
setelah pergelutan panjang Intan dan Jovan, akhirnya mereka menikmati makanan yang dimasak Jovan
"aduh, tiap hari gini sama istri tercinta,. kayaknya Aa perlu teh telur sayang biar bisa imbangi kamu" Jovan masih menikmati wajah cantik istrinya
Intan menyemburkan makanannya mendengar perkataan suaminya,dia sangat malu sekali sehingga pipi nya merah merona
"Aa, Intan malu" Intan menunduk menghindari tatapan mata Jovan
"kamu belajar darimana sayang hem" Jovan terus menggoda istrinya yang sangat malu
"dari Video, puas Aa" Intan tersenyum jujur dan melanjutkan makannya dengan tenang
"pantas aja bergairah, besok bilang ya kalau mau 4 ronde,biar Aa minum penguat tenaga" Jovan mengangkat alisnya
"sebenarnya Aa aja yang udah ketuaan sayang, makanya nggak bisa imbangi Intan" tawa Intan sangat keras dan membuatnya Jovan malu
Jovan tidak membahas lagi,dan dia memilih untuk menyapu rumah,dan Intan membersihkan piring kotor dan meja makan, kemudian intan menyiram bunga bunganya
sementara di rumah sakit Elisa, Desi sedang menjaga Tika, Rizal dan Bobi masih setia dikamar Boston,dan Lio masuk ke kamar Tika
"Tika,kamu dah sehat kan dek,udah nggak bengkak lagi wajahnya" Lio memeluk Tika tapi Tika tidak mau
"harusnya bilang terimakasih ke papa,tadi Tika mau ikut mama,nggak mau balik lagi,tapi papa bilang,mas Lio nggak mau Tika pergi, tadi Tika juga udah ajak papa sekalian tapi papa nggak mau tinggalkan mas Lio" Tika cemberut sekali
"udah sayang,mas udah minta maaf sama papa, Tika percaya kan sama mas" Lio memegang tangan Tika erat dan Tika memeluknya sambil menangis
"mas Lio terimakasih" Tika senang Lio sudah menerima Boston
"kamu teh hebat kasep, lihat semua keadaan nya sudah membaik,jangan lagi musuhi mas Boston ya Lio" Desi mendekati Lio
"iya Lio,kamu selesaikan dulu dengan pak Boston baru kejar Meyza" Elisa mengingatkan Lio pada Meyza
"dia kemana ya bun" Lio menelfon Meyza tapi hp nya nggak aktif
tak berapa lama Tomi datang dengan Pokas
"ele ele,adek Aa Tomi teh udah sehat euy" Tomi duduk di samping Tika
"iya Tika teh udah sehat Aa,gimana olimpiade nya Aa" Tika memeluk senang Tomi dan Lio tersenyum
"ini teh mas Tomi teh butuh bahan praktek, Aa teh bingung mau cari dimana" Tomi melihat Lio meminta bantuan
"kamu butuh apa Aa" Lio mengusap rambut Tomi
__ADS_1
"ini teh disuruh bawa patung manusia yang kelihatan bagian dalam tubuhnya mas,cari dimana euy" Tomi bingung sekali
belum Lio menjawabnya Bobi sudah datang dan menghampiri Tika dan memeluk nya
"mas Bobi kemarin teh udah janji mau bantu Tomi buat penelitian" Tomi berniat mengusili Bobi
"oh iya dong,mas Bobi bisa apa saja buat Tomi" Bobi menepuk dadanya bangga
"besok teh badan mas Bobi harus jadi penelitian Tomi" Tomi mengangkat alisnya
"ha,badan mas Bobi" Bobi membuka mulutnya kaget
"iya Bob,kan lo udah janji kemarin waktu dekatin Jelita" Lio membantu Tomi untuk mengerjai Bobi
"cuma dibelah dikit-dikit mas, perut,dada,mau lihat bagian dalamnya" Tomi menceritakan bagaimana Bobi akan dibedah
"Tom,kamu mau kehilangan mas mu yang tampan ini" Bobi mendekati Tomi dan memohon padanya
tak lama Jelita masuk tapi Bobi mengacuhkan nya sedangkan Tomi bersembunyi di belakang Bobi
"mas,eta teh perawat yang gangguan jiwa napa atuh masuk kemari" Tomi berbisik pada Bobi dan Bobi dapat ide agar tidak jadi bahan praktek Tomi
"dia memang suka masuk kamar pasien Tom, apalagi ada orang ganteng kayak kamu" Bobi menakuti Tomi
"hallo,adek kecil,kita cek bekas operasinya dulu ya manis" Jelita mengeluarkan alat alat nya dan Tomi menarik tangan Lio agar Tika jangan sampai diperiksa Jelita
"hihi, tampan sini sama suster" Jelita tertawa pecicilan sampai Tomi menangis dan Desi marah
"mas jangan, Aa trauma sama orang gila" Tika menangis melihat Tomi yang ketakutan sampai menggigil
Lio dan Bobi mendekati Tomi dan mereka berdua memeluk Tomi seperti anak kecil agar diam
"mas Bobi minta maaf ya, besok mas mau kok di bedah sama kamu tapi harus diam,udah udah" Bobi merasa bersalah sekali sampai Tomi pun memeluk Bobi erat
"nggak mas, Tomi tadi cuma bohong" Tomi menangis sesenggukan
"kamu teh udah besar kenapa masih takut sama hal kayak gitu,itu teh perawat" Desi membentak Tomi dengan emosinya sampai Tika menangis lagi dan dadanya sesak, Jelita panik dan berlari keluar memanggil Arlan sedangkan Elisa dan Desi memenangkan Tika
"udah sayang, maafin ibu ya" Desi menangis sedih
"kalian udah tau dari semalam Tomi ketakutan sama perawat tadi,kenapa kalian masih usil lagi" Elisa menatap tajam Bobi dan Lio
Arlan, Jelita dan Handoko datang kekamar Tika, Arlan memeriksa Tika dan memberikan alat bantu pernapasan
__ADS_1
"kenapa nak" Handoko cemas melihat Tomi menangis dan Jelita kelihatan sangat menyesal sekali
"pak kami nggak sengaja tadi bercandain Tomi, dia nangis ketakutan pak" Lio cemas sekali melihat Tomi yang sesenggukan
"Tomi takut atuh pak,takut sama orang gila yang culik Tomi dulu" Tomi memegangi kepala nya trauma kembali hadir di kepalanya
"nggak nak,mereka teh cuma bercanda sama kamu,perawat ini teh adiknya mas Arlan atuh" Handoko menenangkan Tomi agar bisa mengontrol takutnya
"Tomi, lihat mas Arlan,dia adik kandung mas,dia nggak gila,mas semalam bercanda dek,dia perawat di sini" Arlan menenangkan Tomi dan Tomi menuruti arahan Arlan sampai dia tenang
"maaf ya suster,anak saya takut kalau dengar orang gila,maaf sebesar-besarnya ya" Desi sangat tidak enak dengan Jelita
"buk,saya yang salah, harusnya saya nggak kelewatan semalam" Jelita kasihan melihat Tomi
"Aa Tomi,aku bukan orang gila,aku perawat disini, dengar ya aku perawat, maaf aku usil sekali sama kalian berdua, jangan takut lagi ya" Jelita menjelaskan pada Tomi tapi Tomi menyembunyikan wajahnya di belakang Lio
"saya teh masih takut, jangan dekati saya atuh" Tomi bicara sambil gemetaran
"buk,maaf sekali ya buk maaf sekali, tapi Tomi harus segera bertemu dengan psikolog,ibu nggak keberatan kan,ini bisa berbahaya dalam waktu yang lama" Jelita tau kalau Tomi sangat trauma sekali
"iya mbak,kasihan Tomi,ini harus segera di tuntaskan mbak,jangan sampai terjadi penyesalan di masa depan" Elisa menangis melihat Tomi yang ketakutan parah
"uang darimana atuh bunda, Tomi udah nggak apa-apa ibu, bapak,nggak usah" Tomi mencoba duduk tenang tapi tangannya masih gemetaran dan matanya terpejam
"tolong Ar,urus psikolog terbaik buat adik gua" Lio akan melakukan yang terbaik buat adik nya
"jangan ikat saya atuh,teteh saya jangan di tendang lagi perutnya,lari teteh lari" Tomi mengigau dalam keadaan terpejam dan menutup telinganya
"Tomi,ini ibu nak,jangan takut lagi,lihat kami semua di sini nak" Desi memeluk Tomi dang sangat menyesal
"maaf bu" Jelita menyuntik obat penenang dan Tomi tak sadarkan diri
"kalian semua kenapa harus begini sayang" Elisa sudah tidak karuan dengan cerita Tomi
"teteh di sini siapa buk" tanya Bobi
"Intan nak" Handoko terduduk lemas sekali mengingat Tomi dan Intan yang hilang 5 hari saat mereka masih kecil
"mereka sebenarnya diculik orang gila dulu,dari situ Tomi ketakutan dan pak Polan yang memberikan terapi psikis untuk Tomi di kemiliteran maka nya Tomi bisa cepat bangkit,beda dengan Intan yang bisu 1 bulan, takut bicara, karena kata Tomi kalau Intan bicara di kasih minum air selokan" Desi kembali menangis dan Bobi terkejut sekali
"makanya bapak mohon pada kalian semua,jangan sampai Intan dibentak,dia akan ketakutan,atau akan bertindak kasar dan nekat sekali, kalau Jovan ingin memarahi nya, bapak mohon Lio kamu yang lindungi dia,dan jika keluarga William tidak mau menerima kondisi putri saya,saya akan bawa dia pulang" Handoko menangis mengeluarkan kata kata itu dari mulutnya
"jadi anak kecil cantik yang dulu suka sembunyi di dalam kamar Caca itu Intan mbak" Elisa mengingat kembali hal yang akan dilupakan nya, Intan yang selalu sembunyi ketakutan di kamar Elisa dan dia akan diberi es krim dulu oleh Jovan baru dia mau keluar dari kamar
__ADS_1
"yang dulu kurung Lio di gudang karena Lio marahin dia nonton terus dan suka makan permen sambil tidur" Lio juga mulai ingat dengan Intan kecil
Bobi terenyuh mendengar cerita Desi,di balik keceriaan Intan dan Tomi,ada luka yang sangat dalam tergores dalam hidup mereka