
di rumah sakit
"anak bunda paling kecil" Elisa menyuapi Tika makan dengan senyumnya
"bunda,kak Fani teh mana" Tika mencari Fani terus,karena tak melihatnya
"lagi di Singapore sayang sama nenek Vivian,belum bisa pulang" Elisa menyuapi Tika lagi
Handoko dan Rizal menanti di luar sambil membahas perkebunan teh, sedangkan Tomi, Bobi dan Boston sibuk mencari perawat tadi yang mengantarkan makanan pada Tika
"Caca, Intan teh kemana,mbak rindu atuh" Desi menunggui Intan yang belum datang
"kemana ya mbak,bentar ya Caca telfon dulu" Elisa pun mengambil hp nya dari dalam tas
tapi Jovan tidak mengangkat nya
sementara di perjalanan mereka,Jovan sedang menikmati suara Intan yang sedang bernyanyi
"hanyalah Tuhan saja bisa menentukan semua kesabaran daku menantimu
ku tetap memaafkan dan berdoa kau kembali sebelum diri melangkah pergi"
Intan bernyanyi sambil berdiri dengan membentangkan kedua tangannya,dan atap mobil yang dibuka Jovan
"suara nya indah banget" Jovan sangat senang sekali dengan suara Intan, tiba tiba Jovan menginjak rem dan mereka berhenti
"maaf om" suara anak kecil berusia 8 tahun hampir tertabrak karena tidak melihat mobil Jovan
"kamu kenapa" tanya Intan penasaran,dan turun dari mobilnya
"maaf kak disana mau lampu merah,jadi mau nyanyi kak, biar aku dan adek ku bisa makan, pamit ya kk" dia menunjuk adiknya yang terduduk lemas di bawah pohon
"sini kamu,nama kamu siapa" Intan menarik tangan anak kecil itu ke arah lampu merah
"Arfan kak" jawabnya singkat
"sayang mau kemana" Jovan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan mengejar Intan
"kak mau kemana,aku kan nggak jadi nabrak,kakak jangan marah" Arfan menarik tangan nya
"hidupkan musiknya,sini mic nya" Intan memerintahkan Arfan untuk menghidupkan speaker kecilnya dan memberikan mic
"lampu merah kak" Arfan pun turuti kata kata Intan,dan memainkan lagu yang judulnya persimpangan dilema
"ini mah gampang Arfan" Intan pun menyanyi kan lagunya, sedangkan Jovan heran menatap istrinya
Intan menyanyi dengan semangat nya, hingga banyak yang terpukau bahkan ada yang turun dari mobil mereka untuk memvideokan Intan
setelah setengah lagu,Arfan sudah berjalan dengan kantong permen nya dan memang rezeki sedang berpihak pada Arfan,semua memberikan uang pada Arfan
setelah lagu selesai tepuk tangan meriah buat Intan dari semua yang mendengar suara Intan begitu juga Jovan,dan lampu berganti jadi hijau
"memang malaikat kamu sayang, walaupun kamu garang" Jovan menghampiri Intan dan Arfan, dan mereka mendekati adik kecil Arfan
"dek,ini ada uang,kita makan ya" Arfan memperlihatkan uang nya pada adik nya sementara adiknya sudah lemas
"kita makan ya" Jovan menggendong adik Arfan dan membawanya nya masuk kedalam mobil, sedangan Arfan hanya mengikuti Intan yang menarik tangannya, Jovan membawa 2 anak kecil itu masuk dalam cafe mewah dekat lampu merah
"makan yuk sayang" Intan membawa masuk Arfan dan adiknya untuk makan,tapi semua pelayan memandang aneh pada Arfan dan adeknya,memang pakaian mereka sangat kotor
"maaf ini cafe berkelas,kami tidak menerima pengemis" kata seorang pelayan pada Intan dan Jovan
"kan gua bayar, masalah nya apa" Jovan menjawab dengan datarnya dan menatap tajam pada pelayan itu
"kamu kerja disini juga di gaji dari orang yang makan disini kan,kenapa sombong nya sampai ke langit ha" Intan tidak tahan dengan ucapan kasar pelayan cafe
"bang,mau makan" adik Arfan sudah tidak tahan lagi,dan Jovan menelfon Bobi
"Bob, cafe yang di samping mall JM punya siapa" tanya Jovan sambil terus menatap pelayan angkuh dihadapan nya
"oh itu orang kontrak tanah gua,tapi belum bayar, udah nunggak 3 bulan Bob" jawab Bobi dan Jovan tersenyum kejam
"gua ratakan sampai menjadi tanah kosong,boleh Bob" Jovan sungguh sangat tersinggung dengan hinaan pelayan cafe
"gua kirim escavator sekarang mas" Bobi sudah tau berarti ada yang mencari masalah dengan Jovan
"20 menit Bob" Jovan memutuskan sambungan hp nya, sementara pelayan cafe sudah mulai pucat
"sayang,kita bawa 2 anak ini makan ke mall aja" kata Jovan sambil menggendong adik Arfan yang sudah sangat lapar
"om lapar" kata Auri adik Arfan sambil menangis memegang perutnya
__ADS_1
"iya sayang,kita masuk ya" Jovan mengelus rambut Auri dengan lembut nya
"om kami tunggu sini saja,nanti kami di usir lagi" Arfan menarik tangan Jovan yang hampir masuk
"ayo sayang" Intan menarik lembut tangan Arfan, tapi Arfan sangat takut dengan pandangan orang kepada nya
"silahkan masuk pak Jovan,mau pesan apa pak" tanya waiters dengan ramahnya baru Arfan berani masuk
"mau apa sayang" tanya Jovan pada Auri yang duduk di samping nya,sedangkan Intan dan Arfan membeli makanan kecil dulu untuk Auri
"nasi putih sama kerupuk aja om" jawab Auri polos sekali,dan waiters melihat nya menahan air matanya
"bawa semua makanan dan minuman yang spesial kesini" jawab Jovan dan waiters pun langsung menyiapkan pesanan Jovan
"ini sayang, makan ini saja dulu ya" Intan membuka 1 kue dan memberikan pada Auri
"wah ini pasti enak kak" Auri memakannya dengan lahap
"Arfan boleh minta kak" tanya Arfan takut dimarahi Intan
"boleh sayang" Intan membukakan kue buat Arfan dan Arfan tersenyum
Intan semakin jatuh cinta pada Jovan melihat sikap rendah hati nya,dia memandangi wajah Jovan sambil tersenyum menggelengkan kepalanya sambil tertunduk
"om,kakak itu liatin om terus" bisik Auri pada Jovan,dan Jovan melihat senyum Intan
"iya dia sayang sama om" Jovan balas berbisik lagi dan Auri tersenyum
Jovan menyenggol kaki Intan dari bawah dan Intan refleks melihat Jovan yang tersenyum sangat ganteng
"i love you" Jovan mengangkat alisnya dan tersenyum,Intan tersipu malu,dan menunduk lagi, tidak tahan melihat senyum ganteng suaminya
"i love you too Aa" jawab Intan dalam hatinya senang
"permisi ini pesanannya pak Jovan dan buk Intan" waiters itu tersenyum dan menghidangkan semua makanan di meja dan Auri sangat senang
"ini semua boleh dimakan om" tanya Auri pada Jovan
"iya sayang, makan apa saja yang kamu mau ya,om bantu ya" Jovan mengambilkan piring buat Auri dan mengambil semua nya yang diminta Auri
"kita cuci tangan ya Auri" Intan membawa Auri dan Arfan mencuci tangan, sementara Jovan melihat cafe yang akan rata dengan tanah sebentar lagi
"om, boleh nggak ayam ini buat mama" tanya Auri dengan wajah polos nya
"Auri,jangan meminta kan kita sudah makan enak" kata Arfan pada Auri
"mama kan belum makan bang,kasih 1 aja" kata Auri sedih
"udah sayang,nggak apa apa,inikan makanannya masih banyak,kita bungkus ya semua" Jovan tersenyum pada Arfan dan meminta waiters membungkus semua makanan nya
setelah semua di bungkus,mereka meninggalkan mall dan berdiri tepat di depan cafe yang akan dihancurkan dan sudah ada Bobi di depan cafe
"lanjut nggak ni" tanya Bobi pada Jovan,sambil mengusap rambut Arfan
"kita hancurkan nggak dek" tanya Jovan pada Auri yang digendongannya
"nggak usah om,nanti tante itu kerja dimana" kata Auri dengan polosnya
"Aa,ini kelewatan ah jangan" Intan mendekati suaminya
"stand by disini,dan panggil penyewa tanah ini" kata Jovan pada Bobi
tak berapa lama penyewa tanah datang,dan langsung meminta maaf pada Jovan setelah di telefon oleh penanggung jawab cafe nya
"saya minta maaf pak" kata pelayan cafe pada Jovan
"emang kamu salah apa" tanya Jovan dengan dinginnya
"menghina 2 anak ini pak" jawab pelayan tertunduk
"mereka berdua anak saya,tadi pakaian gini buat konten YouTube, lancang sekali anda menghina anak saya" Jovan semakin emosi dan Auri ketakutan meminta turun dan bersembunyi di belakang Bobi
"om,takut" Auri menyembunyikan wajahnya di kaki Bobi
Arfan hanya memegang tangan Intan dan menarik tangan Jovan
"om,jangan dihancurkan,bilang aja boleh nggak Arfan jadi tukang parkir disini" Arfan memintanya pada Jovan
"nggak usah sayang, tenang saja ya" Jovan menepuk bahu Arfan
"ini bayaran tempat nya pak Bobi,saya mohon maaf, biarkan tempat ini jadi lahan rezeki saya, pelayan itu akan saya pecat" penyewa tanah langsung memberikan uang kontrak 30 juta untuk Bobi
__ADS_1
"bagus, cepat lakukan" Jovan membawa Intan, Bobi, Arfan dan Auri meninggalkan tempat itu, sedangkan alat berat sudah dipulangkan ke tempat asalnya
"kalian tinggal dimana,kita pulang ya" Intan menanyakan pada Arfan
"dibawah kolong jembatan kak" jawab Arfan
"kakak sama Om nggak usah ikut,banyak nyamuk, nanti di gigit nyamuk" kata Auri dengan polosnya
"kamu nggak tau ya sayang,om ganteng ini makanan nya nyamuk" kata Bobi sambil menepuk dadanya
"wah,kalau gitu om harus ketempat kami,pasti om kenyang karena nyamuk banyak sekali" kata Auri polos
"besok ita nggak usah bayar lagi penyemprotan di rumah kita,om mau kan makan nyamuknya" Arfan juga mengatakan itu dengan wajah tanpa dosa
"sejak kapan mas" Intan tak percaya pada Bobi
"makanya om ini takut sama Baygon,nanti makanan nya habis" Jovan tertawa dengan perkataan Bobi yang menjadi senjata makan tuan buat dia
"iya nanti om Bobi habiskan, sekarang mari kita pulang ya"
merekapun meninggalkan cafe dan menuju jembatan,dan memang kawasan kumuh sekali
"kalian darimana, belum makan dari siang kan nak" suara mama mereka mengagetkan Arfan dan Auri, sedangkan Jovan, Bobi dan Intan tersenyum pada mama Arfan
"mama,ini ada rezeki buat kita " Arfan menunjukkan kotak makanan pada mamanya
"ma,om sama kakak ini baik banget lo" kata Auri dengan senangnya
"terimakasih banyak tuan,nyonya" kata mama Arfan
"sama sama ibu" jawab Intan dengan sopan nya
"maaf ya om,rumah kami jelek sekali, nggak muat juga buat kita semua" Arfan tersenyum pada Bobi dan Jovan, sedangkan Intan sudah dikerumuni anak anak teman Auri
"kasihan banget" Bobi melihat rumah yang hampir roboh di hadapan nya
"buk,maaf ibu mau jualan makanan di kantin tempat kami bekerja" tanya Jovan karena ibu penjaga kantin sudah tidak buka lagi karena sakit
"Arfan,kamu masuk ke rumah dan bagikan makanannya pada teman-teman kamu ya" mama Arfan akan berbicara pada Jovan dan Bobi secara pribadi,dan Arfan pun meninggalkan Bobi dan Jovan
"tuan,sudah ada yang mau membeli ginjal saya 300 juta,jadi saya akan membawa anak anak saya ke kampung halaman, saya akan membeli 1 perumahan dan berjualan makanan keliling, supaya anak saya bisa sekolah lagi tanpa harus mengamen" Rista mama Arfan akhir nya menangis
Jovan dan Bobi terkejut sekali akan pengorbanan Rista buat anak anak nya
"suami ibu mana" tanya Bobi
"pergi dengan wanita lain pak,dia meninggalkan kami karena kemiskinan ini" Rista menangis mengingat suaminya yang pergi saat hamil Auri
"bajing*n,tidak mau susah jangan buat anak dong" Bobi melihat Auri sedang bermanja-manja pada Intan dan dikelilingi anak anak penghuni kolong jembatan
Lio turun bersama Pokas, dan terkejut melihat Jovan dan Bobi yang sedang berbicara dengan penyumbang ginjal Tika
"kapan saya bisa segera di operasi pak" tanya Rista pada Lio yang tak berani mendekati nya
"jadi ibu jual ginjal sama dia" tanya Bobi pada Rista
"iya pak,demi masa depan anak anak saya" jawab Rista senang sekali
"Auri , Arfan sini" panggil Jovan dan merekapun datang bersama Intan
"ada apa om" tanya Auri penasaran
"salam sama om ini sayang" Jovan memberikan tangan Auri pada Lio yang terdiam kaku
"kalau mama meninggalkan kalian,kalian akan kemana sayang" tanya Bobi berlutut di kaki Arfan,Auri dan Arfan menitikkan air matanya mendengar ucapan Bobi
"mama jangan pergi, jangan tinggalkan Auri ma, Auri takut kalau mama nggak ada,preman preman itu pegang pegang badan Auri, Auri dipaksa cium bibir mereka" Auri berbicara sambil menangis, Rista tak percaya dengan ucapan Auri, badannya terjatuh lemas ke lantai, Auri menangis semakin keras
"apa" teriak Intan,dia tidak percaya akan kehidupan di bawah jembatan yang sangat mengerikan, dia menarik Auri kedalam pelukan,dan menangis
"gila,anak sekecil ini" Jovan sudah sangat emosi sampai matanya memerah
"lihat saja lo semua,habis di tangan gua" kata Bobi sambil memeluk Arfan yang tak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya
Lio yang mendengar Auri menceritakan semuanya, memerintahkan Pokas mencari semua preman preman yang menggangu Auri sampai seperti itu,
"kalau mama pergi dari kami, Arfan akan memberikan Auri racun dan Arfan akan meminumnya juga om, Arfan masih kecil tidak akan bisa menjaga Auri dari preman preman jahat" Arfan berbicara dengan lantangnya dan Lio semakin berdosa sekali
"kakak, Auri mau kayak kakak,dijaga sama om baik itu, Auri nggak mau dipegang pegang gini, Auri nggak mau disuruh buka buka baju, Auri nggak mau, Auri nggak mau" Auri memperagakan dia diperlakukan oleh preman preman jahat
"ini semua kenapa sih Aa, Intan nggak ngerti" Intan melihat heran Jovan dan Bobi yang menatap Lio emosi
__ADS_1