujar Cinta dengan menguap.
Akhirnya Cinta dan Dika pun masuk ke dalam rumah.
Awalnya Cinta bersikap baik-baik saja saat di depan Dika, tapi ketika dia masuk ke dalam kamar, kepalanya terasa sangat pusing dan matanya berkunang-kunang sampai akhirnya dia pingsan setelah menutup pintu kamarnya.
......................
Keesokan pagi nya.
Clara dan Stella terdengar marah-marah karena sarapan belum siap, padahal waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
__ADS_1
"Mbok Nah, kemana si upik abu itu?" tanya Clara.
"Maaf maksud nyonya siapa? karena saya merasa di rumah ini tidak ada yang namanya upik abu?" tanya Mbok Nah.
"Maksud mamih tuh si Cinta gadis kampung itu Mbok Nah, biasanya kan jam segini makanan buat sarapan sudah siap, kenapa sekarang dia belum masak juga? ucap Stella.
Tiba-tiba Dika yang mendengar keributan pun akhirnya menghampiri mereka.
"Ada apa sih Mih, Stella, pagi-pagi gini sudah ribut?" tanya Dika.
"Ini lho si gadis kampung itu, jam segini belum juga bangun, lagaknya sok jadi tuan puteri saja di rumah ini, ucap Clara.
"APA? gak mungkin Cinta jam segini belum bangun, dan satu hal lagi Mih, Cinta punya nama jadi Mamih jangan seenaknya manggil dia sembarangan," ucap Dika, lalu kemudian berlari menuju kamar Cinta dan di susul oleh Mbok Nah.
"Terus saja tuh di belain, lama-lama jadi ngelunjak kan pembantu kampungan itu," ucap Clara.
"Terus sekarang kita makan apa donk Mih kalau si Cinta gak masak?" tanya Stella.
"Mending kita Shoping aja yuk, sekalian makan di luar," ajak Clara, dan Stella pun sangat antusias, hingga mereka berdua akhirnya pergi untuk berfoya-foya.
Sesampainya di kamar Cinta, saking khawatirnya Dika pun langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dika pun langsung menggendongnya lalu kemudian membaringkannya di tempat tidur.
"Mbok tolong ambilkan air hangat sama handuk kecil !" teriak Dika.
Mbok Nah pun datang membawa baskom air hangat dan handuk kecil yang diminta oleh Dika, dan dengan telaten Dika terus mengompres kening Cinta.
"Bangun Cinta, jangan buat aku khawatir," ucap Dika dengan meneteskan airmata.
"Nak Dika tenang saja, Nak Cinta pasti akan baik-baik saja," ujar Mbok Nah.
"Tapi mbok, Dika takut kalau Cinta sampai kenapa-napa," ujar Dika
"Nak Dika do'ain saja semoga tidak terjadi hal buruk kepada Nak Cinta, nanti kalau panasnya gak turun juga kita baru bawa dia ke Dokter," ucap Mbok Nah mencoba untuk menenangkan Dika.
"Lebih baik sekarang Nak Dika berangkat kerja saja, biar si Mbok yang jagain Nak Cinta," ujar Mbok Nah.
__ADS_1
"Aku gak bisa ninggalin Cinta dengan keadaannya yang seperti ini, percuma aku berangkat ke kantor tapi hati ku gak bakalan tenang," ujar Dika
"Ya sudah gimana Nak Dika saja. Si Mbok baru kali ini lihat Nak Dika bener-bener perhatian sama perempuan, apa Nak Dika sebenarnya suka sama Nak Cinta?" tanya Mbok Nah.
"Dika bukan hanya suka Mbok, tapi Dika benar-benar sangat mencintainya, Dika ingin selalu berada di dekatnya dan selalu melindungi Cinta." jawab Dika.
"Jadi, Nak Cinta ini perempuan yang tempo hari Nak Dika ceritain toh waktu masih di Sulawesi?" tanya Mbok Nah.
"Iya Mbok, Cinta mirip banget kan sama mendiang Ibu?" jawab Dika.
"Kalau dilihat-lihat nak Cinta memang mirip banget sama mendiang Bu Diana, bahkan nyaris tidak ada beda nya," jawab si mbok.
"Seandainya Ibu masih ada, Ibu pasti akan bahagia bisa mengenal gadis baik seperti Cinta," ucap Dika yang dibalas senyuman oleh Mbok Nah.
Tiba-tiba dari arah luar Tia berteriak lalu masuk ke dalam kamar Cinta.
"Anak pungut, bagi duit donk, duit gue yang kemarin sudah habis nih !" teriak Tia tanpa melihat kalau di kamar Cinta ada Dika dan Mbok Nah.
"Jaga mulut kamu kalau ngomong Tia, apa kamu gak lihat kakak kamu sekarang sedang sakit?" teriak Dika.
"Oh jadi sekarang si anak pungut ceritanya lagi sakit nih, tapi dia bukan pura-pura sakit kan buat cari perhatian sama kak Dika?" tanya Tia yang kini mendapat pelototan dari Dika.
"Sebaiknya kamu berangkat Sekolah sekarang sebelum aku lebih emosi lagi !" ucap Dika dan akhirnya Tia pun berlalu dari kamar Cinta.
"Selalu saja Anak pungut itu yang mendapatkan perhatian dari semua orang, apa sih hebatnya dia? mungkin sebaiknya aku jadi sugar baby saja, biar dapat banyak uang seperti teman-temanku, jadi aku gak perlu tuh minta-minta uang sama si Anak pungut lagi," gumam Tia dengan melangkahkan kaki menuju Sekolah.
"Mbok gimana ini, kenapa Cinta belum sadar juga? dan panasnya juga masih belum turun?" tanya Dika.
"Mas Ilham...mas Ilham..." ucap Cinta dengan lirih.
"Kenapa sih mbok, yang ada dalam pikiran Cinta hanya Ilham, bahkan disaat dia gak sadar pun hanya nama Ilham yang dia sebut?" tanya Dika.
"Mungkin karena Nak Cinta sangat mencintai Nak Ilham, jadi dalam pikirannya hanya nama Ilham yang Nak Cinta ingat," jawab mbok Nah.
"Apa sih mbok kurangnya aku di bandingkan sama Ilham?" tanya Dika.
"Beri Nak Cinta waktu, saat ini dia sedang mencoba berdamai dengan hatinya, karena melupakan itu tidaklah mudah, lagian Nak Ilham juga sudah Menikah jadi gak usah cemburu gitu, dan sekarang bukan waktunya Nak Dika cemburu, yang harus kita khawatirkan itu keadaan nak Cinta," ujar Mbok Nah.
__ADS_1
"Ya sudah Mbok, sekarang bantu Dika buat gendong Cinta ya, lebih baik kita secepatnya membawa Cinta ke Dokter," ucap Dika.
Akhirnya Dika dan Mbok Nah pun membawa Cinta yang belum sadar juga dari pingsannya untuk berobat.