
Akhirnya mereka berdua turun ke kantin,padahal sekarang bukan jam istirahat dan kebetulan kantin sepi. Sheva memesan beberapa macam makanan yang membuat selera makannya bangkit,mulai dari sate,gado-gado hingga beberapa minuman lainnya.
"Va,kamu yakin mau habisin semua ini?" tanya Hana yang kebingungan dengan tingkah sahabatnya itu
"Memangnya kenapa?"
"Ini terlalu banyak jika hanya untuk kita berdua loh Va"
"Siapa bilang untuk kita berdua saja?"
"Terus?"
Tiba-tida Damar datang menghampiri mereka,Sheva sengaja mengundangnya kemari lewat pimpinan departemen.
"Hay,maaf ya aku agak telat"
"Oh its okeh,duduk pak" jawab Sheva
"Panggil saja Damar nona,saya kan bawahan anda dan masih muda masak mau di panggil pak sih" balas Damar
"Oh gitu,ya sudah terserah kamu"
"Jadi ada apa,nona Sheva memanggil saya kemari?"
"Oh ya aku mau traktir kamu beberapa makanan di kantin ini. Ambil aja sepuas kamu nanti biar aku yang bayar,ini semua sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah menolong dan membawa saya ke klinik"
"Oh itu bukan apa-apa nona,sudah kewajiban saya sebagai karyawan membantu sesama pekerja di sini"
"Udah nggak apa,jangan sungkan-sungkan"
"Saya mau ambil jus saja kalau begitu"
Damar melangkah pergi ke salah satu kios yang ada di kantin,sementara itu Sheva melirik ke arah Hana yang terus memperhatikan laki-laki itu. Ia berinisiatif untuk mencomblangkan mereka bila mana Damar belum memiliki pasangan,Damar kembali dengan membawa segelas jus wortel di tangannya.
"Kamu suka wortel?"
"Iya,kebetulan aku terbiasa makan wortel sejak kecil supaya penglihatan ku terus berfungsi hingga tua nanti"
"Cielah udah mikir jangka panjang saja"
"Oh ya kalian pada nggak ada kerjaan?"
"Papi larang aku buat melakukan apapun setelah kejadian kemarin,dia minta aku supaya bersantai saja untuk hari ini"
__ADS_1
"Oh begitu,oh ya kita belum kenal satu sama lain ya. Kalau boleh tahu kamu dulu kuliah dimana?"
"Aku kuliah di.... bentar ya aku angkat dulu" tiba-tiba ponsel Sheva berdering
"Oh ya silahkan"
"Halo pi"
"Kamu dimana sayang?"
"Aku di kantin pi sama Hana,habisnya aku bosen di ruangan tanpa ada kerjaan apa-apa"
"Ya sudah,papi kira kamu kenapa-napa lagi"
"Papi nggak usah khawatir,Sheva udah sehat kok"
"Ya sudah kalau begitu papi kembali kerja ya,kamu kalau kecapekan tiduran aja di klinik. Apa perlu papi sediakan sofa di ruangan kamu?"
"Nggak pi nggak usah,nanti yang ada malah Sheva nggak mau pulang lagi"
"Ya sudah kalau begitu"
Telfon mereka pun berakhir di situ,Sheva kembali menghampiri Damar dan Hana yang hanya diam saja sedari tadi.
"Nggak apa-apa"
"Oh kamu sudah berapa lama kerja disini?"
"Sekitar lima atau enam tahunan lah"
"Lama juga ya,pasti sudah banyak pengalamannya"
"Ya tapi aku seringnya keluar kota untuk ngurusin proyek"
"Oh gitu,oh ya kalian sudah saling kenal kan?" tanya Sheva sambil melihat Hana dan Damar
"Oh sudah,dia bu Hana kan sekretaris kamu?"
"Iya,dia juga sahabat aku kok"
"Iya kemarin kita juga sempat ngobrol sebentar di depan kamar perawatan kamu"
"Han,ngomong dong ajak Damar ngobrol"
__ADS_1
"Ngobrolin apa Va?" jawab Hana yang masih kaku
"Ya apa aja gitu"
Akhirnya mereka pun mengobrol,sementara Sheva mengalihkan pandangannya ke handphone dan sambil menscrol sosial medianya. Beberapa detik kemudian Sheva berteriak kencang dan hampir membuat dua manusia di hadapannya itu serangan jantung
"Kamu ngapain sih Va? bikin kaget aja" ucap Hana
"Lihat-lihat,si perempuan gatel itu hari ini tunangan sama kak Cello" ucap Sheva sambil menunjukkan foto di akun Instagramnya
"Udahlah Va biarkan aja,pengkhianat dan penggoda memang cocok bersatu kok. Ikhlasin aja,masih banyak cowok di luaran sana yang lebih baik dari pak Marcell"
"Aku masih nggak terima Han,masak aku kalah sih sama wanita yang mengandalkan posisi orang tuanya selaku pendiri kampus kita"
"Terus kamu mau apa? toh mereka sudah resmi bertunangan"
"Pokoknya aku nggak terima,aku harus ambil tindakan" ucap
Sheva sampai di ruangannya dan segera mengecek kurva saham kampusnya,tersisa 30% atas nama keluarga Anggun,ia bermaksud membeli semua saham itu dan membuatnya berkuasa atas kampusnya. Namun sayangnya pihak keluarga Anggun menolak untuk menjual saham tersebut,tak mau menyerah Sheva memutar otak supaya keluarga Anggun merasakan sakit hatinya itu. Hana semakin khawatir melihat sahabatnya yang begitu membabi buta hanya untuk sekedar balas dendam.
"Va,udahlah mau bagaimana pun mereka sekarang sudah bertunangan" ucap Hana
"Nggak Han,aku nggak akan membiarkan mereka berbahagia di atas kesakitan ku"
"Lalu kamu mau bagaimana lagi. Semakin jauh kamu melangkah akan membuat semua orang tahu masa lalu kamu dengan pak Marcell"
"Lalu aku harus bagaimana Han? kamu mau aku diam saja seolah-olah ikhlas melupakan mereka seperti ini?"
"Va,sekarang apa yang mungkin sudah hilang dari kamu akan tergantikan dengan yang lebih baik"
"Maksud kamu?"
"Masih ada kak Morgan yang jauh lebih baik di bandingkan pak Marcell"
"Lebih baik atau lebih kaya? selama ini pemikiran kamu hanya soal harta,uang dan kemewahan. Nggak semua hal itu bisa membuat hidup bahagia Han"
"Bisa,kalau kamu mensyukurinya. Sayangnya kamu sebagai manusia selalu merasa kurang dan kurang jadi tidak bisa melihat seberapa banyak yang sudah kamu dapatkan sekarang.Mungkin bagi kamu apa yang kamu miliki sekarang bukanlah apa-apa,tapi bagi orang sepertiku ini adalah hal yang lebih dari sekedar apa yang bisa membuatku bahagia"
"Percuma aku punya semua ini kalau orang yang aku cintai saja tega mengkhianati ku hanya demi sebuah jabatan"
"Va,cobalah untuk tenang. Kamu buka mata kamu lebar-lebar,dengan menunjukkan satu keburukannya saja Allah udah ngasih kamu petunjuk kalau pak Marcell tidak baik untuk kamu"
"Aku bingung Han,aku sama sekali masih tidak menyangka jika perasaan yang selama tiga tahun lebih ku simpan ini harus usai hanya gara-gara orang ketiga"
__ADS_1
"Aku tahu itu berat buat kamu,tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati ini semua" ucap Hana sambil memeluk sahabatnya yang mulai menangis itu