
Sejak saat itu Sheva di larang bertemu dengan Morgan dan kawan-kawannya,ia hanya bisa pergi bekerja seperti biasa dan bertemu dengan Hana hanya di kantor. Tuan Robert sangat mengawasi putrinya itu hingga sekarang pun mereka harus berada dalam satu mobil ketika berangkat ataupun pulang dari kantor.
Pagi itu saat hari Minggu,semua anggota keluarga sedang bersantai di rumah begitu juga dengan Sheva yang memilih diam di kamar sambil memainkan ponselnya. Tuan Robert dan istrinya sedang menyeruput tehnya di halaman,tiba-tiba bel pintu berbunyi,asisten rumah tangga segera pergi untuk membuka pintu
"Iya,siapa ya?"
"Saya Ryota. Maaf,apa Shevanya ada?"
'Oh non Sheva,ada tuan. Mari silahkan masuk"
"Terima kasih"
Asisten rumah tangga memberitahu tuan Robert dan istrinya terlebih dahulu sebelum memberitahu Sheva
"Maaf bu di luar ada tamu"
"Siapa mbok?"
"Namanya tuan Ryota,dia mencari non Sheva bu"
"Ryota???"
Mereka beranjak ke ruang tamu untuk melihat siapakah dia sebenarnya
"Maaf siapa ya?" tanya nyonya Lista
"Om,Tante...."
"Kamu yang membawa putri saya ke rumah sakit kan?" ucap tuan Robert
"Ternyata tuan masih ingat" ucap Ryota
"Oh jadi dia yang menolong Sheva waktu kecelakaan itu pi?"
'Iya mi"
"Salam om tante,saya belum sempat mengenalkan diri waktu itu"
"Kami juga belum sempat mengucapkan terima kasih juga saat itu"
balas tuan Robert
"Sepertinya Ryota ini bukan orang Indonesia?"
"Benar om,saya asli Jepang. Kebetulan ada pekerjaan disini,saya juga berlatih bahasa Indonesia sedikit demi sedikit meski sekarang saya belum begitu lancar"
'Tapi ini jauh lebih baik dari pada turis-turis yang singgah di negara ini"
Tak berselang lama Sheva turun dari tangga dan melihat Ryota tengah berbincang dengan orang tuanya
"Ryota....." ucap Sheva membuat semua pandangan tertuju padanya
"Hai....."
Sheva duduk di antara mami dan papinya itu
"Sheva kamu sudah kenal dengan Ryota?"
'Sudah pi,dia adalah putra Mr.Namoko"
'Mr.Namoko patner bisnis kita yang dari Jepang?"
"Iya pi...."
'Pantas saja papi seperti tidak asing dengannya"
"Sheva nak Ryota ini yang sudah menolong kamu saat kecelakaan" ucap nyonya Lista
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Sheva terkejut
Tuan Robert menceritakan semuanya kepada Sheva hingga tak menyangka semuanya serba kebetulan seperti itu,sekarang dia merasa berhutang budi dengan mantan kekasihnya itu.
"Oh ya om,tante.Apakah saya boleh mengajak Sheva"
"Oh boleh silahkan" ucap tuan Robert yang begitu antusias
"Papi seriusan ngebolehin Sheva keluar?"ucap Sheva yang tidak percaya
"Iya sayang,sekarang kamu siap-siap dulu sana"
Sheva begitu senang akhirnya papinya memberikan izin keluar rumah selain waktu bekerja,setelah bersiap beberapa saat ia turun menemui Ryota yang masih menunggunya di ruang tamu. Nampak ia begitu akrab dengan kedua orang tuanya meski baru saja bertemu
Nampak mobil Ryota pergi meninggalkan halaman rumah tuan Robert,nyonya Lista yang berdiri di samping suaminya terlihat sedikit cemas
"Pi,kenapa papi biarkan Sheva pergi dengannya?"
"Memangnya kenapa Mi? Lagi pula Sheva sudah satu minggu ini kan tidak jalan keluar"
"Bagaimana kalau sampai keluarga William melihatnya? papi mau putri kita di cap sebagai perempuan gampangan?"
'Mami apaan sih,lagi pula mereka hanya berteman. Kalau mereka keluarga William berani berkata seperti itu maka ia tidak dapat berkaca dengan perbuatan putranya sendiri" ucap tuan Robert yang tak mau ambil pusing
Nyonya Lista hanya tidak ingin jika putrinya dekat dengan laki-laki lain sebelum ia sah bercerai dari Morgan.
Ryota mengajak Sheva pergi ke mall untuk menghiburnya,tak sengaja Ferly dan Rania melihat mereka,kebetulan keduanya sedang berbelanja untuk persiapan pernikahan mereka bulan depan.
"Sheva...." panggil Rania
"Hay Rania,hay kak Ferly...."
"Hay Va" jawab Ferly sambil mengamati laki-laki yang berdiri di sebelah Sheva itu
"Kamu sama siapa ini?" tanya Rania
"Oh ini,kenalin dia Ryota. Patner bisnis aku dari Jepang"
"Oh gitu ya,emb kamu cari apa kesini Va?" tanya Rania
"Enggak ini cuma jalan sih,sekalian mau nonton begitu"
"Kebetulan kita mau nonton juga,gimana kalau bareng?"ucap Rania memberi ide
"Kamu gimana?" tanya Sheva pada Ryota
"It's okay, justru seru juga kalau bareng-bareng"
"Okelah,kita langsung ke sana saja" ucap Rania mengajak semuanya
Di sela-sela nonton Rania dan Ferly saling berbisik membahas kedekatan Sheva dengan Ryota,mereka mengira bahwa Sheva secepat itu bisa move on Morgan yang statusnya masih suaminya.
Setelah selesai menonton film Rania mengajak keduanya makan siang sekalian,karena tujuan terakhir Sheva memang itu maka ia setuju saja begitu juga dengan Ryota. Selesai makan Sheva mengajak Ryota pulang ia setuju dan segera berpamitan pada Rania dan Ferly,dalam perjalanan pulang Sheva hanya memilih diam sambil memperhatikan jalanan yang padat merayap.
"Va,tumben kamu tidak sama suami kamu?"
"Kamu belum dengar kalau kami akan bercerai?"
"Sudah Va,tapi kalau boleh tahu kenapa?"
"Tidak ada,kami hanya sudah tidak saling cocok lagi"
"Belum ada dua tahun loh Va"
"Memangnya kenapa?"
"Nggak ada sih"
__ADS_1
Ryota memilih diam dan tak melanjutkan pertanyaannya karena tidak ingin membuat suasana hati Sheva memburuk. Sesampainya di halaman rumah Sheva melihat mobil Morgan ada di sana,ia segera meminta Ryota untuk pulang lebih dulu tanpa harus mengantarkannya sampai di depan pintu
"Kamu pulang saja,aku turun disini"
"kenapa begitu Va? kamu marah sama saya ?"
'Enggak,kenapa harus marah?"
'Lalu kenapa kamu tidak mengizinkan saya mengantarkan sampai depan rumah"
"Ada tamu dari keluarga Morgan,aku tidak mau mereka melihat kamu"
Ryota terdiam sesaat,ia mengangguk dan melihat Sheva keluar dari dalam mobilnya. Sheva melambaikan tangannya melihat Ryota yang pergi dari dalam terlihat Morgan keluar menghampirinya
"Pergi sama siapa kamu?" tanya Morgan sambil melihat ke arah gerbang
"Bukan urusan kamu" jawab Sheva ketus
"Hei saya ini masih suami kamu"
"Bagiku kita sudah tidak ada apa-apa lagi"
"Ingat ya Va,persidangan belum mengesahkan perceraian kita"
"Masa bodoh" ucap Sheva yang kemudian masuk ke dalam rumah"
"Sheva tunggu,saya belum selesai bicara"
Tuan Robert dan istrinya bingung melihat kegaduhan yang mereka buat,apalagi keluarga William yang tidak bisa berbuat banyak
"Sayang,kamu kenapa?" tanya nyonya Lista
"Ngapain lagi sih mi dia datang kemari?" ucap Sheva kesal
"Sheva,mama harap kamu mau memaafkan Morgan" ucap nyonya William
"Benar Sheva,papa merasa sangat gagal mendidiknya. Papa janji akan memberikan separuh aset papa pada kamu kalau bersedia membatalkan gugatan cerai kamu pada Morgan"
Sheva memandang orang tuanya,nampak nyonya Lista berharap putrinya mengabulkan permintaan keluarga William. Namun berbeda dengan tuan Robert yang memandang remeh maksud mereka
"Pi.....?"
"Terserah kamu Sheva,papi hanya ingin kamu tahu mana yang terbaik"
"Jika Sheva membatalkan gugatan itu lalu bagaimana dengan perempuan yang Morgan hamili?"
"Sayang kamu duduk sini" ucap nyonya Lista
"Perempuan itu akan tetap menjadi tanggung jawab Morgan,sementara kamu harus rela jika berbagi suami dengannya" tutur tuan Robert
"Enggak,aku nggak akan sudi memiliki madu. Lebih baik lanjutkan saja proses perceraian ini pi"
"Sayang kamu pikir-pikir dulu nak" ucap nyonya William
"Iya benar apa yang di katakan mama Morgan Sheva" imbuh nyonya Lista
"Mami pikir dengan memberikan setengah dari aset mereka akan membuat Sheva berubah pikiran? Enggak mi,apa yang di berikan papi pada Sheva lebih dari cukup untuk Sheva hidup sendiri"
"Sheva,begitu bayi itu lahir aku akan menceraikan dia" celetuk Morgan
"Kamu bukan hanya baji*gan tapi juga berhati busuk Morgan" ucap Sheva meninggalkan mereka semua
"Sheva tunggu sayang....."
"Sudah,kalian sudah dengar apa jawaban putri saya? sebaiknya sekarang kalian tinggalkan rumah ini dan jangan pernah mengusik lagi kehidupan kami" ucap tuan Robert
"Rob,kamu tahu kan kita sudah bersahabat sejak lama. Kamu yakin akan memutuskan hubungan ini?"
__ADS_1
"Lebih baik saya kehilangan persahabatan kita dari pada saya harus melihat putriku menangis setiap hari"
Tuan William mengajak istri dan putranya pergi dari kediaman Robert,usaha terakhir mereka harus gagal mana kala Sheva tidak membuka peluang sama sekali untuk memperbaiki rumah tangganya.