Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 109


__ADS_3

Sesampainya di rumah Sheva langsung naik ke kamarnya,tidak terlihat papi dan maminya di rumah. Mungkin mereka sedang ada acara diluar. Malam itu pikiran Sheva kembali kalut,ia tidak menyangka akhirnya melepaskan orang yang dengan susah payah ia cintai. Perasaan benci muncul seketika mana kala melihat mantan suaminya dan perempuan selingkuhannya itu berbahagia di atas penderitaan yang ia dapatkan sekarang. Selain membuat Sheva kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya,ia juga makan hati karena terus menerus menerima kebongan itu.


Keesokan harinya Sheva akan berangkat kerja,ia turun ke meja makan seperti biasanya sebelum berangkat. Namun disana tidak ada mami dan papinya hanya asisten rumah dan mbok Mirah


"Mbok,kok mami sama papi dari semalam tidak kelihatan?" tanya Sheva yang bingung


"Oh ya non,bapak dan ibu sedang pergi ke Surabaya. Katanya ada klien bapak yang istrinya meninggal"


"Oh gitu,tapi kenapa papi tidak telfon atau mengirimkan pesan ya?"


"mungkin tidak keburu non,soalnya tuan sendiri langsung terbang ke sana begitu mendengar kabar tersebut"


'Baiklah makasih mbok"


"Sama-sama non"


Sheva segera berangkat ke kantor setelah menyelesaikan sarapannya,sesampainya di kantor ia melihat Ryota yang menunggunya di lobby


"Ryota....???"


"Hay,morning"


"Morning,kamu ngapain disini?"


"Saya mau mengajukan proposal ke papi kamu"


"Proposal? proposal apa?"


'Kerja sama kita"


"Kok papi tidak pernah bilang ke aku sebelumnya?"


"Mungkin belum"


'Kenapa nggak sekretaris kamu saja?"


"Ya sekalian saja saya ketemu sama kamu"


"Idih dasar kamu"


"Kamu sudah sarapan?"


'Sudah tadi di rumah"


"Yah,padahal saya mau ngajakin kamu sarapan"


Sheva dan Ryota saling bercanda di lobby,karena jam masuk kantor juga belum mulai. Dari kejauhan terlihat Morgan datang menghampirinya


"Echembb....."


Sheva yang menyadari hal itu hanya memalingkan wajahnya


"Ryota,kita lanjutkan percakapan ini di ruangan aku saja ya?"


"Okay,tapi ini....?" ucap Ryota sambil menunjuk ke arah Morgan


"Biarkan saja,tidak penting"


"Sheva tunggu...." ucap Morgan mana kala melihat mantan istrinya berjalan pergi


"Ada apalagi?"


"Saya cuma mau mengantarkan ini,titipan dari mama"


"Makasih" ucap Sheva yang kemudian pergi

__ADS_1


Ryota membungkukkan tubuhnya sebagai tanda menyapa Morgan sebelum pergi,Morgan sendiri nampak cemburu mana kala melihat mantan istrinya akrab dengan laki-laki lain.


Sesampainya di ruangan Sheva meletakkan papper bag yang entah apa isinya itu di meja,tak lama Ryota masuk dan melihat Sheva yang menyeka air matanya.


"Sheva.... are you okay?"


"Yes,I'm okay. sampai mana tadi pembicaraan kita"


"Mungkin lain kali saja kita bahas ini,sekarang kamu butuh waktu untuk menenangkan hati. Sebaiknya saya pergi"


"Maaf Ryota,bukan maksud aku....."


'Ya saya paham,saya pergi dulu"


Ryota keluar dari ruangan Sheva,ia nampak kasihan melihat mantan kekasihnya yang berlarut-larut dalam kesedihan itu.


Saat jam makan siang Sheva ingin keluar dan melihat papper bag pemberian Morgan tadi,ia mendapatkan sebuah kue kesukaannya di dalam sana. Senyumnya mengembang namun ada sebutir bening mengambang di pelupuk matanya,ia kemudian membawa papper bag itu dan keluar dari ruangannya.


Sesampainya di receptionis Sheva meletakkan papper bag itu di meja


"Ini ada kue buat kalian" ucap Sheva


"Terima kasih banyak nona Sheva" ucap dua receptionis yang berdiri di belakang meja


Sheva hanya mengangguk kemudian pergi keluar,ia ternyata mampir ke butik langganannya untuk membeli satu buah tas mewah. Setela selesai bertransaksi Sheva melajukan mobilnya ke rumah keluarga William,kedatangannya di sambut baik oleh nyonya William yang kebetulan tengah mengobrol dengan para teman arisannya


"Sheva....."


"Tante,maaf Sheva tidak tahu kalau di rumah ini sedang ada acara"


"Tidak apa sayang,sini. Mama sedang ada arisan"


"Sheva,kamu makin cantik saja" ucap salah satu teman nyonya William


"Terima kasih tante,oh ya tante Sheva kemari hanya ingin mengantarkan ini" ucapnya sambil menyerahkan papper bag berisi tas mewah


"Sheva,kamu seharusnya tidak perlu memberikan mama barang-barang seperti ini"


"Ini tidak seberapa kok tante,Sheva kemari juga ingin minta tolong supaya tante stop kirim-kirim makanan ke Sheva"


"Kenapa sayang? kamu tidak suka dengan kuenya?"


"Bukan begitu tan,Sheva suka sekali. Tante sendiri tahu kalau itu kue favorit Sheva,hanya saja sekarang keadaannya sudah berbeda. Sheva tidak mau merasa hutang budi apapun pada keluarga tante,dan juga tante harus ingat kalau Sheva sekarang sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan keluarga ini"


"Sheva,kenapa kamu bilang begitu sayang?"


"Maaf tante,Sheva permisi"


Nampak nyonya William berkaca-kaca tak kuat menahan air mata yang sebentar lagi akan jatuh. Ucapan Sheva barusan bukan melukai hatinya hanya saja hal itu membuat nyonya William teringat hal-hal yang sudah membuat mantan menantunya menjadi seperti itu. Semua ini karena kebodohan putranya hingga menghancurkan hubungan yang dengan susah payah ia dan suaminya jaga selama ini.


Hari-hari berlalu begitu cepat,besok adalah acara pernikahan Morgan dan juga Kiara. Malam ini Sheva yang duduk di tepi kolam bersama laptopnya mendapatkan kejutan dari tuan Robert


"Taraa....."


"Apa ini Pi?"


"Ini tiket liburan ke Italia"


"Italia? buat siapa??"


"Buat kamu lah,kamu kan sudah lama tidak kesana"


"Iya sih Pi,apalagi aku kangen banget sama kak Geby"


"Jadi....???"

__ADS_1


"Besok pi?"


"Iya"


"Tapi Sheva nggak bisa Pi"


"Kenapa? soal kerjaan? sudah nanti papi yang bilang ke CEO"


"CEO nya kan papi sendiri"


"Nah itu tahu,jadi nggak usah khawatir kamu soal kerjaan"


" Bukan begitu Pi"


"Lalu?"


"Sheva besok harus pergi ke acara pernikahan Morgan"


"Sheva.... buat apalagi kamu hadir di acara yang justru akan membuat kamu sedih?"


"Pi,dunia akan tetap terus berputar apapun yang terjadi. Semua ini yang bisa mendewasakan Sheva pi,tanpa masalah ini Sheva pasti akan selalu jadi orang yang tidak bisa berpegang teguh pada prinsip hidup"


"Sayang,papi hanya tidak mau kamu menangis lagi. Cukup,cukup kemarin saja kamu menangis dan membuat hati papi sakit melihatnya"


'Sheva bisa kok Pi,Sheva yakin kalau memang apa yang di takdirkan Tuhan untuk kita maka ia tidak akan melewati kita bukan?"


"Papi harus apa sayang supaya bisa menghilangkan sedikit kesedihan kamu? papi melakukan ini karena papi tidak ingin kamu melihat semua itu"


"Pi,Sheva bukan pengecut. Sheva sama sekali tidak bersalah,lalu untuk apa Sheva harus melarikan diri dari semua ini? bukankah dia cukup berani mengundang Sheva untuk hadir,ia melakukannya hanya ingin melihat Sheva hancur saat mengetahui ada perempuan lain di sampingnya. Tapi Sheva janji,Sheva tidak akan merasa begitu. Sheva akan tunjukkan ke semua orang,bahwa Sheva bisa melewati ini semua dan keluar dari dalam masalah ini"


Tuan Robert tidak dapat berkata apa-apa lagi,ia hanya bisa menitikkan air matanya dan memeluk putri kecil yang begitu ia sayangi sampai kapanpun. Nyonya Lista yang berdiri di balik pintu ikut menangis melihat keteguhan hati putrinya yang luar biasa itu,mungkin ia sendiri tidak akan bisa seperti Sheva jika berada di posisi tersebut.


Keesokan harinya Sheva bangun dengan menatap yakin pada dirinya bahwa ia dapat melewati semua ini,ia melihat ke arah cermin dan mengusap sisa air matanya yang berjatuhan semalam setelah itu ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebuah gaun yang sudah ia rancang khusus untuk hadir di pesta itu akhirnya Sheva kenakan juga,setelah selesai ia turun ke bawah nampak papi dan maminya memandang takjub melihat kecantikan Sheva.


"Sayang,kamu cantik sekali"


"Makasih Pi"


"Sayang,mami harap secepatnya kamu bisa melupakan dia" ucap nyonya Lista


Di halaman rumah terdengar suara mobil berhenti,Sheva dan kedua orang tuanya keluar dan melihat Alta yang keluar dari dalam mobil.


"Pagi om,tante....."


"Pagi Al,apa kabar kamu?"


'Baik om,om dan tante juga baik kan"


'Ya seperti inilah"


"Mi,Pi Sheva berangkat dulu ya?"


"Iya sayang,Alta tante titip Sheva ya"


"Iya tante"


Sheva dan Alta pergi meninggalkan kediaman Robert,sesampai di parkiran rumah keluarga William nampak ramai. Hana dan Steven juga baru hadir


"Wow cantik banget sih sahabat aku" teriak Hana begitu melihat Sva keluar dari mobil


"apaan sih Han,kamu juga cantik kok"


"Kalau begitu,kita masuk sekarang" ucap Hana menggandeng lengan Steven


Sheva nampak canggung dengan suasana itu mana kala melihat sahabatnya yang begitu mesra

__ADS_1


"Kalau kamu tidak keberatan.....?" ucap Alta yang sudah berdiri di samping Sheva sambil menyiapkan gerakan yang sama seperti Steven


Sheva tersenyum dan menggandeng lengan Alta kemudian berjalan masuk ke dalam.


__ADS_2