Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 60


__ADS_3

Di ruangan Hana menatap Sheva dengan penuh tanda tanya,sahabatnya itu menjadi lebih pendiam dan jarang sekali mengajaknya berdiskusi soal pekerjaan. Saat jam makan siang tiba,ia juga menolak ajakan Hana untuk makan bersama,akhirnya Hana memutuskan untuk makan siang sendiri. Saat di kantin ia bertemu dengan Damar yang tengah makan siang juga


"Tumben Han sendirian" sapa Damar yang kemudian duduk di depan Hana


"Iya,Sheva lagi gak mood makan"


"Kasihan,pasti dia merasa bersalah dengan tuan Ryota"


"Merasa bersalah? kenapa?"


"Kamu ini sahabatnya masak tidak tahu kalau Sheva sedang berduka"


"Berduka dengan?"


"Mr.Namoko orang tua tuan Ryota baru saja meninggal"


"Hah? kapan?"


"Ya sudah hampir satu bulan ini"


"Pantesan Sheva jadi murung akhir-akhir ini"


"Kabarnya hubungan mereka juga berakhir,entah kenapa. Padahal saat aku bertemu mereka di kantin beberapa waktu yang lalu,aku berharap nona Sheva dan tuan Ryota tidak ada hubungan apapun"


"Tunggu-tunggu,kenapa kamu jadi tahu segalanya tentang mereka ya?"


"Aduh Han,sudah bukan rahasia lagi kehidupan keluarga para konglomerat seperti mereka"


"Jadi Sheva dan tuan Ryota putus?"


"Aku dengar-dengar sih begitu,tapi entah karena apa"


Hana segera berdiri dan meninggalkan kantin,Damar nampak bingung dengannya. Sesampainya di ruangan ia masih melihat Sheva yang hanya diam berdiri menatap keluar jendela.


"Va,aku mau tanya sama kamu"


"Ada apa?"


"Kamu dan tuan Ryota putus?"


"Aku sudah bilang jangan sebut-sebut dia lagi"


"Tapi kenapa Va? bukannya kalian baik-baik saja kemarin"


"Sudahlah Han tidak usah ikut campur"


"Sorry Va,aku hanya tidak ingin kamu terus seperti ini"


"Seperti ini apa maksud kamu?"


"Kamu belakangan ini jadi sentimentil dan suka judes ke semua orang termasuk aku"


"Tidak ada pengecualian untuk siapapun Han,jika mereka tidak benar kerjanya aku berhak menegur mereka"

__ADS_1


"Tapi ini bukan seperti kamu Va"


"Stop ya Han,jangan merasa paling mengerti soal aku"


"Bahkan kamu diam-diam kembali bertunangan dengan Morgan,aku sama sekali tidak tahu kenapa kamu sekarang tidak pernah bercerita dengan ku"


"Tidak semuanya harus aku ceritakan sama kamu,jaga batasan kamu Hana" ucap Sheva yang kemudian keluar dari ruang kerjanya


Di depan pintu ia bertemu dengan tuan Robert yang baru saja ingin menemui putrinya


"Papi...."


"Sayang kamu mau kemana?"


"Baru saja mau ke ruangan papi"


"Ada apa?"


"Kita bicara di ruangan papi saja ya"


"Ya sudah.."


Sheva dan tuan Robert pergimenuju ruangannya,sesampainya di sana Sheva duduk di sofa dan mendengus kesal.


"Kamu kenapa? sepertinya sedang kesal begitu?" tanya tuan Robert sambil membelai rambut Sheva


"Pi,aku mau Hana di berikan ruangan terpisah dari aku"


"Loh kenapa? bukannya kamu suka kalian bisa satu ruangan"


"Ya sudah,hari ini juga papi akan minta ke OB buat bersihkan ruangan di depan kamu,supaya Hana bisa segera pindah"


"Makasih ya Pi"


"Iya sayang sama-sama,oh ya satu bulan lagi kan Morgan akan kembali ke Indonesia. Dua minggu sebelumnya kamu harus segera menyiapkan semua kebutuhan pernikahan kalian"


"Iya pi,nanti Sheva akan minta mami buat bantuin"


"Papi senang akhirnya kamu dan Morgan jadi menikah,papi merasa tugas di pundak papi sudah hilang"


"Jadi selama ini Sheva beban gitu buat papi?"


"Bukan begitu sayang,maksud papi soal perjanjian papi dan om William akhirnya tercapai"


"Iya pi,papi tenang saja Sheva akan lakukan apapun yang membuat papi dan mami bahagia"


"Makasih ya sayang"


"Sama-sama Pi"


Malam ini setelah sekian lama tidak berkomunikasi,akhirnya Morgan memberanikan diri untuk menghubungi Sheva. Ia menekan tombol panggilan dan beberapa saat terdengar suara Sheva


"Halo"

__ADS_1


"Halo Va,apa kabar?"


"Morgan?"


"Iya,ini saya"


"Aku baik,kamu sendiri bagaimana?"


"Saya baik juga Va,oh ya kamu lagi dimana?"


"Aku di rumah kok"


"Pasti lagi di kamar"


"Kok tahu?"


"Tempat favorit cewek pendiam dimana lagi kalau bukan di kamar"


"Bisa aja kamu,oh ya ada apa telfon?"


"Saya hanya ingin ngobrol sama kamu,sudah lama juga kan kita tidak saling menyapa satu sama lain"


"Ya,sepertinya begitu"


"Oh ya Va,saya mau tanya satu hal sama kamu"


"Soal apa?"


"Ryota..."


"Bisa tidak kita tidak membahas dia"


"Saya cuma mau tahu alasan kamu mengakhiri hubungan dengan dia,dan kemudian setuju untuk melanjutkan perjodohan kita"


"Okay,aku akan kasih tahu kamu asal setelah ini kamu jangan pernah tanya hal apapun tentang dia"


"Iya Va"


"Dia memiliki kekasih lain di belakang hubungan ku dengannya,sepertinya mereka sudah lama dekat. Jahat ya,kadang karma memang secepat itu datangnya"


"Kenapa kamu bilang karma Va,mungkin dia bukan kekasih Ryota"


"Aku lebih tahu kenyataannya di depan mataku sendiri waktu itu,dulu aku memiliki kekasih lain di belakang hubungan perjodohan kita. Dan sekarang karma itu kembali pada diriku"


"Va,saya paham mungkin saya tidak pernah bisa menjadi seperti yang kamu harapkan. Atau bahkan saya bukanlah satu di antara tipe laki-laki yang kamu mau,tapi percayalah Va kedepannya saya akan mencoba untuk membahagiakan kamu semampu dan sebisa saya"


"Makasih ya Morgan,aku harap kamu tidak merasa menjadi sebuah pelampiasan karena setelah apa yang aku alami aku langsung main setuju saja dengan perjodohan kita"


"Iya Va,kamu jangan khawatir. Saya tidak pernah merasa kamu seperti itu"


"Oh ya sudah dulu ya Gan,aku ngantuk"


"Okay,good night Va"

__ADS_1


Sheva menutup ponselnya dan mendekap erat bantal di sebelahnya,ia kembali menangisi kisah cintanya yang tidak seberuntung cerita dongeng. Ia berjanji akan belajar dari semua kesalahan yang ia pilih,dan mulai menutup diri untuk siapapun hingga akhirnya nanti luka di hatinya sembuh.


__ADS_2