
Semalaman Cinta sama sekali tidak dapat memejamkan matanya karena dia terus saja menangisi kepergian Arya. Dan Cinta juga sudah diliputi rasa penasaran ingin segera bertanya kepada Dika tentang kebenaran yang selama ini belum Cinta ketahui.
Setelah melaksanakan Solat Subuh, Cinta pun bergegas untuk menemui Dika, namun ternyata Dika kini telah berada di depan pintu kamar Cinta dan bermaksud untuk menceritakan kebenaran tentang dirinya dan Cinta.
"Mas Dika ada apa subuh-subuh mas Dika sudah kemari?" tanya Cinta.
Bukannya menjawab pertanyaan Cinta, Dika saat ini malah memeluk tubuh Cinta dengan erat lalu kemudian menangis dalam pelukannya.
"Mas Dika kenapa?" tanya Cinta yang kini terlihat cemas.
"Aku tidak mau kehilangan kamu Cinta, aku belum rela karena kita tidak akan pernah bisa menikah sayang," ujar Dika.
"Ikhlaskan semuanya mas, aku sudah tau kebenarannya karena semalam aku membaca catatan harian mas Arya, tapi apa benar tentang semua itu kalau kita berdua sebenarnya adalah anak kembar?" tanya Cinta yang kini ikut menangis juga.
"Iya sayang kita berdua adalah anak kembar yang sejak lahir sudah terpisah, maafkan Kakak ya sayang, karena Kakak juga baru mengetahuinya setelah Mbok Nah melakukan tes DNA kepada kita, karena Ayah sebelumnya tidak pernah menceritakan tentang kamu, tapi sampai akhir hayatnya Ayah selalu mencari keberadaan kamu Cinta, dan Kakak berjanji, mulai sekarang akan selalu menjaga serta melindungimu dan akan menjadi Kakak yang baik untuk kamu, sekarang kamu panggil aku dengan sebutan Kakak ya," ujar Dika, dengan menahan sakit di dadanya yang kini terasa sesak.
"Aku bahagia Kak, karena sekarang aku sudah bertemu dengan keluarga kandungku, tapi aku sedih karena aku tidak dapat bertemu dengan kedua orangtua kita," ujar Cinta.
"Semua ini karena perbuatan Clara, tapi sekarang dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal," ujar Dika.
"Iya Kak kita harus mengikhlaskan semuanya, dan kita juga tidak boleh mempunyai perasaan dendam terhadap siapa pun juga," ujar Cinta.
"Iya sayang makasih ya atas semuanya, apa Kakak boleh lihat kalung kamu?" ujar Dika.
Cinta pun kemudian mengeluarkan kalung yang dia pakai, lalu Dika menempelkan kalungnya dengan kalung milik Cinta, dan ternyata benar ketika kedua kalung itu digabungkan terlihat nama mereka terukir di sana, sehingga lagi-lagi mereka berdua meneteskan airmata.
Sebenarnya aku gak rela Cinta, tapi aku harus belajar mengikhlaskan semuanya, batin Dika.
"Aku tahu jika semua ini berat untuk Kak Dika, tapi Kak Dika tenang saja ya, meskipun kita tidak bisa Menikah, tapi aku akan selalu berada di samping Kak Dika dan menjadi Adik yang baik untuk Kakak," ujar Cinta.
"Terimakasih ya sayang, Kakak tau kamu adalah perempuan Saleha semoga saja kamu mendapatkan Suami yang Saleh," ujar Dika dengan mengelus lembut kepala Cinta.
"Apa Kakak bisa mengantarkan aku ke makam kedua orangtua kita?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, makam Tia juga ada di TPU yang sama dengan kedua orangtua kita, nanti kita bisa sekalian berziarah juga ke malam Tia," ujar Dika.
"Makasih ya Kak, pantas saja selama ini aku sayang banget sama Kak Dika seperti Adik terhadap Kakaknya," ujar Cinta dengan tersenyum.
"Jadi selama ini kamu gak pernah punya perasaan cinta buat Kakak," ujar Dika dengan cemberut.
"Harusnya Kakak bersyukur, jadi aku gak harus patah hati, coba kalau aku sudah jatuh cinta kepada Kak Dika, nanti aku bisa nangis sampai tujuh hari tujuh malam," canda Cinta.
"Semalam juga sepertinya kamu menangisi kepergian Arya ya, Suami palsu kamu itu," sindir Dika.
"Kakak kok malah ngeledek adik sendiri sih, bukannya ikut berduka cita gitu," rengek Cinta.
"Rupanya Adik Kak Dika yang cantik ini bisa manja juga ya," ujar Dika.
"Aku manja karena aku sekarang bahagia karena ternyata aku punya seorang Kakak dalam hidupku, Kakak tau gak kalau dari kecil aku pengen banget punya Kakak laki-laki biar nanti ada yang bisa jagain aku sama nolongin aku kalau ada yang gangguin," ujar Cinta.
"Sekarang impian kamu sudah terwujud sayang, Kakak akan selalu menjaga serta melindungi kamu. Cinta apa sebenarnya kamu sudah jatuh cinta sama Arya?" tanya Dika.
"Entahlah Kak, aku belum yakin dengan perasaanku, karena ketika aku hilang ingatan pun bayangan mas Ilham selalu ada dalam ingatanku," ujar Cinta tertunduk sedih.
"Galon itu bukannya tempat air ya Kak," jawab Cinta dengan tertawa.
"Gitu dong ketawa, kamu kan jadi tambah cantik, ya udah yuk makan," ajak Dika.
"Tapi Dita masih tidur Kak, nanti gimana kalau dia bangun?" tanya Cinta.
"Dita itu masih bayi sayang jadi gak bakalan bisa kemana-mana, kalau pun bangun paling dia nangis, nanti Kakak coba cari Baby Sister deh buat Dita," ujar Dika.
"Gak usah Kak biar aku aja yang ngurus Dita, lagian aku juga gak ada kerjaan," ujar Cinta.
"Kamu nanti harus Kuliah dan bantuin Kakak buat ngurus Perusahaan peninggalan orangtua kita," ujar Dika.
"Ya sudah deh aku nurut, tapi Kakak juga harus kuliah bareng aku ya," pinta Cinta.
__ADS_1
"Pasti dong sayang, Kak Dika bakalan selalu jagain kamu dari gangguan lelaki mata keranjang, tapi ingat kamu juga jangan suka mikirin Ilham, dia kan sudah menjadi Suami orang, bahkan Kakak sempat melihat foto unggahannya bersama seorang bayi, dan pasti itu anak Ilham dan Bella," ujar Dika.
Kenapa hatiku sakit ya ketika mendengar mas Ilham sudah mempunyai anak? seharusnya aku bahagia jika mas Ilham sekarang sudah bahagia, batin Cinta.
"Mulai galon lagi deh," ledek Dika.
"Kakak..!" teriak Cinta.
"Apa sayang? yuk makan Kakak juga udah lapar," ujar Dika dengan merangkul bahu Cinta.
Ternyata Ahmad sedang makan ketika Dika dan Cinta tiba di ruang makan.
"Kak Dika, Kak Cinta, ayo makan," ujar Ahmad tapi Dika kini malah meluk-meluk tubuh Cinta.
"Maaf ya Kak Dika bukannya Ahmad Sok tahu, tapi Kak Dika kan belum jadi muhrim Kak Cinta, jadi gak bisa peluk-peluk Kak Cinta," ujar Ahmad.
"Kak Dika muhrim Kak Cinta kok De," ujar Cinta dengan tersenyum.
"Memangnya sejak kapan Kak Cinta nikah sama Kak Dika?" tanya Ahmad.
"Sebenarnya Kak Dika adalah Kakak kandung Kak Cinta, dan kita berdua adalah anak kembar," jelas Cinta.
"Apa?" teriak Ahmad dengan membuka mulutnya lebar-lebar sehingga Dika iseng memasukan gorengan ke dalam mulut Ahmad.
"Kak Dika iseng banget sih," ujar Cinta dengan mencubit pinggang Dika.
"Sakit Dek, sudah berani ya sekarang menganiaya Kakaknya," ujar Dika dengan cemberut.
"Udah gak usah cemberut gitu, Kakak jelek kalau cemberut," ledek Cinta.
"Pantas saja dari pertama Ahmad ketemu Kak Dika sudah merasa aneh," ujar Ahmad.
"Emangnya Kak Dika Alien apa, Ahmad pake bilang aneh segala," ujar Dika.
__ADS_1
"Bukan gitu Kak, maksud Ahmad tuh aneh karena kalian mirip banget kayak pinang dibelah-belah," ujar Ahmad.
"Dibelah dua kali Dek," ujar Cinta, sehingga mereka bertiga pun tertawa bahagia.