
acara pernikahan yang hanya dihadiri keluarga inti selesai dengan aman, Dilla dan Dillo sudah diantar Lio
"bunda, malam ini kami tidur dirumah Intan ya kan besok dia harus ikut kita ke Jakarta, boleh kan buk" Jovan izin terlebih dahulu pada Elisa dan Desi
"kamar Intan jelek Aa, Intan tidur disana Aa tidur disini" Intan gugup sekali tidur berdua dengan Jovan
"hus kamu udah istri Jovan,ibu sudah ajarkan semalam jangan pernah tolak suami mu,dan patuh terhadap ucapan suami kamu karena dia yang akan selalu membimbing kamu" Desi tidak mau Intan menolak suaminya karena bisa jadi Jovan akan tergoda wanita lain.
"maaf ya Aa,ya udah sekarang kita ke rumah, Intan udah gerah sama baju nya,berat lagi" Intan pamit pada semua orang dirumah Vivian
Rizal memanggil Jovan, dan Jovan mengikuti ayahnya ke kamar ayahnya "nak, Intan baru selesai operasi kamu tolong jaga diri jangan sampai membahayakan Intan"
"Jovan udah janji untuk menunggu sampai dia siap yah" Jovan pamit keluar dan menyusul Intan kerumah nya
Intan masuk kedalam kamarnya dan sangat terkejut melihat decor kamarnya yang sangat indah
"kapan ini dihias indah sekali" Intan mengambil gambar kamarnya dan tersenyum senang
Jovan masuk kedalam kamar Intan dan memeluk Intan dari belakang "suka dengan kejutan nya sayang"
"ini kapan dihiasi Aa" karena tadi pagi Intan masih melihat kamar ini masih biasa saja
"saat kita di rumah nenek tadi,ini semua ide bunda" Jovan memeluk Intan dengan erat
Intan membalikkan badannya dan meletakkan tangannya di leher Jovan, Intan melihat wajah tampan suaminya
"Intan sayang Aa" suara pelan Intan membuat Jovan tersenyum
Jovan pun menciumi bibir Intan dengan lahapnya, Intan menyambut nya dengan penuh cinta.
"Aa tunggu kamu sampai siap menjadi milik Aa seutuhnya sayang" Jovan melepaskan ciumannya dan memeluk Intan
"i love you sayang" Intan mencium kening suaminya
malam berlalu dengan indah bagi Jovan dan Intan tapi tidak bagi Devina yang berjuang sendiri melawan sakitnya
pagi hari di Jakarta
"waaahhh dapat duit darimana kamu ha,ruang VIP yang lumayan mahal" Joice mengagetkan Devina yang sedang melamun di tempat tidurnya
"kak darimana kenapa tidak pernah liat Devina" Devina senang Joice datang menjenguknya
"siapa yang bayar ini semua" Joice berdiri disamping Devina sambil melipat tangannya di dada
"ini uang Devina kak" Devina berbohong agar Joice tidak memaksa nya merusak kebahagiaan Jovan
"kapan kamu mulai gangguin Jovan dan Intan,itu si Windi kesusahan sekarang,aku nggak mau Windi menderita karena ulah Intan" Joice masih membela anaknya yang sudah jelas bersalah
__ADS_1
"kak, Devina nggak mau" Devina mulai menangis karena di tau nyawa yang hanya tinggal sebentar lagi diambil oleh Tuhan
"braaak,kamu bisa kembalikan berapa uang yang aku keluarkan untuk berobat kamu dulu,anak aku sekarang harus hidup susah dia nggak terbiasa hidup dirumah kontrakan,sekolah yang biasa biasa saja,makanan yang murah,kalau dulu aku nggak tolongin kamu mungkin kami sedang bahagia bersama" Joice memukul meja dekat Devina
Natasya yang melihat kejadian itu langsung memanggil satpam untuk menyeret Joice dari kamar Devina
"anda bukan saudara yang baik, Devina butuh penyemangat supaya bisa memperpanjang usianya sedikit saja, tapi anda hanya membahas uang uang uang pada Devina, jangan pernah datang lagi kesini" Natasya menunjuk wajah Joice dengan tangannya dengan suara yang sangat besar dan satpam menyeret Joice keluar dari kamar.
"kamu jangan pikirin ucapannya dia" Natasya memeluk Devina sambil menangis
"aku nggak mau jadi pelakor Tasya, Jovan sudah bahagia, Intan mungkin tidak tau jika Jovan membantuku, bagaimana kalau dia marah". Devina menangis dipelukan Natasya
"Devina,kamu wanita yang baik dan terus seperti ini jangan jadi perusak hubungan siapapun" Natasya tau sangat berat untuk memikul semuanya sendiri
"umurku tidak akan lama lagi Tasya,aku ikhlaskan semua kisah cinta ku hancur seperti ini" Devina masih terbayang wajah Jovan yang begitu dirindukan nya.
Natasya rasanya ingin sekali bicara dengan Intan supaya mau bersama sama memberikan semangat untuk Devina meskipun akan ada perasaan yang terluka.
di Bandung rumah Intan
Intan sudah bersiap untuk sekolah,mengambil baju magang di perusahaan William groups
"sayang kamu mau kemana" Jovan yang baru bangun melihat Intan sedang bersiap siap untuk sekolah
"mau ke sekolah Aa ambil baju magang dan buku laporan selama magang" Intan mengikat rambut nya setengah
"ya udah gini aja" Intan mengikat semuanya ke atas
"jangan sayang" Jovan menciumi leher Intan dan Intan mencubit perut Jovan
"Aa genit banget ah" Intan pun melepaskan rambutnya dan Jovan pun mengikat setengah rambut Intan
"kamu teh emang sudah geulis pisan neng,mau gimana juga nggak bakalan bisa ditutupi" Jovan memeluk istrinya dari belakang
"sok ngarati kamu teh kasep" Intan mencibir Jovan dari cermin lemari
Vivian, Risa dan Polan sedang bersantai santai di teras rumah megah Vivian
"aduh buk,kita sudah jadi nenek dari 7 orang cucu kita, setelah itu kita akan punya cicit dari cucu kita" Risa masih membayangkan saat pertama kali Jovan lahir
"iya buk,nanti Lio, Bobi akan menyusul Jovan dan cicit kita semakin banyak" Vivian tertawa senang membayangkan semuanya
"nanti cicit saya harus jadi jenderal sepeti Kakek buyut nya" Polan masih sangat ingin ada yang mengikuti jejaknya.
"Tomi harus jadi TNI, supaya dia bisa melanjutkan pekerjaan yang sangat saya banggakan selama hidup saya" Polan berharap Tomi mau jadi tentara.
Lio dan Bobi baru bangun dan keluar bergabung sambil membawa selimut karena dinginnya, Lio tidur di kaki kanan Polan dan Bobi yang kiri
__ADS_1
"ini 2 orang cucu kakek bawa selimut" Polan mengusap rambut Bobi dan Lio
"dingin kek" Lio masih menutup matanya dan menarik selimutnya
"kalian pemuda sudah kalah dengan kakek" Polan menepuk bahu Lio dan Bobi
"kami berangkat sore ini kayaknya ma, karena Fany sudah libur 2 hari ini ntar dia ketinggalan pelajaran" Elisa datang membawa teh hangat dan soto untuk sarapan mereka
"kek ikut ke Jakarta yok, Fani kangen masak ketemunya sebentar aja" Fany keluar dari rumah nya dan bergabung dengan keluarganya di teras
"iya nanti kami ke Jakarta ya sayang,kamu sekolah yang benar,jangan sampai pergaulan bebas" Risa memeluk Fani yang masih mengusap matanya.
"iya kalau udah kebelet nikah aja kayak mas Jovan" Lio bicara dengan mata yang tertutup
"kamu ajarin apa ke adik kamu" Elisa memasukan kecap asin ke mulut Lio
"uuuuweeeek ini kecap asin bunda" Lio membersihkan mulutnya dengan tisu
"sembarangan aja sih lo" Bobi menjitak kepala Lio dan Polan heran melihat tingkah 2 cucunya
"kalian berdua masih kayak SMA dulu ya,makanya kalian tidak bisa jadi angkatan" Polan berdiri dan menarik tangan Bobi dan Lio
"siap gerak" Polan memberi aba-aba dan Fani hendak lari ke rumah tapi Lio menarik baju Fani
" mas Lio, Fani nggak mau ah" Fani merajuk pada Lio
Lio dan Bobi berdiri tegap, sedangkan Fani sudah ditarik Risa kedalam rumah.
begitulah Polan selalu mengajarkan ala ala angkatan pada cucu cucunya
"Aa antar ya sayang,sekalian Aa tungguin kamu" Jovan selesai sarapan dirumah Intan
"tapi jangan bilang Aa suami Intan ya" Intan tidak mau ribet dengan gosip gosip.
setelah sarapan Intan dan Jovan pamit pada semua keluarga dan berangkat sekolah.
Intan turun agak jauh dari sekolah karena tidak mau ada yang liat Jovan dan Jovan mengerti keadaan nya
"i love you sayang jangan nakal ya" Jovan mencium semua wajah Intan
"genit banget sih Aa" Intan tersenyum malu
"Aa tunggu kamu di cafe ini ya,nggak lama kan sayang" Jovan tidak meninggalkan Intan sendirian di sekolahnya
"iya sayang, Intan juga nggak bisa jauh dari Aa" Intan menarik leher Jovan dan mencium bibirnya, Jovan pun meletakkan tangan nya dipinggang Intan
"udah mulai nakal ya" Jovan mencium bibir Intan dengan ganasnya
__ADS_1
Intan mendorong badan Intan hingga lepas dari Jovan dan turun tersenyum dari mobil