
Sudah sebulan ini mereka singgah di Swiss,hari ini mereka akan kembali ke Indonesia dan beraktivitas seperti biasa. Menempuh perjalanan kurang lebih tujuh belas jam membuat Sheva kelelahan,sesampai di rumah orang tuanya ia segera merebahkan diri di kamar. Sementara itu Morgan telah pergi ke kantor papanya untuk membereskan beberapa pekerjaannya yang telah terbengkalai selama honeymoon kemarin.
"Pa...." sapa Morgan begitu memasuki ruangan tuan William
"Hay kamu sudah pulang?"
"Iya pa,baru tadi pagi"
"Kenapa tidak di rumah dulu menemani Sheva"
"Dia baru istirahat...."
"Oh ya,kamu ikut papa melihat hadiah dari papa dan mama"
"Hadiah apa pa?"
"Sudah nanti kamu tahu sendiri"
Tuan William dan Morgan turun ke basemant untuk mengambil mobil,Morgan bingung kemana papanya akan membawa dirinya.
Beberapa saat kemudian mereka memasuki cluster perumahan mewah yang berada di dekat puncak,rumah dua lantai menjulang megah di hadapan mereka,pagar tinggi berwarna kuning hitam menghiasi halaman rumah tersebut.
"Ini rumah siapa pa?"
"Rumah kamu sama Sheva" ucap tuan William
"Papa serius?"
"Iya,semuanya sudah kami atur sedemikian mungkin. Kita masuk?"
Tuan William dan Morgan masuk,semua properti sudah tersusun rapi di tempatnya masing-masing
"Semua ini mama kamu yang atur,mulai dari depan hingga ujung belakang"
Morgan memeluk tuan William
"Terima kasih ya Pa...."
"Sama-sama,papa pilihkan lokasi yang dekat dengan rumah kita ataupun rumah Sheva. Jadi kalau ada apa-apa kita dekat"
"Iya pa...."
Morgan berkeliling di rumah seluas 800m itu,terdapat satu kamar utama di lantai dua dengan space yang besar,dua kamar tamu dan satu kamar anak. Masih ada beberapa kamar untuk asisten rumah tangga dan sopir,kolam renang serta taman. Suasana di sana tidak kalah asri dengan puncak,beberapa pohon cemara menghiasi taman rumah itu. Morgan nampak senang dengan hadiah dari orang tuanya,tak lupa tuan William memberikan kunci rumah tersebut padanya.
Setelah lelah berkeliling tuan William dan Morgan kembali ke rumah,kebetulan Sheva ada di sana mengantarkan oleh-oleh untuk mertuanya.
"Sayang,kamu kapan ke sini?" tanya Morgan saat melihat Sheva keluar bersama nyonya William
"Baru saja,Sheva nganterin oleh-oleh buat kita pa" ucap nyonya William
"Ayo masuk"
Mereka duduk di taman samping rumah sambil mengobrol perjalanan mereka di Swiss,tiba-tiba bel pintu berbunyi. Tak lama asisten rumah tangga datang menghampiri mereka
"Den Morgan ada tamu di depan"ucap asisten itu
Tak menunggu lama Morgan segera menghampiri pintu,terlihat Kiara menunggu di ruang tamu
"Kiara...."
"Hay Morgan"
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?"
"Emang salah ya kalau aku berkunjung ke rumah teman mama aku?"
"Ya enggak,kamu cari mama?"
"Sebenarnya...."
Nyonya William beranjak dari tempat duduknya
"Mama cek ke depan ya Pa,kok Morgan lama banget. Sebentar ya Sheva"
'Iya ma"
Nyonya William berjalan menuju ruang tamu dan melihat Morgan tengah mengobrol dengan Kiara di sana
"Siapa Morgan??"
"Ini ma Kiara..."
"Kiara.... astaga sudah lama sekali kamu tidak kemari"
"Halo tante,apa kabar?"
"Baik,kamu sama mama kamu gimana?"
"Mama baik kok tante"
"Syukurlah kalau begitu,ada keperluan apa sama Morgan"
"Ini tante,Kiara mau mengantarkan kemeja Morgan yang ketinggalan di kamar"
"Di kamar....???"
"Morgan...."
"Sayang" ucap Morgan terkejut
"Apa ini....???"
"Sayang dengarkan dulu"
"Kenapa kemeja kamu bisa sama dia?"
"Maaf nona,sebenarnya waktu itu...."
"Cukup,aku tidak mendengarnya" ucap Sheva yang kemudian mengambil tasnya dan keluar dari rumah itu
Morgan berusaha mengejarnya hingga di depan halaman rumah
"Sayang tunggu,kamu dengarkan dulu penjelasan Kiara"
"Apa? dengarin kalau kemeja kamu ketinggalan di kamar dia? iya?"
"Astaga Sheva,saya sama sekali tidak pernah datang ke rumah dia ataupun ke kamarnya"
"Ya siapa tahu kalian sewa kamar hotel atau semacamnya"
"Jadi kamu kira saya main gila sama Kiara?"
"Terus itu apa? di mengembalikan kemeja kamu"
__ADS_1
Tiba-tiba tuan William dan istrinya keluar menghampiri keduanya yang masih berdebat di halaman rumah
"Sheva sayang,dengarkan mama dulu ya"
"Kenapa ma?"
"Kemeja Morgan tertinggal di kamar yang ada di pesawat"
"Haa?? jadi bukan di kamar lain?"
"Kamar lain bagaimana?"
"Enggak kok ma,di kira Sheva itu Morgan meninggalkan kemejanya di kamar paviliun kita yang ada di Swiss"
"Mungkin kalian keburu jadi tidak mengeceknya lagi"
Sheva menunduk malu lalu kembali masuk ke dalam rumah,Kiara yang masih duduk di sana menatapnya dengan senyuman.
"Maaf" ucap Sheva kepada Kiara
"Tidak apa-apa nona,salah saya juga mengatakannya hanya setengah-setengah"
"Kiara,kamu mau minum apa?"
"Apa saja tante"
"Ma,Pa Sheva ke kamar dulu ya"
"Iya sayang"
"Morgan kamu di sini saja,kamu temani Kiara" ucap Sheva sebelum pergi
Morgan hanya mengangguk dan melihat istrinya menghilang memasuki lift menuju lantai atas.
Setelah Kiara pergi Morgan segera pergi menuju kamarnya untuk melihat Sheva,di kamar terlihat Sheva duduk di meja belajar suaminya sambil melihat beberapa foto yang ada di sana.
"Itu foto pertama kali saya pindah ke US" ucap Morgan yang sudah berada di belakang Sheva
"Dia sedekat itu dengan keluarga kamu?"
"Siapa?"
"Kiara..."
"Oh,mama Kiara itu dulu satu SMA dengan mama. Jadi mereka sudah berteman sejak saat itu hingga sekarang,sempat dulu kami di kira pacaran padahal hanya sebatas teman saja"
"Dia cantik tapi kenapa kamu tidak mencoba menjalin hubungan dengannya dulu?"
"Saya tidak terlalu memikirkan soal percintaan sebelum akhirnya saat saya selesai S1 mama dan papa bilang bahwa mereka ingin menjodohkan saya dengan kamu"
"Pada saat itu kamu merasa kaget,bingung atau bagaimana?"
"Ya tentunya kaget karena saya tidak pernah menduga akan menikahi perempuan yang sangat saya sukai waktu kecil"
"Oh ya? seingat aku kamu lebih dekat dengan kak Geby di bandingkan sama aku"
"Karena saat itu kamu pendiam sekali,bahkan saat kita liburan bareng kamu lebih suka duduk di bawah pohon sambil membaca komik. Padahal saat itu kamu masih SD sedangkan aku dan kak Geby sudah SMP"
"Kenapa jadi bahas masa kecil sih"
"Ya sudah kalau begitu kita bahas masa depan saja"
__ADS_1
"Embb gimana ya...."
Morgan mendekati Sheva dan menuntunnya menuju tempat tidur,ia menatap mata istrinya yang sekarang ada di bawahnya itu. Lambat laun wajah mereka saling dekat dan terbawa suasana,ini adalah pertama kalinya Sheva merasakan ketegangan saat melakukan hubungan suami istri di rumah yang bukan hanya ada mereka berdua saja di sana. Sekuat tenaga ia menahan agar tidak mengeluarkan suara,melihat hal itu membuat Morgan tertawa sekaligus merasa semakin cinta kepada perempuan itu.