Perjodohan Jadi Cinta

Perjodohan Jadi Cinta
EPISODE 79


__ADS_3

Sheva duduk di sana,beberapa saat istri Bli banu datang membawa air jahe dan lemon untuknya.


"Mbak sudah jangan repot-repot,cepat ceritakan semuanya pada saya"


"Baik non,jadi sebelum tuan berangkat ke US untuk melanjutkan kuliahnya. Ia sempat singgah di sini selama kurang lebih satu bulan,selama di sini non Kiara sering datang berkunjung sekedar menemani tuan jalan ataupun menginap di sini"


"Mereka tidur sekamar?"


"Tidak non,non Kiara di lantai atas dan tuan ada di kamar yang kalian tempati sekarang"


"Lalu...."


"Saya kurang tahu apa hubungan tuan dan non Kiara,namun saya merasa mereka sangatlah dekat. Hingga suatu hari non Kiara bertengkar hebat dengan tuan dan saya mendengarnya menyebut nama non Sheva"


"Hah nama saya??? apa yang dia katakan"


"Non Kiara bilang,tuan terlalu naif mencintai non Sheva. Bahkan perasaan tuan sama sekali tidak ada harganya untuk non,jadi non Kiara meminta tuan untuk melupakan non Sheva dan memulai awal baru dengan non Kiara"


"Jadi mereka sempat berpacaran mbak?"


"Saya kurang tahu non,selepas perdebatan itu tuan keluar entah kemana sampai malam itu tuan pulang dalam keadaan mabuk berat. "


"Morgan mabuk???"


"Iya non,dan Non Kiara panik lalu membawa tuan ke dalam kamar,saat pagi hari saya hendak membangunkan tuan karena nyonya begitu khawatir sejak kemarin tuan tidak dapat di hubungi tidak sengaja saya melihat non Kiara dan tuan tidur dalam keadaan telanjang. Saya kaget lalu menutup pintu dengan agak keras,meski begitu sama sekali tidak membuat mereka bangun"


"Apa....???? jadi suami saya tidur dengan Kiara?"


"Sepertinya begitu non"


"Sudah berapa kali hal itu terjadi mbak?"


'Saya tidak tahu non,sejak saat itu hubungan tuan dan non Kiara semakin dekat. Bahkan pernah sekali saya melihat non Kiara dan tuan bermesraan di kamar atas saat saya dan suami membersihkan kolam bawah"


Air mata Sheva menetes membasahi pipinya,istri Bli Banu hanya bisa diam dan merasa bersalah karena menceritakan hal yang tak seharusnya ia katakan. Meski begitu Sheva berhak tahu tentang hal ini dari pada nanti akan membuatnya terus bertanya soal ini kepada Wayan.


"Non maafkan saya,saya tidak bermaksud melukai hati non Sheva"

__ADS_1


"Tidak mbak,saya justru berterima kasih karena mbak sudah jujur kepada saya. Tapi apakah mama dan papa tahu soal ini?"


"Tidak non,nyonya dan tuan besar tidak pernah bertanya soal tuan dengan siapa di sini. Karena nyonya berpesan hanya untuk menjaga tuan karena ia baru saja mengalami hal yang berat saat itu"


"Ya sudah mbak,saya mau ke kamar"


"Di minum dulu non"


"Saya bawa ke kamar saja mbak"


"Baik non"


Sheva berjalan ke dalam,ia menatap kamar atas yang terlihat dari ruang tengah. Ia berniat menghampiri kamar itu sekali lagi dan mengambil lingerie yang ada di dalam almari.


Senja menampakkan keindahannya di pantai Bali,Morgan yang sudah merasa puas surfing dan berenang memutuskan untuk kembali ke vila. Karena capek ia tidak memperhatikan di mana istrinya saat itu,ia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu sesaat merebahkan badan di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian ia baru menyadari bahwa sedari kembalinya ia dari pantai tadi belum melihat istrinya sama sekali.


Morgan keluar menuju dapur,di sana hanya ada istri bli banu yang bersiap untuk pulang.


"Mbak,lihat istri saya??"


"Tidak ada mbak...."


"Mungkin di ruang tengah tuan"


'Oh terima kasih mbak"


"Tuan saya sekalian mau pamit pulang,makan malam sudah saya siapkan. Besok saya ke sini agak siang karena ada acara di rumah"


"Baik mbak"


Istri bli Banu pun pulang lewat pintu belakang,Morgan mengusap kepalanya dan mencoba mencari Sheva. Dari ruang tengah hingga halaman samping dan belakang masih belum ketemu juga,hingga akhirnya ia memutuskan mencari di lantai atas dan terlihat pintu kamar atas sedikit terbuka.


Morgan masuk dan melihat Sheva yang duduk di tepi kolam sambil memegang wine di tangannya,mata Morgan nampak terkejut mana kala melihat istrinya yang mengenakan lingerie dari dalam lemari kamar itu.


"Sayang,kamu ngapain di situ...." ucap Morgan yang berdiri di samping pintu balkon


"Aku menunggu kamu sedari tadi,aku kira kamu mencoba main gila lagi di belakangku"

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih sayang? saya sama sekali tidak paham yang kamu ucapkan"


"Cantik kan bajunya.....???" ucap Sheva yang berdiri di depan Morgan


"Kamu ngapain pakai baju begini,nanti kalau aku terkam nangis kayak semalam"


"Kamu tahu gak baju ini itu ada kenangannya loh"


'Kenangan? kenangan apa?"


"Kamu merasa gak ketika melihat aku memakai baju ini kamu teringat sesuatu?"


"Sayang maksud kamu apasih?"


"Morgan,Morgan.... aku kira kamu itu sempurna sekali di pikiran ku tapi...."


"Tapi apa....???"


"Kamu sama munafiknya seperti aku"


"Saya tidak paham yang kamu bicarakan"


"Pasti kamu kaget kan waktu lihat Damar mengirim foto kami yang tidur seranjang,apalagi hari pernikahan kita tinggal seminggu lagi waktu itu. Kamu pasti berpikir bahwa aku sudah melakukan hubungan yang tak seharusnya bersama dia,tapi nyatanya tidak"


"Intinya saja,sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Aku pikir kamu laki-laki hebat mau tetap menikah dengan diriku yang cacat waktu itu,tapi ternyata aku salah. Kamu sama cacatnya dengan aku sekarang"


"Sheva cukup,saya sama sekali tidak tahu apa yang kamu bicarakan sekarang"


"Munafik banget sih? kenapa mendadak kaget saat melihat aku pakai baju ini? kenapa? karena ada kenangannya dengan orang lain"


"Sudah Va,aku capek meladeni kamu. Sepertinya kamu terlalu banyak minum"


"Kamu dengarin ya,aku tidak akan mentoleransi sedikitpun sebuah pengkhianatan. Entah karena itu khilaf ataupun tidak aku benci hal itu" ucap Sheva yang kemudian membanting gelas di tangannya lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


Morgan yang bingung hanya bisa duduk sambil berpikir apa ada sesuatu sesuatu yang salah pada dirinya sehingga membuat Sheva begitu marah.

__ADS_1


__ADS_2