
setelah isi hati Tomi terungkap, Intan masuk kedalam kamar dan menangis merasa kasihan pada dirinya sendiri dan juga Tomi
"Tom, kenapa hidup kita tidak seperti keluarga William, mereka hidup bahagia dengan uang berlimpah,bahkan ibu penyelamat Aa dan bunda Elisa,jangan benci Aa Jovan, karena dia suami teteh" Intan berbicara di dalam selimut nya dan Jovan yang masuk kedalam kamar mendengar ucapan Intan
"sayang" Jovan memanggil Intan,dan Intan membersihkan air matanya
"iya Aa" jawab Intan lembut,dan Jovan memeluk erat Intan
"kamu wanita hebat sayang, Aa bangga sama kamu, kamu bisa mendidik adik adik kamu menjadi orang yang sangat bertanggung jawab, Aa bangga dengan kesabaran kamu untuk menyadarkan bapak, kamu istri yang sangat sangat Aa cintai, percayalah sayang" Jovan mencium kening Intan
"Aa,maafkan nasib Intan yang buruk ini" Intan akhirnya minder dengan Jovan yang bergelimang harta
"sayang,kita sudah ditakdirkan dari kecil,kamu cinta pertama dan terakhir Aa, andaikan umur kita saat kecil udah bisa nikah, mungkin kita akan menikah cepat" Jovan membayangkan wajah Intan yang sangat lucu saat kecil
"dasar genit,umur segitu kamu nggak akan bisa jadi om om gatel gini" Intan mencium dada suaminya
"oh jadi, sukanya sama Aa yang sudah dewasa gini ya" Jovan mencubit pipi Intan
"hahahahha" Intan tertawa geli dengan ucapan Jovan
"sayang, Aa akan bahagiakan kamu selamanya,kamu jangan pernah tinggalkan Aa ya sayang" Jovan sambil membawa Intan dalam pelukannya
"Intan,cuma mau punya anak dari Aa, Intan akan menua bersama Aa, sampai kita dipisahkan oleh,,,," Intan menghentikan ucapannya karena Jovan sudah membungkam mulut Intan
"ya udah anak nya kita buat sekarang tapi hasilnya tunggu tahun depan sampai kamu benar-benar sehat,dan Aa yang akan bawa kamu kontrol dengan Dr beni" Jovan sudah mulai membuka kancing baju Intan
"Aa" Intan memasang kembali kancing bajunya
"iya" Jovan membuka nya lagi dari atas
"Intan boleh minta tolong sama bunda nggak ya" Intan kembali memasang kancing bajunya dan Jovan kembali gemas dengan Intan
"minta tolong apa" Jovan menghentikan tangannya dan menatap wajah Intan
"Intan mau bilang ke bunda, untuk tebang pohon pisang" Intan kesal dengan Jovan
"disini nggak ada pohon pisang cinta hidup ku" Jovan mulai lagi membuka kancing baju Intan
"ada Aa, tiap malam Intan ketiban pohon pisang terus" Intan hanya pasrah saja
"dimana sayang" Jovan berhenti melakukan tindakan nya dan melihat heran Intan
"di kamar, tiap malam Intan ketiban pohon pisang terus" Intan melihat wajah Jovan
"ooooooh, nggak ada gunanya sayang,kamu nikmati aja pohonnya di badan kamu,dan Pisang nya biarkan aja berada di tempatnya" Jovan tau maksud pohon pisang yang dibicarakan istrinya
"iya makanya,pisang nya ditebang biar nggak gangguin terus kalau malam" Intan mencibirkan bibirnya pada Jovan
"haahahahhaah, sayang kalau ditebang nggak akan bisa berbuah lagi,kan pisang berbuah nya cuma sekali aja" Jovan tertawa sampai puas
ntah lah Jovan, hanya kamu dan Intan yang tau pohon pisang apa yang jatuh tiap malam
pagi menyambut cerah di rumah William, karena hari libur semuanya bangun agak siangan dan Ninuk sudah tau kebiasaan di rumah besar William
"kang Jimmy, hari ini penentuan kepada siapa hati kakang akan jatuh, Ninuk atau Inem" Ninuk mengangkat sapu tanda semangat hatinya,Ninuk dan Inem sedang memperebutkan cinta Jimmi
setelah semua penghuni rumah bangun, Ninuk baru menghidangkan makanan dan akan permisi pada Elisa untuk memenangkan pertarungan sengit nya dengan Inem
"nya,nanti Ninuk mau izin ya,mau menyelesaikan kompetisi mendapatkan kakang Jimi" Elisa yang sedang menunggu semua untuk turun menikmati secangkir teh
"iya Nuk kamu harus menang,kalau gagal cari yang lain" Elisa memberikan semangat pada Ninuk
setelah semua sudah berada di meja makan, baru Ninuk menyediakan semua makanan yang dimasak nya
"Nuk,kamu jam berapa perginya" Elisa bertanya pada Ninuk yang sedang menyiapkan jus buah untuk siang nanti
"kompetisi nya mulai jam 9 nanti nyonya" Ninuk menjawabnya santai sekali
"kompetisi apa" tanya Jovan yang sedang memberikan susu hangat pada Intan
"kompetisi apa atuh mbak,kalau gak keberatan, Tomi ajarin mbak supaya lulus kompetisi" Tomi membuat Rizal tertawa dan Rizal mengusap kepala Tomi
"ini hanya pertarungan antar ART di komplek ini saja nak" Rizal menggelengkan kepalanya
__ADS_1
"mbak Ninuk belum juga berhasil ya" Fani memakan roti nya
"ini sudah kompetisi yang ke 5 non,gagal terus" Ninuk menunduk lemas
"Nuk, hadiahnya apa sih sampai kamu berjuang sampai segitunya" Lio penasaran sekali dengan hadiah yang di dapat Ninuk
"kakang Jimi mas" Ninuk menjawabnya dengan malu sekali
semburan susu yang diminum Bobi tepat di wajah Lio,dan yang lain sudah tertawa sedangkan Lio memejamkan matanya kesal
"mas, di sini teh manusia bisa dijadikan hadiah ya" Tomi bingung dengan perkataan Bobi
"Bobi,gua baru siap mandi" Lio menatap Bobi dengan mata yang sangat tajam
"maaf boss,gua kaget aja si Jimmi yang dimaksud Ninuk bukan penjaga kuda kita kan" Bobi meminta penjelasan nya pada Ninuk
"bukan mas, Jimmi itu satpam kompleks yang baru" Ninuk menjelaskan siapa yang akan diperebutkan olehnya dan Inem
"namanya keren banget Jimmi" Jovan penasaran dengan tampang si Jimmi
"sebenarnya nama aslinya Jimanudin mas, disingkat jadi Jimmi" Ninuk tersenyum malu
"tu kan gua yakin pasti nama nya bukan sebagus itu" Lio menggelengkan kepalanya
"semoga menang ya Nuk" semua memberikan semangat pada Ninuk
Vivian yang baru keluar dari kamar bergabung dengan keluarganya untuk sarapan, setelah sarapan Lio, Rizal, Elisa dan Lio pergi berjalan jalan santai di taman, Bobi, Tomi dan Fany pergi ke mall untuk mengawal Fani, sedangkan Jovan dan Intan sedang menyelesaikan pohon pisang yang suka mengganggu Intan
"Aa, Intan bosan, mau keluar" Intan sangat kesal dengan Jovan yang mengurungnya dikamar
"sayang" Jovan semakin erat memeluk Intan
"Aa, besok coba periksa ke Dokter ya" Intan heran dengan suaminya yang selalu kecanduan untuk menjamah tubuh nya
"nggak usah,kalau kegiatan kayak gini nggak usah ke dokter,nanti malah di kasih obat tahan lama" Jovan mengusili istrinya.
"ha,ini masih kurang lama ya, dari tadi siap sarapan kita langsung naik ke atas,dan liat jam nya udah 30 menit masih kurang lama" Intan membesarkan bola matanya
"masih" Jovan menjawab nya santai
"sayang" Jovan membalikan badan Intan dan dia membuat suara desahan Intan keluar dengan indahnya sampai Jovan tumbang di badan Intan
sementara Ninuk sudah bersiap-siap untuk pergi memperjuangkan cintanya, Jimi si satpam yang tidak terlalu ganteng jadi bahan rebutan Ninuk dan Inem,lama pertarungan selesai Ninuk dinyatakan kalah dan dia pulang dengan lesunya
Intan yang sedang bermain piano diruang tamu tidak tau Ninuk sudah datang, Intan menyanyikan lagu Di persimpangan dilema dengan indahnya sedangkan Jovan sedang tidur kelelahan
"kakang Jimmi" Ninuk menangis sesenggukan di belakang sambil mencuci piring
malam pun menyambut dikediaman William,semua sedang berkumpul di ruang keluarga dan bercanda satu sama lainnya
"sudah tau luka di dalam dadaku sengaja kau siram dengan air garam" Ninuk masih tidak terima kekalahan nya dan masih menangis sendu di belakang rumah dengan memakai masker putih yang diberikan Fani dan dengan daster hitam panjang,dan rambut kembang yang terurai
Bobi dan Lio pergi ke belakang rumah untuk melihat mangga tetangga nya apakah sudah layak petik apa tidak
"Bob,sikat" Lio memberikan aba aba karena pohon mangga sudah berbuah sangat lebat dan pasti sebagian buahnya akan bergelayut manja di halaman belakang rumah William
"kan kan, makanya kalian jangan suka melewati batas" Bobi sudah membawa ember untuk tempat mangga mereka
"di depan si inem kau malukan diriku" Ninuk masih menumpahkan kekalahannya dengan lagu lagu galau
"kau bandingkan aku dengan dirinya" Bobi menyambung lagu Ninuk sambil memetik buah mangga dan Lio hanya tertawa,dan belum tau itu suara siapa
Ninuk merasa kesal ada yang menggangu lagunya dan menangis lagi
"hixs hixs" tangisan Ninuk membuat Bobi dan Lio merinding
"Bob" panggil Lio
"apa" Jawab Bobi
Ninuk yang sudah merasa lama dibawah pohon mangga berdiri dan membalikkan badannya,Bobi dan Lio yang terkejut bukan main berlari sambil teriak, Bobi dengan spontan nyebur ke kolam berenang dan berenang sekuat tenaganya, sedangkan Lio berlari masuk ke rumah dan mengunci pintunya, meninggalkan Bobi sendirian
Ninuk yang juga takut berlari mengetuk pintu yang ditutup Lio dan Bobi berenang lagi ke ujung kolam menghindari Ninuk
__ADS_1
"mas kenapa" tanya Ninuk yang melihat Bobi nggak bisa mengangkat badan nya keluar dari kolam
"Lio" teriakan Bobi membuat semuanya kaget
"ada kuntilanak hitam, penunggu pohon mangga" Lio ngos-ngosan terduduk di lantai sementara suara Bobbi semakin kuat
Rizal, Jovan, Tomi dan Elisa semuanya berlari ke tempat Bobi dan membuka pintu dan Rizal membantu Bobi keluar dari kolam
sementara Ninuk yang panik berlari ke ruangan keluarga meminta tolong, sedangan Vivian, Intan dan Fani lari ke kamar dan Lio tinggal sendirian dan tiba-tiba lampu mati
"mas" Ninuk memanggil Lio dengan suara berat karena masker wajah nya membuat pipinya sangat tegang
"aaaaaaaaaaaaaa, pergi pergi" Lio sangat terkejut melihat hanya wajah Ninuk yang terlihat putihnya, dan dia berlari sampai menabrak aquarium karena gelap
Rizal,dan Jovan berlari lagi ke tempatnya Lio, Elisa memberikan handuk pada Bobi dan membuatkan teh hangat, Rizal menghidupkan lampu
"mas ada hantu di belakang" Ninuk juga ikut ketakutan sekali, Rizal dan Jovan terkejut sekali melihat Ninuk
"kamu kenapa kayak gini Ninuk" suara besar Elisa terdengar sampai ke ujung dunia
"emang Ninuk kenapa buk" Ninuk melihat kaca dan dia sangat terkejut sekali
"ngaca kamu" Elisa benar-benar marah dan mendekati Lio yang kesakitan
"ibu wajah Ninuk kenapa ini" Ninuk pun takut melihat wajah nya sendiri
"bersihkan wajah kamu Nuk, cepat"! suara Rizal sudah hampir melepas tawanya
sesudah Ninuk membersihkan wajah nya, dan Bobi mengganti pakaian semuanya sudah duduk di ruang keluarga kecuali Fani dan Vivian yang sedang nonton drakor
"Ninuk kenapa bisa seheboh ini" suara maut Elisa terdengar keras
"tadi kan Ninuk maskeran buk,di bungkus nya tertulis jangan terkena sinar,jadi Ninuk dibawah pohon mangga buk,agar nggak kenal sinar lampu dan bulan, pas Ninuk mau membasuh wajah Ninuk,mas Bobi dan Lio teriak ya Ninuk kan jadi ketakutan juga buk" Ninuk menjelaskan kejadian nya dan juga dia menceritakan kekalahan nya tadi siang
"ahhahahahha, Ninuk" tawa Elisa dan Tomi pecah di ruangan besar itu
"bunda lucunya dimana" Lio dan Bobi tidak terima
"Ninuk aduh kamu tuh ya, Nuk Nuk" Elisa sampai sakit perut dan Intan merasa ada yang aneh dari dirinya
"mas, ngapaen harus lompat sih ke kolam berenang,jauh atuh mas, kenapa nggak ikuti mas Lio aja" Tomi semakin tertawa girang
"kok gua bego ya" kata Bobi sambil melihat tawa Tomi,dan Bobi menggelitik badak Tomi sampai Tomi minta ampun
"mas Lio" teriak Tomi sambil tertawa,dan Lio berdiri mau membantu Tomi,tapi Intan sudah menekan piano dan memainkan lagu dangdut untuk Ninuk dan dengan cepat Ninuk bernyanyi dangdut
"hoooba" Lio menarik tangan Bobi dan Tomi bergoyang dangdut, suasana jadi heboh sekali
"libas Ninuk" Bobi mengangkat tangan nya ke atas sedangkan Lio sudah menggoyangkan kepalanya sambil memegang tembok, Tomi bergoyang sendiri sambil maju-mundur
Jovan mengambil hp nya dan merekam Lio dan Bobi, untuk senjata nya nanti, Jovan yang hanya duduk saja ternyata menggoyangkan jempolnya saja agar tidak dilihat yang lain
"dangdut nek" Fani keluar dengan Vivian dan Vivian tertawa senang dan berjoget ala nenek-nenek
suasananya yang sangat ramai membuat Lio tidak sadar ada Meyza, Meyza duduk di samping Elisa dan tersenyum melihat Lio yang sangat-sangat asyik berjoget
"tarik sis, semongkoooooo,ah mantap" suara kompak Bobi dan Lio sangat keras terdengar dan Intan mengerjai Lio yang masih tidak melihat Meyza
"gila, gara gara dangdut gini, Meyza jadi nyata di samping bunda" dan dia menutup matanya lagi berjoget-joget ke kian kemari seperti ada di acara orgen tunggal
Vivian yang enak berjoget seketika berhenti karena kelelahan,
"nek udah nanti encok, udah ya" Jovan menahan Vivian agar duduk tapi Vivian tidak perduli
"krek" suara itu membuat semuanya diam Vivian sudah terdiam karena pinggang nya encok
"bubar,bubar, bubar" Bobi membawa Tomi duduk,dan Lio masih menggoyangkan pinggulnya dengan santainya
"pak Lio" Meyza memanggil Lio lembut sekali
"habis sudah, tamat reputasi gua" Lio berhenti berjoget dan sangat malu, Intan mengusili Lio dengan piano nya
"sudah lama sayang" Lio mencoba menetralkan suasana hatinya
__ADS_1
"jreng jreng jreng" Lio refleks menggerakkan badannya dan semua tertawa melihat Lio yang sudah kehilangan muka dihadapan Meyza Liandza