Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Lio vs Arlan 2


__ADS_3

Lio yang merasa terpojokkan keluar dari kamar Tika sambil menarik tangan Arlan untuk bicara


"Kasih gua waktu,gua akan mencari ginjal yang cocok buat Tika tapi jangan Boston" Lio berbicara di taman rumah sakit bersama Arlan


"Nggak bisa boss, Tika udah parah banget lo, jangan bercanda ah" Arlan mencoba meredam emosi Lio,agar tidak terjadi keributan


"Kan lo bilang 3 hari lagi kenapa sekarang jadi maju" Lio mulai emosi dengan Arlan


"Ya sudah lo cari dokter lain, gua mundur" Arlan mengangkat kedua tangannya,yang berarti dia sudah tidak mau mencampuri urusan Tika lagi


Bobi langsung menuju rumah sakit setelah tau keadaan Tika dari Desi, sesampainya di rumah sakit dia melihat Arlan dan Lio sedang berdebat, Bobi pun menghampiri mereka berdua


"Pada napa lo" Bobi mendekati Arlan yang menahan emosinya


"Jangan karena gua nggak ngerti soal ginian lo jado jual mahal Ar" Lio masih tidak mau terima Boston pendonor ginjal Tika


"Ini masalah apa sih kenapa kalian pada ribut gini" Bobi masih belum mengerti dengan keadaannya


"Om Boston mau mendonorkan ginjalnya, Lio nolak dan suruh gua tunda 3 hari lagi, terus gua mundur dong sebagai Dokter yang menangani Tika,karena gua nggak mau saat waktu 3 hari datang keadaan Tika semakin memburuk dan gua akan di hantui perasaan menyesal,gua nggak mau, jadi kalau lo masih mencari pendonor ginjal yang lain,silahkan bos gua angkat tangan" Arlan berbicara setegas mungkin agar Lio mau mengalah pada Tika


"Lagian lo kenapa egois gini,itu nyawa adek kandung lo woy, seandainya juga si Miko yang gini gua izinin" Bobi memegang bahu Lio


"Lo berdua nggak ngerti penderitaan gua, gua benci sama dia, gua nggak mau berutang budi sama dia" Lio berteriak sambil menangis


"Gua nggak peduli perasaan lo,yang jelas Tika harus selamat sekarang,lo mau terima apa nggak itu semua urusan lo, Jovan datang untuk meminta tolong,dan lo tau gua nggak bisa nolak apalagi ini Tika adik Intan" Arlan juga nggak kalah emosi pada Lio


"Ar,santai jangan gitu bicaranya" Bobi mendudukkan Arlan di kursi taman


Jovan melihat semuanya dari jauh,dan tidak mau mendekati mereka


"Gua cari dokter lain" Lio meninggalkan Arlan,tapi Jovan berlari untuk menahan Lio


"jangan gini Lio, kasihan Tika, dia masih mau hidup" Jovan menenangkan Lio


"Lo lebih mementingkan rasa egois lo,rasa dendam lio sementara nyawa 1 orang gadis kecil sedang di ambang kematian dan itu adek kandung lo,lo belum tau apa arti menyesal" Bobi pun meluapkan amarahnya pada Lio


"kalau waktu bisa di ulang,gua sendiri yang akan operasi abg gua,gua nggak akan kehilangan dia, sekarang lo harus buat gua mengulang trauma gua lagi, gua yang akan merasa tak berguna kalau gua gagal lagi selamatin orang yang dekat dengan gua" Arlan meneriaki Lio,dia ternyata menyimpan trauma yang sangat dalam


"Egois lo" kata Bobi pada Lio,dan dia menenangkan Arlan yang mengamuk


"Bukan gitu maksud gua Ar, gua juga punya masa kecil yang suram, Boston tampar mama gua dihadapan gua,dia tendang mama gua hamil Tika dulu, gua udah berlutut di kaki dia Ar,dan yang paling membuat gua dendam dia bawa cewek pela*urnya ke rumah,lo tau mama gua lagi hamil Tika,dia nangis terus melihat tingkah bajing*n yang kalian bela sekarang" Lio menceritakan semua penderitaan nya pada Arlan, Jovan dan Bobi

__ADS_1


Jovan, Bobi dan Arlan tak bis menjawabnya lagi, mereka memikih diam, merenungkan kata kata Lio


"besok lo bawa pengganti om Boston nggak ada tawar menawar lagi Lio" Arlan berlalu meninggalkan Lio yang tak menjawabnya


setelah itu Lio pergi menggunakan mobilnya,dia sudah mendapatkan beberapa pendonor ginjal buat adiknya dari anak buahnya


"pusing gua liat tu anak,demi adik nya nggak mau ngalah" Bobi duduk di kursi taman


"biar aja dia usaha dulu,gua mau lihat, siapa yang akan dia bawa nanti" Jovan melihat panggilan HP nya,dan itu dari Intan, tapi Jovan tidak mengangkat nya


"keren banget tu mobil Jo,punya siapa sih tu,gua aja mesan nggak dapat dapat" Bobi sejak tadi sudah melihat mobil Lamborghini terbaru sekali parkir di rumah sakit


"oh itu,tadi gua lihat yang bawa mobilnya ganteng banget,malah masih muda setara gua deh umur nya,pakai kaos da celana nya pendek, pakai topi terus ada tanda merah di lehernya


"penasaran gua Jo,dapat darimana sih tu orang, nanti kenalin dia ke gua ya, boleh kali gua lihat doang" Bobi berdiri dan mendekati mobil yang diberikan Boston pada Jovan


saat Bobi mendekati mobil Lamborghini Jovan, Jovan yang mengikuti nya dari belakang berbuat jahil,dia menekan alarm mobilnya dan itu membuat semua alarm mobil lain berbunyi


"maling maling maling" teriak Bobi spontan yang membuat Jovan panik dan mematikan alarm mobilnya,seketika Satpam datang


"mana malingnya pak" satpam mencari-cari tapi tidak ada orang selain Bobi


"biar kami urus pak" Satpam pun berputar putar mencari malingnya


"gila ni mobil sensorik nya tinggi banget" Bobi melihat Jovan yang sudah menahan tawanya


"gua masuk dulu Jo" Bobi meninggalkan Jovan yang masih terdiam di tempatnya,


"iya gua juga mau pulang ni" Jovan pun berbalik hendak meninggalkan Bobi


"ni kunci mobil gua" belum sempat Bobi melemparkan nya, Jovan sudah membuka pintu mobilnya


"santai Bob" Jovan masuk tanpa berdosa dan Bobi menganga.


"ngapain lo woy, turun ntar lo dikira maling" Bobi berlari ke mobil Jovan tapi Jovan sudah pergi meninggalkan nya dengan tertawa


"gua dikerjain ama si singa, terus tadi dia bilang dirinya sendiri dong" Bobi kesal dengan Jovan dan masuk kedalam dengan muka kesalnya


"mas Bobi" Tika senang melihat Bobi yang datang


"adek,kamu sehat kan, adeknya mas Bobi paling kecil" Bobi memeluk Tika dengan sayangnya

__ADS_1


"eleh eleh mas Bobi na teh datang,jadi senyum lagi" Tomi yang duduk di samping Boston tertawa, sedangkan Boston menatap Bobi dengan iba,karena Miko sangat ingin menghancurkan nya


"kak Fani sama teteh Intan dimana" tanya Tika pada Bobi


"oh tadi sama kak Meyza dek, calon istrinya mas Lio,dia polisi,nanti mas kenalin ya" Bobi mengusap rambut Tika lembut


"mas Bobi teh sama mas Lio sama saja, tidak menghormati orang tua,ditegur dulu atuh mas, pada kasep pisan tapi sama orang tua teh nggak sopan" Tomi bersungut-sungut disamping Boston,dan Boston menepuk bahu Tomi sambil tertawa


"mas Lio teh takut sama kamu Tom" tanya Boston pada Tomi


"nggak tau atuh pak, kalau menurut saya teh salah ya saya tegur atuh pak" jawab Tomi lembut


"salam atuh mas" Tomi mengajari Bobi dan Bobi tersenyum


"siap bang,jangan emosi bang" Bobi duduk di samping Boston dan memberikan salam


" Bobi Sander,kamu sehat nak" tanya Boston sambil menepuk bahu Bobi


"sehat om" Bobi terlihat kikuk dengan Boston


"mas,ada perawat cantik tadi mas" Tomi memulai pembicaraan setelah lama diam


"mana Tom" Bobi langsung berdiri dan melihat keluar kamar Tika


"dia teh nanti kesini lagi mas, ngantar makanan buat Tika" Tomi memang melihat tadi ada perawat sangat cantik


"yang namanya Jelita tadi Tom" tanya Boston pada Tomi


"om lihat tadi,cantik nggak om" tanya Bobi serius pada Boston


"iya, calon istri om" Boston bercanda pada Tomi dan Bobi


"haaaa, om jangan gitu,ingat kami kaum muda ini masih tidak menemukan titik terang dalam percintaan om" Bobi terkejut mendengar nya


"nanti teh kalau nikah sama bapak kasihan perawat nya atuh pak, bukannya senang malah harus rawat suami tua nya" Tomi menggelengkan kepalanya


"saya bercanda" Boston menarik bahu kedua laki laki di sampingnya dan memeluk mereka


sementara Jovan baru sampai di hotel, dia bertanya pada Pokas apakah Intan sudah keluar dari kamar apa belum


"bos,tolongin Intan, cepat bos" Pokas terlihat sangat ketakutan dan Jovan berlari kekamar Intan

__ADS_1


__ADS_2