
Hari sidang perceraian Sheva dan Morgan di gelar,dengan di temani oleh kedua orang tuanya Sheva pergi ke pengadilan Agama Jakarta Pusat. Di sana telah hadir Morgan bersama dengan tuan William,entah kemana nyonya William berada sehingga membuatnya tidak bisa hadir di sana sekarang.
Tepat pukul 09.00 semua tamu hadir di acara persidangan itu,Hana,Rania dan beberapa teman Morgan nampak datang. Dan yang paling mengejutkan lagi ada sosok Kiara yang duduk di samping tuan William sekarang,namun terlihat Ryota juga datang duduk di antara para tamu yang ada.
Hakim memasuki ruangan,tahap demi tahap di jalankan hingga suatu ketika terdengar suara pukulan palu yang menandakan sidang telah berakhir. Kini Morgan dan Sheva sudah sah bercerai secara hukum,nyonya Lista memeluk putrinya itu dengan berurai air mata. Begitu juga dengan Hana dan Rania yang ikut memeluk sahabatnya itu,Morgan datang menghampirinya dan menjulurkan tangan untuk berjabat.
Dengan hati yang mantab ia meraih tangan itu,tak berselang lama Kiara dan tuan William menghampiri mereka. Sontak Sheva segera melepaskan tangannya
"Saya harap hubungan kita tetap baik Rob" ucap tuan William
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan Wil" jawab tuan Robert dengan nada ketus
"Sheva,kamu masih bisa main ke rumah papa dan mama jika mau" ucap tuan William sebelum pergi
Nampak Sheva hanya tersenyum kecil melihat Morgan dan papanya pergi,tak ketinggalan wanita itu yang menguntit di belakang keduanya.
"Jadi dia perempuan tidak tahu diri itu?" ucap Hana sambil menatap ke arah Kiara
"Apa sih Han? ayo pulang" ajak Sheva
Sejak perceraian itu Sheva menjalani hari-hari dengan suasana hati yang tidak begitu nyaman,sering ia menangis sendirian mengingat rumah tangganya yang hancur. Namun bukan itu yang membuatnya sedih,ia merasa gagal menjadi seorang calon ibu yang membunuh anaknya sendiri. Berkat kecerobohannya waktu itu membuat Sheva harus kehilangan janinnya,sering ia mengunjungi makam anaknya yang belum sempat di beri nama itu.
Namun Hana sebagai sahabat tidak pernah lelah menghiburnya,meski sekarang ia memiliki kekasih namun ia tetap memprioritaskan Sheva di atas kebahagiaannya.
Sore itu sepulang kantor Steven menjemput Hana seperti biasa
"Va,aku sama Steven mau ke cafe kak Alta. Kamu mau ikut?"
'Nggak deh"
"Kenapa? sekali-kali deh Va. Sudah sebulan ini kamu jarang kumpul sama aku dan Rania,please" ucap Hana dengan wajah memelas
"Okay deh,tapi aku hanya sebentar ya?"
"Okay,yey...."
Hana nampak menghampiri mobil Steven,ia berkata bahwa akan menyusulnya ke cafe Alta. Mereka nampak semangat karena ini pertama kalinya semua bisa berkumpul kembali setelah sekian lama.
Sesampainya disana,nampak Ferly dan Rania sudah lebih dulu tiba,mereka saling sapa dan melepaskan rindu
"Alta mana?' tanya Steven
"Masih di kantor,bentar lagi juga datang" ucap Ferly
"Kamu mau pesan apa Va?" tanya Hana
"Espresso aja deh"
__ADS_1
"Okay"
Tak berselang lama Alta datang masih menggunakan baju kantornya,ia nampak tidak tenang melihat teman-temannya sudah bekumpul
"Kamu kenapa Al?" tanya Steven
Alta melemparkan beberapa undangan ke meja,Steven memungut salah satunya
"What,undangan Morgan dan Kiara" ucap Steven
Semua langsung menatap ke arah Sheva yang meminum segelas espresso
"Sudah biasa aja" ucap Sheva
"Va,seriusan kamu nggak apa-apa?" tanya Rania
"Memangnya kenapa? lagian sah-sah aja kali kalau dia mau nikah lagi,mau di taruh mana muka keluarganya kalau sampai tahu perempuan itu perutnya sudah gede tapi belum juga nikah"
"Bukan itu Va" lirih Hana yang tidak tega dengan sahabatnya
"Lalu apaan Han? kamu berharap aku sedih lihat ini semua? kalian harusnya senang dong aku bisa terbebas dari laki-laki tidak tahu diri itu"
"Va,ini ada nama kamu" ucap Alta sambil menyerahkan undangan itu
"Gila sih Morgan,berani banget dia undang mantan istrinya?" ucap Ferly
"Kamu datang Va?" tanya Hana lagi
"Va,kita semua tahu ini sulit untuk kamu. Tapi misal kamu belum siap dengan semua ini,kami bisa kok kasih alasan kenapa kamu tidak bisa hadir"
"Han,aku bukan tipe orang yang suka lari dari masalah. Aku akan datang,aku akan tunjukkan kalau aku sudah move on dari dia"
"Tapi secepat ini Va?"
"Lalu mau gimana?"
"Ya sudah deh terserah kamu" jawab Hana yang sudah tidak tahu harus berkata apa lagi
Alta memperhatikan Sheva yang nampak sedikit murung,meski dalam keadaan ramai namun luka di hatinya tetap tak dapat di sembunyikan. Sebisa mungkin Sheva berusaha menahan air matanya ketika menatap nanar ke arah surat undangan yang ada di atas meja. Dengan sigap Alta mengambil semuanya dan membawanya ke tempat sampah,teman-temannya menatap bingung namun Hana tahu betul apa yang Alta lakukan semata-mata untuk menjaga hati sahabatnya.
"Aku ke toilet bentar ya" ucap Sheva yang beranjak dari tempat duduknya
Sheva bersandar pada dinding dekat wastafel,ia mengeluarkan semua tangisnya di dalam sana. Alta yang melihat hal itu langsung menemuinya,terdengar dari luar pintu toilet isak tangis dari Sheva,ia kemudian mengetuk pintunya
"Tok tokkk.. are you okay?" tanya Alta
Sheva seketika terdiam dan membasuh wajahnya,sesaat ia keluar dan melihat Alta yang cemas
__ADS_1
"Kamu sudah lama berdiri di sini?" tanya Sheva
"Saya tahu ini pasti sulit untuk kamu,tapi saya yakin kamu bisa melewatinya" ucap Alta
Sheva merasa hanya Alta lah yang bisa mengerti perasaannya saat ini
"Kita kembali ke meja,tidak enak jika yang lain menunggu terlalu lama"
Sheva mengangguk dan berjalan kembali ke mejanya bersama Alta
"Va,kamu nggak apa-apa?" tanya Hana yang terlihat cemas
"Aku baik-baik saja kok Han"
"Syukurlah kalau begitu"
Mereka melanjutkan percakapan mereka dengan yang lain,hingga pukul 20.00 Sheva memutuskan untuk pulang
"Emb gaes,aku balik duluan ya?"ucap Sheva
"Loh Va,ini baru jam berapa?" ucap Ferly
"Sheva mungkin capek kak" bela Hana
"Kalau begitu saya antar ya Va??" ucap Alta
"Nggak usah kak,aku bawa mobil kok"
"Seriusan kamu tidak mau saya antar?"
"Cielah men,Sheva udah bilang kali kalau dia bawa mobil sendiri" goda Steven
"Apaan sih Stev,kalau begitu saya antar kamu ke depan" jawab Alta
"Ya sudah kalau begitu aku balik dulu ya,bye semuanya" ucap Sheva meninggalkan tempat itu
Ketika Alta dan Sheva pergi Steven dan Ferly mulai membicarakan kedekatan keduanya
"Menurut kalian,Alta seperti berusaha mendekati Sheva lagi bukan sih?" ucap Ferly
"Iya ya,dia begitu perhatian loh sama Sheva" jawab Steven
"Apaan sih beib,kak Alta begitu karena peduli. Kita semua kan sahabat yang harus saling mengerti kondisi yang lain" jawab Hana
"Tapi kalau memang kak Alta berniat begitu sih nggak masalah juga kan Han,lagi pula sekarang status Sheva bukan istri orang lagi" celetuk Rania
"I know Ran,tapi apa iya secepat ini? aku paham betul seperti apa Sheva,dia tidak mungkin semudah itu jatuh cinta apalagi setelah yang terjadi dengan rumah tangganya"
__ADS_1
"Iya juga sih,bisa jadi Sheva trauma dan sulit percaya dengan laki-laki lagi" imbuh Steve
"Sudah-sudah,kita do'akan saja yang terbaik untuk Sheva" ucap Hana yang menghentikan topik itu mana kala terlihat Alta berjalan kembali menghampiri mereka.