Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 65


__ADS_3

Sheva duduk di salah satu bangku dan menangis,ia teringat dengan sosok laki-laki yang pernah menggunakan setelan sama persis dengan yang Morgan kenakan tadi. Tiba-tiba seseorang menghampirinya dan mengulurkan sebuah sapu tangan kepada Sheva,pandangan Sheva beralih menatap laki-laki yang tak lain adalah Damar.


"Damar...."


"Hai..."


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?"


"Kebetulan aku lewat dan lihat kamu tadi,jadi aku samperin saja. Kamu kenapa nangis?"


"Enggak kenapa-kenapa kok"


"Kalau ada apa-apa kamu bisa kok cerita sama aku"


"Aku benaran tidak ada apa-apa"


"Kamu mau kemana habis ini? mau balik kantor?"


"Enggak,aku tidak mau ke kantor ataupun pulang"


"Lalu?"


"Aku tidak tahu harus kemana,sekarang aku bingung bagaimana caranya aku jelaskan ke mami dan papi kalau aku sama sekali tidak cinta sama dia"


"Dia? calon suami kamu?"


"Iya"


"Bagaimana bisa? kalian kan memutuskan untuk menikah"


"Itu semua perjodohan Damar,aku sama sekali tidak bisa menolaknya"


"Tapi kamu berhak bahagia Va"


"Aku tidak bisa mengecewakan mami dan papi lagi,mereka sudah memberikan semuanya untukku bahkan mengorbankan kehormatannya untukku"


"Lalu kalau kamu lanjutkan apa hidup kamu kedepannya akan bahagia"


"Entahlah Damar,aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa"


Tiba-tiba hujan turun begitu deras,Damar dan Sheva terguyur basah oleh air hujan.

__ADS_1


"Sheva,kita ke mobil" ajak Damar


Sheva dan Damar masuk ke dalam mobil,hujan begitu deras.Baju mereka basah bahkan sekarang Sheva kedinginan


"Kita ke aprtemen aku ya?" ucap Damar


Sheva yang tidak tahu lagi harus kemana akhirnya memutuskan untuk mengiyakan ajakan Damar. Sesampainya di sana Damar meminta agar Sheva mengeringkan diri dan meminjamkan baju ganti untuknya.


"Kamu pakai ini"


"Makasih"


Setelah selesai berganti baju Sheva hendak mencari Damar,namun ia justru melihat Damar yang bertelanjang dada di dalam kamarnya. Ia menatap dada bidang Damar yang pernah ia tumpahi kopi,mematung hingga tak tersadar Damar kembali menatapnya dengan terkejut.


"Sheva...."


"Maaf,aku tidak tahu kalau kamu baru ganti baju"


"Masih kedinginan?"


"Sudah agak mendingan"


"Aku buatkan susu hangat ya"


Laki-laki itu menatap wajah Sheva dan memindahkannya ke kamar,ia mengusap lembut wajah perempuan di hadapannya itu.


Kemudian meninggalkannya sendirian di kamar itu,Damar tidak ingin terbawa susana jika terus menerus menatap Sheva yang sedang terlelap. Damar sendiri terlelap di sofa,hingga saat terbangun karena ponsel Sheva yang terus berbunyi,ia menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 22.00. Terdapat lima belas panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Morgan,Damar mengambil ponsel itu dan menonaktifkannya.


Damar berjalan menghampiri Sheva yang masih terlelap,ia menatap wajahnya lagi dan menggenggam tangannya. Tiba-tiba Damar begitu terkejut saat merasakan suhu tubuh Sheva yang begitu tinggi,ternyata Sheva demam. Ia segera mengambil air untuk mengompres dan beberapa obat,ia mencoba membangunkan Sheva untuk meminum obat terlebih dahulu.


Setelah agak mendingan Damar mencoba meninggalkan Sheva,namun baru beberapa menit tiba-tiba terdengar teriakan dari Sheva


"Pergi,....pergi aku tidak mau ketemu sama kamu lagi, Pergi....."


Damar langsung menghampiri Sheva dan mencoba membangunkannya


"Sheva,Va bangun Va....."


"Hahhh Damar, Damar untung kamu ada di sini... Jangan tinggalkan aku,aku tidak mau dia kembali lagi"


"Iya Va iya,aku ada di sini"

__ADS_1


Sheva memeluk Damar yang duduk di sampingnya,mereka berdua terlelap bersama.


Pagi-pagi sekali Sheva terbangun dan mendapati Damar yang tidur di sampingnya,ia mengelus pelipis Damar. Hal itu membuat laki-laki itu terbangun


"Sheva,kamu sudah bangun?"


"Semalaman kamu nemenin aku?"


"Iya Va,kamu terbangun dan meminta aku buat tetap di samping kamu"


"Damar....."


"Iya Va....."


Sheva menatap pekat wajah Damar begitu sebaliknya,mereka pun terbawa ke dalam suasana dan saling mencumbu. Sebuah ciuman mendarat di bibir Sheva,mereka berdua saling tak sadar dengan apa yang di buatnya hingga saat Damar melepaskan kaosnya pun Sheva sama sekali tidak menolak,tetapi saat Damar mencoba melepaskan kancing kemeja yang di kenakan Sheva satu persatu ia pun menolak.


"Kenapa Va....???"


"Kita tidak seharusnya melakukan ini"


"Kenapa? apa karena kamu akan menikah?"


"Tidak,aku tidak mau mengecewakan mami dan papi"


"Va, aku bersedia menghadap mereka untuk membuktikan bahwa aku cinta sama kamu"


"Enggak Damar,aku tidak bisa"


"Va ayolah"


"Maaf kan aku Damar,aku harus hubungi rumah mami dan papi pasti sangat khawatir karena semalaman aku tidak pulang"


Sheva bangun dari tempat tidurnya dan mengambil ponselnya di depan televisi,ia membaca beberapa chat Morgan yang terlihat khawatir. Ia segera menghubungi maminya agar tidak khawatir


"Halo Sheva,kamu di mana sayang?"


"Mami aku lagi di......"


Belum selesai Sheva mengucapkan perkataannya tiba-tiba Damar memukulnya dari belakang


"Brakkk....." Sheva seketika pingsan

__ADS_1


"Halo Sheva,kamu dimana sayang.... Sheva"


Damar memungut ponsel Sheva dan memutuskan panggilan itu,ia menggendong Sheva dan menaruhnya di atas tempat tidur. Ia membuka satu persatu kancing kemeja yang Sheva kenakan lalu ia berbaring di sebelahnya.


__ADS_2