Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Jovan nggak mau


__ADS_3

wajah tak berdaya Intan seperti mencabik cabik hati Lio,ada kehancuran yang terasa disana


"Intan,jika cinta yang membuat mu seperti ini jangan bertahan" Benny tak terima yang terjadi pada Intan dan semakin kuat memegang nya


Bobi sudah datang dengan banyak seprai yang dibantu para bodyguard nya, Benny meminta Bobby mengikat semuanya hingga panjang dan Meyza sudah mengerti maksud Benny


"ini saya ikatkan ke badan Bapak" tanya Meyza


"iya buk, tapi pastikan semua kuat dan tolong ikatkan ujung yang satunya ke besi besar itu dan kalian tahan,dan tolong robek baju saya yang tersangkut ini,dan Lio tetap pegang tangan Intan, jangan sampai lepas" Beni yang akan turun setelah Meyza mengikuti perintah Benni


Jovan yang sudah sampai melihat Intan bergantungan hampir jatuh, Jovan menyesal sekali,dia mengingat bagaimana dulu hatinya luluh karena gadis manis itu, setiap langkah nya semakin membuat dia menyesal


"gua percaya sama lo Ben" Bobi menepuk bahu Benni dan membantu nya turun setelah semua terikat aman, setelah Benny sampai dia melihat Intan yang mulai sadar


"bajunya harus dirobek,gimana boleh nggak" Benny bertanya pada Lio dan Bobby


"lakukan nak" Rizal menjawab nya dan Jovan sudah sampai dia membuka bajunya dan memberikan nya pada Benny


"tolong dia,gua mohon" Jovan menangis melihat istrinya sudah banyak darah ditangan nya


"maaf ya kakak robek bajunya" Benny merobek baju Intan dengan pisau yang diberi Meyza dan menutup nya dengan baju Jovan


Intan melihat wajah Jovan,dia mulai mengingat awal mula perkenalan mereka, Jovan yang selalu merendahkan nya, membandingkan nya dengan Devina


"Intan boleh nggak berakhir disini kak" suara pelan Intan kepada Benni


"nggak boleh" Benni mengangkat badan Intan tapi Intan seperti menolak


"Intan jangan bahayakan nyawa kita berdua,dan ingat jika kamu dititipkan benih dalam rahim kamu,maka 3 nyawa yang kamu pertaruhkan sekarang" Benny mencoba tetap tenang hingga Intan mau ditarik oleh Lio dan Bobby


"tolong tarik helikopter nya pak, Intan sudah selamat" Meyza menelfon Boston dan Boston sangat lega.


Beni juga dibantu bodyguard Lio berhasil naik dengan selamat,Meyza menutupi badan Intan dengan kain seprai dan membawa Intan turun ke bawah

__ADS_1


Jovan tak berani mendekati Intan dia tau kesalahannya,dia hanya terdiam membeku melihat kebodohan nya lagi


Rizal juga turun ke bawah dia tidak mau ribut dulu dengan Jovan, sedangkan Lio, Bobi dan Benny tetap di atas


"Jo" Lio memegang bahu Jovan dia belum tau jelas


"apakah gua akan bercerai dengan Intan" Jovan memandang jauh ke depan


"ucapan lo tadi menyakitkan Jo,gua aja sakit mendengar nya apa lagi Intan" Bobi duduk di lantai atap,dia mulai menarik nafasnya dengan tenang


"cobalah mengalah sedikit Jo,buang ego dan emosi lo,dia masih sangat muda, dimana pantasnya umur segini dia masih menikmati masa muda nya,kuliah,kumpul sama teman sebaya dia" Benny menasehati Jovan


"gua kalut tadi,gua menahan sakit atas ucapan Intan di mall,apa gua nggak ada artinya bagi dia" akhirnya Jovan menangis


"kalau Intan salah nasehati dia Jo" Lio tau kalau Jovan sudah mengalah buat Intan


"yang menjadi pertengkaran kami selalu Devina,kalau gua nasehati dia,dia mikirnya gua masih sayang sama Devina" Jovan mengusap rambutnya dengan kasar


"ucapan apa maksud lo Jo" Bobby belum tau yang dimaksudkan Jovan


Lio dan Bobi tidak bisa menjawab Jovan,mereka merasa malu dan marah karena semuanya berawal dari orang tua mereka


"seandainya Boston dan Miko tidak menyiksa Devina nggak akan gini" Lio menatap Bobi


"gua yang salah" Jovan turun dan meninggalkan Bobi, Lio dan Benny


"gua nggak tau masalah nya apa,tapi tadi gua mau jenguk Intan,nggak tau nya lagi berantem sama lo Bob,gua nggak jadi masuk dong kan nggak enak,gua lihat dia megang kaca saat mau keluar, tadinya gua mau manggil dokter supaya Intan tenang, tapi dia lari ke tangga ya gua naik lift dan nungguin dia di atas, tapi untung dia nggak liat gua sih" Benny menceritakan nya kenapa dia bisa diatas atap juga


"makasih Ben,kalau tadi nggak ada lo,adek gua udah...." Lio menangis mengingat kejadian tadi


"udah lo kayak sama siapa aja" Benny mengusap punggung Lio


"tau darimana Ben, Intan disini kan nggak ada yang kasih tau lo" Bobi menenangkan Lio juga

__ADS_1


"waktu Jovan gendong Intan masuk kedalam tadi, gua mau samperin tapi pasien gua udah nungguin lama" Beni masih terpikir soal Intan tadi


"Lio,maksud Jovan kurang kasih sayang apa? bunda sama ayah sayang banget sama kita semua" Bobi tidak tau sama sekali dengan masa kecil Jovan.


"gua kenal Jovan dia udah jutek gitu,lama gua baru dekat ama dia,dia juga sempat sekolah di Bandung,dia nggak mau tinggal sama bunda, Fani nangis terus Jovan nggak ada, terus Jovan mau pulang kalau gua ikut" Lio menceritakan nya pada Bobi dan Beni


"makanya gua takut dia ngamuk,dia kalau ngamuk gelap mata" Bobi mulai panik


"kita fokus ke Intan dulu,nanti Jovan kita urus kalau udah mulai tenang" Benny turun bersama Bobi dan Lio


Jovan meninggalkan rumah sakit dan melajukan mobilnya entah kemana, Elisa menemani Intan,dia tau kehancuran Jovan dan Intan saat ini


"Intan,ayah akan urus semuanya dan tolong kamu tenang ya" Rizal meyakinkan Intan supaya mau menjaga kesehatan nya


"yah, Intan mau pulang ke Bandung ya, Intan mau di situ aja, sini Intan nggak ada kerjaan" Intan sungguh ingin jauh dari Jovan


"iya nanti kita bicarakan sama Jovan ya nak" Riza mengelus rambut Intan


"nggak ayah, Intan mau naik bus aja" Intan menjawab dengan tenangnya, Meyza menunggu diluar karena tidak mau ikut campur yang bukan ranah nya


Elisa tidak mau berkata apa-apa lagi dia hanya bisa tersenyum menahan luka pada menantu nya


"Intan mas mau bicara berdua" Lio datang dan mendekati Intan


"jangan Lio,bunda mohon" Elisa menatap sendu pada Lio


Bobi dan Benny duduk di sofa bersama Rizal, Bobi memijit tangan Rizal,dia rasa nya ingin bilang kepada ayah nya kalau dia lebih baik mati daripada melihat keluarga William hancur


"Intan akan mendengar semua kalau Intan sudah keluar dari sini,jangan paksakan keadaan mas" Intan membaringkan badannya dan membelakangi mereka semua sambil menangis


Elisa keluar dari kamar Intan,dia menangis dan melewati Meyza,dengan refleks Meyza mengikuti Elisa sampai keluar


Jovan berhenti di tepi pantai,dia duduk di dalam mobil nya memandang hamparan laut

__ADS_1


"kenapa harus begini Intan, seharusnya cinta kita semakin kuat bukan semakin rapuh" Jovan menangisi keadaan nya,dia duduk terdiam semakin dia membayangkan wajah istrinya semakin sesak di dadanya


__ADS_2