
"teteh kenapa,mukanya pucat teh" Tika menyusul Intan kekamar disuruh Jovan untuk melihat Intan.
"perut teteh kenapa perih gini ya dek" Intan berkeringat dingin menahan sakit nya.
"teteh kecapekan ya, makanya perut teteh perih gini" Tika cemas melihat Intan yang menahan sakit.
Jovan permisi kepada Desi untuk melihat Intan, karena Tika didalam Handoko mengizinkan Jovan masuk
"kenapa Intan, perutnya sakit ya" Jovan sangat cemas pada Intan
"perutnya perih Aa" Intan meringis kesakitan
Jovan menelfon Arlan untuk memeriksa Intan,dengan sabarnya Jovan mengelus kepala Intan dan Intan tertidur di lengan Jovan.
"dek,jaga teteh ya,mas keluar dulu nungguin dokter yang tadi" Jovan berdiri dan Tika mengangguk mengerti.
"Intan kenapa nak" tanya Vivian
"kecapekan tadi kayaknya nek" kata Jovan dan melihat Bobi
"aduh tadi dia senang banget Jo main main di mall lari sana lari sini,lah gua lupa dia baru operasi karena mereka semua senang banget" Bobi menyesal tidak menjaga Intan dengan baik
"telfon Arlan sekarang, takut gua Intan drop lagi" Lio cemas sekali
"udah dia lagi menuju kesini, Intan baru tertidur karena capek kayaknya" Jovan sangat cemas pada Intan
"kita tunggu Arlan datang baru kita balik ke rumah,hari hampir malam keluarga pak Handoko juga mau istirahat" Vivian ingin menunggui Intan diperiksa Arlan.
tak lama Arlan datang dan langsung masuk kekamar Intan untuk memeriksa nya,
"dia kelelahan ni,kan dia belum 1 minggu operasi,gua dah bilang dia harus istirahat total, napa jadi gini" Arlan marah pada 3 pria didepannya.
"tadi dia jalan ama Bobi dan saat si manusia baja (Lio) ni pulang dari rumah sakit dia berlari mau meluk" Jovan menerangkan pada Arlan.
__ADS_1
"udah gua suntik penghilang nyeri,jangan buat dia capek lagi,lo semua nggak ngerasain sakitnya" Arlan kecewa pada 3 temannya yang katanya mau menjaga Intan
"tau ni, mendingan dia di Jakarta kemarin,nggak akan heboh gini keadaan" Jovan mengira kalau Lio dan Intan di Jakarta pasti keadaannya masih damai.
"dah lah,apa yang mau disesalkan lagi,gua mau bicara 4 mata ama lo,bisa kita keluar dari sini" Arlan ingin membahas Devina yang sedang sakit.
Jovan pun mengikuti Arlan untuk bicara berdua saja, mereka memilih bicara didepan rumah Vivian yang sangat sepi.
"kenapa Ar, Intan nggak apa apa kan, Jovan sangat mencemaskan Intan
"Devina" Arlan menjawab datar
"gua udah akhiri hubungan gua,dan mau menikahi Intan" Jovan berbicara sambil memandang hamparan kebun teh.
"gimana ceritanya dia membawa Intan ke rumah sakit,gua masih belum tau" Arlan ingin tau banyak dari Jovan
"saat itu Intan berjalan keluar dari rumah gua dengan keadaan hujan deras,dia nggak tau jalan mau ke terminal untuk pulang ke Bandung, Devina melihat Intan yang terus menangis dan mengikuti nya karena dia takut Intan diganggu preman jalanan,nggak lama Intan jalan dia memegang perut nya dan menangis kemudian tidak sadarkan diri,baru di bawa ke rumah sakit kebetulan lo sedang di IGD,dan langsung tangani Intan" Jovan menceritakannya seperti cerita Devina
"Jo lo tau nggak kondisi Devina sebenarnya" Arlan hanya ingin Jovan tahu semua kondisi Devina
"Devina mengidap kanker otak stadium 4 Jo,dan sekarang dia hanya memiliki kakak nya,orang tua nya sudah meninggal 8 bulan yang lalu kecelakaan mobil" Arlan menceritakan penyakit Devina pada Jovan.
"maksud lo apa Ar" Jovan tidak percaya sama sekali pada Arlan dan menitikkan air mata nya
"dia kendala biaya Jo, sehingga pengobatan nya hanya biasa saja, seharusnya dia dirawat secara intensif supaya di bisa bertahan 2 tahun lagi" Arlan tau dia salah tapi hanya Jovan yang bisa membantunya.
"tolong rawat dia Ar,akan gua tanggung semuanya,gua nggak bisa kecewakan bunda,ayah, nenek gua Ar,paling tidak ini cara gua balas semua perbuatan buruk gua" Jovan menangis mengingat semua kenangannya dengan Devina
"gua balik dulu Jo,akan gua telfon teman gua yang di Jakarta untuk segera menangani Devina" Arlan meninggalkan Jovan yang menangis sendiri.
Jovan berjalan jauh kedalam kebun nya dia tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya dan dia berteriak sekuat tenaganya
"gua laki laki bodoh, gua sakiti perasaan Bunda, Intan dan Devina,gua harus apa dengan semua ini,tolong bantu gua"
__ADS_1
Jovan menangis sekuatnya dia membayangkan sekarang Devina berjuang seorang diri tanpa orang tua dan kekasih.
Lio sudah mendengar semuanya karena dia mau pulang untuk mengambil obatnya tapi dia berhenti saat Arlan menceritakan keadaan Devina.
"lo bantu dia Jo, tapi jangan kecewakan kami semua,jangan sakiti adik gua jo,gua nggak mau kita baku hantam" Lio berdiri dibelakang Jovan dia.
"Lio,gua bantu Devina nggak apa apa kan Lio,dia nggak punya siapa siapa untuk biayai uang rumah sakit, dan percaya sama gua,gua sangat mencintai Intan dan ternyata anak kecil yang sering gua ganggu dulu itu Intan" Jovan menceritakan ny pada Lio
"serius lo,tau darimana Jo" Lio tidak percaya sama sekali.
"liat photo kita ramai ramai ini,ini Intan,ini gua dan ini Lo dan ini photo yang terpajang di dinding rumah pak Handoko" Jovan menunjukkan hp nya dan kembali tersenyum menceritakan pada Lio
"iya ini photo yang sama Jo, Intan udah tau nggak,jodoh lo didepan mata Jo" Lio senang ternyata adiknya sudah jadi incaran Jovan dari masih anak-anak.
"jangan beri tau dia Lio,gua akan memberi kejutan dengan photo ini saat pesta ulangtahun nya nanti" Jovan sangat ingin melihat ekspresi Intan jika tau anak kecil itu adalah dia.
"semangat Jo,tolong bahagiakan adik gua,gua senang adik gua menikah dengan lo,adik gua pasti bahagia karena gua sudah tau baik buruknya lo" Lio memeluk Jovan
"percaya sama gua Lio,dan untuk Devina jangan ada yang tau,gua takut ada salah paham,bisa kan Lio" Jovan tidak mau Intan terluka lagi, Lio setuju dan mereka kembali kerumah Vivian.
Rizal, Elisa dan Fani sudah sampai di rumah Vivian tapi rumah sepi karena masih di rumah Handoko.
"nek,om Rizal datang kita keluar yok temuin tante dan Fani dulu" Bobi melihat mobil Rizal dan mereka semua keluar kecuali Tika dan Intan.
"kenapa malam malam kesini nak,ada perlu apa" Vivian tidak tau sama sekali kalau Rizal akan datang
"maaf ma, Elisa nggak kabarin dulu tadi buru buru ma" Elisa tidak tenang melihat wajah Rizal yang menahan emosi nya.
Rizal melihat Lio sudah datang dengan Jovan dari dalam kebun,dia sangat terluka melihat kepala Lio diperban dan tangan nya juga banyak luka.
"gimana ni Lio,wajah ayah marah banget" Jovan berhenti berjalan dan diam di tempat.
"gua takut Jo,terakhir ayah dengan wajah marah gini saat gua hancurkan motor yang tabrak Fani" Lio sangat takut melihat wajah Rizal.
__ADS_1
"kamu sekarang juga ikuti saya kedalam jangan ada yang ikut campur" Rizal menunjuk Lio dan meninggalkan semuanya dihalaman rumah Vivian.