
malam yang penuh dengan kehebohan sudah berlalu,dan sekarang Tika dan Boston harus menjalani operasi, Elisa, Handoko dan Desi sudah di rumah sakit sedangkan Rizal harus memimpin rapat penting Jovan dulu
"pak, Meyza saja yang gantikan bapak, Meyza takut bapak kenapa-kenapa" Meyza berlutut di kaki Boston yang sedang dipasangi infus sedangkan Tika sedang dipelukan Desi
"Meyza, menemukan 2 anak bapak sudah menjadi hal yang sangat bahagia bagi bapak, tapi sekarang biarkan pertemuan bahagia ini bisa membawa kebahagiaan bagi putri bapak,kamu doakan bapak" Boston mengusap rambut Meyza yang menangis
"Meyza,akan selalu di samping bapak" Meyza mencium punggung tangan Boston dan berdiri karena Handoko ingin bicara
"mas Boston, apakah ikhlas dengan semua yang akan bapak lakukan" tanya Handoko duduk di samping Boston
"saya sangat ikhlas Doko, do'akan agar Tika selamat dan bisa berkumpul dengan kalian lagi" Boston menepuk bahu Handoko
"saya akan mendoakan kalian berdua selamat,dan kita bisa berkumpul bersama sama mas" Handoko memeluk Boston
"Tika,kamu berdoa dan kamu harus semangat,kamu teh harus kembali kepada teteh" Intan menangis memeluk adiknya
"teteh, kalau Tika sudah sembuh,teteh harus bawa Tika jalan jalan atuh,jangan janji terus" Tika memasang wajah cemberut nya
"iya,teteh tidak akan bohong sama kamu,nanti kita pergi jalan jalan naik kapal pesiar Aa Jovan ya" Intan melihat Jovan agar mengiyakan perkataan nya
"tapi Tika harus semangat,biar kita jalan jalan naik kapal pesiar ya, Aa Jovan janji pada Tika" Jovan memberikan kelingkingnya nya pada Tika dan Tika juga memberikan kelingkingnya sambil tersenyum
"kita semua berdoa ya, supaya tidak ada gangguan baik buat Arlan atau buat Tika dan om Boston" Arlan dan semua yang diruangan Tika berdoa,dan setelah selesai mereka ikuti Tika dan Boston ke dalam ruang operasi
"dek,jangan tinggalkan mas Lio ya" Lio mencium tangan adik nya
"mas, papa juga perlu diberi semangat,jangan Tika saja" Tika menarik tangan Boston untuk dicium oleh Lio
"papa hanya berharap Lio,kamu bisa panggil papa sekali saja, sebelum papa pergi jauh dari Kalian" Boston menitikkan air matanya dan Elisa mengambil tangan Lio dan Tika menggabungkan tangan Boston dan Lio
"semoga semua baik baik saja" Lio membuang jauh wajahnya dan Boston menepuk-nepuk pelan tangan Lio
"terimakasih nak, semoga papa bisa mendengar kamu panggil papa sekali saja" Boston masuk kedalam ruangan operasi bersama Tika untuk memulai operasi
"sayang,kamu pulang ya, istirahat dulu ya,kamu juga belum makan kan" Elisa mendekati Intan yang duduk menjauh dari Jovan
"nggak Bunda, Intan mau tungguin Tika" Intan memejamkan matanya mengingat massa kecil nya dengan Tika, sedangkan Meyza berdiri di depan kamar operasi
"duduk" Lio menyuruh Meyza duduk, agar tidak lelah menunggu operasi yang akan memakan waktu sangat lama
"tidak" Meyza menghempaskan tangan Lio dan melipat tangannya di dada
"jangan dipaksa" Jovan membawa Lio duduk kembali dan dia mendekati Intan
__ADS_1
"sayang, sarapan sebentar ya, nanti kita kesini lagi" Jovan memegang tangan Intan yang dingin
"nggak, Intan mau di sini" Intan memeluk Jovan dan memejamkan matanya
"sayang,makan sedikit saja ya" Jovan membelai rambut indah Intan
tak lama Bobi datang dengan membawa kopi, teh dan kue buat yang menjaga Tika
"ini minum dan makan dulu buk polwan" Bobi memberikannya pada Meyza dan Meyza tersenyum mengambil kopi dan kue dari tangan Bobi
"adek,ini minum dan makan ya,ini semua kesukaan kamu" Bobi memberikan pada Intan dan Jovan menyuapi istrinya agar mau makan kue dulu
"Tomi sudah diantar ke tempat olimpiade Bob" tanya Lio sambil mengambil kopi
"udah tadi, semalam untung kami pulang,kalau nggak dia pasti telat olimpiade" Bobi duduk di samping Desi dan Elisa
"kasihan si Tomi dikerjai seperti itu" Desi tertawa mendengar Tomi dikerjai Jelita dari Intan
"tapi teh dia harus bisa bergaul buk,dengan mas mas nya ini,kaku pisan euy" Handoko tertawa pada Desi
"iya mungkin karena sekarang dia sudah percaya diri atas pertolongan Lio, Bobi dan Jovan,selama ini kan dia minder atuh pak, tidak punya apa apa" Desi mengingat sikap pendiam Tomi pada orang lain
"tapi Tomi lucu kok buk orangnya,suka bercanda lagi,dan dia sangat dewasa, Lio jadi malu" Lio duduk di lantai dibawah kaki Handoko
"iya benar Lio, sekarang dia sudah ikut olimpiade, uang sekolah nya sudah dibayar ibu Vivian sampai tamat, buku tulis dan pelajaran nya baru semua,dia merasa sangat senang sekali untuk sekolah,belum lagi uang jajan yang diberikan Bobi dia simpan untuk uang kuliah nya besok nak" Handoko menitikkan air matanya
"memang dia adik Lio pak,dia nggak mau hambur hamburkan uang" Lio bersandar di kaki Bobi dan memejamkan matanya berharap semua berlalu dengan cepat
semuanya duduk tapi Meyza mondar-mandir di depan kamar operasi Boston,dan Elisa pun berdiri
"kamu duduk atau berdiri operasi nya memang akan lama nak,sini dekat bunda nak duduknya" Elisa menarik tangan Meyza dan duduk sambil terus berdoa
Intan tertidur dipelukan Jovan,dan Jovan memeluk erat isterinya dan membelai rambutnya,didalam mimpi Intan lagi lagi dia bermimpi dengan Tika
Tika berjalan mengenakan baju putih nya di dalam lorong sepi,dan terus berjalan mengikuti cahaya terang
"Tika,kamu teh sudah sembuh" Intan berlari mendekati Tika dan memeluknya
"Teteh, tolong jaga papa ya, biar mas Lio bisa sayang sama papa, Tika sama mama Dean saja" Tika melepas pelukan Intan dan berjalan lagi
"jangan ikuti dia Tika" Intan menangis dalam mimpi nya dan membuat semua yang mendengar nya melihat ke arah Intan dan Jovan menepuk nepuk pipi Intan agar bangun
"Tika mana" Intan berdiri dan melihat pintu kamar operasi masih tertutup rapat
__ADS_1
"kamu berdoa sayang,jangan panik gini" Jovan membersihkan air mata Intan
di ruangan operasi
"Dokter Arlan, tekanan darah pak Boston turun,bagaimana" perawat yang menemani Arlan melihat tekanan darah Boston yang turun
"papa dengar Arlan kan,dengar pa, kuatlah demi Tika pa,jangan biarkan dia pergi lagi dari papa" Arlan berbicara dengan Boston yang tidak sadar dibawah pengaruh bius
"normal lagi dokter" perawat itu terus melakukan pekerjaan nya, tapi Tika seperti menolak dengan ginjal Boston,dia menolak untuk bertahan
"Tika, dengarkan mas Arlan,diluar sana semua keluarga sedang menunggu kamu sehat, jangan menyerah,kamu sudah punya papa sekarang" Arlan melakukan itu agar alam bawah sadar Tika menerima perkataan nya, tapi Tika tidak merespon nya
tak lama Arlan keluar dengan wajah paniknya,
"Tika atau pak Boston" tanya Arlan cemas
"dua duanya" jawab Intan dan Jovan
"Tika" jawab Lio
"pak Boston" teriak Meyza pada Lio
"biang masalahnya ada di diri lo, sekarang juga lo ikut gua ke dalam dan pakai baju steril" Arlan menyuruh perawatnya menyiapkan Lio dan Lio masuk kedalam
Arlan melanjutkan pekerjaan dokter yang membantu nya tadi,dan kondisi mulai stabil sekarang
didalam tidur Tika,dia sedang bermain main bersama Dean,dan Dean sangat senang bisa ketemu dengan Tika,dan Dean selalu menggenggam erat tangan Tika
Boston yang juga ada di situ, mendekati Tika dan menarik tangan nya dari Dean, tapi Tika tidak mau, Boston memaksa nya karena belum waktunya Tika pergi
di ruang operasi, terjadi kepanikan karena Tika dan Boston sama sama drop dan Lio cemas sekali melihat keadaan Tika
"tolongin adik gua Ar" Lio memohon pada Arlan
"bicara sama Tika biar dia mau balik lagi" Arlan berbicara dengan kesalnya dan Lio mendekati Tika dan menangis
"jalankan pesan pak Boston tadi" Arlan menatap sesekali pada Lio, dan sangat kesal dan berharap Lio mau berbicara dengan papa nya juga
Lio masih enggan dan Arlan menatap nya tajam, Lio menatap wajah Boston yang mirip dengannya
"hanya salah satu yang akan selamat,gua minta maaf" Arlan mengangkat tangannya pada Boston dan Lio merasa tidak ikhlas
"papa,dengar Lio, jangan tinggalkan Lio pa,maafkan Lio pa,kembali pa" Lio menangis dan dalam tidur nya Boston mendengar suara Lio memanggil nya kembali, Boston pun menarik tangan Tika untuk kembali
__ADS_1
"terimakasih om, terimakasih Tika,gua nggak gagal" Arlan menitikkan air matanya