
Sepuluh menit kemudian Ryota datang menghampiri Sheva,dengan setelan yang selama ini tidak pernah di kenakan oleh seorang seniman seperti Ryota membuat Sheva menatapnya tanpa berkedip.
"Kamu sudah siap untuk pulang?" ucap Ryota yang tidak mendapatkan jawaban dari Sheva
"Sheva,are you okay?" ucap Ryota lagi
"Hah?? yes I'm okay"
"Kalau begitu kita ke bandara sekarang"
Sheva masuk ke dalam mobil dan Ryota duduk di sebelahnya,sesampainya di landasan udara khusus pesawat pribadi Sheva turun dan Mrs.Grazia menyambutnya.
"Kamu hati-hati ya sayang,jaga diri baik-baik disana" ucap Mrs.Grazia sembari memeluk Sheva
"Kamu yakin tidak mau tinggal disini lebih lama?" tanya Mr.Namoko
"Ada pekerjaan di Indonesia yang harus segera saya selesaikan tuan"
"Kalau begitu saya titip Ryota,ajarkan dia bagaimana cara kamu mengolah bisnis keluarga kamu itu"
"Maksud tuan?"
"Jadi saya sudah berbicara sama papi kamu kalau saya akan titipkan Ryota di perusahaannya agar belajar dari kamu soal bisnis"
Sheva menatap ke arah Ryota yang tersenyum manis,seorang awak pesawat datang menghampiri mereka dan memberitahu bahwa pesawat sudah siap. Sheva mengakhiri percakapan ini dengan saling peluk kepada Mr.Namoko dan istrinya.
Ryota dan Sheva masuk ke dalam pesawat sambil melambaikan tangan ke arah Mr.Namoko dan Mrs.Grazia. Beberapa menit kemudian pesawat siap lepas landas,perjalanan mereka cukup lama. Maka pramugari memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada keduanya,Sheva duduk di depan Ryota yang terus memandanginya
"Kamu kenapa lihatin aku seperti itu?"
"Aku masih tidak menyangka bisa jatuh hati sama kamu Va"
"Kenapa? nyesel?"
"bukan,dalam waktu yang singkat kamu bisa buat aku jatuh cinta"
"Kamu terlalu berlebihan"
"Bahkan aku rela meninggalkan dunia seni dan sekolah seni yang sudah ku bangun lima tahun terakhir ini demi kamu"
"Terima kasih,perkataan kamu sungguh meyakinkan aku"
"Aku serius Va"
"I know"
"Aku berharap secepatnya bisa menguasai dunia bisnis dan memimpin perusahaan daddy,dengan begitu aku bisa segera menikahi kamu"
"Nikmati saja dulu setiap prosesnya,kamu tahu kan kalau ini hal baru bagi kita"
"Tidak ada alasan bagiku untuk menunda sebuah rencana yang sudah matang,apalagi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini hanya untuk kehilangan kamu"
Seorang pramugari datang membawakan camilan dan minuman untuk meraka,sambil bercengkrama Sheva mengajarkan dasar-dasar bisnis kepada Ryota. Namun bukannya mendengarkan penuturan perempuan di hadapannya justru Ryota sibuk merapikan anak rambut Sheva yang menutupi keningnya
"Hay,ayolah kita sedang fokus ke sini" ucap Sheva mencoba membuat Ryota kembali dalam topik pembicaraan mereka
"Kamu tahu tidak Va"
"Apa?"
"Kamu adalah perempuan pertama yang aku cintai"
"Bohong"
"Serius,memang aku dulu pernah memiliki kekasih tetapi aku hanya menganggapnya kekasih bukan karena aku mencintainya. Dulu bagiku tidak ada yang bisa menggantikan kecintaanku pada dunia seni,tapi sejak kamu hadir semua itu hanyalah hobi sesaat untukku"
"Dan kamu tahu,aku tidak suka pada laki-laki yang tidak pernah menepati perkataanya"
"Baiklah akan saya buktikan"
__ADS_1
Mereka pun kembali fokus pada topik bisnis yang di bicarakan tadi,hingga dua jam sudah berlalu. Mereka berhenti untuk makan siang terlebih dahulu,setelah selesai Sheva melirik pada jam tangannya dan baru pukul 13.00 masih ada empat jam lebih tiga puluh menit lagi untuk sampai di Indonesia. Selesai makan mereka melanjutkan pembahasan tadi sebentar dan tak terasa kantuk menyerang Sheva,ia meminta Ryota mengakhiri pembahasan soal bisnis ini.
Ryota meminta kepada pramugari untuk menyiapkan kamar agar Sheva dapat beristirahat,beberapa menit kemudian pramugari kembali dan mengantarkan Sheva ke kamar.
"Aku tinggal istirahat dulu ya"
"Okay"
Setelah melihat Sheva pergi Ryota kembali mempelajari dokumen yang Sheva berikan tadi,ia sungguh-sungguh ingin sekali lekas mahir mempelajari bisnis.
Pukul 17.00 Sheva terbangun,ia keluar dari kamar dan mencari keberadaan Ryota. Ia melihat Ryota yang masih duduk di kursinya sambil memangku dokumen-dokumen miliknya. Terlihat mata laki-laki berkulit putih itu terpejam,sepertinya ia kelelahan. Seorang pramugari datang menghampiri Sheva
"Bisakah anda duduk nona,pesawat setengah jam lagi akan mendarat"
"Baik"
Sheva duduk di depan Ryota,saat pramugari hendak membangunkan laki-laki di hadapannya Sheva mencegahnya.
"Biar saya saja" ucap Sheva yang di balas dengan senyuman oleh pramugari tersebut
Sheva mengambil dokumen-dokumennya lalu memasukkan kembali ke dalam tas sebelum membangunkan Ryota, setelah itu ia menatap Ryota penuh dengan senyuman. Entah kenapa tiba-tiba Ryota membuka matanya,ia melihat tatapan itu dan tersenyum kepada perempuan di hadapannya itu.
"Hay,kamu sudah lama berada disana?" tanya Ryota
Sheva menggeleng dan masih tersenyum,Ryota mengulurkan tangannya dan mencubit kecil pipi Sheva
"Kamu jangan senyum begitu,bisa-bisa aku diabetes" ucapnya
"Sebegitu inginnya kamu belajar bisnis,sampai tertidur"
"Aku kan sudah bilang kalau aku ingin segera mengambil alih perusahaan daddy dan..."
"Okay-okay aku tahu. Sekarang mending kamu cuci muka karena sebentar lagi pesawat akan mendarat"
"Serius? kita sudah sampai di Indonesia?"
"Memang benar ya,apapun yang di lakukan bersama ornag yang kita cintai akan terasa cepat"
"Sudah deh gombalnya,mendingan sekarang cepatan cuci muka"
"Baik tuan putri" jawab Ryota sambil melangkah pergi
Setelah selesai membersihkan diri,Ryota kembali ke kursinya. Pilot memberitahu bahwa pesawat akan mendarat,Ryota mengencangkan sabuknya begitu juga mengecek apakah sabuk Sheva sudah benar.
Akhirnya pesawat berhenti,setelah pramugari menurunkan pintu Sheva dan Ryota keluar. Kedatangan mereka segera di sambut oleh orang suruhan Mr.Namoko yang akan menjaga Ryota selama tinggal di sini.
Mereka masuk ke dalam mobil dan segera pergi menuju rumah Sheva,sesampainya di halaman rumah Sheva turun dan meminta Ryota segera kembali ke rumahnya. Begitu mobil Ryota pergi,Sheva segera masuk ke dalam rumah,para asisten rumah tangga keluar dan membantu membawakan barang-barang miliknya.
"Mbok kok ada suara televisi,memangnya ada yang datang" ucap Sheva kepada kepala asisten rumah tangga
"Itu non ibu non Gina"
"Tante Laras?"
"Iya non"
"Sudah lama dia di sini mbok?"
"Sejak non Sheva berangkat ke Jepang"
"Mereka tinggal disini"
"Iya non"
Tiba-tiba Gina masuk dan berteriak memanggil mamanya
"Ma,mama Shevaaa...." Gina terdiam saat melihat Sheva berdiri di ruang tamu bersama mbok Ratih
"Oh jadi begini kelakuan kamu di rumah orang? main asal masuk dan tinggal di rumah orang sembarangan"
__ADS_1
"Va,kok kamu balik tidak bilang-bilang sih?"
"Kenapa? takut kalau ketahuan. Percumah ya,sekarang juga kamu ajak mama kamu itu keluar dari rumah ini"
"Va please jangan kasar gini"
"Kamu tahu diri dong jadi orang,kamu tidak berhak ada di sini? apa kurang rumah yang di belikan sama bokap aku?"
"Okay,aku akan ajak mama pulang" ucap Gina yang berlalu pergi menghampiri mamanya
Melihat anaknya yang sudah kembali membuat Laras bingung
"Loh Na baru jam segini kok kamu sudah pulang?"
"Ma,kita pulang ke rumah yuk"
"Loh kenapa?"
"Sheva sudah balik ma"
"Ya bagus dong,jadi dia tidak sendirian disini"
"Ma,dia pasti marah karena kita tinggal disini tanpa seijinnya"
"Memangnya dia siapa kok kita perlu ijin sama dia,ini itu rumah bibi kamu jadi kamu berhak dong tinggal disini"
"Kata siapa?" ucap Sheva yang mengejutkan mereka
"Sheva,kamu jangan kurang ajar ya. Bukan karena kamu anak pemilik rumah ini lalu kamu bisa seenaknya ngusir saya dan Gina. Kamu lupa tante mu ini adalah kakak mami kamu"
"Masa bodoh ya,mau kamu siapapun kalau tinggal di rumah orang tanpa ijin itu namanya penyusup. Dan aku bisa saja kok panggil polisi buat ngusir kalian"
"Kamu jangan keterlaluan ya,tante akan beri tahu mami kamu supaya dia mendidik putrinya dengan benar"
"Udahlah tan,apa salahnya sih tinggal angkat kaki. Lagi pula aku nggak minta kok buat kalian bayar biaya hidup selama disini,karena itu hanya akan menghabiskan uang kalian saja"
"Jangan songong kamu ya,kalaupun rumah kami tidak sebagus rumah ini kamu tidak pernah sombong akan apa yang kita punya"
"Karena memang tidak ada yang bisa di sombongkan dari kalian"
"Va cukup,kami memang bukan orang berada seperti kamu. Tapi berhenti memandang seolah-olah kami hidup atas belas kasihan keluarga kamu"
"Karena memang benar kan? selama ini kalian memang benalu untuk keluarga aku,harusnya kamu juga mikir kerja buat usaha kek di rumah jangan bisanya minta duit ke mami aku terus dong"
"Benar-benar kelewatan kamu Sheva" ucap tante Laras yang kemudian pergi ke kamar tamu sambil membawa barang-barangnya
"Mbok,tolong bersihkan semua ruangan yang pernah mereka gunakan. Dan buang semua perabotan yang pernah mereka gunakan,aku tidak mau menggunakan bekas mereka" ucap Sheva yang menyulut kemarahan Gina
"Cukup ya Va,aku tidak akan tinggal diam dengan penghinaan ini. Aku akan pastikan orang tua kamu tahu tentang kelakuan kamu ini"
"Silahkan saja adukan sama mereka,saya tidak pernah takut melawan keburukan"
Gina dan mamanya keluar dari rumah itu,seketika para asisten rumah tangga langsung mengerjakan apa yang Sheva perintahkan tadi. Sheva naik ke kamarnya dan segera merebahkan diri di atas tempat tidur,ia menatap ke langit-langit dan beberapa saat ponselnya berbunyi yang ternyata itu dari Hana
"Halo Han"
"Kamu sudah sampai rumah?"
"Sudah,kenapa?"
"Kak Alta,Ferly,dan Steven mewawancarai aku soal hubungan kamu sama Ryota"
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku jawab saja kalau aku tidak tahu apa-apa"
"Aduh thanks banget loh Han"
Sheva mengakhiri percakapan mereka dan segera pergi mandi
__ADS_1