Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Lio mengalah


__ADS_3

"Tika, sekarang dirumah sakit sayang,dia butuh ginjal secepatnya,dan papa Boston sudah mau memberikan ginjal nya pada Tika,tapi mas kita ini nggak mau terima sama sekali" Jovan menarik tangan istrinya agar tidak histeris


"ha, Tika adik Intan sakit separah itu,jadi Tika sedang dalam kondisi sakit, Intan kenapa baru tau Aa,jadi maksud dari mimpi Intan tentang Tika teh ini" Intan membayangkan adik kesayangannya yang sedang di rumah sakit


"om,jadi mama Arfan mau jual ginjalnya sama om ya,kalau nanti ginjal mama Arfan di ambil adek nya om selamat kan, sementara mama dapat uang,dan pasti kondisi mama nggak akan sekuat sekarang,jadi cepat atau lambat kami akan jadi yatim piatu om" Arfan mendekati Lio yang gusar sekali dengan keadaan di depannya


"Arfan,om akan cari yang lain ya,kalian tetaplah bahagia bersama mama kalian" Lio menepuk bahu Arfan dan hendak meninggalkan


"pak, tetap lah ambil ginjal saya untuk adek bapak,dan saya bisa menyekolahkan anak anak say" Rista berlutut di kaki Lio


"nggak usah buk,ini saya punya uang 30 juta,ini buat modal ibu ya buka kantin besok, ibu sekarang ambil semua baju kalian dan akan saya antar langsung, tempat tinggal nya langsung ada di dekat kantin, Bobi menarik tangan Rista agar berdiri


"terimakasih om baik" Auri memeluk kaki Bobi dengan senangnya


"buk, lanjutkan kehidupan kalian dengan uang yang di tangan ibu sekarang,dan maaf buk saya akan cari yang lain, saya pamit buk" Lio berjalan cepat meninggalkan mereka semua dan masuk kedalam mobil dengan Pokas yang sudah memukuli 5 orang preman preman sampai babak belur dan pingsan,sambil menunggu polisi datang Pokas sudah mengikat nya


Rista akhirnya mau mengikuti saran Bobi,dan mereka pun menuju perusahaan Bobi untuk melihat tempatnya dan langsung tinggal di situ malam ini


sementara Intan dan Jovan menuju rumah sakit, Jovan menceritakan pada Intan tentang dia yang ke Bandung tadi pagi,dan juga Lio yang masih dendam atas perlakuan Boston pada mama Dean


"Aa,wajar mas Lio masih menyimpan dendam,karena om Boston sangat kasar pada alm mama Dean,dan itu semua terjadi di depan matanya sendiri" Intan merinding mendengar kekerasan Boston pada Lio dan Dean.


"tapi setidaknya papa Boston sudah ada niat baik untuk minta maaf,dan dia ikhlaskan ginjal nya untuk menebus semua kesalahan nya sayang,hotel dan mobil ini semua punya papa Boston" Jovan mengusap lembut rambut Intan


"Intan bersyukur Aa, menikah dengan Pria yang Intan cintai, setiap kerikil rumah tangga pasti ada Aa, tapi Intan terlalu cemburu, ya wajarlah Jovan Wiliam gantengnya kelewatan batas" Intan tersenyum manis sekali sambil melihat suaminya


"sayang, kamu tu bikin jantung Aa berdetak kencang ni,sini kamu" Jovan menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menarik leher istrinya, Intan mencium bibir Jovan dan meletakan tangannya di pinggang Jovan, tangan nakal Jovan sudah bermain di dada istrinya dan itu membuat Intan melayang jauh


"aku milikmu Jovan" Intan melepas ciumannya dan Jovan menggigit dada istrinya dengan gemasnya,dan mengisap leher Intan sampai Intan mendesah pelan,dan Jovan melepas nya


"aduh dekat sama kamu tu,buat Aa jadi maniak se*,pengen terus sayang" Jovan kembali menjalankan mobilnya dan Intan merapikan bajunya


"aku ikhlas sayang" kata Intan dalam hatinya


"aduh Intan sayang, pengen Aa balik ke hotel lagi, untuk mendengar desahan mu,yang bikin Aa kayak serigala liar" Jovan melanjutkan perjalanan nya agar cepat sampai kerumah sakit


di rumah sakit


Boston akhirnya bertemu dengan Rizal dan Handoko, Bobi menyuruh Tomi masuk dulu supaya tidak mendengar apabila ada adu debat


"Boston Kinder, setelah lama kamu baru muncul sekarang,apa kamu sehat sehat saja" Rizal tersenyum pada Boston,dan mereka berpelukan di depan kamar Tika


"kalian teh saling kenal" tanya Handoko bingung


"dia kan papa nya Lio,saya tidak pernah ada dendam apapun kepada Boston,jadi kenapa saya harus ikut ikutan membencinya" Rizal tertawa senang melihat Boston yang sudah mau menemui anaknya


"wah, emang ayahnya Bobi juara, panutan sekali" Bobi memeluk Rizal dan Boston


"ini semua hasil didikan mu Rizal, Jovan sangat sopan kepada ku, dan ini Bobi dia begitu Wellcome kepada ku, bahkan Tomi anak mu Handoko sangat sangat bisa menghargai orang tua" Boston mengusap rambut Bobi


Jovan dan Intan baru sampai di rumah sakit, Intan segera berlari memeluk Handoko


"bapak, Intan rindu sekali atuh" Intan memeluk erat Handoko


"kamu teh tangan nya kenapa luka luka gini" Handoko melihat banyak luka ditangan Intan


"itu pak,kemarin Intan jatuh dari sepeda" jawab Intan asalan


"kamu darimana saja nak,ibu rindu pisan" Desi memeluk erat Intan


"lihat semua luka ini, kamu ngapain bisa seperti ini" Desi sangat mencemaskan Intan


"kamu teh,udah tau nggak bisa naik sepeda kenapa malah nekat pisan atuh" Desi menangis melihat luka anaknya


Jovan tertunduk sangat malu, isterinya menutupi kesalahannya di depan orangtuanya


Boston merangkul bahu Jovan,dia tau kebohongan Intan untuk menyelamatkan nya


"Jovan malu pa" Jovan berbisik pada Boston


"mana Tika" Intan menyudahi masalah luka tangannya,dia pun masuk kedalam bersama Desi dan Handoko


Rizal, Boston, Bobi dan Jovan memilih bicara di luar untuk membahas pendonor ginjal Tika

__ADS_1


"Kalau tadi kita nggak ketemu tu anak anak,yakin gua udah diambil ginjalnya buk Rista, Lio kenapa jadi egois gitu sih" Bobi benar benar kesal sekali


"heran gua, buat adiknya aja udah gini" Jovan juga menimpali kata kata Bobi


"mungkin semua yang ada pada diri papa adalah dosa bagi dia nak, kalian jangan membebani Lio lagi" Boston sangat tau kebencian Lio padanya


"nanti ayah bujuk dia" Rizal sebenarnya sudah tau dari Arlan tapi dia tetap tenang untuk menjaga kondisi supaya tetap tenang


tak berapa lama Lio datang dan langsung masuk ke kamar Tika


"mas, Tika operasi besok kan" tanya Tomi pada Lio yang baru datang


"belum dapat dek" jawab Lio sambil duduk di samping Tika


"kan ada papa Boston mas,sudah dijelaskan tadi sama mas Arlan" Tomi masih meminta penjelasan Lio


"jangan egois mas, Tika butuh secepatnya, dan jangan korbankan orang lain lagi demi sikap egois nya mas" Intan masih kesal dengan Lio


"bicara apa kamu Intan,sopan sama mas" Lio mulai emosi karena merasa terpojok


"jangan paksa mas Lio sayang" Elisa memeluk Intan dan mencium keningnya,dan memandang wajah Lio yang menahan emosi


sementara Meyza sedang bertemu dengan Rizal, Boston, Jovan dan Bobi di luar rumah sakit


"selamat sore bapak bapak semua" sapa Meyza ramah


"Meyza, kamu dan Intan tadi menonton drama Korea kenapa seperti disekap orang" Boston tersenyum pada Meyza


"jarang-jarang pak bisa ada waktu luang" jawab Meyza polos


"ya udah Meyza,kamu nikah sama Lio biar banyak waktu luang,gimana Boston setuju nggak" Rizal merangkul Bobi dan Jovan dengan senyumnya


"jangan pak,saya belum mau menikah" Meyza menolak halus dan melihat Boston


"udah nanti juga mau, tenang saja Rizal" Boston tertawa dan mengusap lembut rambut Meyza


"saya mau bicara" Lio tiba tiba datang di hadapan Boston di ikuti Tomi


"Lio" tegur Rizal


"sama anda" tunjuk Lio pada Boston,dan Meyza sangat terkejut


"kamu teh sopan atuh,main tunjuk tunjuk sama papa Boston" Tomi menurunkan tangan Lio


"Tomi,jangan ikut campur dulu mas mohon" Lio merasa sendirian sekarang


"Mau bicara dimana" Boston menenangkan Tomi yang emosi


"gini aja, kalau anda mendonorkan ginjal untuk Tika silahkan, tapi ada syaratnya tolong menghilang dari hadapan kami selesai operasi" Lio menatap mata Boston dengan dendam nya


"saya juga ada syarat buat anda" Boston juga mulai emosi dengan Lio


"pa, jangan dilawan,sana sana Lio" Bobi mendekati Boston dan mengusir Lio


"kenapa lo semua musuhin gua,gua gini juga karena dia,gua butuh kalian tapi kalian malah mojokin gua" Lio menatap satu persatu mata orang yang disayang nya


"tapi kamu terlalu emosi nak" Rizal menenangkan Lio


"syaratnya apa pa, kenapa harus ada syarat sekarang" Jovan bingung dengan ucapan Boston


"sebutin syarat lo, memang tidak pernah ada ketulusan dari hati lo buat kami 2 anak lo" Lio akhirnya mengakui dirinya anak Boston


"jadi saya mau mendonorkan ginjal saya,kamu tolak mentah-mentah sekarang saya berikan syarat kamu bilang saya tidak ada ketulusan,mau kamu apa sebenarnya" Boston mendekati Lio dan menatap nya tajam


"gua mau lo menghilang dari kami semua,jangan dekati mereka semua,lihat kan semua membela lo" Lio menarik baju Boston dengan kasarnya


"kamu teh kalau mau jago sama saya sini, jangan sama orangtua" Tomi mendorong tubuh Lio jauh dan Jovan menahan nya


"Tomi, ini urusan mas,kamu jangan ikut campur dek" Lio mendekati Tomi yang emosi


"sebelum kamu teh datang dalam hidup kami nggak ada masalah sebesar ini, karena kamu kaya raya ha,jadi suka suka hati kamu kepada orang susah,asal kamu tau saja ya, seandainya pun kamu tidak masuk kedalam hidup kami,saya sendiri yang akan cari pak Boston bila perlu saya berlutut di kaki nya untuk menolong Tika,ini sudah datang baik baik mau nolong malah sok jago" Tomi berbicara emosi pada Lio,dan itu membuat Lio menitikkan air matanya


"Tomi, apapun yang terjadi,papa akan menolong Tika nak,kamu jangan ngamuk lagi ya,kasihan mas Lio nak" Boston menangis memeluk Tomi yang sangat marah

__ADS_1


"orangtuanya datang baik baik malah bicara lo, anda, kamu teh sebenarnya jadi pengusaha udah kehilangan etika kamu ya" Tomi masih menumpahkan emosinya


"Tomi,jangan bicara gitu sama mas" Lio menarik tangan Tomi dari pelukan Boston tapi Tomi menghempaskan tangan Lio


"kamu mau tidak Tika terima donor ginjal dari pak Boston,dan tidak ada syarat syaratnya, Tika adik saya,saya yang berhak memutuskan Tika boleh apa tidak ketemu sama pak Boston,dan jawabannya pasti boleh,tapi kalau kamu terserah saya nggak ada urusan sama kamu" Tomi memasang muka marahnya


"Lio takut sama Tomi ayah" bisik Bobi pada Rizal


"iya,dia tidak berani melawan" jawab Rizal pada Bobi


"iya dek,mas tidak akan lagi menolak bantuan nya,kamu jangan marah sama mas ya" Lio menarik tangan Tomi dan memeluk nya


"maaf mas, Tomi nggak mau kehilangan Tika" Tomi menangis dipelukan Lio


Meyza melihat Boston sudah pucat dan mendudukkannya di kursi taman dan mengeluarkan obat dan air minumnya dari dalam tasnya


"pak,minum dulu" Meyza memberikan nya pada Boston dan memberikan obatnya


Lio diam diam melihat Boston, Tomi langsung duduk di samping Boston dan memijit tangan Boston


"obat apa itu Meyza" tanya Rizal penasaran


"kalau pak Boston menahan amarahnya dia akan mengalami sakit kepala pak" Meyza masih mencemaskan Boston dan melihat benci kearah Lio


Jovan dan Bobi membawa Boston kedalam rumah sakit, Meyza mengikuti nya dari belakang


"Tomi,ayah tau nak kamu sayang sama Tika, tapi mas Lio juga masih trauma dengan masa kecilnya,kamu jangan marahi mas Lio lagi ya,lihat kan mas Lio jadi sedih seperti ini" Rizal mendudukkan Tomi di samping Lio


"Lio,jika kamu masih dalam emosi kamu, Tika meninggalkan kita semua,kamu mau ganti pakai apa si Tika,kamu akan menjawab apa pada kami semua" Rizal menasehati Lio supaya mau berpikir luas


"nggak yah, Tika harus hidup, Lio baru ketemu Tika" Lio membayangkan adik nya akan pergi


"mungkin air mata kamu akan cepat kering nak jika semua terjadi,kamu akan sibuk kerja dan cepat akan melupakan semuanya, tapi bagi keluarga bapak Handoko itu akan menjadi luka seumur hidupnya" Rizal menasihati Lio sambil mengusap rambut anak angkatnya


"mas, Tomi nggak bisa jadi orang munafik, tapi kalau Tika pergi hanya karena keegoisan mas, maaf Tomi akan mengejar mas Lio sampai kemanapun dan jangan pernah hubungi kami,apalagi teteh Intan" Tomi meninggalkan Lio dan Rizal


"lihat Lio, Bobi, Jovan dan kamu lebih mengerikan anak tampan itu jika marah" Rizal tersenyum melihat Tomi yang berani pada Lio


"dia lebih menyeramkan daripada kakek Polan" Lio tertawa melihat adik tampan nya marah


"hati hati nak,dia bisa menjadi lawan terbesar mu jika kamu salah langkah kali ini" Rizal berbicara serius pada Lio


"Lio sudah ikhlas ayah,jika memang Tika harus mendapatkan ginjal orangtuanya"


Lio dan Rizal mencari cafe terdekat untuk mengisi perut mereka yang lapar,


Arlan segera memeriksa Boston, setelah selesai dengan pekerjaannya


"om, jangan sampai drop, demi Tika om" Arlan menyemangati Boston


"pasti dokter tampan" Boston tersenyum pada Arlan


"cantik anaknya om" goda Arlan pada Boston yang melihat Meyza


"oh ini nama nya Meyza, calon menantu om" Boston sudah yakin Meyza akan lunak pada Lio


"nggak mau pak,saya sudah punya pacar,dia polisi juga" Meyza menjawab dengan kesal


"yakin buk polwan" tanya Bobi penasaran


"iya pak Bobi" jawab Meyza


"aduh sayang nya, padahal Lio baru putus sama pacarnya yang pramugari demi kamu Meyza" Jovan berbohong pada Meyza dan Bobi pun paham


"iya, malah tu pramugari diputusin sama Lio pas lagi pesawat dalam keadaan terbang tinggi" Bobi bekerja sama dengan Jovan


"iya gua ingat pramugari nya malah ancam mau lompat dari pesawat" kata Arlan lagi ikut ikutan


"dia udah membuka pintu pesawat Ar,dia bilang ke gua tenang saja Bob gua pakai mode pesawat jadi gua bisa terbang" Bobi melihat Boston tertawa


"trus kita suruh lompat,dia bilang nggak jadi anginnya kencang,nanti salah mendarat" kata Jovan lagi


"lagian mah kalau cuma Lio yang mau dipertaruhkan segitunya, mendingan dia berobat ke Dokter saraf" Meyza tidak terpancing dengan kelucuan yang dibuat Jovan, Bobi dan Arlan

__ADS_1


__ADS_2