
Sejak malam itu kedekatan Sheva dan Alta semakin hari semakin membuat orang-orang merasa bahwa sudah saatnya mereka berdua meresmikan layaknya hubungan serius,terlebih lagi sudah hampir dua tahun pula Sheva mengakhiri hubungannya dengan Morgan. Siang itu orang tua Alta yang baru kembali dari New Zealand mengundang makan siang keluarga Robert,mereka telah mendengar kabar kedekatan Sheva dan Alta sehingga membuat orang tua Alta merasa tidak perlu menunggu terlalu lama lagi.
Sheva yang sengaja tidak di beri tahu tentang pertemuan itu karena Alta akan menjemputnya sendiri dari kantor dan membawanya ke rumah,siang itu Sheva tiba-tiba menerima pesan dari receptionist bahwa Alta menunggunya di lobi. Ia segera turun tanpa persiapan apapun dan menemuinya,terlihat Alta duduk seorang diri sambil melihat sekeliling
"Kak Alta..."
"Hay,kamu sudah istirahat bukan?"
"Iya kak,kenapa memang?"
"Kita makan siang yuk?"
"Kok kakak nggak telfon atau chat dulu kalau mau ngajak aku makan siang bareng?"
"Memangnya kenapa? apa kamu sudah ada janji makan siang dengan orang lain?"
"Bukan gitu kak,kok tumben saja gitu?"
"Kebetulan saya ada di dekat sini,jadi sekalian aja mampir"
"Ya sudah kalau begitu kakak tunggu sebentar ya,aku ambil tas dan handphone di ruang kerja"
"Baiklah"
Sheva kembali ke ruangannya dan bersiap untuk menemui Alta kembali,setelah itu mereka pun segera melaju. Di pertengahan jalan Sheva bingung kemana Alta akan membawanya karena jalan yang mereka lewati mengarah menuju rumah Alta
"Kak,kita mau makan siang dimana memang?"
"Di rumah saya"
"Hah?? di rumah kak Alta? kenapa nggak di luar saja?"
"Kebetulan orang tua saya baru kembali dari luar negeri,dia meminta saya membawa kamu pulang untuk makan siang bersama"
"Aduh kok dadakan banget sih kak?"
"Kenapa memangnya? kamu tidak mau bertemu dengan orang tua saya?'
"bukannya nggak mau kak"
"Lalu?"
"Aku belum siap saja,lagi pula aku tidak bawa apapun untuk mereka"
__ADS_1
"Kayak mau ngapain aja belum siap,lagipula Ayah dan Bunda yang undang kamu jadi nggak perlu bawa apapun untuk mengambil hati mereka "
"Ya kan sepantasnya saja kak"
"Sudah sudah kamu tenang saja"
Tak berapa lama mereka sampai di halaman rumah Alta,terlihat beberapa mobil ada di sana termasuk mobil orang tua Sheva.
"Ini kan mobil papi" ucap Sheva
"Ayo Sheva masuk" ajak Alta
Masih dengan rasa penasaran dan bingung Sheva berjalan di samping Alta menuju ruang makan,dan di sana sudah berada orang tua Alta dan juga orang tua Sheva
"Mami,Papi.....? kok kalian bisa ada disini?" ucap Sheva yang agak terkejut
"Jadi ayah dan bunda saya juga mengundang orang tua kamu Sheva " ucap Alta
"Ayo Sheva duduk" ajak bunda Alta
"Nah Sheva kenalkan saya Viona bunda Alta" ucap wanita cantik di samping Alta
Sheva menjabat tangannya dan tersenyum
"Halo Sheva,senang bertemu denganmu. Benar apa kata putra saya bahwa kamu memang cantik" ucap ayah Alta
"Ayah jangan mulai" sahut Alta yang malu
"Sheva,jadi ayah dan bunda Alta ini mengundang kita untuk makan siang bersama.Mereka baru saja kembali dari New Zealand dan rencananya akan menetap disini menemani putranya" tutur tuan Robert
"Om,Tante terima kasih atas undangan makan siangnya. Saya dan sekeluarga senang kita bisa berkumpul bersama seperti sekarang ini,saya harap selama ini kak Alta tidak menggambarkan yang berlebihan tentang saya" ucap Sheva
"Tentu saja tidak, apa yang putra kami bilang persis dengan yang kami lihat sekarang. bukan benar begitu kan Ayah?" ucap bunda Viona
"Benar sekali,bahkan Sheva ini lebih cantik dari apa yang Alta pernah gambarkan pada kita"
"Saya senang mendengarnya jika putri kami tidak mengecewakan jeng Viona dan suami" balas nyonya Lista
"Sudah,kita sambung percakapan ini nanti sekarang waktunya makan. Silahkan di nikmati hidangannya " tutur Bunda Viona
Setelah selesai makan siang,Alta mengajak Sheva berkeliling di taman memperlihatkan koleksi tanaman kesayangannya dan bundanya
"Kamu ternyata suka berkebun kak?"
__ADS_1
"Ya begitulah,dulu sebelum bunda kembali ke luar negeri saya kerap menemani bunda menghabiskan waktu di sini. Bunda sangat suka berkebun apalagi dengan bunga-bunga cantik ini"
"Dulu mami dan papi juga,hanya saja aku cuma bisa mengagumi bunga-bunga itu tanpa ingin menyentuhnya "
"Kenapa?"
"Aku geli dengan binatang melata seperti cacing dan ulat yang sering berada di tanaman"
"Phobia?"
"Bisa di katakan seperti itu"
"Tenang saja disini aman karena aku selalu memberikan insektisida sebulan sekali meski akhir-akhir ini jarang sih"
Tiba-tiba mata Sheva teralihkan pada sebuah Lily putih yang berbaris melingkar di paviliun taman
"Ini kakak yang tanam?"
"Bunda,dia suka bunga seperti Lily dan juga Anggrek. Selain perawatannya yang mudah bunga-bunga itu bertahan lama tanpa memerlukan penanganan yang lebih"
Saat Sheva menyentuh anggrek bulan yang berada di batang pohon tiba-tiba sebuah ulat menatapnya dari tepi pohon tersebut,seketika mata Sheva melotot dan berteriak sejadi-jadinya
"Aaaaaaa ulattttt......"
Melihat hal itu Alta panik dan mencoba mencari letak ulat tersebut,setelah bertemu Alta mengambil batang dan menyingkirkan ulat tersebut ke tempat sampah. Sheva yang ketakutan terduduk di bangku dengan raut wajah ketakutan
"Sheva maaf,saya tidak tahu jika ada ulat disana"
Orang tua Alta dan orang tua Sheva menghampiri keduanya yang tengah duduk di kursi taman
"Alta,ada apa? bunda dengan seperti suara teriakan Sheva tadi"
"Ini Bun Sheva lihat ulat di pohon Anggrek bunda"
"Ulat??? kok bisa ada ulat?"
"Mungkin mang Darma lupa disinfektan Minggu ini Bun,karena dia harus pulang kampung. Sheva sekali lagi saya minta maaf"
"Sheva ini phobia dengan hewan melata nak Alta,dia begitu ketakutan meski hanya melihatnya saja" tutur tuan Robert
"Iya om,tadi Sheva sempat cerita ke saya"
"Ya sudah sekarang kita masuk saja,kita ngopi di teras dekat kolam yang bersih dari hewan melata" ucap ayah Alta
__ADS_1
Semua setuju dan pergi ke teras untuk menyesap kopi masing-masing, rasanya Alta begitu bahagia bisa kembali berkumpul dengan orang tuanya dan di temani dengan perempuan yang selama ini ia cintai. Namun pada kenyataannya ia masih belum bisa dan berani mengungkapkan perasaan itu pada Sheva karena takut cintanya akan kembali bertepuk sebelah tangan