Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 64


__ADS_3

Setelah selesai makan malam Morgan mengajak Sheva mengobrol soal persiapan pernikahan mereka


"Sheva,gimana? semuanya sudah selesai?"


"Maksud kamu?"


"Persiapan pernikahan kita"


"Oh itu,aku sudah serahkan semuanya ke mami. Akhir-akhir ini aku sedang banyak pekerjaan"


"Oh begitu,ya sudah. Mama juga bilang kalau sudah selesai 90% mungkin tinggal saya saja yang harus menyesuaikan lagi dengan persiapannya"


"Iya"


"Gimana kantor?"


"Hah,gimana apanya?"


"Kata papi kamu lagi fokus sama proyek-proyek besar"


"Oh itu,enggak sama sekali kok. Papi cuma ngasih aku ijin buat stay di kantor saja"


"Emb begitu,Va...."


"Ada apa"


"Saya mau tanya sama kamu"


"Soal apa?"


"Tapi kamu janji jawab dengan jujur ya"


"Ada apa sih,sepertinya begitu penting"


"Sebenarnya saya takut Va,kalau kamu terpaksa dengan pernikahan ini"


"Terpaksa? enggak sama sekali. Bahkan aku senang karena papi bisa melunasi janjinya"


"Tapi dalam hati kamu yang paling dalam pernah tidak kamu berfikir memiliki perasaan pada saya?"


"Kok tiba-tiba jadi bahas perasaan?"


"Saya takut saja kamu terpaksa melakukan ini semua hanya karena papi pernah berjanji untuk menjodohkan kita"


"Apa perasaanku penting buat kamu? yang terpenting sekarang kita akan menikah kan"


"Apa gunanya saya jadi suami kamu kalau di hati kamu saja tidak ada sedikitpun perasaan untuk saya"


"Morgan,kenapa tiba-tiba sekarang kamu jadi bahas soal perasaan? apa pentingnya hal itu kalau orang tua kita saja tidak mempermasalahkan apakah kita saling cinta atau tidak. Bukankah yang terpenting bagi mereka adalah kita menikah?"


"Sheva,saya hanya tidak mau kamu menikah dengan saya karena terpaksa atau karena janji papi kamu ke keluarga saya"


"Kalau begitu kenapa kamu tidak berusaha menghapus janji itu?"


"Aku sudah membujuk orang tua ku untuk melupakan janji itu,tapi papi kamu tetap bersikeras untuk menikahkan kita. Aku menghormati keputusan papi kamu Va,aku tahu mereka melakukan itu karena itu adalah hal yang terbaik buat kita"


"Ya sudah kalau sudah begitu kenapa kamu masih bahas soal perasaan,soal aku punya cinta buat kamu atau tidak biarlah itu jadi urusan pribadiku. Yang terpenting kewajibanku menjadi seorang istri nanti akan tetap ku lakukan"


"Sheva,saya tidak mau kamu melakukan itu karena terpaksa. Sama sekali tidak enak Va di anggap ada namun kita tidak tahu hatinya untuk kita atau siapa"

__ADS_1


"Terus kamu mau aku punya cinta untuk kamu dulu baru kita menikah,begitu?"


"Maka dari itu saya tanya sama kamu Va,adakah di hatimu rasa cinta buat saya"


"Kalau aku jawab tidak ada,apakah kamu akan membatalkan pernikahan ini?"


"Sheva tolong,kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Jangan terbawa emosi seperti ini"


"Sudahlah Gan,yang terpenting pernikahan ini akan tetap berjalan. Kamu tidak perlu mengetahui apakah ada cinta di antara kita,karena itu semua sekarang sudah tidak penting untuk ku"


"Tapi itu penting untuk saya Va"


"Sudah,sebaiknya kamu pulang. Saya mau istirahat" ucap Sheva yang meninggalkan Morgan.


Morgan hanya dapat diam dan melihat Sheva yang meninggalkannya,beberapa saat kemudian ia pergi menghampiri orang tuanya yang berada di ruang tamu bersama orang tua Sheva. Mereka menatap bingung kenapa Morgan datang seorang diri


"Loh nak Morgan,Sheva mana?" tanya nyonya Lista


"Sheva ke kamar mi,katanya capek mau istirahat"


"Sudah jeng biarkan saja,Sheva harus banyak istirahat biar besok saat pernikahan bisa fresh"


"Morgan,besok kamu jadi feeting dengan Sheva?"


"Jadi Pi..."


"Ya sudah kalau begitu,sekalian ajak dia jalan-jalan kalian kan tidak pernah bertemu selama setahun lebih"


"Iya,biar makin dekat saja" imbuh nyonya Lista


Morgan hanya tersenyum menutupi pikirannya yang bercampur pertanyaan-pertanyaan soal Sheva.


"Sheva,kamu ke kantor?" tanya nyonya Lista


"Iya mi"


"Loh bukannya hari ini kamu mau menemani Morgan feeting jas?"


"Morgan kan sudah besar mi,dia bisa kok sendiri"


"Ya tidak begitu Sheva,kalian ini mau menikah jadi sudah sewajarnya kamu menemani Morgan" imbuh tuan Robert


"Pi,hari ini ada meeting dengan klien Makasar. Aku tidak bisa begitu saja lari dari tanggung jawab"


"Sudah,meeting biar papi yang handel kamu temani Morgan saja"


"Papi,tapi ini klien Sheva"


"Iya,papi tahu. Papi tidak akan mencurinya dari kamu"


"Sheva,kamu jangan mulai pagi-pagi begini dengan perdebatan. Mami tidak suka"


Sheva menghela nafas dan pergi kembali ke kamarnya,ia tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya. Karena ia sudah berjanji untuk tidak mengecewakan mereka lagi,terlebih sekarang Morgan sudah kembali pasti orang tuanya akan lebih membela calon suaminya itu.


Tepat pukul 10.00 Morgan datang untuk menjemput Sheva,nyonya Lista seperti biasa harus memanggil putrinya di kamar. Sheva yang saat itu baru menyaksikan meeting papinya dari panggilan video Hana sedikit terganggu dengan kehadiran maminya


"Sheva,kok kamu belum siap-siap? Morgan sudah datang itu"


"Iya mi"

__ADS_1


'Buruan turun,mami tidak mau Morgan menunggu terlalu lama"


Sheva hanya bisa diam mendengar maminya yang begitu membela calon menantunya itu,beberapa saat kemudian ia turun ke bawah menemui Morgan yang mengobrol dengan nyonya Lista.


"Nah itu Sheva" ucap nyonya Lista sambil melihat putrinya yang turun dari tangga


"Ayo"


"Mami kita pergi dulu ya" ucap Morgan sambil mencium tangan calon mertuanya itu


"Hati-hati ya,jangan lupa qulity time"


"Mami apaan sih" celetuk Sheva sebelum masuk ke dalam mobil


Di perjalanan Sheva memilih diam,mengingat perdebatan mereka semalam membuatnya enggan berbicara banyak.


"Kamu mau beli gaun pesta sekalian?" tanya Morgan membuka pembicaraan


"Enggak"


"Tidak apa-apa,kamu beli lagi saja"


"Enggak,kalau aku bilang enggak ya enggak"


'Okay"


Tak lama mereka sampai di depan butik tempat Sheva membeli baju pernikahannya,mereka turun dan pemilik toko menyambut kedatangannya. Setelah sedikit berbincang salah satu karyawan toko membawakan jas yang di pesan oleh keluarga William


"Silahkan di coba tuan"


"Saya tinggal dulu ya" ucap Morgan pada Sheva


Sheva menunggu di sofa sembari mengirimkan pesan kepada Hana bertanya tentang hasil meeting hari ini,saat karyawan membuka tirai nampak Morgan berdiri gagah menggunakan setelan toxido putih bersih lengkap dengan dasi kupu-kupu di lehernya.


"Sheva...."


Sheva menatap Morgan sesaat kemudian memalingkan wajahnya


"Bagaimana?"


"Jelek"


"Tapi ini pilihan mama"


"Aku tidak suka"


"Mau ganti?"


"Iya"


"Tapi butuh beberapa hari untuk membuat ukuran saya Va"


"Pokoknya aku tidak mau tahu,kamu ganti jas itu atau kita tidak perlu menikah"


"Va.....!!!" ucap Morgan dengan nada tinggi


Sheva nampak terkejut lalu mengambil tasnya dan pergi dari butik itu


"Sheva tunggu...." teriak Morgan

__ADS_1


Namun Sheva memilih untuk menjauh dari sana sesaat,ia kemudian memesan taksi dan memintanya untuk mengantarkan ke sebuah taman.


__ADS_2