
Keesokan harinya Hana dan Sheva berangkat menuju bandara dengan di antar oleh sopir pribadi,setelah selesai berpamitan mereka pun segera berangkat.
Nyonya Amelia mama Hana melepas kepergian mereka dengan haru,akhirnya tepat pukul 10.00 pesawat mereka take off menuju Jepang. Mereka berdua akan menghabiskan waktu kurang lebih tujuh jam di dalam pesawat,Hana begitu terkejut ketika melihat tempat duduknya yang merupakan first class.
"Va,kita di first class?"
"Iya,kenapa?"
"Ini mahal loh Va"
"Kan kantor yang bayar"
"Kantor kan sama saja duit papi kamu"
"Lah masak bos mau naik ekonomi sih?"
"Iya yang paling bos deh"
"Nggak gitu juga Han,aku nggak bisa aja naik ekonomi"
"Kan bisa kelas bisnis Sheva"
"Udah nikmatin aja kenapa sih,kita tuh terbang tujuh jam lamanya,masa iya mau pakai kelas biasa"
"Ya udah deh terserah kamu"
Sheva terdiam kemudian menekan tombol untuk memanggil pramugari,ia meminta untuk di sediakan makanan dan minuman sebagai menu makan siang nanti.
Selama perjalanan Sheva sibuk mempelajari dokumen Mr.Namoko,sedangkan Hana mengecek kembali beberapa dokumen yang mungkin nanti ada yang kurang. Dan benar saja ada satu dokumen penting yang tidak ada di sana,keduanya panik dan berpikir untuk bisa mengendalikan semuanya.
"Seriusan kontrak kerja samanya nggak ada?" tanya Sheva
"Serius Va,dari kemarin memang nggak ada. Cuma sub copy sama beberapa dokumen pembelajaran aja"
"Kamu nggak lupa masukin ke dalam tas kerja aku kan Han?"
"Enggak Va,kalau pun aku lupa pasti aku sudah melihat dokumen itu"
"Map nya berwarna coklat dan ada logo perusahaan bercap International"
"Nggak ada,aku nggak pernah lihat dokumen seperti itu"
"Ahh sial,pasti Gina lupa memberikannya padaku"
"Iya aku baru ingat kalau kemarin dia bilang dokumen itu akan ia kirimkan ke rumah kamu pagi ini"
"Haaa??? ini urusan kantor kenapa jadi sampai rumah?"
"Aku juga nggak tahu"
"Fu*k..." teriak Sheva sambil melempar dokumen di hadapannya itu
Sementara itu di kediaman keluarga Robert,Gina dan mamanya sedang duduk menunggu di ruang tamu. Hanya ada satu asisten rumah yang di suruh menyiapkan berbagai kebutuhan mereka selama disana
"Sheva pasti sudah berangkat..." ucap Gina
"Terus dokumennya?" tanya Ajeng mama Gina
"Aku sengaja kok buat nggak memberikan dokumen ini kepadanya,supaya dia gagal mendapatkan kerja sama ini" ucap Gina sambil terkekeh
"Tapi bagaimana kalau sampai om kamu tahu nanti?"
"Mama tenang aja,om nggak akan marah sama aku bahkan sebaliknya. Sheva lah yang akan di anggap lalai dan kemudian membuat om Robert ragu buat menyerahkan kedudukan pimpinan padanya"
Saat Gina dan mamanya sedang asyik memakan camilan dan duduk bersantai di depan televisi tiba-tiba Morgan datang,asisten rumah tangga menyambutnya dengan baik
"Permisi bi"
"Eh den Morgan silahkan masuk"
__ADS_1
"Terima kasih bi"
"Den Morgan mau minum apa?"
"Nggak usah repot-repot bi,saya kesini cuma mau mengantarkan titipan mama buat keluarga om Robert" ucap Morgan sambil menyerahkan paper bag berisi makanan
Tiba-tiba saja Gina yang melintas dan akan menuju dapur melihat Morgan tengah berbicara dengan asisten rumah tangga
"Siapa tu bi?" ucap Gina sambil berjalan menghampiri mereka
"Ini non ada temannya non Sheva"
"Ini apa?" ucap Gina sambil menunjuk paper bag di tangan bibi
"Oh ini buat tuan dan nyonya"
"Sini biar aku aja yang bawa,terus kamu siapa?"
ucap Gina lagi sambil menatap Morgan
"Ini den Morgan,beliau anak tuan William" jawab bibi
"Oh tunangan Sheva,salam kenal ya aku sepupunya"
Morgan hanya tersenyum dan langsung izin pamit,ia sama sekali tidak menyukai sifat Gina yang begitu kurang sopan.
"Bi,kalau begitu saya permisi"
"Oh ya silahkan den,sekali lagi terima kasih"
"Sama-sama bi"
Gina menatap Morgan dengan senyum licik di sudut bibirnya ia merasa tertarik dengan tunangan sepupunya itu. Setelah melihat Morgan pergi ia segera kembali ke ruang tengah menemui mamanya
"Non tunggu"
"Itu bingkisannya buat tuan dan nyonya"
"Om dan tante kan masih pergi,lagian kalau nunggu mereka keburu basi ini makanan. Dari pada mubasir mending buat aku sama mama aja"
"Tapi non"
"Udah nggak usah bawel"
ucap Gina sambil berjalan menuju ruang tengah
Sesampainya di ruang keluarga Ajeng menatap putrinya dengan bingung
"Kamu ini ambil cemilan aja lama bener,itu apa?" tanya Ajeng sambil melirik papper bag yang di pegang oleh putrinya
"Ini tadi ada teman Sheva ke sini,dia nganterin ini buat tante Lista"
"Temen? kok baik banget"
"Tapi dia ganteng dan manis banget loh ma"
"Oh ya? siapa namanya"
"Morgan"
"Morgan? dia kan tunangan Sheva yang gagal itu"
"Haa? tunangan Sheva? gagal? maksud mama?"
"Iya jadi dia laki-laki yang kemarin di jodohkan dengan Sheva,dia itu anak konglomerat loh Na"
"Oh ya ma? pantesan aja aromanya aroma duit,berarti kalau gagal bisa dong Gina deketin kan secara dia bukan milik Sheva lagi"
"Yakin kamu mau coba deketin dia?"
__ADS_1
"Iya ma,siapa tahu Gina bisa menggantikan posisi Sheva dan jadi menantu konglomerat. Mami nggak perlu lagi berada di toko kue milik tante Lista dan Gina akan membuatkan mam outlet jauh lebih baik dari milik mereka"
"Mama sih setuju sekali sama kamu,tapi bagaimana cara kita mendekati keluarga Morgan? secara kan keluarga mereka tidak begitu sembarangan terbuka pada orang lain"
"Mama tenang aja,biar itu jadi urusan Gina"
"Oke deh"
Kedua wanita itu tertawa senang karena mereka memiliki sebuah rencana untuk masa depan masing-masing yang belum pasti akankah terwujud.
Tepat pukul 18.00 waktu Indonesia,Sheva dan Hana mendarat di bandara internasional Haneda Tokyo. Dengan di jemput sopir mereka langsung pergi ke hotel termewah yang ada di kota itu,sesampainya disana Sheva meminta Hana supaya memesan kamar terlebih dahulu sedangkan dirinya masih mencoba menghubungi Gina.
"Sial,kemana sih ini anak. Kenapa jam segini dia nggak bisa di hubungi" gerutu Sheva
Kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari Gina,akhirnya Sheva kembali menghampiri Hana yang masih berdiri di depan receptionis.
"Udah Han?"
"Udah Va,ini card kamar kita"
"VVIP kan?"
"Aku ambil yang deluxe Va"
"Deluxe? kenapa nggak VVIP?"
"Ya aku pikir itu sudah cukup untuk kita berdua"
"Han,ayolah kita kemari untuk bekerja bukan berhemat. Lagian aku nggak bisa tidur di deluxe room" ucap Sheva yang menyahut card kamar di tangan Hana
Dengan muka marah Sheva menghampiri receptionis sambil berbicara dengan bahasa Jepang,Hana yang memandangnya dari belakang nampak terpukau dengan sahabatnya yang begitu mahir berbahasa Jepang.
"Permisi saya mau upgrade kamar ke VVIP" ucap Sheva
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Sheva berhasil mengupgrade level kamar mereka
"Nih kuncinya,sekarang ayo kita naik. Api di otakku nggak akan padam sebelum aku menyentuh air" celetuk Sheva
Pelayan hotel membantu membawakan barang-barang mereka menuju kamar,selama di lift Hana hanya tersenyum menatap sahabatnya itu
"Kenapa kamu? kesambet hantu Jepang?" ucap Sheva yang kesal
"Kamu keren banget Va"
"Maksud kamu?"
"Sejak kapan kamu belajar bahasa Jepang?"
"Udah lama? kenapa?"
"Kamu fasih banget loh tadi waktu ngomong ke receptionis,aku aja tadi masih pakai bahasa Inggris waktu pesan kamar"
"Udah biasa,sejak SMP papi udah menekan kan aku harus bisa satu bahasa setiap naik kelas"
"Terus sekarang bahasa apa aja yang sudah kamu kuasai?"
"Sejauh ini baru Italia,Jepang,Mandarin,Kongo,Turki dan Punjabi"
"Gila,keren banget kamu Va. itu kan bahasa yang susah di pelajari"
"Karena aku punya mimpi jika nanti aku selesai kuliah aku ingin keliling dunia sambil berbisnis"
"Musafir maksudnya"
"Dih kagaklah jelas beda"
Tak terasa mereka sampai di lantai kamar,lorong yang begitu mewah sudah menggambarkan betapa mahalnya biaya menginap di hotel Hoshinoya Tokyo ini.
Begitu pelayan membuka pintu kamar,nampak pemandangan yang begitu indah di mata.
__ADS_1