Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 37


__ADS_3

Setelah acara meeting selesai tuan Robert kembali ke ruangannya,kemudian tak berapa lama seorang staf bagian keuangan masuk menemuinya.


"Permisi tuan"


"Hay Pinkan,masuk" ucap tuan Robert kepada karyawan itu


"Ini data keuangan bulan ini tuan"


"Terima kasih Pinkan"


"Sama-sama tuan,oh ya kenapa tuan Robert tidak ke klinik?"


"Klinik? maksud kamu?"


"Tuan Robert tidak tahu kalau nona Sheva pingsan dan di bawa ke klinik perusahaan pagi ini"


"Apa? Sheva pingsan?"


"Iya tuan,tadi pak Damar dari bagian arsitektur yang membawanya ke klinik"


"Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya"


Gina yang masih berada di ruangan itu tiba-tiba angkat bicara


"Tadinya saya mau memberi tahu tuan,tapi karena Mr.Lee sudah sampai jadi saya bermaksud menunggu sampai meeting selesai" ucap Gina


"Gina,kamu tahu kan Sheva itu anak saya"


"Maafkan saya tuan,saya pikir sebaiknya tidak mengecewakan klien apalagi proyek kita dengan Mr.Lee bernilai besar"


"Mau sebesar apa tapi keluarga adalah prioritas utama saya,kamu benar-benar tidak bisa memahami tugas kamu sejak Sheva ada di sini" ucap tuan Robert sambil melangkah keluar pintu


Pinkan juga ikut keluar dan hanya tinggal Gina yang berada di sana sambil menatap kesal ke arah mereka,sesampainya di klinik tuan Robert segera masuk. Melihat putrinya yang terbaring di ranjang di temani Hana membuatnya merasa sedih


"Tuan......" ucap Hana


"Bagaimana kondisinya?"


"Kata dokter Sheva hanya terlalu kecapekan tuan,dokter juga meminta supaya Sheva istirahat terlebih dahulu"


"Terima kasih Hana kamu sudah setia mendampingi Sheva selama ini,om berhutang budi sama kamu"


"Tidak om,itu sudah kewajiban saya sebagai asisten sekaligus sekretaris Sheva"

__ADS_1


"Kalau begitu kamu bisa kembali bekerja,biar saya yang di sini menjaga Sheva"


"Baik om"


Hana pun keluar dari klinik dan meninggalkan Sheva bersama tuan Robert,saat keluar dari lift ia berpapasan dengan Gina.


"Gimana kondisi bos kamu? lemah banget jadi orang"


"Heh,ga usah sok ngatain Sheva ya. Udah deh mendingan kamu pikirkan bagaimana cara menjilat om Robert dari pada terus membuat masalah dengan putrinya" jawab Hana


"Dih baru jadi sekretaris direktur saja udah sok-sokan"


"Sekretaris direktur kamu bilang? gak salah dengar? atau kamu yang nggak tahu kalau Sheva adalah calon CEO menggantikan papinya"


"Gak usah mimpi deh,lagian sebentar lagi Sheva juga akan nikah. Dan posisi itu akan di isi oleh suaminya"


"Ci elah kasian amat,makanya banyak-banyak membaca tuh kurva saham perusahaan" balas Hana sambil melangkah pergi dari hadapan Gina


Sheva terbangun dan mendapati tuan Robert berada di sampingnya,melihat putrinya yang tengah membuka mata tuan Robert tersenyum senang.


"Sayang,kamu kenapa?"


"Nggak apa kok pi cuma sedikit pusing tadi"


"Kita pulang saja ya?"


"Sudah tidak usah di pikirkan,papi sudah meminta agar menundanya"


"Tapi pi,proyek itu harus segera di laksanakan. Sheva tidak bisa membuat klien menunggu"


"Sudah kamu tenang saja ya,sekarang apa masih ada yang sakit?"


"Nggak ada pi"


"Kalau begitu kita pulang ya"


"Iya pi"


Di bantu oleh tuan Robert,Sheva dan papinya pulang ke rumah untuk istirahat. Melihat suami dan putrinya yang pulang awal membuat nyonya Lista bingung


"Papi,Sheva kok kalian jam segini sudah pulang?"


"Iya mi,tadi Sheva pingsan di kantor"

__ADS_1


"Pingsan? terus sekarang keadaan kamu gimana sayang? kita ke rumah sakit ya?" ucap nyonya Lista yang panik


"Nggak usah mi,Sheva cuma butuh istirahat saja kok"


"Ya sudah kalau begitu papi antar kan Sheva ke kamar biar mama siapkan vitamin dan makanan"


Sesampainya di kamar Sheva langsung merebahkan diri di tempat tidur,tuan Robert sempat khawatir karena akhir-akhir ini Sheva terlalu keras bekerja. Tak berselang lama nyonya Lista datang membawakan nampan berisi makanan dan vitamin untuk putrinya itu


"Sayang,dari semalam mami itu sudah khawatir sama kamu. Dan sekarang coba lihat apa yang terjadi"


"Mi,Sheva cuma kecapekan aja kok"


"Ya sudah kalau begitu kamu makan ya biar mami suap in"


"Makasih mi"


Setelah selesai makan,Sheva pun tidur. Melihat putrinya yang terlelap sedikit mengurangi kekhawatiran nyonya Lista,ia pergi dari kamar Sheva dan beranjak menemui suaminya di bawah.


"Pi...."


"Kenapa Mi? Sheva bagaimana?"


"Dia tidur pi"


"Syukurlah,dia perlu banyak istirahat"


"Papi seharusnya tidak perlu membuat putri kita terlalu banyak bekerja,sekarang papi lihat sendiri apa yang terjadi"


"Papi sebenarnya ingin Sheva hanya di kantor saja mi,namun dia juga perlu pengalaman sebelum naik tahta menggantikan papi nanti"


"Seandainya Morgan jadi menikah dengan Sheva,pasti kita tidak perlu terlalu membebani Sheva untuk mengurus perusahaan"


"Sudah mi,yang sudah ya biarkan berlalu. Toh keduanya juga masih berhubungan baik meski tidak jadi menikah"


"Misalkan ke depannya mereka masih sama-sama lajang apa nggak sebaiknya kita jodohkan lagi pi?"


"Mi,kasih Sheva pilihan juga. Kita tidak bisa menuntut semua putri kita untuk menjalani kehidupan seperti yang kita mau"


"Tapi mami rasa,Morgan adalah laki-laki yang sempurna untuk mendampingi Sheva pi"


"Papi nggak mau ngomongin soal itu lagi mi,mami bisa nggak mengerti perasaan putri kita sekarang? setelah Morgan memutuskan pertunangan mereka secara sepihak,dan membuat harga diri kita sebagai orang tua terutama Sheva sendiri merasa malu dan hancur"


"Iya pi,maafkan mami. Mami hanya khawatir kepada masa depan Sheva"

__ADS_1


......Damar......



__ADS_2