Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
usg


__ADS_3

jam menunjukkan jam 3 sore, Jovan dan Intan sudah bersiap-siap untuk menemui Beni


"sayang, kamu nggak bawa cemilan ini,nanti kamu laper di sana" Jovan memasukan makanan yang dibawa Boston tadi kedalam wadah untuk di makan Intan di rumah sakit


"iya Aa,bawa aja ya" Intan menunggu Jovan selesai menyiapkan semua kebutuhan Intan dan mereka jalan sambil bergandengan tangan dan masuk ke mobil


"Paijo, tunggu gua ikut" Lio yang penasaran dengan anak Jovan ingin ikut,dan berlari ke parkiran mereka


"gua juga ikut tungguin gua" Bobi dan Lio 1 mobil dengan Jovan


"nggak usah ramai ramai, kami berdua aja" Jovan menolaknya dengan halus


Lio dan Boni langsung masuk ke dalam mobilnya Jovan, tidak mendengarkan perkataan Jovan


"ok Aa,ayo berangkat sekarang, Intan mau lihat dedek nya" Intan merengek dan Jovan pun segera masuk ke dalam mobilnya


"nanti kalian nggak boleh masuk ya" Jovan menjalankan mobilnya dan segera menuju rumah sakit,20 menit waktu yang dibutuhkan untuk ke rumah sakit karena Intan muntah muntah di jalan


"sayang,maafin Aa ya,kamu jadi gini gara gara ngandung anak kita" Jovan memeluk Intan di kursi depan ruang praktek Beni


"aduh dulu mama gua gini ya hamilnya, gua aja nggak tega lihat Intan mual gini" Lio sangat sedih melihat Intan yang lemas


"andaikan mama gua ngakuin gua anak nya ya, pasti gua terharu dengan perjuangan nya buat gua" Bobi menitikkan air matanya


"mas, semua ibu itu harus dihargai, lihat Intan sekarang kalian semua mencemaskan Intan,apalagi nanti saat Intan melahirkan bisa diambang kematian mas" Intan semakin erat memeluk Jovan


"kalian berdua akan selamat sayang, terimakasih sudah mau jadi istri dak ibu dari anak-anaknya Aa ya" Jovan mencium kening Intan


Lio dan Bobi tersenyum senang dengan kebahagiaan Jovan dan Intan, seorang perawat yang tak asing adalah Jelita memanggil Intan untuk masuk kedalam ruangan Beni


"mas,apa kabar" Jelita menyapa Bobi, sedangkan Bobi tampak sangat acuh dan meninggalkan Jelita sendiri


"kalau Tomi udah trauma bagaimana bisa gua dekatin Jelita" Bobi bergumam dalam hatinya dan segera mendekati Lio, Jelita masuk ke dalam ruangan Bobi


"hallo buk, kita usg ya,maaf aku oleskan gel ini dulu ya" Jelita menaikan baju Intan, Bobi dan Lio membalikan badannya dan Jovan pasrah saja Beni melihat perut istri nya


"wah,ini udah 1 bulan lo" Beni tersenyum pada Intan dan Jovan


"yang mana sih" Bobi menempelkan katanya ke layar komputer Beni.


"iya nggak ada bayi nya gitu" Lio juga melihat layar komputer Beni bingung


"sekarang kan masih 1 bulan mas Lio dan mas Bobi jadi masih sebesar biji jagung, nanti bulan ke depannya bayi nya akan semakin besar" Beni menerangkan dengan sabar, Jovan tidak mau banyak tanya karena memang Beni lebih paham tentang itu semua


"Aa, itu dia masih kecil ya,indah nya kuasa Tuhan ya Aa" Intan menitikkan air matanya melihat layar dihadapan nya


Jovan mengambil photo usg anaknya dan mengirimkan nya pada grup wa keluarga William Elisa, Rizal dan Fani, mereka yang menerima photo usg rahim Intan tersenyum senang


"bilang ke Lio dan Bobi,bunda mau yang kayak gitu dari mereka dalam waktu 6 bulan"!!!! pesan Elisa membuat Bobi dan Lio saling tatap


Bobi dan Lio melihat hp mereka dan benar saja itu membuat mereka merinding


"hahahahahha,iya bunda iya" Lio membalasnya dengan emoticon senyum


"belum kepikiran bun,masih mau manjakan keponakan tercinta" balas Bobi sambil mengirim emoticon senyum lebar


"hahahaah,ayah mau mantu secepat nya" Rizal membalasnya sambil tertawa


"no komen" balas Bobi dan Lio,


Beni duduk dihadapan Intan dan Jovan sedangan Lio dan Bobi menunggu di luar

__ADS_1


"gini Jo,ini kan harusnya Intan boleh hamil 2 tahun lagi kan,dan lo nggak bisa jaga diri lo,saran gua ya ini tolong benar benar tolong agar Intan bedrest total,kalau bisa jangan banyak gerak,karena itu pengaruh ke bekas operasi nya dia, semakin tambah bulan nanti perut Intan akan tambah besar,dan bekas operasi itu bisa perih kapan saja" Beni menerangkan pada Jovan


"oh aman,akan gua buat dia istrahat total,jadi bilangin ke dia jangan melawan" Jovan tau Intan pasti sangat susah di atur


"bisa Intan,demi anak kamu ini" Beni berbicara serius dengan Intan


"bisa kak" Intan tidak mau kehilangan anak yang dulu dia kira akan susah di dapatkan


Beni dan Jovan tersenyum dengan jawaban Intan


"Jo, sampai 4 bulan ke depan jangan lo kerjakan dulu ya yang 1 itu, kasihan gua Intan akan kesakitan apalagi anak lo" Beni melihat Jovan dengan serius


"iya gua akan puasa" Jovan tersenyum pada Beni dan Intan hanya menggeleng kan kepala nya


Lio dan Bobi masuk ke dalam ruangan Beni,dan Jelita masih mencoba mencuri perhatian Bobi tapi Bobi tidak menanggapi nya.


"mas, ntar malam gua ke rumah ya" Beni bicara sopan dengan Lio, Jovan dan Bobi


"mau ngapain" tanya Bobi penasaran


"iya mau ngapaen, Intan perlu di cek di rumah ya, sampai lo harus ke rumah kami" Lio mengintrogasi Beni, Jovan yang sudah tau tujuan Beni diam saja


"eeeeemmmm,bukan mas,ini gua mau dekati Fani" Beni menggaruk lehernya yang tidak gatal, Jovan dan Intan keluar untuk menebus obat Intan


"ntar malam ya mas" Beni masih merayu Bobi dan Lio, sedangkan Jelita merapikan tempat tidak Intan tadi


"ok, nanti malam" Lio dan Bobi sudah tersenyum nakal dan merekapun keluar dari ruangan Beni


tak lama merekapun pulang ke rumah William dan Intan langsung diantar ke kamarnya oleh Jovan


"Lio, papa mau pulang ya,kamu baik baik di sini nak,jaga Tomi ya" Boston memeluk Tomi


"ya sudah nak, ayo kita pergi" Boston pamit pada Rizal dan meninggalkan rumah William, Tomi pun ikut untuk mengantarkan Boston


sementara di kamar


"Aa, Intan mau di sofa aja ya, bosan Aa di kamar terus" Intan membelai dada suaminya


"nggak sayang" Jovan menghidupkan Tv dan memutar drakor kesukaan Intan


"Aa,bawakan Intan makanan yang tadi ya" Intan sudah hanyut dalam drakor nya.


Jovan mengecup kening Intan dam keluar mengambilkan makanan buat Intan


"Bob, udah lo siapkah sambutan untuk Beni" Jovan duduk di samping nya Bobi


"hahahaha,udah Jo, kita akan menyambut Beni dengan meriah" Bobi berjalan ke gudang dan mengambil alat alat untuk menyambut Beni


Jovan memgambil kan makanan Intan dan kembali ke kamar Intan,dan menyuapi Intan dengan sabar nya


Elisa dan Fani masuk ke rumah, dan melihat Bobi sedang mengambil cangkul, golok dan samurai


"kamu mau ngapaen Bob" Elisa sangat panik melihat Bobi dengan benda-benda tajam di tangannya


"mas,mau ngapaen kamu" tanya Fani panik


"bukan apa apa sih,ini mau ditajamkan dulu bunda" Bobi tersenyum tenang menjawab Elisa


"kamu ya Bob,bunda ke rumah dulu, pusing bunda hadapin kamu" Elisa masuk ke rumah dan menemui Intan di kamarnya


"mas,buat apa ini" Fani mendekati Bobi yang sedang membersihkan benda benda tajam nya

__ADS_1


"hahahahah,kalau ada yang dekati kamu, harus berhadapan dulu dengan 3 mas mu ini" Bobi mengusap rambut Fani


"mas terakhir ada yang dekatin Fani trauma lo mas" Fani tak terima perbuatan 3 mas nya dan langsung masuk kerumah dengan cemberut nya


"kamu kenapa nak" tanya Rizal yang melihat Fani benar-benar marah


"itu mas Bobi mau ngapain di depan, mereka merencanakan apa sekarang" Fani kelihatan tak terima dengan perlakuan 3 mas nya


Rizal keluar dan melihat Bobi sedang menajamkan cangkul, golok dan samurai,


"Bob" Rizal mendekati Bobi


"iya yah" Bobi semakin menajamkan goloknya


"buat apa nak" Rizal duduk di samping Bobi dan membantu nya menajamkam samurai


"ada yang mau apelin Fani nanti yah, Bobi nggak mau Fani salah orang lagi" Bobi menyiram goloknya


"oh gitu,ya udah ayah percaya sama kalian" Rizal meninggalkan Bobi dan tertawa, sedangkan Fani semakin kesal


"Bunda" teriakkan Fani membuat Elisa, Jovan dan Intan kaget,dan Fani langsung masuk ke kamar Intan


"ini mbak, Fani tadi belikan ayam goreng dan kentang buat mbak" Fani menyerahkannya pada Intan


"makasih adeknya mbak intan" Intan dan Fani berpelukan


"kamu kenapa teriak gitu tadi dek" Elisa menyuapi Intan


"mas,itu buat apa senjata tajam yang mas Bobi tajam kan buat nakutin siapa" Fani bertanya dengan juteknya


"buat nakutin yang mau dekati kamu" Jovan bicara sambil mengelus rambut adik nya


"mas, Fani kan nggak ada yang dekatin,jadi kenapa kayak gini sih" Fani masih mode marah


"dek,kalau kamu dulu bisa jaga kepercayaan kami bertiga,nggak akan kamu kayak gini dek,jadi mas mohon jangan banyak protes ya" Jovan mencium kening Fani dan Fani keluar dengan kesalnya


"Jo, jangan terlalu keras sama adik kamu" Elisa kasihan melihat Fani yang sangat-sangat marah


"makanya Fani jangan main main dengan Jovan bunda,kalau masih mau menikmati semua fasilitas mewah Jovan" Jovan meninggalkan Elisa dan Intan dan menemui Bobi.


"kamu harus banyak-banyak istirahat sayang, jangan pikirkan apa apa lagi ya, Fani harus di didik dengan keras agar bisa menjaga dirinya" Elisa meninggalkan Intan yang masih sangat bingung


"Bob, gimana aman kan" Jovan menemui Boni dan duduk di samping nya,tak lama Lio dan Tomi datang


"gimana beres semuanya" Lio melihat semua yang dikeluarkan Bobi dan sedang di cuci bersih


"buat apa ini teh mas" Tomi penasaran dengan kegiatan Jovan dan Bobi


"ini buat kejutan nanti malam dek,kamu liat aja nanti ya" Jovan tersenyum pada Tomi


"mas, Tomi mau ke kamar teteh Intan boleh mas" Tomi izin kepada Jovan karena tak sopan langsung masuk


"iya dek,nggak usah izin izin masuk aja" Lio mengusap rambut Tomi


"iya Tom, temanin teteh di kamar" Jovan mengizinkan Tomi untuk masuk ke kamarnya


akhirnya malam datang, setelah mereka bersih bersih, Lio, Jovan dan Bobi duduk di teras rumah dan tak berapa lama Beni pun datang dengan membawa banyak makanan untuk membujuk 3 mas Fani


"mangsa kita datang Jo" Lio memegang samurai, Bobi memegang cangkul dan Jovan dengan goloknya


Beni masuk lagi ke dalam mobil karena takut dengan 3 orang di depan mobilnya

__ADS_1


__ADS_2