Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Fany dan Beni


__ADS_3

"baru di pegang ginian aja dah ciut Lo Ben, gimana nanti lo hadapi si Fani yang cerewetnya overdosis" Lio menggoyangkan samurai nya


"iya padahal benda tajam yang kita pegang ini untuk membabat rumput di samping garasi untuk buat taman" Bobi menyenggol Jovan agar maju


Beni yang sudah di dalam mobil akhirnya keluar dan membawa semua makanan ny lagi


"mas, selamat malam" Beni bicara sangat ramah mungkin agar Jovan, Lio dam Bobi mau melunakkan hatinya


"Ben" Jovan mengangkat cangkulnya dan Beni semakin takut


"wah,mau pada kemana mas bawa ginian" Beni tersenyum getir


"ini Ben" Bobi mengasah goloknya


"iya" Beni gemetaran sekali sampai tangannya dingin


"ada yang mau dekatin adek gua" Lio melihat samurai nya,ada rasa lega di hati Beni karena


ternyata mereka bertiga sangat sayang pada Fani


"wah,masih ada goloknya mas, biar gua bantuin,atau mas Bobi bawa dulu ini ke rumah mas, biar gua bantuin jaga di depan" Beni meletakan makanannya di bawah


"wah, banyak makanan ni" Jovan mengayunkan cangkulnya


"iya mas,yang ini ada makanan buat Intan isinya makanan sehat semua mas,nah ini ada makanan lagi buat nenek,dan buat semua yang ada di rumah ini" Beni tersenyum pada Jovan


"gimana boleh masuk" tanya Lio pada Bobi.


"ok lo lolos tahap 1, masuk" Bobi memberikan izin pada Beni, Beni tersenyum dan membawa semua makanan yang dibawanya dan Ninuk pun menyusun nya di meja makan


"ayah" panggil Lio


"kenapa nak" Rizal keluar dari kamar dengan pistol di tangannya


"mas" Beni sangat ketakutan melihat Rizal yang memegang pistol,dia menarik tangan Lio


"panggil semua ke meja makan,kamu duduk di situ" Rizal membawa pistolnya ke meja makan dan Beni pun langsung duduk, Lio dan menemani Beni yang ketakutan, Jovan ke kamarnya untuk memanggil Intan


Elisa, Fani dan Tomi yang sedang bermain Ludo menyudahi permainan nya, merekapun bergabung dengan Rizal di meja makan


"sayang,kita makan ya" Jovan menggendong Intan karena tidak mau istrinya berjalan.


"Aa, Intan bisa jalan sendiri, Intan malu" Intan menyembunyikan wajahnya di dada Jovan


Jovan tidak memperdulikan kata-kata Intan,dia mendudukkan Intan di kursi meja makan


"kak Beni di sini, Intan sehat kan kak kenapa malam malam kesini" Intan tersenyum melihat Beni

__ADS_1


"ini tadi mau main aja" Beni semakin takut saat Rizal memegang pistol dan mengarahkan nya pada Beni,wajah takut Bobi sudah tidak bisa ditutupi lagi


"dor" suara pistol itu menghidupkan lilin kecil di hadapan Beni dan Beni sangat lega


"hahahahah,om nggak pembunuh nak, kenapa kamu pucat sekali" Rizal dan 3 pria usil itu tertawa dengan girang sekali


Beni yang akhirnya berani mengangkat kepalanya melihat Rizal, Elisa dan Vivian sedangkan Fani sibuk dengan hp nya


"mari kita makan dulu, nanti kita bicara lebih jauh" Rizal mengakhiri sikap usil nya dan ke-tiga anak nya, setelah makan berlangsung tidak ada pembicaraan di meja makan,dan setelah makan semua berkumpul di ruang keluarga


"Intan, kenapa nggak muntah ya kak" Intan biasanya akan muntah muntah hanya karena sedikit makanan yang masuk ke mulutnya


"iya ya, kenapa bisa gitu Ben" Jovan yang sedang memberikan obat Intan bertanya pada Beni yang sedang berbicara dengan Vivian


"berarti Intan harus banyak makan sayur,kan tadi menu makanan ibu hamil yang kak bawakan banyak sayur dan ikan di dalam nya,jadi kemungkinan besar janin yang ada di rahim kamu suka sayur dan ikan" Beni menerangkan pada Intan


"ok,jadi besok Ninuk beli sayur yang banyak di pasar,ikan juga harus yang segar dan daging juga, Nuk kamu dengarkan" Lio membuat pesanan bahan makanan untuk di makan Intan


"iya mas" Ninuk yang sedang membuatkan teh melati menyahuti Lio


"kamu kesini mau ngapain nak" Vivian memulai pembicaraan dengan Beni


"ini nek, Beni mau kenalan dengan Fani kalau di izinkan" Beni menjawab Vivian dengan lembut


Fani yang mendengar Beni ingin kenalan tiba-tiba bersembunyi di belakang Bobi


"yang bilang kamu mau nikah siapa dek" Bobi membalas bisikan Bobi


"Fani, maaf saya tidak bermaksud jahat sama kamu,mana saya berani,tadi saja saya sudah di sambut dengan golok, samurai dan cangkul" Beni tertawa mengingat tadi sambutan 3 pria usil yang tak lain juga teman nya


"sampai di dalam rumah ayah sambut dengan pistol api" Rizal yang sedang di samping Tomi tertawa dan Tomi pun ikut tertawa


"jadi teh mas Bobi menajamkan itu semua teh untuk menyambut mas Beni,ele ele seram pisan euy" Tomi menggelengkan kepalanya


"iya Tom,ini belum seberapa Tom" Jovan yang sedang membelai rambut istri nya tertawa jika mengingat banyak laki laki yang langsung kabur


"dan cuma Beni yang berhasil masuk ke sini untuk berkenalan dengan Fani" Lio melipat tangannya di dada merasa bangga sekali


"Fani,duduk di samping bunda nak" Elisa memanggil Fani dan memeluknya


"maaf dokter, Fani nggak kepikiran pacaran sekarang, Fani masih mau sekolah dan kuliah" Fani berbicara pada Beni


"nggak, alasan kamu banyak dek, udah Beni langsung lu lamar aja sekarang, besok bawa orang tua lo,dan besoknya lagi bawa penghulu" Jovan takut Fani mengulang kesalahan yang sama lagi


"Jovan" suara Vivian yang sangat marah membuat semua diam


"apa kamu mau adik kamu menikah tanpa ada gelar dan pekerjaan untuk masa depannya, bunda kamu S2 dan punya butik yang sangat terkenal, nenek S1 keperawatan dan sudah mendirikan 3 rumah sakit,dan kamu mau adik kamu hanya berharap pada suaminya" Viviano tidak terima jika Fani terus di pojokan

__ADS_1


"berarti cuma Intan yang tamat SMA dan tidak berguna di sini" Intan yang sangat-sangat tersinggung memilih masuk ke kamarnya


"Intan mau istirahat dulu ya, Tom bisa antarkan teteh" Intan berdiri dan Tomi memapah Intan ke kamar nya


"Nenek, maaf jadi emosi gini, Beni cuma mau berkenalan sebagai teman atau sebagai ketiga mas nya Fani ini" Beni merasa tidak enak dengan Jovan


"Fani, temanin Beni bicara dekat kolam berenang" Rizal melihat situasi sudah agak memanas


"ayo mas" Fani jalan duluan dan Beni mengikuti nya dari belakang


Bobi, Lio dan Jovan duduk dihadapan Vivian


"nek,maaf Intan yang tidak bekerja di sini dan dia tamatan SMK,dia tidak memiliki tittle pendidikan yang tinggi seperti nenek dan bunda" Lio tau tadi Intan merasa tersinggung sekali


"astaga, nenek tidak tau sama sekali, nenek udah menyinggung perasaan cucu nenek" Vivian merasa bersalah sekali pada Intan


"mama harusnya tadi bicara lihat dulu ma,kan sekarang Intan lagi hamil, pasti sensitif sekali ma" Rizal mengamati CCTV di TV ruang keluarga nya dan Beni tidak mau duduk dekat dengan Fani karena bagi dia untuk mendapatkan Fani tidak perlu cara murahan


"Intan" Vivian berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar Intan


"Tom, kamu teh harus kuliah yang tinggi,jangan cuma tamat SMA ya" Intan mengusap rambut Tomi sambil menahan air matanya


"teteh, nenek nggak maksud seperti itu, jangan marah sama nenek atuh" Tomi menggenggam tangan Intan


"kamu ini, bagaimana mungkin atuh teteh bisa marah sama nenek Vivian" Intan menutupi kesedihannya dengan tawanya, Elisa dan Vivian yang mendengar nya dari luarr lega sekali dan meninggalkan kamar Intan untuk beristirahat


"kayaknya Beni bisa menjadi panutan untuk Fani,dia seorang dokter yang sukses juga" Rizal mau Fani kelak akan menjadi orang yang berhasil


"biarkan ajalah Fani yang menentukan nya yah,kan dia udah besar juga" Jovan melihat dari layar tv nya yang digunakan untuk melihat Beni dan Fani


tak lama kemudian Beni dan Fani masuk ke dalam rumah dan Beni permisi untuk pulang


"maaf om,saya pamit pulang dulu,saya takut mengganggu jam istirahat om" Beni berdiri dan menyalam tangan Rizal dan Rizal pun tersenyum dan meninggalkan mereka semua


"mas, Fani masuk kamar dulu ya" Fani melangkahkan kakinya masuk ke kamarnya


Jovan, Bobi dan Lio mengantar Beni ke depan


"mas gua mau nanya,tadi maksud lo pada banyak pria yang cuma sampai sini aja apa ya" Beni membalikan badannya yang hendak masuk mobil


" oh itu,ya gini juga,di depan rumah sudah ada excavator, wales stump (alat untuk meratakan tanah)" Bobi menjawab nya santai


"gila,mau lo ratakan jadi lemper ya" Beni sangat takut sekali


"hahahhahahaja" tawa 3 pria itu membuat Beni semakin takut dan dia pun segera pamit dan meninggalkan rumah William


"padahal alat itu kita sewa dulu untuk buat kolam berenang,eh nggak tau nya pacar Fani datang,dan Wales stump sedang berjalan ke arah dia karena lo penasaran dengan alat itu,lo hampir giling badan dia, Untung Helper nya langsung berhentikan tu alat kalau nggak gua akan jual rumah ini saat itu juga,gila aja ada Orang tewas tepat di depan rumah gua" Jovan membayangkan nya sambil memejamkan matanya jika itu terjadi,dan saat itu Bobi yang membawa alat berat itu karena penasaran sekali

__ADS_1


__ADS_2