
"kak Intan bunda nangis lo,kakak bicara gitu" Fani berbohong pada Intan yang membuat Intan gelisah.
"ibu, Intan buka nya nggak sopan sama ibu, tapi Intan masih mau sekolah,masih mau kuliah ada pekerjaan juga bu" Intan mencoba membujuk Elisa.
"Intan bunda sedih lo,kamu tega juga ya liat bapak sedih,kami sangat berharap kamu mau sama Jovan dan jadi menantu William" Rizal juga sedih saat Intan menolak Elisa.
"Aa Jovan,jangan diam aja,bilang atuh ke ibu sama bapak kalau kak Devina sudah kembali jadi Aa nggak harus nikah sama Intan, Intan masih mau sekolah,bahagia dengan wanita yang Aa cintai jangan dengan wanita yang terikat karena hutang budi" Intan berbicara pada Jovan yang hanya diam saja dan Intan memutuskan sambungan telefon nya.
"Intan harus jadi istri Jovan, ayah, bunda dan adek percaya sama Jovan, Intan akan menjadi nyonya Jovan William" Jovan memeluk Elisa dan mencium tangan ayah nya.
"terulang lagi kisah kita bunda,saat ayah memperjuangkan bunda karena terus menolak ayah yang dikira playboy dulu" Elisa teringat masa mudanya yang menolak Rizal berkali-kali.
"huuuss,ayah nggak usah ingat ingat itu lagi,bunda lucu kalau ingat itu,haduh kunaon eta teh kasep,kamu harus berjuang dulu untuk mendapatkan berlian" Elisa meyakinkan Jovan.
"siap bunda,akan Jovan perjuangkan sampai Intan mau,Jovan nggak mau sampai salah pendamping" Jovan sudah mantap memilih Intan.
"kita makan dulu ayah udah laper" mereka semua tertawa dan menikmati sarapan mereka.
Bandung
Vivian baru pulang senam di jemput oleh Pokas,dia sudah tau Lio datang dan memeluk Lio yang sudah menunggu di luar mobil.
"halo nenek, semakin cantik aja nek habis senam" goda Lio pada vivian.
"iya biar nenek bisa cari kakek buat kalian semua,jadi nenek ada temannya" Vivian menjawab Lio dengan asal dan tertawa.
"nenek kesepian ya,ikut ke Jakarta aja yok nek disana kan ramai nek,disini sepi nek nggak ada yang jagain nenek" Lio memapah Vivian duduk di kursi teras dan memijat pelan kaki Vivian.
"nenek nggak kuat panas dan nggak kuat AC sayang,badan nenek sakit semua, kalau disini kan udaranya sejuk dan segar nenek bisa jalan santai di kebun kita" Vivian mengusap kepala cucunya itu.
"ibu Vivian sudah pulang saya pamit mau siap siap ke kebun dulu ya" Handoko permisi dan meninggalkan Lio dan Vivian.
"ibu Intan mau sekolah, nggak mau nikah dulu buk, Intan mau kuliah dan punya usaha sendiri" Intan menangis di pelukan Desi yang sudah tau dari Elisa kalau dia menolak Jovan.
__ADS_1
"kamu kapan siap nya sayang,ayok ceritakan semua ke ibu" Desi membelai rambut anak nya dengan sabar.
"bu,mas Jovan itu dipaksa sama ibu Elisa untuk menikahi Intan karna ada hutang budi, Intan dengar semua nya buk,dan Aa Jovan juga sudah punya pacar bu, Intan nggak mau jadi perempuan murahan rebut pacar orang atuh bu" Intan menceritakan semuanya pada Desi.
"Intan kamu anak gadis yang beruntung nak jika kamu berada di samping Jovan,bukan karena harta nya tapi karena kamu akan aman dari laki-laki hidung belang,soal wanita itu Jovan akan mengakhiri semuanya hari ini" Desi menceritakan semua yang disampaikan Elisa tadi.
"ibu,kita nggak boleh gitu kak Devina pasti hancur hatinya, Intan nggak mau buk" Intan terus menangis karena rasa cemburunya
"sebenarnya kamu teh nangis cemburu atau kunaon eta teh" Desi menggoda Intan yang sudah tau perasaan anaknya pada Jovan.
HP Intan berdering nama Jovan tertera di hp nya, Intan menolak panggilan nya.
"he itu calon suami nya nelfon kenapa nggak diangkat" Desi melihat Intan yang sebel
Jovan tersenyum di ruangan kerjanya dan menelfon Intan lagi, Desi langsung menerima telfon Jovan dan memberikan pada Intan.
"iiiiiiii ibu kenapa di angkat Intan nggak mau buk" Intan kesal saat VC dari Jovan diangkat ibunya.
"biarin pipinya punya Intan kok,suka suka Intan dong" pipi intan sengaja digembungkan supaya Jovan tidak suka
"Intan ini Aa serius mau lamar kamu, Aa mau kamu jadi istri Aa" Jovan berbicara serius pada Intan,tapi Intan malah buang muka .
" Intan masih dibawah umur dan juga kan ada kak Devina wanita yang Aa tunggu selama ini, Intan benaran nggak apa apa kalian udah sama sama dewasa, Intan belum ngerti tentang nikah nikahan gitu" Intan mengatakan kata kata itu tapi sakit di dadanya,dan dia menahan air mata nya.
"Intan, Aa ini bicara serius nanti Aa akan ketemu sama Devina untuk memutuskan hubungan kami,karena mas nggak bisa jauh jauh dari kamu Intan dan bibir pertama yang Aa cium ya kamu" Jovan berkata adanya dan jujur kepada Intan.
"jangan Aa,kak Devina akan terluka, Intan nanti yang akan bujuk ibu Elisa biar Aa boleh nikah ama kak Devina, Intan nggak apa apa kok" Intan akhirnya menangis tak sanggup membohongi perasaannya.
"Intan Aa akan selesaikan semua nya, percaya sama Aa,kamu nggak akan kekurangan apapun dan kamu bisa sekolah dan kuliah seperti kemauan kamu" Jovan membujuk Intan lagi
"nggak tau Intan bingung Aa" Intan acuh sekali pada Jovan dan Jovan mulai emosi
"Intan kalau kamu nggak mau,aku nikahi Devina dan kamu yakin kan nggak akan menyesal" Jovan mencoba mengancam Intan
__ADS_1
"baru ditolak dikit aja udah menyerah mau nikahi wanita lain,ya udah kamu nikahi aja dia kan tadi saya udah nolak kamu" Intan mematikan Telfonnya dan menangis karena sakit hati
"Intan bukan gitu maksud aku,kamu larang dong, Aa jangan tinggalkan Intan,bukan malah nyuruh ama wanita lain" Jovan mulai frustasi dan melempar hp nya
Devina sudah bersiap-siap menuju cafe xx sesuai tempat yang di katakan Jovan.
"udah jam segini gua temui Devina dulu, Intan nanti bila perlu Aa terbang kesana untuk melamar kamu" Jovan berjalan dengan gagahnya keluar dari kantor dan mobil mewahnya melaju menuju cafe xx.
"sayang" Devina melambaikan tangannya pada Jovan.
"belum lama kan nunggu aku" Jovan duduk di depan Devina, Jovan memang menunggu Devina selama 5 tahun tapi Intan selalu bermain dalam pikirannya.
"sayang kamu mau makanan biasa kan,aku pesan ya" Devina memanggil pelayan cafe dan memesan makanan mereka berdua.
Jovan memandang keluar kaca sambil terus memikirkan Intan dan dia sudah yakin ini memang harus di akhiri.
"sayang,kamu kok ganteng banget sih" Devina bergelayut manja dibahu Jovan
makanan tersedia di meja mereka dan mereka sedang menikmati makanannya, Devina memandang wajah Jovan yang berbeda hari ini.
"Devina,aku harus jujur sama kamu,dan ini akan menyakiti perasaan kita berdua" Jovan mulai berbicara serius pada Devina
"napa Jo, kamu ada wanita lain" Devina memaklumi itu semua karena keadaan yang membuat mereka seperti ini.
"maafkan aku Devina,mungkin hubungan kita ini cukup sampai disini saja dan aku yakin kamu pasti akan mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari aku suatu saat nanti" Jovan menggenggam tangan Devina yang sedang melamun ntah memikirkan apa
"siapa wanita itu Jo, kenapa kamu mengatakan kepada Joice kalau kamu menunggui ku sampai selama ini" Devina meminta penjelasan pada Jovan.
Jovan menceritakan semua alasannya untuk berpisah dari Devina dan memilih Intan.
"aku tau ini menyakitkan Devina tapi aku tidak bisa kehilangan orang tua yang sudah membesarkan dan mendidik ku dengan begitu susahnya" Jovan bersikap tegas karena dia tau ini memang harus berakhir
"lakukanlah Jovan,aku yang terlalu berharap padamu,dan semoga kamu bahagia dengan semua ini" Devina menangis dan meninggalkan Jovan
__ADS_1