
sesampainya di kandang sapi, Jovan hampir muntah tapi demi Intan dia lakukan semuanya
"om, gimana caranya ni Jovan nggak bisa" Jovan menggaruk kepalanya kesal dengan permintaan istrinya
"hhahaha, Jovan om ajarkan sekali, tapi kamu harus ingat ya, karena sedikit saja kamu bohong,kamu bisa di suruh bawa 1 liter tidak boleh tumpah sedikit pun" Dimas tersenyum jika mengingat masa masa ini dengan Rizal
"baik om" Dimas pun mengajarkan Jovan,dan Jovan dengan cepat meniru nya
"Jovan, masukan ke dalam botol ini, dan ingatlah saat kamu masuk ke rumah tuangkan langsung ini kedalam gelas,jangan sampai istri kamu lihat ini" Dimas memasukan susu nya dalam botol dan Jovan menjawab iya, walaupun dia masih bingung dengan maksud Dimas
"om, terima kasih banyak, Jovan pulang dulu ya om, nanti Intan cari Jovan" Jovan mencium punggung tangan Dimas dan masuk kedalam mobilnya
tak berapa lama mereka sampai lagi di rumah, dan Jovan langsung memindahkan susu nya ke dalam gelas
"sayang,ini susunya" Intan menunggu Jovan di ruang tamu, sedangkan Lio dan Bobi lanjut tidur di kamarnya
"makasih Aa,kita buat jadi keju mozarela ya Aa" Intan sangat bersemangat dan langsung bergegas ke dapur
"sayang,kan Aa udah Carikan ini dengan susah payah, ucapan terimakasih nya Aa tungguin di kamar ya sayang" Jovan menggigit daun telinga Intan
"apa sih Aa" Intan mengangkat bahu kanannya menghindari Jovan
Intan yang sedang asyiknya membuat keju mozarela merasa pusing dan muntah seperti naik rollercoaster
"uuuuweeeek" Intan memuntahkan semua isi perutnya dan Jovan yang mendengar nya langsung keluar dari kamarnya dan mencari Intan di dapur
"sayang" Intan sudah kelelahan dengan muntah nya
"Aa,uweeeekkk" Intan terus memuntahkan isi perutnya sampai wajah nya pucat
"bunnnnnndaaaaaaaaaaa" teriakan Jovan membuat Elisa yang baru bangun tidur terkejut
Elisa dan Rizal langsung berlari keluar, dan yang lainnya tidak mau turun karena AC sangat dingin ditambah hujan yang sangat deras
"ya ampun Intan,kamu kenapa" Elisa memeluk Intan yang kecapekan karena habis muntah
"bunda, perut Intan seperti di putar putar gini" Intan lemas dipelukan Elisa
"bawa ke kamar Jo" Rizal mematikan kompor dan Jovan menggendong Intan ke kamar
"sayang,kamu mau apa nak" Elisa memeluk Intan dengan eratnya sedangkan Jovan memakaikan kaus kaki karena kaki Intan sangat dingin
"pusing banget bunda" Intan memejamkan matanya, sedangkan Rizal sudah sangat senang sekali
Jovan yang gelisah terus menerus menelfon Arlan, supaya datang ke rumah nya tapi percuma Arlan sedang di Bandung, Arlan pulang dengan keluarga Handoko di antar oleh Pokas
"Aa, Intan mau nasi goreng tapi yang masak Ninuk" Intan membersihkan mulutnya seolah-olah air liurnya akan tumpah
"iya sayang, tunggu ya, Aa turun,kamu di situ saja" Jovan melangkah dengan cepat memanggil Ninuk
"Ninuk, Ninuk buatkan nasi goreng yang paling enak buat teteh" Jovan menarik tangan Ninuk yang sedang menyapu rumah
"iya mas,ini tanggung dikit lagi" Ninuk mengikuti langkah Jovan
"ayo Nuk, cuci tangan dulu" Jovan duduk sambil menunggu Ninuk mempersiapkan nasi goreng
"ini buat teteh kan" Ninuk mulai menyiapkan bahan-bahan nya dan tak lama Intan muntah lagi mencium bau nasi goreng Ninuk
"sayang,kamu kenapa" Elisa menepuk punggung Intan,
"kalau kamu gini bisa bahaya nak,kita ke rumah sakit ya" Rizal memanggil Jovan
Jovan berlari naik ke atas dan membawa nasi goreng nya,
"kita ke rumah sakit ya sayang, Intan pucat banget ni" Elisa terus memeluk Intan
"Dr Beni akan datang bunda,tadi Jovan udah telfon Arlan,dan dia nyaranin Beni langsung yang tangani Intan" Jovan sangat kasihan melihat istrinya
"kamu kenapa sih sayang, jangan sakit gini, Aa nggak mau" Jovan mencium kening Intan dan memeluknya erat
"Aa,nasi goreng nya pakai Mozarella" Intan memasang wajah imutnya
"Nuk, Ninuk bawa Mozarella nya kesini Nuk" Rizal memanggil Ninuk dengan suara besar nya dan dengan cepat Ninuk membawanya dan menyiapkan nya lagi untuk Intan
"makasih Ninuk" Intan memeluk Ninuk dan dengan senang hati Ninuk menyambutnya
__ADS_1
"suapin dong Aa" Intan sangat senang sekali dan tinggal mereka berdua di kamar
"enak ya sayang" Jovan sangat senang melihat istrinya makan dengan lahap
"iya Aa" Intan menghabiskan makanan nya dan dia sangat ingin memakan telur bebek dan keinginan aneh Intan muncul lagi
"Aa,mana mas Bobi" Intan mencium dada suaminya sambil memeluk nya erat
"sedang tidur sama Lio sayang" Jovan mencium rambut istrinya
"Aa" Intan memasang wajah imutnya, Jovan berdiri dan keluar
"Bobi, Bob, Bobi" teriak Jovan dari pintu kamarnya
Bobi yang baru selesai mandi keluar dari kamar dan menemui Jovan
"kayak gua di tingkat 199 aja lo teriak gitu" Bobi menggulung lengan baju nya
"Intan manggil" Jovan membuka pintu dan Intan sangat senang melihat Bobi
"halo dek,kamu kenapa pucat gini" Bobi yang melihat wajah pucat Intan duduk di tepi ranjang dan mengusap rambut Intan
"mas, Intan mau telur bebek" Intan mengatupkan kedua tangan nya di dada sebagai permohonan nya
"ya ampun dek,sama kandang nya mas belikan,mau berapa dek,mau berapa" tanya Bobi serius Bobi tersenyum sangat senang,dia tidak tau telur bebek seperti apa maksud Intan
"mas,telur bebek nya harus baru keluar dari pinggul induknya" Intan tersenyum sambil mengangkat alisnya
"jangan memasang tampang jahat gitu" Bobi melihat Intan dan melihat Jovan yang sudah tertawa terbahak-bahak
"ayah, bunda" panggil Bobi,tak percaya dengan permintaan Intan
"kenapa Bob, kamu sakit sayang" Elisa yang baru selesai mandi langsung ke kamar Intan
"kenapa Bob" Rizal melihat Jovan yang sedang tertawa sedangkan Bobi masih membujuk Intan
"masak Intan minta telur bebek langsung dari pinggul bebek nya yah" Bobi membuat Rizal dan Elisa tertawa
"Bunda,mas Bobi nggak mau" Intan menarik tangan Elisa dan hampir menangis
"iya dek iya,jangan nangis mas Bobi cari ya, dengar mas Bobi kan" Bobi berdiri dan menarik tangan Rizal minta tolong
"aaaawwwwwww" Lio memegang keningnya kesakitan
Lio keluar dari kamar dan menemui Bobi yang sedang memohon pada Rizal
"minta apa lo ke ayah ha" Lio melempar bantal yang dipegang nya
"hahahahhah,adik kamu Intan mau telur bebek Lio" Rizal sangat menikmati kehebohan yang diciptakan Intan
"ya ampun,itu aja lo nggak mau kasih, kelewatan banget lo" Lio melilit badan Bobi dengan selimut nya
"Lio,1 mobil Fuso juga bakal gua belikan, tapi masalahnya sekarang itu,,,," Bobi melepaskan lilitan selimut Lio
"ya udah lo pesan aja,letak masalahnya dimana ha " Lio mulai kesal dengan Bobi
"harus dari pinggulnya langsung Lio" Bobi melemparkan selimut dan bantal ke wajah Lio
"hahahhahahahahahahahahahahha" Lio tertawa sangat keras dan membuat Fani, Tomi dan Vivian bangun
"naon mas,ini teh masih pagi atuh, ribut pisan euy" Tomi keluar dari kamarnya dan bergabung bersama Rizal, Bobi dan Lio
"teteh Intan minta telur bebek" Lio merangkul bahu Tomi dan Tomi melihat jam sudah jam 7 pagi
"Tomi terlambat olimpiade masssssss" Tomi berlari naik ke atas dan langsung mandi
"udah gini Bob,kamu pergi aja ke kandang bebek nya, tau kan yang dekat kandang kuda kamu" Rizal kasihan dengan Bobi dan juga Intan pasti akan kecewa,Beni datang setelah mereka menunggu
"siapa yang sakit yah" Fani mengusap matanya dan memeluk ayahnya
"bunda" jawab Bobi iseng
"sakit apa" tanya Fani sedih
"ini Dr Beni dek,kamu tanya aja,mas Beni ini dokter apa" jawab Lio sambil mengedipkan matanya pada Rizal
__ADS_1
"saya Beni,saya spesialis Dokter kandungan,saya kesini di telfon Jovan tadi" Beni mengulurkan tangannya dan Fani bingung mencoba menganalisa perkenalan diri Beni
"oh tidak,buuuunnnnnnndaaaaaaaaaaaa" lengkingan suara Fani membuat semua tutup telinga
"kamu kenapa" Elisa keluar dengan cemasnya dari kamar Intan dan memeluk Fani
"ini dokter kandungan, Bunda Fani nggak mau punya adek lagi,bunda nggak mau" Fani merengek hampir menangis
"oh iya kamu sudah datang nak" Elisa langsung membawa Beni kedalam kamar Intan dan di ikuti yang lainnya
"Intan, kamu sehatkan, pucat banget mukanya" Beni duduk di samping Intan sedangkan Jovan tak bisa lepas dari pelukan Intan
"kakak Beni" Intan tersenyum manis dan membuat Jovan kesal
"maaf ya kakak periksa dulu" Beni memeriksa denyut nadi Intan dan dia memeriksa perut Intan,dan Suami posesif Intan menutupi perut Intan dengan selimut
"Jovan" Beni menatap Jovan dengan serius
"iya gua Jovan" Jovan terkejut dengan suara Beni karena sedang menikmati keindahan wajah istrinya
"kan dah gua bilang 2 tahun baru boleh" Beni seperti akan melemparkan stetoskop nya pada Jovan
Intan tertunduk malu,karena semua mata seperti ingin mengintrogasi diri nya dan Jovan
"dek,kamu bisa ke kamar mandikan" Beni menyuruh Jovan untukmu menampung air s*ni Intan Beni ingin memastikan lagi keadaan Intan,dan tak berapa lama Beni membawa testpack dan hasilnya
"selamat buat kalian semua, terutama buat Jovan dan Intan,kalian akan menjadi orang tua 9 bulan lagi" Beni memberikan testpack nya pada Intan
"gua akan jadi papi, Bobi , Lio,gua akan punya anak, terimakasih Intan ku sayang" Jovan menitikkan air matanya dan mencium keningnya istrinya dan perut Intan
"kita akan jadi oma opa" Elisa memeluk Rizal dengan senangnya dan Rizal menepuk bahu Jovan
"gua akan jadi om" Bobi melompat kegirangan dan Lio pun sama sama melompat dengan Bobi
"tapi nanti sore bawa Intan ke rumah sakit, biar bisa lihat perkembangan janinnya" Beni membereskan peralatan nya dan segera pergi karena dia ada jadwal operasi pagi ini
"terimakasih banyak Ben" Jovan mengantarkan Beni langsung ke mobilnya
"nggak gratis dong" Beni menyenggol tangan Jovan
"iya santai" Jovan mengambil hp nya dan menanyakan no rekening Beni
"Jo nggak usah uang,itu tadi cewek yang di gandeng Lio siapa" Beni berbasa-basi dengan Jovan
"Napa naksir lo" Jovan tersenyum pada Beni
"hahahaha lo peka banget sih" Beni menggaruk kepalanya
"mau gua salamin" Jovan menunjuk ke dalam rumah nya
"kalau lo nggak keberatan" Beni mengangkat alisnya
"lo mah selera nya gitu banget,nggak lucu ah Ben,yang lain aja" Jovan sangat menolak keras
"lah emang napa, kan dia cewek gua cowok, salahnya dimana" Beni melemparkan protes nya
"bukan gitu Ben,lo nggak malu apa,itu nggak pantas buat lo,cari yang lain aja jangan yang aneh aneh lo" Jovan masih menolak keras dan Beni masih berusaha keras
"Jo,kan lo belum tau gimana gua,biar gua jalanin dulu Jo,beri gua kesempatan" Beni memohon pada Jovan.
"kalau ayah setuju kami ikut ajalah,lagian lo gila ya,kayak nggak ada cewek lain aja, banyak yang segar dan masih muda,masak lo seleranya sama yang gitu" Jovan mengangkat bahunya
"Jo,lo tau kan yang gua maksud siapa" Beni mulai curiga pada Jovan
"iya gua tau,lo tu pantasnya jadi cucu bukan pacar nenek gua,gila kali lo ya, Dokter sukses doyannya nenek-nenek,udah gitu nenek gua lagi" Jovan seolah-olah akan memberikan pukulan ke badan Beni
"pantesan nggak nyambung lo,bukan nenek lo, tapi yang tadi teriak panggil Bunda" Beni bicara dengan emosinya
"ooohhh Fani maksud lo,gua kira nenek gua" Jovan tertawa dengan kesalahpahaman nya
"iya Fani,gua titip salam ya" Beni mulai melunak dan merangkul bahu Jovan
"enak aja lo,nggak gampang bro" Jovan meninggalkan Beni dan masuk ke rumah nya
"nanti sore, jadwalnya Intan nggak gua terima" Beni masuk kedalam mobilnya dan Jovan keluar lagi
__ADS_1
"bawa steak daging nanti malam jam 9" Jovan meninggalkan Beni
Beni pun tertawa senang sekali,dia tertarik pada Fani karena wajah cantiknya saat bangun tadi, benar benar alami belum kena polesan bedak