
"Bobi lebih ke investasi apartement,rumah mewah,tanah dan mobil sport terbaru" kata Lio menerangkan pada Intan.
akhirnya mereka sampai di Bandung, Lio memilih menginap di hotel dulu karna sekarang sudah pukul 12 malam, Lio memesan 2 kamar untuk nya dan Intan.
sementara dirumah Williams, Elisa mencari Intan yang tidak ada dikamar,dan 1 rumah benar benar panik Intan menghilang dari rumah.
Elisa melihat Jovan keluar dari mobil dan langsung menghampirinya "Intan kemana,kamar dia kosong gitu,ini udah tengah malam lagi"
Jovan turun dari mobilnya,dengan perasaan yang sedikit cemas takut Elisa ngamuk lagi
"Intan diantar Lio ke Bandung bunda,rindu berat ama keluarganya".
Elisa bingung,kenapa Intan tidak pamit dulu kepada nya "kamu apakan Intan" suara tegas Elisa membuat Jovan pucat sekali
Jovan mencari alasan supaya Elisa tidak mengamuk lagi,"bunda, Intan rindu sama keluarganya tadi Intan minta di antar pulang ke Bandung, Jovan ngga mau karena dia masih harus checkup ke Arlan, Intan malah pergi saja dari rumah terus pingsan dijalan dan dibawa ke rumah sakit, Intan nangis terus bunda, Lio nggak tega jadi di kabulkan permintaannya".
Elisa menangis,dia merasa gagal karena tidak mengantar langsung Intan,"bunda nggak pantas ya untuk menjaga Intan,kenapa dia nggak pamit dulu seh ke bunda"
"bunda udah, jangan nangis lagi, secepatnya kita lamar Intan bunda,jangan nangis" Jovan memeluk Elisa karna dia merasa bersalah,sekarang Intan pergi dengan rasa benci untuk nya.
Elisa tersenyum dan mengusap punggung anak pertamanya itu dan tersenyum bahagia "sayang,terima kasih nak kamu mau membalas hutang budi kita ke keluarga mbak Desi,percaya sama bunda nak, Intan anak yang baik sayang seperti mbak Desi"
Jovan mencoba mengalah dan tidak mau melawan Elisa,"bunda, jangan ucapkan kata-kata kayak tadi lagi ya bun, Jovan hancur dengar nya,lebih baik Jovan kehilangan semua nya bun"
"hush,apa yang kamu ucapkan nak,nanti adek kamu gimana sekolahnya,syukuri apa yang kamu punya sekarang ini,jangan bilang kayak gitu lagi,tadi bunda hanya emosi,kamu terluka ya sayang" Elisa mengecup kening Jovan.
malam berlalu dan pagi menjelang di kota Bandung,mobil Pokas sampai dirumah Vivian.
Lio memapah Intan turun dari mobil dan mengantarnya langsung ke rumah Handoko.
"mas Lio, Intan disini nggak apa apa kok,mas lanjut kerja aja ya ke Jakarta" Intan membujuk Lio supaya kembali bekerja lagi karena dia tidak mau menyusahkan lebih jauh lagi.
"mas kan udah janji sama Dr Arlan jaga kamu sampai sembuh dek,maka nya kamu jangan pikirin yang macem-macem biar cepat pulih dek, biar mas bisa tenang kalau balik ke Jakarta" Lio mendudukkan Intan di kursi depan rumah nya.
Lio mengetuk pintu rumah dan dibukakan oleh Handoko,"tuan Lio kenapa kesini tuan,ada yang terjadi sama Intan"
"pak Intan udah pulang, Intan rindu sama bapak" Intan langsung berdiri dan memeluk Handoko.
"Intan kamu teh pulang kenapa nggak kabari bapak" Handoko mengelus rambut Intan
"Intan nggak kuat lagi pak, Intan rindu kalian semua, Intan nggak bisa tidur nyenyak kalau malam, ngebayangin bapak sama ibu,Tomi dan Tika juga" Intan menangis sesenggukan seolah ingin mengatakan kalau dia hancur saat ini karena mencintai pria yang jauh berbeda dengan dia.
__ADS_1
"kita balik ke Jakarta sekarang Intan" Lio tidak suka Intan menangis seperti itu.
"nggak mau" Intan bersembunyi di belakang Handoko
"ya sudah jangan nangis lagi dek,mas Lio nanti bisa hancurin siapapun kalau marah" kata Lio kesal pada Intan yang mungkin sedang menangisi Jovan.
"bawa aja intan kesana tuan, biar dia bisa dirawat dengan benar,karena saya miskin tuan anak saya tidak pernah menceritakan sakit yang dia rasakan",Handoko menangis karena dia tidak pernah tau sakit Intan sampai dia harus dioperasi tanpa ada yang tahu.
"bapak saya cuma bercanda supaya dia nggak nangis lagi,jangan bicara seperti itu pak,nanti Intan bisa drop total, bapak lupa sama pesan dokter Arlan" Lio menyesal dengan perkataannya yang membuat Handoko berbicara seperti itu.
"pak, Intan nggak mau nyusahin ibu dan bapak,nggak sakit kok pak,kan sudah selesai pak apalagi yang harus kita ungkit lagi" Intan berjalan masuk mencari ibunya dan meninggalkan Lio dan Handoko dengan kesalnya.
Handoko dan Lio berbincang-bincang di teras rumah Vivian sambil menunggu tuan rumah nya pulang karena sedang berolahraga lansia di panti jompo.
"Intan,ibu rindu kamu nak" Desi memeluk Intan dan Intan pun menangis dipelukan Desi dan Tika juga memeluk Intan dengan rindu nya.
dikediaman William
pagi sekali Jovan sudah bangun untuk berolahraga dulu sebelum berangkat kerja,dia berlari memutari rumah besar William yang hampir 1,5 ha.
"yah, Jovan minta kita lamar Intan secepatnya, kapan yah kita berangkat ke Bandung,bunda udah nggak sabar jadikan Intan menantu" Elisa bergelayut manja di dada Rizal suaminya.
"bunda serius,ayok bun kita berangkat sekarang,nanti keburu dia berubah pikiran,ayah nggak mau liat yang ribut-ribut dirumah ini,jantung ayah lemes bunda" Rizal mengelus rambut Elisa dan mencium nya dengan lembutnya.
"ya sudah bunda mau mandi dulu ya yah" Elisa berdiri dan meninggalkan Rizal yang tidur kembali.
hp Jovan berdering dan tertera nama Devina di situ, Jovan sangat ragu dan takut kalau dia berubah pikiran lagi tapi dia tetap berbicara dengan Devina
"sayang kamu dimana aku kangen kamu" Devina bermanja-manja ria pada Jovan dan penasaran apa hubungan mereka ini masih dilanjutkan apa tidak.
"iya sayang,aku dirumah ni kan masih pagi yang,nanti kita ketemu di cafe xx ya jam 10.00" Jovan harus tegas tidak boleh plin plan dan jangan sampai melukai 2 wanita yang mengisi hatinya.
"ok sayang,i love you" Devina memutuskan sambungan Telfonnya.
"kenapa senyum senyum gitu Devin,nggak kesambet kan lo" Joice yang masuk kedalam kamar Devina heran melihat Devina yang tersenyum senyum malu.
"nanti mau kencan ama Jovan kak" Devina melanjutkan tidur nya dan mengabadikan Joice.
Joice keluar dari kamar Devina,"semoga kamu bahagia dengan Jovan,dan aku bisa manfaatkan kamu untuk bayar semua utang-utang ku untuk obati kamu dulu"
Elisa, Rizal dan Fani sudah menunggu Jovan di meja makan untuk makan bersama.
__ADS_1
"cie adek bentar lagi punya kakak ipar yang cantik,baik,pintar masak lagi,apalagi suaranya top pisan" Rizal menggoda Fani yang sibuk membaca buku nya
"haaaaaaaaaa, serius yah,mas Bobi,mas Lio atau mas Jovan yang mana yah" tanya Fani penasaran karna Bobi dan Lio sudah seperti Jovan bagi nya.
"mas Jovan dan kak Intan akan menikah sayang" kata Elisa tersenyum bahagia
"hooooooorrrrrreeeeee,kak Intan akan jadi kakak ipar Fani,bunda kita harus buat gaun yang paling bagus kita semua seragam ama keluarga kak Intan" Fani berteriak sebegitu heboh nya
Jovan mendengar semua pembicaraan orang tua dan adiknya dari atas tangga.
monolog Jovan on
gua harus dewasa, Devina hanya cinta SMA gua dan dia memang wanita pertama yang mengisi hati gua, Intan yang berhasil merebut hati gua lagi,dan gua nggak mau kehilangan kehangatan keluarga gua,biarlah Devina mencari yang lain dan gua bersama Intan
monolog off.
"waaahhhh suaranya heboh ui,sampai ke atas,mas kira ada pembagian sembako" Jovan turun dengan stelan jas nya dan wangi parfum nya yang memabukkan semua wanita
"calon manten sini duduk dekat ayah nak,ternyata kamu sudah besar ya bukan anak sd ayah lagi,semoga kamu yakin ya nak"
Rizal menepuk bahu anak nya itu yang duduk disampingnya.
"Jovan yakin yah,tapi Intan pasti akan nolak Jovan,karena yang nolong Intan saat pingsan dijalan Devina dan dia sudah tau Devina wanita yang Jovan tunggu" Jovan menatap Elisa dan Fani.
"Intan akan jadi urusan bunda,mbak Desi dan nenek selebihnya kamu yang harus bujuk dia,dan Jovan selesaikan semuanya dengan Devina nak dan minta maaflah kamu tidak bisa lagi berhubungan dengan dia karena kamu mau menikah" kata Elisa dengan lembutnya karena dia sudah percaya Jovan tak akan berbohong
"mas sebenarnya sayang nggak ama kak Intan" Fani kepo dengan mas nya itu
"Intan pulang mas gelisah nggak jelas dek
mas mau nelfon takut nggak diangkat,mas rindu berat ama dia,nggak tau kenapa mas pengen dia disini,mas pengen dia disamping mas terus, Jovan bersandar di kursinya menatap Fani yang sudah VC dengan Intan dan Intan sudah dengar semuanya.
"kak Intan mas Jovan rindu nih, gimana dong kak,kasihan ni nanti mas Jovan nya nggak bisa kerja lo kk" Fani menggoda Intan yang diam diam malu.
Jovan langsung mengambil HP Fani dan melihat Intan yang tersenyum malu dan Jovan memajukan bibir nya.
"apa liat liat" Intan melotot pada Jovan yang mengingatkan nya saat bibirnya dikecup Jovan.
"siap siap ya Sabtu Aa lamar kamu jadi nyonya Williams" Jovan tersenyum bahagia melihat Intan dengan wajah lucunya
"Intan sayang Sabtu kami datang ya,jangan tolak Jovan ya manis" Elisa mengambil hp dari tangan Jovan dan melambaikan tangan nya.
__ADS_1
"ibu, Intan masih mau sekolah buk,mas Jovan ama yang lain aja ya buk nggak apa-apa kan buk" Intan berkata dengan lembutnya supaya Elisa tidak tersinggung.
Elisa memberikan hp nya lagi pada Jovan dan tidak berkata apa-apa,dia merasa kecewa karna Intan menolak nya