
Tak terasa satu tahun pun berlalu,kabar kelahiran putri Kiara dan Morgan menghantui kembali masa lalu Sheva. Ia mendengar kembali hal pahit itu setelah satu setengah tahun berusaha membakar luka dan dendam di hatinya itu,sejak menikah rumah tangga Morgan dan Kiara tidak berjalan dengan mulus. Ia menganggap pernikahan ini adalah sebuah kesalahan yang di perbuatnya,begitu bayi tersebut lahir Morgan segera meminta dokter untuk mengambil darah putrinya sebagai sampel pengecekan DNA tanpa sepengetahuan siapapun. Bagaimana juga ia ingin membuktikan secara langsung bahwa anak yang ada besamanya sekarang benar putrinya.
"Han,kamu sudah dengar kabar dari Sheva belum?" tanya Rania yang sedang berkumpul bersama di cafe Alta
"Belum"
"Kamu coba deh bujuk om Robert lagi buat kasih tahu ke kita soal Sheva" imbuh Ferly
"Aku sudah nyoba tapi om Robert selalu bilang tunggu Sheva yang menghubungi kita"
"Tapi mau sampai kapan? sudah setahun Han"
"Aku sendiri juga nggak ngerti,kenapa keluarga itu privasi banget sekarang"
"Hay guys" ucap Alta yang baru saja datang
"Eh Al,dari mana saja kamu?"
"Biasa kantor,sorry ya akhir-akhir ini sibuk"
"It's okay"
Mereka saling mengobrol kemajuan bisnis selama setahun ini,hubungan dan kehidupan masing-masing hingga membahas acara reunian kampus untuk bulan depan.
Hari ini Sheva sangat sibuk di kantornya,hingga saat kakaknya menghubungi juga tidak bisa. Beberapa panggilan tak terjawab dari tuan Robert,tiba-tiba Sheva terkejut mana kala sekretarisnya memberitahu bahwa ada telfon dari rumah. Karena tidak biasanya Sheva menerima telfon dari rumah melalui panggilan kantor
"Mrs.Sheva ada telfon dari rumah untuk anda" ucap Christie
"Dari siapa Chris?"
"Mr.Robert"
"Baiklah,tolong sambungkan ke ruangan saya"
"Baik Mrs"
Sheva sampai di ruangannya lalu menerima telfon yang di sampaikan Christie tadi
"Halo Pi...."
"Halo sayang,kamu kemana saja?"
"Sheva baru selesai meeting dengan klien tadi pi,ada apa? kenapa suara papi terdengar serak?"
"Mami Va...."
"Mami kenapa Pi? ada apa dengan mami?"
"Mami masuk rumah sakit"
"Astagfirullah,bagaimana bisa?"
"Papi sendiri bingung,ternyata selama ini mami kamu menyembunyikan penyakit yang di deritanya"
__ADS_1
"Mami sakit apa pi?"
"Tumor otak stadium dua Va"
"Astaga Pi,kenapa bisa sampai seperti ini? lalu bagaimana kondisi mami sekarang?"
"Mami sedang di tangani oleh dokter Ridwan,papi harap kamu bisa pulang secepatnya ke sini"
"Tunggu ya pi,setelah klient tanda tangan kontrak Sheva akan segera pulang"
"Mami menunggu kamu Sheva"
'Iya pi,Sheva janji begitu selesai tanda tangan kontrak. Sheva akan langsung terbang ke Indonesia"
Sheva menutup telfonnya dan terduduk lemas,baru kali ini ia benar-benar merasa ketakutan. Tidak ada siapa-siapa disana,Ryota juga sedang kembali ke negaranya,Sheva memeluk dirinya sendiri sambil menangisi semua itu.
Satu minggu berlalu sejak ia mendengar kabar tersebut,dengan rajin ia memantau kondisi maminya dari mbok Mirah karena tuan Robert jarang bisa menjawab panggilannya karena sibuk mengurus sang istri. Siang itu klien kembali menemui Sheva ia memberikan tanda tangan kontrak kerja sama,belum sampai klien itu pergi Sheva segera mohon pamit
'Sorry Mr,saya ada beberapa urusan mendadak. Untuk detailnya sekretaris saya yang akan memberikan informasi kelanjutannya"
"Baik Mrs.Sheva,terima kasih"
Sheva segera kembali ke apartemennya untuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa pulang,sesaat ponselnya berbunyi yang ternyata adalah kakaknya
"Halo Kak...."
"Sheva,kamu kapan pulang? kondisi mami semakin mengkhawatirkan"
"Syukurlah kalau begitu,mami pasti senang dengar kamu pulang"
"Mami justru lebih senang kalau kakak yang pulang"
"Jangan bercanda kamu,begitu mendengar mami sakit kakak langsung terbang ke Indonesia"
"Seriusan? sekarang kakak dimana?"
"Sudah jangan banyak tanya,kamu buruan pulang"
'Baik kak"
Setelah selesai mengemas barang-barangnya,Sheva segera pergi ke bandara JFK. Ia menghubungi Christie untuk mengingatkan kembali akan semua pekerjaannya sebelum lepas landas. Dengan perjalanan udara kurang lebih 24 jam Sheva kembali ke Indonesia.
Siang itu setibanya Sheva di bandara internasional Soekarno Hatta,ia segera memesan taksi untuk mengantarnya pulang. Setibanya di rumah ia terkejut karena halaman rumahnya begitu ramai,begitu ia masuk terdengar teriakan anak kakaknya yaitu Cleo,melihat Sheva yang datang Cleo langsung berlari mencari mamanya.
"Ma,di luar ada orang" ucap Cleo pada Geby
Geby segera berjalan keluar meninggalkan papi dan maminya yang ada di taman samping rumah
"Sheva......" teriak Geby
"kak Geby...." ucap Sheva lalu memeluk kakaknya penuh dengan kerinduan
"Kamu apa kabar?"
__ADS_1
'Aku baik kak,kakak sendiri gimana?"
'Kakak juga baik"
'Mami mana kak?"
"Ada di taman,kamu cuci tangan dulu habis itu kakak antar kamu bertemu mami"
"Iya kak"
Sheva segera pergi ke kamar mandi belakang setelah selesai ia menghampiri kakaknya yang berada di ruang tamu,dua saudara itu saling bergandengan menemui nyonya Lista yang duduk di kursi roda di temani oleh tuan Robert.
"Mi,lihat siapa yang datang" ucap Geby
Pelan-pelan nyonya Lista memalingkan wajahnya,nampak senyumnya mengembang saat melihat Sheva yang berada di sebelahnya.
'Sheva.... sayang" tangis nyonya Lista pecah memeluk putri bungsunya yang telah pergi hampir dua tahun ini
"Mami kenapa? mami gimana bisa sakit?"
"Mami kangen sama kamu sayang"
'Sheva juga kangen sama mami,kan Sheva sudah bilang kalau Sheva pergi sebentar. Tapi kenapa jadi begini?"
"Dek,mami cuma sakit biasa. dokter bilang keadaan mami sudah baik-baik saja sayang"
Sheva sekali lagi memeluk tubuh maminya itu,segumpal rambut menyangkut di sela-sela jarinya. Sheva kaget dan menatap gumpalan di tangannya itu
"Dek,sini....." ucap Geby yang melihat exspresi Sheva tak percaya
Sheva di bawa ke kamarnya sambil masih membawa gumpalan di tangannya itu
"Kak....."
"Iya kakak tahu,dokter harus memutuskan mengambil tindakan kemoterapi untuk mami. Semua ini di lakukan untuk memastikan bahwa tidak ada akar tumor yang bersarang di tubuh mami"
'Tapi dokter yakin kan kak kalau mami sudah sembuh?"
"Iya,semoga saja tidak ada lagi yang tumbuh. Kamu tenang saja,selama mami happy dan bisa mengontrol pola makannya semua akan baik-baik saja"
"Kenapa kakak tidak tinggal di sini saja dengan kita? kenapa harus selalu aku yang menjaga mami? mami dan papi juga butuh kakak"
"Dek jangan mulai,kakak harus mengikuti suami kakak sementara kamu masih bisa kesana kemari dengan bebas"
"Kesana kemari dengan bebas? maksud kakak apa? kakak lupa kalau rumah tangga ku pernah hancur?"
"Dek bukan itu maksud kakak,kakak paham betul perasaan kamu waktu itu. Kakak tidak berniat juga mengingatkan kamu atas apa yang pernah terjadi,tapi tolong kamu mengerti keadaan kakak. Kakak harus patuh sama suami,belum lagi kakak harus menjaga nama baik keluarga kita di hadapan keluarga suami kakak"
"Aku iri sama kakak,kak Geby sama-sama di jodohkan. Namun kakak mempunyai suami yang setia dan begitu sayang sama kakak"
"Sttt.... sudah ya,tidak ada yang perlu di sesali. Sekali lagi kakak minta maaf karena mami dan papi memberikan kamu pada orang yang salah"
Sheva menangis di pelukan kakaknya itu,ia merasa tempatnya bercerita berbagi tawa telah kembali walau hanya sesaat.
__ADS_1