Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Lio Vs Arlan


__ADS_3

Desi dan Handoko setia menemani Tika yang istrahat


"Tika,kamu teh kenapa nak" Handoko melihat kondisi Tika dan menangis disamping Tika


"pak,ibu takut tak bisa menjaga Tika, kak Dean pasti marah sama ibu" Desi menggenggam erat tangan Tika


"apa kita nggak berdosa buk, tidak pernah kita ketemukan Boston dan Tika" Handoko sudah mulai membuka hatinya untuk Boston


"nggak usah pak,kita nggak butuh dia" Lio langsung masuk dan duduk disamping Tika


"Lio,jangan egois lo" Jovan hanya berharap Boston yang akan bisa mendonorkan ginjalnya pada Tika


"maksud lo apa" Lio mulai emosi dengan Jovan yang menentang nya


"pak Boston harus di check dulu,suka atau tidak,gua akan bawa pak Boston kesini ketemu Tika" Jovan keluar dari kamar Tika di ikuti Arlan


"Jo,maksud lo pak Boston bokap nya Lio" Arlan menarik tangan Jovan untuk berhenti dan Jovan pun duduk di kursi tunggu


"iya Ar,dia mau ketemu dengan 2 anaknya untuk minta maaf,gua udah bicara dengan pak Boston,dia memang sangat rindu pada 2 anaknya" Jovan menceritakan semuanya pada Arlan


"bawa pak Boston kesini,gua yang akan menghadapi Lio" Arlan tidak punya pilihan lagi demi Tika,dan Jovan berterimakasih kepada Arlan dan kembali ke hotel tempat Intan setelah Pokas sampai


setelah sampai di hotel Jovan menemui Meyza,dia tau kalau Meyza orang kiriman pak Boston


"pak Boston dimana boleh saya bertemu" Jovan bertanya pada Meyza


"bapak akan diantar bodyguard ini,saya harus mencari Devina dulu" Meyza memerintahkan bodyguard itu dan dia pergi ke alamat yang dikirim bodyguard nya


Jovan mengikuti arahan Meyza dan dia sampai di ruangan Boston di hotel itu juga


"papa sehat kan" Jovan memeluk Boston yang berdiri menunggu nya


"sehat Jo,kamu perlu bantuan papa nak" Boston memeluk Jovan dengan senyumnya, kemudian mereka duduk di sofa


"pa, Jovan sama sekali tidak ingin memanfaatkan keadaan pa, tapi mungkin hanya papa harapan kami semua untuk menyelamatkan Nika pa" Jovan berlutut di kaki Boston


"Nika anak papa maksud mu Jo" Boston memegang pipi Jovan yang hampir menangis


"pa sebenarnya Tika itu ya Nika, namanya diganti sama kakek Polan menjadi Tika Deanika tapi Kinder dihapus pa, karena saat itu istri kedua papa ingin membunuh Tika pa" Jovan tertunduk bersalah dihadapan Boston


"yang tadi turun dari helikopter itu anak papa Jo" Boston tidak memperdulikan lagi pergantian nama Nika menjadi Tika


"iya pa,dia sedang di rumah sakit pa,dia butuh pendonor ginjal pa, Lio nggak bisa pa karena nggak sama,kasihan Tika harus menahan sakit itu" Jovan masih menahan air matanya dengan menunduk


"papa akan lakukan apapun nak,mungkin ini jalan bagi papa untuk mendapatkan maaf dari Tika dulu Jo,ayo Jo kita sekarang ke rumah sakit, silahkan kalian ambil keduanya nak,dan bila perlu katakan pada Lio papa ikhlas jika harus mati nak" Boston mengangkat dagu Jovan dan langsung memeluk nya


"pa maafkan Jovan,semua demi Tika pa,dia masih kecil" Jovan akhirnya menangis mengingat keadaan Tika tadi


"papa ikhlas nak, papa senang kamu mau menganggap papa ini sebagai orang tua,kamu mau manggil saya papa Jovan,kamu membuat saya harus berjuang untuk mendengarkan Lio dan Tika memanggil saya papa" Boston sangat merindukan Lio dan memeluk Jovan dengan erat, Jovan pun duduk di samping Boston dan membersihkan wajah nya


"sekarang kita berangkat ya pa" Jovan berdiri dan akan menantikan Boston di lobby


"kamu pamit sama Intan dulu nak,dia di hotel ini juga" Boston membuka pintu ruangannya


"jangan pa, nanti Jovan nggak bisa pergi lagi, biarin aja dulu dia nunggu Jovan" Jovan pun mencari cari Meyza untuk menjaga Intan

__ADS_1


"hahhah,bisa saja kamu,kalau gitu biar bodyguard papa yang jaga Intan" Boston memanggil bodyguard nya dan memberikan perintah untuk menjaga Intan


"pa jika Pokas menjaga disini juga papa nggak marah kan" Jovan sebenarnya takut jika ada anak buah Boston yang berkhianat


"sekalian panggil anak buah Pokas nak,biar Intan nggak ada yang berani mendekati" Boston tak mau Jovan curigai pada nya dan Jovan pun memanggil Pokas,dan merekapun meninggalkan hotel menuju garasi pribadi Boston


"Jo,kalau Lio marah gimana,papa takut dia mengamuk" langkah Boston berhenti dan Jovan pun juga menghentikan langkahnya


"masak papa yang ditakuti malah takut sama Lio pa" Jovan merangkul bahu Boston dan tertawa


"papa nggak akan bisa lawan dia Jo" Boston tertawa dengan Jovan


"pa dia nggak berani sama Jovan" Jovan melihat banyak mobil mewah milik Boston terjejer rapi di garasi pribadi Boston saat Boston membuka garasi mobilnya


"pa, Jovan mau dong jadi anak angkat papa" Jovan sangat kagum dengan koleksi mobil mewah Boston


"kita bawa yang mana Jo" Boston membiarkan Jovan memilih nya terlebih dahulu


"yang ini ya pa,gila keren banget" Jovan menjatuhkan pilihannya pada Lamborghini biru hitam keluaran terbaru


"kamu yakin Jo" Boston meyakinkan Jovan yang sudah berputar melihat mobil pilihan nya


"iya pa, ini aja" Jovan pun masuk ke dalam mobil pilihannya dengan wajah bahagia


"ini buat kamu, kalau mau yang ini" Boston pun masuk ke dalam mobil dan memberikan semua surat mobil pada Jovan


"terimakasih pa, tapi ini udah lunas kan pa" Jovan bertanya serius pada Boston


"hahahahaha, kamu ya" Boston tertawa mendengar perkataan Jovan


Jovan dan Boston pun berangkat meninggalkan hotel dan menuju rumah sakit,


"ini om Boston ya Jo,bokap Lio" Arlan mengulurkan tangannya pada Boston


"iya Dr Arlan saya papa nya Lio" Boston menerimanya uluran tangan Arlan dan tersenyum


"gimana kabarnya Om sehat kan, kalau kita check sekarang om sudah siap" Arlan menanyakan dulu pada Boston


"Om siap Dr Arlan,demi Nika apapun akan om lakukan, mari kita mulai" Boston pun mengikuti Arlan untuk melakukan check


Jovan berdoa supaya semuanya aman terkendali sampai Tika mendapatkan pendonor ginjal


"Jo,om Boston cocok sama Tika,besok pagi kita mulai" Arlan sudah memastikan semua keadaan Boston sehat tanpa ada gangguan


"Ar,gua cari yang lain aja jangan papa Boston,dia udah berumur gua takut nanti keadaan nya memburuk" Jovan tidak tega melihat Boston yang sudah setua ayahnya


"Tika harus cepat dioperasi atau lo mau dia cuci darah" Arlan memberikan pilihan pada Jovan


"kita operasi besok Dr Arlan,jangan ditunda-tunda lagi,umur om mungkin hanya 4 tahun lagi, sedangkan Tika masih sangat muda" Boston mengusap rambut Jovan yang mengkhawatirkan nya


"pa" Jovan hanya bisa mengucapkan itu dan mereka bertiga menuju kamar Tika


Tika sedang bermain boneka besar yang Lio belikan dan Tomi juga sudah ada di rumah sakit setelah olimpiade nya selesai


"hallo adek,gimana badan kamu udah enakan dek" Arlan memeriksa kondisi Tika yang sudah agak segar

__ADS_1


"masih pusing, pinggangnya sakit, badannya bengkak dokter" Tika menjawab dengan polosnya sambil melihat Boston dan Jovan


Handoko dan Desi sudah dirumah Elisa untuk istrahat diantar supir perusahaan, Lio yang di samping Tika melihat Boston dengan mata dendam


"dek besok pagi Dokter Arlan akan hilangkan sakitnya ya,tapi Tika harus bisa semangat" Arlan masih memeriksa semua bengkak di tangan Tika dan wajah nya


"siapa" tanya Lio dingin pada Arlan


"om Boston" Jawab Arlan santai


Tika langsung memeluk Lio ketakutan,dan membenamkan wajahnya di dada Lio


"keluar" Lio menunjuk Boston agar meninggalkan kamar Tika


"nggak papa Boston tetap disini" Jovan melarang Boston yang akan keluar dari kamar Tika dan berbicara pada Tika dengan lembutnya "Tika lihat mas Jovan,ini papa Boston, jangan takut ya dek,papa Boston ini akan menolong Tika supaya nggak sakit lagi"


" Tika,kamu teh diajarin sama bapak dan ibu nggak sopan sama orang tua" Tomi berdiri dan memarahi Tika


"maaf atuh Aa" Tika mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Boston


"terimakasih pak sudah mau tolong Tika". Tika tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk memberi salam pada Boston, Jovan menarik tangan Boston untuk mendekati Tika


"jangan,nggak boleh pegang dia,mas Lio akan mencari pendonor lain, tenang saja dek" Lio mengambil tangan Tika agar menyentuhnya tangan Boston


Tomi yang tak suka dengan perlakuan Lio menghampiri Tika dan mengangkat tubuh Tika dan melepaskan tangan Lio dari tangan Tika


"Tika teh kan adik Aa, harus tau sopan santun sama orang tua" Tomi tak peduli dengan Lio,dia mendekatkan nya pada Boston dengan cepat Arlan membawa infus Tika


" Nika kamu sakit nak, besok papa akan donorkan ginjal papa buat kamu ya nak" Boston menitikkan air matanya dan memeluk Tika yang di dudukkan Tomi di sofa


Lio tidak berani lagi membentak Boston, nyali nya ciut dihadapan Tomi, antara Tika dan Intan Lio sangat sayang Tomi


"Aa, Tika teh panggil apa" dalam pelukan Boston Tika terus memegang tangan Tomi


"panggil papa,kan pak Boston teh sudah bilang papa" Tomi senang melihat adiknya yang akan sembuh sebentar lagi


"terimakasih papa, tapi nama saya teh Tika di ganti kakek Polan pa, panggilan nya Tika aja" Tika memeluk erat Boston dan menangis menumpahkan semua rindu nya pada Boston


"iya Tika Deanika Kinder,kamu anak papa" Boston mencium kening Tika


"papa teh orang baik, kenapa Tika harus takut sama papa" Tika sangat senang sekali mendapatkan apa nya


"Lio, kamu nggak mau sekalian rindu rinduan sama papa" Jovan menggoda Lio yang sibuk dengan hp nya dan Lio tak menjawabnya


"Tika sini kalau udah selesai" Lio tak mau berlama-lama melihat Tika dipelukan Boston


"kalau lo rindu ya udah sini,mau gua gendong juga" Jovan mendekati Lio dan hendak menggendong nya


"Jovan" suara tegas Lio kepada Jovan


"apa" Jovan membalasnya dengan lebih tegas


"sana lo,gua nggak bercanda" Lio mendorong Jovan agar menjauh darinya


"Lio,kamu nggak keberatan kan papa donor kan ginjal papa ke Tika" Boston ingin lebih dekat dengan Lio

__ADS_1


"kalau dia bisa cari sampai malam ya aku tunggu om,tapi kalau nggak dapat,dia harus tanggung jawab pada kalian semua" Arlan berbicara serius sambil menatap Lio


"mas Lio teh tuli ya sekarang,orangtua kalau bicara dijawab atuh mas" Tomi memperingati Lio agar mau menjawab Boston


__ADS_2