Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
rencana lamaran Intan


__ADS_3

"terimakasih nak, ketulusan mu untuk Lio, Fani dan Jovan melebihi ketulusan dari saudara sedarah" Elisa sangat bersyukur anak anaknya dikelilingi orang yang sangat baik


"bunda, terimakasih sudah mendidik Bobi menjadi orang sukses,kalau dulu bunda tidak ada dalam hidup Bobi mungkin Bobi sudah menjadi orang tidak benar" Bobi sangat lemah saat bertemu Elisa


"ya ampun kita drama banget deh malam malam, Fani masuk dulu ya,ngantuk banget" Fani meninggalkan mereka semua dan masuk kedalam kamarnya.


"lo saudara gua,jangan nangis lagi' Lio memeluk erat Bobi karena jika ada yang bertanya dia akan bilang kalau Bobi sepupu nya


"Jovan soal Intan gimana, kapan kamu bisa melamar dia, jangan kelamaan mumpung kita semua disini" Rizal penasaran kelanjutan cinta anaknya


"Intan udah mau yah,setelah ulang tahun nya kita lamar dia langsung ke pak Handoko" Jovan menjawab dengan tegas


"gitu dong sayang" Elisa memegang tangan anaknya


" Lio,kamu gimana kapan mau ayah lamar wanita untukmu nak, kalau bisa kalian 1 pelaminan bertiga aja" Rizal membayangkan jika ke 3 pemuda itu sama sama menikah


"ada target sih yah tapi kita fokus yang udah ada aja dulu" Lio ingin selesai satu satu dulu.


"ok mantap ayah akan tunggu nak" Rizal senang jika dia bisa membahagiakan anak anaknya


"Bob,kamu sudah ada nak, mumpung ayah bunda dan nenek bisa bebas gini sebelum ada cucu" Rizal sudah membayangkan rumah nya ramai akan cucu cucu nya kelak


"rencana mau membidik anak SMK Berjaya besok yah" Bobi ingin mencari daun muda seperti Jovan.


"udah udah kalian tidur ya, Bunda capek banget" Elisa masuk kekamar


"kalian bertiga ikut ayah ke ruang keluarga"Jovan, Lio dan Bobi mengikuti Rizal


mereka berempat sudah berkumpul untuk membahas lamaran Jovan.

__ADS_1


"Jo,kamu akan memberikan apa pada Intan nak sebagai seserahan mu saat melamarnya" Rizal bertanya serius pada Jovan


"hasil keringat Jovan ada 5 apartemen yah di komplek elite Jakarta,ada 2 kapal pesiar,ada jet pribadi dan villa di pulau milik William,dan ada 100 unit rumah yang sedang Jovan kejar untuk di jual yah" Jovan menerangkan semua hasil keringatnya pada ayahnya


"Lio,apa yang telah kamu hasilkan sampai saat ini" Rizal bertanya pada Lio


"Lio sudah membeli helikopter,1 kompleks ruko ada 200 sedang Lio sewakan,50 ha tanah untuk membangun mall,hotel, lapangan golf,dan 1 kapal pesiar yah" Lio juga memberitahukan aset miliknya


"kalau Bobi investasi ke mobil mewah,1 kompleks 250 ruko yang bersebelahan dengan Lio, deposito 10 M uang, tanah kosong 100 ha untuk membuka tempat naik kuda,4 kapal pesiar dan villa di Bali" Bobi juga memberitahukan pada Rizal hasil kerjanya


"Kalian anak anak hebat, meskipun masa muda kalian membuat ayah ingin mengusir kalian keluar dari rumah,kalian sudah siap untuk berumahtangga dengan pondasi kalian yang sangat sudah kuat" Rizal tidak menyangka anak anak ini akan sangat sukses


Lio, Bobi dan Jovan tertawa mengingat cerita Rizal yang mengusir mereka bertiga.


"Jovan berencana memberikan 3 apartemen,1 kapal pesiar,kalau 100 unit rumah laku akan Jovan bagi dua dengan Intan jika saat menikah nanti yah,untuk lamaran Jovan akan memberi 1 mobil Alphard,50 ha kebun teh yang hasilnya langsung pak Handoko yang menerimanya, berlian lengkap,tas,baju sepatu lengkap untuk 1 keluarga pak Handoko" itu lah yang akan diberikan pada Intan jika menerima lamarannya.


"dulu ayah saat menikah dengan Bunda, hanya perusahaan William groups yang ayah pegang semua nya atas nama bunda,dan memang bunda kalian sangat hebat mengolah aset yang ayah berikan,sudah ada 10 boutique,5 salon yang sangat besar di kota ini dan Jakarta" Rizal bangga saat Elisa tidak royal seperti para sosialita


"tapi Jo kalau saran gua, Intan harus bisa seperti bunda dan nenek selalu dirumah untuk mengajari kita buat tugas sekolah, memasak untuk kita dan menunggui kita saat tidur malam" Bobi ingat saat Elisa menjaga dan mendidik mereka.


"iya Jo, Intan kayak bunda kok tidak matre kepada uang,jadi lo yang harus memberi bulanan buat Intan agar dia bisa fokus mengurus anak kalian nanti dan lo juga" Lio tidak mau Intan jadi lupa kewajiban nya jadi istri jika mengejar karier


"gua percaya sama Intan kok dia orang yang gigih dan pekerja keras,gua yakin dia akan menjadi orang hebat" keyakinan Jovan sangat kuat karena melihat Intan yang selalu membantu orang tuanya untuk bekerja.


"Intan tidak boleh putus sekolah,jadi saran ayah kamu menikah saat Intan tamat nanti sekarang kamu lamar dia dulu" kata Rizal pada Jovan


"nggak ayah, Jovan mau secepatnya untuk menikahi Intan,apa langsung nikah aja ayah nggak usah lamaran dulu, resepsi akan kita adakan saat Intan lulus nanti" Jovan takut Intan meninggalkan nya dan berubah pikiran ingin kuliah dan kerja lagi


"woy santai bang, ngejar apa lo,ingat Jo pesan Arlan,dan gua nggak mau adek gua nggak tamat SMA cuma karena nikah" Lio menolak ide Jovan

__ADS_1


"kebelet banget lo" Bobi dan Lio tertawa


"jangan buru-buru nak,kamu harus hargai orangtuanya jangan paksakan keinginan mu saja" Rizal ingin anaknya berpikir matang matang


"Intan tetap sekolah yah,jadi hanya menikah secara agama dan hukum yang datang juga kita kita saja kan,dan resepsi nya nanti saat dia sudah tamat" Jovan tidak mau menunggu lama untuk memiliki Intan


"semua ada ditangan pak Handoko,buk Desi dan Intan juga nak,kita harus menghormati setiap keputusan mereka" Rizal akan melaksanakan kemauan Jovan jika Handoko menyetujuinya


"ok masalah lamarannya kita bahas sampai disini dulu, sekarang ada yang gawat yah" kata Bobi memikirkan kelinci Bunda Elisa


Jovan, Lio dan Rizal menatap penasaran pada Bobi


"apa lagi nak" kata Rizal


"tadi kami mendarat didepan rumah ini yah,jadi kandang kelinci bunda rusak dan kelinci nya hilang semua" Bobi berbisik pada Rizal


"hhhaaaaaaaa, ngapaen mendarat disini,ayah aja takut kelinci itu hilang lah kalian seenaknya mendarat disini dan bunganya juga hancur Jovan Bobi" Rizal berdiri dan melihat dari jendela rumahnya


"sok jago sih lo,habis lah kalian berdua besok" Lio meledek Jovan dan Bobi


"gara gara kamu juga ini semua" Rizal menarik telinga Lio


"sakit ayah, ampun ayah" Lio sangat kesakitan


"gimana kita besok Bob,aduh panjang banget besok deh tu ceramah bunda" Jovan sudah membayangkan pidato Elisa besok


"kita balik ke Jakarta aja kali ya sekarang" Bobi tidak akan kuat mendengar pidato Elisa


"kemanapun lo berdua pergi pasti juga akan dicari Bunda,udah ya gua bobo dulu, selamat malam ganteng, selamat malam ayah" Lio tertawa dan masuk kamarnya

__ADS_1


"sekarang kalian tidur dulu, nanti ayah yang akan bicarakan semuanya pada bunda" Rizal akan membuat Elisa agar tidak marah pada 2 pria tampan itu,dan dia pun meninggalkan Bobi dam Jovan dan masuk ke kamar


"sudah lah sekarang kita tidur aja dulu,besok apapun yang terjadi ya terima saja" Jovan menarik tangan Bobi untuk naik ke atas dan tidur.


__ADS_2