
Sheva segera membawa kopi itu ke lift,namun tiba-tiba ia menabrak Damar dan membuat kopinya tumpah mengenai kemeja biru milik Damar,seketika ia kepanasan
"Sorry Damar,saya benar-benar tidak sengaja"
"Aduh panas...." ucap Damar sambil meringis
"Kita ke klinik ya,bersihkan dulu.."
"Tidak apa-apa nona,biar saya saja"
"Tidak,kamu begini karena saya. Jadi saya harus tanggung jawab"
Sheva pergi ke klinik bersama Damar setelah meletakkan kopinya di meja pantry,sesampainya di sana Sheva meminta Damar untuk duduk. Sheva mencari kotak P3K untuk mengambil salep luka bakar,sesampainya di sana ia melihat Damar yang sudah membuka kemejanya dan memperlihatkan perutnya yang rata
"Damar apa yang kamu lakukan?"
"Kamu tahu sendiri kemeja ku basah dengan kopi,dan ini panas sekali"
"Maaf-maaf,biar aku obati"
Sheva mengelap dada Damar dengan tisu kemudian mengoleksan salep tersebut,tiba-tiba Damar memegang tangan Sheva dan membuat suasana berubah menjadi canggung.
"Damar....."
"Va,kamu merasakan detak jantungku yang begitu kencang ketika menatapmu?"
Sheva mencoba melepaskan tangannya,namun Damar justru menariknya sehingga tubuh Sheva jatuh ke atas Damar.
"Damar...." teriak Sheva
"Maaf"
Sheva bangun dan melamparkan handuk ke arah Damar
"Pakai itu untuk menutup tubuhmu" ucap Sheva yang kemudian keluar dari klinik
Sheva berjalan menuju ruangan Hana dengan jantung yang berdetak kencang,bahkan ia kesulitan bernapas dengan apa yang baru saja terjadi dengannya.
Setiba di ruangan,Hana menatap wajah Sheva yang tegang dan memerah. Ia bingung kenapa sahabatnya begitu lama hanya membuat kopi saja
"Va,kamu tidak apa-apa kan?"
"Enggak Han"
"Terus mana kopinya?"
"OB sudah pada pulang,kita pulang saja yuk. Ntar aku traktir kopi di luar saja"
"Ya sudah lagi pula pekerjaan ku juga sudah selesai"
Sheva dan Hana bergegas keluar kantor,di loby mereka kembali berpapasan dengan Damar.
"Sheva,Hana kalian mau pulang?" tanya Damar
"Iya,kamu sendiri juga baru pulang?"
"Iya"
Sheva melirik ke arah Damar dan meminta Hana untuk segera pergi dari sana,mobil Sheva sudah berada di depan loby. Ia segera masuk ke dalam mobil tanpa melihat Damar yang masih berdiri di tengah pintu sambil memperhatikan mereka.
"Kamu kenapa sih Va? lihat Damar seperti tidak suka"
"Hah... enggak kok"
__ADS_1
"Tadi aja kamu merasa dia aneh,sekarang malah gantian kamu yang aneh"
"Apaan sih Han,sudah kamu mau minum kopi dimana?"
"Cafe langganan kita saja" ucap Hana
Sheva segera menginjak gasnya dan pergi menuju cafe,di sana mereka menghabiskan waktu hingga tiba-tiba segerombolan perempuan datang menghampirinya.
"Dih ada perempuan yang nggak bisa move on nih" ucap salah satu dari mereka
Hana dan Sheva langsung berbalik melihat ke arah sumber bunyi itu,dan ternyata itu adalah Anggun dan kedua temannya.
"Aduh ada bu Anggun..." ucap Hana sambil tertawa
"Maaf yang anda maksud dengan tidak bisa move on siapa ya?" tutur Sheva
"Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Kamu ngatain saya? tidak salah?"
"Tidaklah,nyatanya punya pacar baru berapa bulan aja sudah putus. Pasti tidak bisa ya menemukan yang lebih baik dari Marcell?"
"Banyak kok,lagi pula saya tidak mengakui dia sebagai mantan kekasih."
"Bilang saja kalau kamu masih tidak terima kalau akhirnya dia lebih memilih aku dari pada kamu"
"Oh ya?"
"Duh bu Anggun berisik sekali ya, oh ya bu sudah setahun lebih nikah kok kayaknya belum punya anak sih?" ucap Hana dengan nada mengejek
"Suka-suka aku dong,mau punya anak kapan itu urusan aku dan Marcell"
"Jangan-jangan pak Marcell masih menyuruh ibu untuk menundanya ya? sampai kapan? sampai pak Marcell jadi pemegang kampus?" celoteh Hana lagi
"Duh bu,kok saya malu ya ibu bilang begitu"
"Bilang ke suami anda,kalau dia tidak akan bisa menjadi pemimpin kampus" ucap Sheva
"Kenapa tidak bisa? pemegang saham terbesar kampus itu masih keluarga ku"
"Oh ya? coba dong di lihat lagi dengan teliti" ucap Sheva yang kemudian mengajak Hana pergi
Anggun dan dua temannya hanya dapat terpaku begitu melihat kurva saham teratas adalah nama Sheva,secara tidak langsung Sheva berkuasa menentukan mana yang akan ia singkirkan.
Sheva sampai di rumah dan segera masuk ke dalam kamar,kedua orang tuanya terlihat tidak ada di rumah. Ia pergi ke kamar mandi dan segera membersihkan diri,setelah itu ia memainkan ponselnya di depan meja rias. Tiba-tiba saja lampu padam,Sheva terkejut dan segera menyalakan lampu di ponselnya. Ia turun ke bawah dengan hati-hati sambil memanggil para asisten rumah tangga,namun tak satu pun menjawabnya.
Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya dari arah taman dekat kolam renang,Sheva menghampirinya sambil membawa sebuah kemoceng untuk berjaga-jaga jika itu orang jahat.
Sesampainya di sana Sheva melihat meja penuh dengan makanan dan sebuah lilin menghiasinya. Sheva meletakkan ponselnya sambil melihat sekitar hingga sosok laki-laki mengejutkannya,Sheva refleks memukulnya dengan kemoceng di tangannya
"Aduhhhh..... Sheva stop... sakit Va"
Sheva berhenti memukulnya karena seperti mengenali suara itu,ia mengambil ponselnya untuk menerangi wajah itu dan ternyata adalah Morgan
"Morgannnn.... kamu ngapain disini?" ucap Sheva
"Sakit Va...."
Lampu pun menyala,dan terlihat kedua orang tua Sheva dan keluarga William memasuki taman. Mereka terkejut saat melihat memar merah di tangan Morgan
"Sheva,ya ampun kamu kenapa sih pakai acara mukul-mukul nak Morgan??" ucap nyonya Lista yang panik
"Lagian kenapa sih pakai acara kayak gini,tidak tahu apa aku paling tidak suka kegelapan"
__ADS_1
"Yang tadinya mau romantis jadi ngelawak begini" ucap tuan Robert
"Sudah-sudah sekarang mami ambil kotak P3K,kamu obati itu tangan Morgan" ucap Nyonya Lista lagi
Morgan duduk di kursi begitu juga Sheva,nyonya Lista kembali dan memberikan kotak P3K pada putrinya
"Ini,kamu obati tangan Morgan. Kasihan pasti sakit itu"
"Sebaiknya kita tinggalkan mereka" ajak tuan Robert
"Pi,Mi mau kemana" Ucap Sheva
Morgan terlihat tenang dan tersenyum menatap Sheva
"Kamu kenapa sih mau aja di suruh begini,untung saja aku belum dorong kamu ke kolam"
"Seriusan kamu mau lakuin itu?"
'Habisnya aku kira maling,sini biar aku oleskan salep"
Morgan mengulurkan lengannya,dengan lembut Sheva mengoleskannya
"Sakit ya?"
"Lumayan"
"Maaf ya"
"Iya"
"Kamu kapan pulang? bukannya harus satu minggu lagi ya?"
"Saya sudah bilang ke dosen kalau tidak ikut acara wisuda"
"Emangnya boleh"
"Mereka tahu kok kalau saya mau married,makasih ya Va akhirnya kamu bersedia menikah dengan saya"
"Iya"
"Oh ya besok kita ke venue ya nemenin saya fitting jas"
"Aku kan harus ke kantor"
"Saya sudah ijin ke papi kok"
"Papi.....???"
"Iya papi kamu"
"Sejak kapan kamu panggil papi?"
"Sejak kita tunangan,kan memang sebentar lagi orang tua kamu juga akan jadi orang tua saya"
"Sudah nih,sekali lagi aku minta maaf"
"Kita makan yuk"
"Aku belum laper"
"Terus kamu mau saya makan ini semua sendiri? saya siapkan ini dari sebelum kamu pulang loh"
"Ya sudah"
__ADS_1
Akhirnya mereka makan berdua di tepi kolam,sambil menahan sakit Morgan berusaha terlihat baik-baik saja.