Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Elisa jangan egois


__ADS_3

Bobi dan Lio menunggui Intan di kamar


"dek,kamu harus banyak makan,biar ponakan mas Lio sehat" Lio duduk di samping Intan


"mas Bobi,mana telur bebek nya" Intan lemas karena muntah terus


"iya nanti mas cari,sabar ya,mas ada meeting pagi ini,benar benar penting dek" Bobi memberikan kelingkingnya tanda perjanjian mereka


sementara di ruang keluarga, Rizal, Elisa dan Vivian sedang menikmati secangkir teh


"Lio dan Bobi harus cepat menikah yah, bunda mau rumah ini ramai dengan cucu cucu kita yah" Elisa sangat senang sekali tak sabar menunggu kelahiran cucu nya


"ahahhahah, Bunda jangan paksakan mereka,ayah takut mereka salah pilih" Rizal tidak akan memaksakan kehendak nya karena bagaimana pun Bobi dan Lio punya hak untuk memilih pasangan hidup mereka


"mama senang sekali Elisa, mama akan punya cicit,beri tahu pak Polan dan Handoko" Vivian merasa hidupnya sudah lengkap sekarang


"iya ma, nanti Elisa kasih tau ya" Elisa memeluk Vivian karena dia akhirnya mengerti kasih sayang Vivian pada anak anak nya


Jovan masuk kedalam rumah dan bergabung bersama orang tuanya


"Jovan,kamu akan jadi orangtua nak, nenek bahagia sekali nak" Vivian menangis senang dan Jovan berlutut di bawah kaki nya


"nek,kita akan sama sama membesarkan anak Jovan ya" Jovan membersihkan air mata Vivian


tak lama Tomi dan Fani datang untuk pamit setelah mereka sarapan pagi


"hai semuanya kami pergi dulu ke sekolahnya" Fani mencium orang tua nya dan nenek nya


"saya teh pamit ke sekolah dulu pak, buk,nek" Tomi menyalam tangan mereka


"kalian berdua searah ya" Jovan heran kenapa bisa Fani dan Tomi pergi berdua


"satu sekolah mas,karena peserta olimpiade berkumpul di sekolah mbak Fani" Tomi memeriksa tas nya dan melihat perlengkapan nya dulu


"Tom,sini nak, ini uang jajan kamu" Rizal mengeluarkan uang 100 ribu dan memberikan nya pada Tomi.


"maaf Ayah,uang jajan Tomi baru dikasih mas Bobi 50 ribu,ini sudah cukup atuh yah" Tomi menolak uang Rizal dengan sopan nya


"ya udah,ini untuk 10 hari ke depan,kamu tolak akan ayah tambah lagi" Rizal mengeluarkan uang 500 ribu, Tomi masih menolak nya dan langsung lari menarik tangan Fani untuk keluar rumah


"kami pergi ayah" suara Tomi dan Fani dari luar pintu


"bagaimana cara Handoko mendidik anak anaknya ya, semua sangat baik dan tidak nakal" Vivian tersenyum melihat Tomi yang terus-menerus menolak uang Rizal tadi


"mbak Desi dan mas Handoko itu sangat pandai mendidik anak anaknya,saat Lio kurang ajar sama Boston, Tomi ingin menghajar Lio,dan mama tau Lio sangat takut pada Tomi" Rizal menceritakan bagaimana Lio dan Boston akhirnya berdamai


"sekarang tinggal Bobi yah,yang harus di dekatkan dengan om Miko papa nya Bobi" Jovan mau Bobi juga bisa kompak dengan Miko sepeti Lio dan Boston


"jangan paksa Bobi,nanti dia juga keluar dari rumah ini" Elisa hampir menangis jika Bobi pergi juga


"maksud nya apa Elisa" Vivian melihat wajah murung Elisa


"sejak Lio bersama pak Boston, Lio nggak pernah hubungi Elisa, dia datang ke sini kalau Elisa yang Telfon, biasanya Lio kesini tiap malam walaupun dia sibuk sekali" Elisa menangis seakan tidak terima Lio mulai menjauh darinya

__ADS_1


"bunda, papa Boston kan sudah lama terpisah dari Lio dan Tika,wajar bunda kalau Lio rindu sama papa Boston, kita tidak boleh egois bunda" Jovan memeluk Elisa, sebenarnya dia juga merasa bersalah sudah pindah dari rumah Rizal


Rizal terdiam mendengar perkataan Elisa,dia berpikir kenapa Elisa jadi egois sekali, bagaimanapun Boston punya hak penuh atas Lio


"Elisa,jangan egois nak" Vivian meninggalkan mereka dan pergi ke kamarnya


"kalau Lio sekarang memang tidak punya mama lagi, tapi dia punya papa jadi Lio pasti akan tetap anggap bunda ini sebagai bundanya,tapi Bobi masih punya orangtua yang lengkap,pasti dia akan melupakan bunda,kamu, Fani, Bobi dan Lio anak bunda,kalian nggak boleh pergi dari bunda" Elisa menangis meninggal Rizal dan Jovan


"apa apaan kamu Elisa" Rizal mengusap wajahnya dan menyandarkan badannya di sofa


"yah,jangan emosi" Jovan berdiri dan meninggalkan Rizal


Lio dan Bobi yang sedang menemani Intan tidak tau permasalahan yang dihadapi Elisa, Jovan masuk kedalam kamar Intan


"shhhuuutttt, Intan lagi tidur" Lio yang sedang main PS dengan Bobi mengisyaratkan agar Jovan tidak ribut


"woy, nggak kerja lo pada" Jovan mengambil bantal dan merebahkan badan nya di atas karpet


"nggak,adek gua lagi hamil" Lio menjawab dengan santai sambil fokus dengan game nya


"lo Bob" tanya Jovan


"mau cari telur bebek" Bobi juga hanya fokus pada layar Tv


"kalian berdua kerja sana, gua aja yang jaga Intan, atau gaji lo berdua gua potong" Jovan mengancam Lio dan Bobi


"hahahahhahah,tidak" jawab Lio dan Bobi serempak


Jovan tertawa melihat Lio dan Bobi yang ternyata sudah sangat lama menemani nya dari SMA sampai sekarang


"oy" jawab Bobi


"lo mau nggak, kompak dengan Miko seperti papa Boston dengan Lio" tanya Jovan


"nggak" Bobi melihat kesal pada Jovan


"Napa nanya gitu lo" tanya Lio


"memberikan kesempatan kedua tidak salah Lio, lihat sekarang lo sudah berbaikan dengan papa Boston, damaikan rasanya,jadi apa salahnya Bob kalau lo mencoba nya juga" Jovan menatap Lio dan Bobi.


"andaikan lo tau Jovan, gua udah datangi papa gua, bukan perlakuan baik yang gua dapat dia hanya mau perusahaan William,dia tidak peduli dengan gua, mungkin lo kira papa gua sebaik papa Boston, tapi lo salah,dia hanya mau harta,dan jika gua mendatanginya lagi,gua takut kita semua akan diganggu oleh dia" kata Bobi dalam hatinya, Bobi menekan tombol stick yang dipegang nya dengan sangat keras, Lio melihat Bobi seperti menyimpan amarah


"jangan bahas om Miko lagi Jo" Lio menatap Jovan dan Jovan melihat muka merah Bobi


"sudahlah Bob, gua nggak akan ungkit lagi,maaf gua buat lo kesal" Jovan melangkah kan kakinya ke kamar mandi dan membersihkan badannya untuk ke kantor


tak lama Jovan keluar dari kamar mandi dan susah sangat rapi sekali,


"Jo,tender yang sama Oliv tolong lo handle ya" Bobi menikmati jus mangga yang dibawa Ninuk barusan


"kerja"! Jovan mematikan PS dan mendorong Bobi dan Lio untuk keluar dari kamarnya


Lio dan Bobi masih bertahan di kamar Jovan,tidak mau keluar

__ADS_1


"adek gua lagi hamil woy,nggak akan gua tinggalin" Lio dan Bobi bergelut dengan Jovan dan mereka tertawa seperti anak TK sedang rebutan mainan


Elisa yang baru keluar dari kamar nya melihat Lio, Bobi dan Jovan yang bercanda,dia sangat senang melihat mereka bertiga selalu bisa membuat suasana rumah ramai, Bobi berlari ke arah Elisa dan bersembunyi di belakang nya karena baju Jovan sudah kusut oleh nya


"tolong bunda,tolong" Bobi mengintip Jovan dari belakang badan Elisa, sedangkan Elisa membalikan badannya dan melihat Bobi dengan sangat sedih


"apakah kamu juga akan meninggalkan bunda" Elisa menitikkan air matanya dan Bobi pun terdiam


"nggak bunda, Bobi belum mau menikah" Bobi mengira kesedihan Elisa karena dia akan meninggalkan nya kelak jika menikah, sedangkan Lio dan Jovan sudah berhenti karena melihat Elisa dan Bobi bicara berdua


"bukan begitu nak,kalau kamu nanti berbaikan dengan papa dan mama kamu,kamu juga akan pergi dari sini,seperti Lio yang tidak pernah ke rumah ini lagi karena dia sudah berbaikan dengan pak Boston" Elisa mengatakan nya dengan luapan kesedihan nya


"bunda, kenapa berpikiran seperti itu, Bobi tidak akan kemana-mana bunda, lihatkan Bobi datang setiap hari untuk makan disini, Bobi nggak bisa makan kalau nggak bunda yang masak" Bobi membersihkan air mata Elisa, Lio menatap Jovan dan melihat Elisa lagi


"apa yang gua lakukan, setiap hari gua sibuk dengan papa,ternyata bunda merindukan gua" Lio merasa bersalah pada Elisa


"lo berhak membuat papa Boston bahagia, bunda hanya belum terbiasa Lio" Jovan menutup pintu kamar nya agar Intan tidak bangun


"kalian akan pergi,lihat Jovan dan Intan pergi ke rumahnya, Lio juga pergi dengan pak Boston,kamu sebentar lagi juga akan meninggalkan bunda" Elisa akhirnya menangis dan Bobi memeluknya dan menangis juga


"bunda, pernah dulu saat Bobi sudah bisa beli rumah dan mobil mendatangi mama berharap semua uang yang Bobi punya bisa membuat mama sayang pada Bobi,tapi Bobi malah disiram karena suami baru mama tidak suka dengan Bobi,mama lebih sayang keluarga barunya bunda,dan satu hal yang buat Bobi bisa melupakan mama adalah bunda,bunda datang dengan berjuta-juta kasih sayang, akhirnya Bobi bisa bangkit bunda, bunda tau jika suatu saat ada bahaya yang menghampiri kita berdua Bobi yang akan di depan melindungi bunda,nyawa Bobi yang bisa mengungkapkan bagaimana besarnya kasih sayang Bobi untuk bunda,bunda yang Bobi takutkan jika nanti Bunda akan mengusir Bobi keluar dari rumah ini" Bobi menangis di pelukan Elisa


"Bobi,kamu tau nak,bunda sayang kalian semua, jika kamu dan Lio tidak ada mungkin Jovan akan menjadi anak badung, Fani tidak akan sebahagia ini dijaga oleh kamu dan Lio,saat Jovan sibuk keluar kota, Bobi 2 hal yang bunda takutkan dulu saat kamu dan Lio dewasa,kalian pasti akan mencari orangtua kalian,dan yang kedua kalian akan menikah dan punya keluarga sendiri,bunda dan ayah akan kesepian" Elisa mengusap rambut Bobi


Lio dan Jovan mendekati Elisa, sedangkan Rizal sudah berangkat ke kantor untuk mengambil alih perusahaan sementara waktu


sampai Jovan bisa datang ke kantor


"bunda" Lio memanggil Elisa,dan Bobi melepaskan pelukannya


"ya nak,kamu mau makan,kamu lapar" Elisa membersihkan air matanya dan hendak pergi ke dapur


"bunda, Lio minta maaf, harusnya Lio tidak seperti ini, maafkan Lio Bunda, Lio ada di dekat papa karena papa tidak boleh letih seperti pesan Arlan bunda, papa mengolah semua pekerjaan nya sendiri,jadi Lio takut papa sakit jadi Lio membantunya bunda" Lio tau Elisa bukan orang yang cengeng, tapi jika dia menangis seperti ini berarti luka hati nya sudah sangat dalam


"bunda,jangan nangis gini ya, nanti Intan lihat bunda,dia bisa kepikiran,bunda mau lihat cucu bunda kan" Jovan mendekati Elisa


"iya bunda lupa,cucu bunda, udahlah Bunda hanya cengeng aja Jo, kalian makan ya bunda siapkan makanan" Elisa pergi meninggalkan mereka bertiga


Lio merasa sedih, Elisa tidak menjawab nya, Bobi dan Jovan membawa Lio ke ruang kerja merekapun


"maafkan Bunda Lio" Jovan tau Lio sakit hati


"emang bunda salah apa" Lio tersenyum mengobati luka di hatinya


"kenapa bunda berpikiran gua akan pergi,gua akan tetap di sini,gua nggak peduli jika mama dan papa gua datang" Bobi memejamkan matanya memikirkan perkataan Elisa


"Bob, surga ada di telapak kaki mama lo" Jovan tidak mau Bobi jadi membenci orangtuanya


"mama gua ya bunda Elisa" Bobi memijat keningnya


"Bob,telur bebek jangan lupa" Lio mengingatkan Bobi,


"tunggu Tomi pulang dulu lah ya,biar dia bisa lihat kuda sekalian" Bobi mengambil hp nya dan menelfon penjaga kuda nya untuk mempersiapkan kudanya buat Tomi

__ADS_1


"Jo,anak lo cewek apa cowok ya" Lio bersemangat menanyakan nya pada Jovan


"masih kecil Lio, nanti kita lihat nya saat dia lahir" Jovan tersenyum dengan pertanyaan Lio


__ADS_2