
jam makan siang pun datang para karyawan pun masuk ke kantin Niten, antrian panjang sudah kelihatan sampai ke luar kantin
"pak Pokas bantuin ibu Niten kasihan pak,ini ramai banget" Intan melihat kantin yang mulai riuh memesan makanan
"ok Intan" Pokas pun membantu Niten untuk melayani karyawan
"ini teh es nya,maaf ya nunggu lama" Intan pun mengantarkan minuman ke meja yang sudah mulai ramai
"ini kan anak magang yang tadi, cantik juga ya" Diaz salah satu karyawan yang dilayani Intan tidak berhenti menatap nya
"hush lo jangan main-main dia adik nya bapak Lio" Reza memperingatkan Diaz agar tidak melakukan hal konyol
"nggak jadi,kita makan aja dengan benar,gua malas urusan ama pak Lio" Diaz pun tidak berani lagi berniat mengganggu Intan
Jovan yang selesai meeting berjalan menuju kantornya tapi tidak ada Intan ataupun Pokas
sedangkan Lio, Bobi dan Oliv sedang makan siang di pantry
Pokas yang sibuk melayani karyawan tidak mendengar hp nya berdering, Niten pun tidak bisa melarang Pokas lagi karena dia memang sedang kewalahan dengan ramainya kantin.
"biasanya nggak banyak laki laki makan disini, kenapa sekarang mereka semua makan disini" Niten kebingungan dengan rata rata pengunjung nya laki laki
"udah itu rezeki ibu, jangan ditolak nanti Tuhan nggak kasih rezeki lagi" Pokas menjawab nya
"iya kamu benar" Niten pun tersenyum
45 menit berlalu kantin mulai sepi, Pokas membersikan piring dan Niten yang merapikan nya.
"aduh perut Intan terasa perih" pasti karena Intan kecapekan
Intan pun duduk sebentar dan akhirnya Pokas melihat Intan yang meringis kesakitan dan berlari ke tempat Intan
"tuh kan Intan,tadi bapak juga sudah bilang jangan tapi malah ngebantah, lihat kan jadi sakit perutnya" Pokas mengirim pesan pada Jovan mengabari Intan yang kesakitan
"pak perih sekali" Intan menahan tangisnya
Niten yang melihat dari jauh kebingungan melihat Intan dan Pokas
"kenapa Intan, wajahnya pucat sekali" Niten meletakkan punggung tangan nya di kening Intan
Pokas menceritakan pada Niten kenapa Intan meringis kesakitan
Jovan yang menerima pesan dari Pokas berlari ke kantin kantornya dan melihat Intan sedang tertidur dengan kaki ny diurut Niten
__ADS_1
"Pokas kenapa kalian malah disini kan tadi saya suruh tetap di ruangan saya" Jovan mendekati Intan dan hendak menggendong nya untuk dibawa ke rumah sakit.
"pak ingat ini kantor kasihan nyonya Intan kalau semua tau dia sudah nikah" Pokas berbisik pelan dan Jovan pun berhenti dan menelfon Arlan
"sekarang juga ke kantor gua, Intan kesakitan lagi" Jovan menelfon Arlan
"iya ni gua udah dekat kantor lo,ada urusan ama Bobi" Arlan ada temu janji dengan Bobi selesai jam makan siang.
"gua tunggu di ruangan gua ya" Jovan memutuskan sambungan telfon ny dan bingung cara bagaimana membawa Intan ke atas
"telfon pak Lio saja, Intan kan adik Lio Pokas,jangan bangunkan dia dulu" Niten memijit lembut kaki mulus Intan
"oh iya benar" Jovan langsung menelfon Lio untuk datang ke bawah dan dengan cepat Lio turun ke bawah
"indah sekali ya Pokas ciptaan yang Kuasa" Niten tidak melepaskan pandangan nya dari wajah Intan dan mengelus rambut nya
"iya buk cantik kan, hatinya baik lagi" Pokas melanjutkan pujian Niten
"kenapa adik gua" Lio langsung masuk dan dengan pelan menggendongnya Intan
"dia kecapekan kayaknya" Jovan dan Pokas pun pamit keluar dari kantin Niten dan membawa Intan
Arlan yang sedang dengan Devina pun sampai di kantor Jovan dan merekapun naik ke lantai atas dengan lift
"ruangan Bobi yang mana Ar,gua langsung aja ke tempat Bobi" Devina tidak mau menemui Jovan karena tidak mau sakit hati
"woy bro ini gua bawa yang punya rumah" Arlan masuk di ikuti Devina dan Bobi pun dengan senang menyambut nya.
"silahkan duduk bro,gimana Devina sudah lumayan sembuh kan" Bobi menghampiri Arlan dan Devina dan duduk di sofa bersama mereka
"udah sehat Bobi, makanya langsung kesini temui kamu" Devina tersenyum pada Bobi
"gua cabut tempat Jovan ya, tadi Intan kambuh lagi perutnya,heran gua ama kalian semua jaga 1 orang aja nggak bisa" Arlan berdiri dan keluar dari ruangan Bobi
"Intan kenapa emang" Bobi mengambil hp nya dan menelfon Jovan tapi tidak diangkat
Devina merasa iri pada Intan banyak yang menyayangi nya tidak seperti dirinya, tapi paling tidak dia harus bersyukur.masih ada Arlan dan Natasya yang siap menemani ny
"ntar gua kesana deh,gua siapin dulu urusan gua ama Devina" kata Bobi dalam hatinya
"Bob serius kan mau beli rumah gua" Devina mulai membuka pembicaraan
"iya Vina, gua serius kok, tapi tanah lo aman kan nggak dalam sengketa atau jadi agunan ke Bank juga kan" Bobi menanyakan sedetail nya agar tidak ada masalah saat terjadi jual beli
__ADS_1
"nggak lah Bob, itu warisan dari orang tua gua sebelum meninggal,dan rumah itu sudah atas nama gua,lo bisa cek dulu Bob,nggak usah buru-buru" Devina meyakinkan Bobi
"akta tanahnya sekarang dimana Vina" Bobi ingin main cepat saja agar urusannya dengan Devina cepat selesai karena jika terus ditunda makan Devina akan sering ketemu Jovan dan Intan
"sama notaris gua Bob,gua simpan ama dia,gua telfon dia supaya kesini gimana" Devina menyarankan karena dia ingin cepat selesai dengan Bobi
"ya sudah Vin, sekalian aja bawa surat jual beli nya,biar kita langsung transaksi hari ini juga,gua mau urus tanah gua yang dekat ama lo digabungkan jadi 1" Bobi setuju dengan usul Devina dan Devina pun menelfon notarisnya
"pak bisa ke perusahaan William groups dan bawa akta tanah rumah atas nama Devina Yulan karena saya mau jual beli dengan salah satu CEO di perusahaan ini" Devina sudah yakin menjual nya pada Bobi dengan harga yang fantastis
"iya saya juga mau ada urusan dengan Lio William buk,saya akan bawa berkas berkasnya sekalian ya dan ketemu di situ saja" pak Sade notaris terkenal di Jakarta memang sudah langganan para pengusaha
"Bob,dia juga ada urusan dengan Lio katanya" Devina mengatakan nya pada Bobi
"Pak Sade ya,kami semua juga dia yang urus,cepat dan nggak ribet" Bobi senang jika yang mengurus notarisnya juga
sementara di ruangan Jovan
"gua masuk ya" Arlan langsung masuk ke ruangannya Jovan
"Ar buruan perutnya sakit ni" Jovan menarik tangan Arlan.
"dia pingsan ya" Arlan langsung duduk disamping Intan
"nggak kayaknya Intan kelelahan jadi tertidur saat ibu kantin pijit kakinya,karena dia bantu ibu kantin layani karyawan makan siang tadi" jelas Lio karena sudah tau dari Pokas
"ini dia harus banyak istirahat,baru 2 minggu dengan 2x operasi yang besar lo berdua nggak paham juga ya, pasti tadi dia berdiri lama deh" Arlan memberikan suntikan vitamin pada Intan
"kita kurung aja besok dia dikmar Jo biar nggak usah ke kantor, nggak bakalan berhenti ni anak menyibukkan diri nya" Lio sedikit kesal pada Intan
"jangan Lio biarin aja di kerja, besok gua suruh dia susun file aja" Jovan mencari pekerjaan yang ringan buat Intan.
"gua setuju itu kan hanya duduk,kalau dah selesai nanti gua bawa ke ruangan gua main piano" Lio pun akan memberikan pekerjaan yang santai pada Intan
"hahahaha emang lo berdua nggak hilang jiwa lawakan nya" Arlan pun tertawa dengan pembicaraan sahabatnya
Jovan memindahkan Intan ke kamar istirahat nya supaya tidak terganggu tidurnya
"Lio,gua sini barengan Devina,dia lagi urus jual beli sama Bobi" Arlan memulai pembicaraan
"oh gitu,kenapa nggak tempat lain sih,kan ada Jovan nanti gua nggak mau ada yang terluka dengan keadaan ini" Lio memikirkan perasaan Intan
"nggak Lio, Devina nggak ada niatan mau sakiti hati Intan,dia sudah ikhlas,kalau Tuhan izinkan umur Devina panjang mungkin hanya bertahan 2 tahun,jika tidak hanya 4 bulan saja" Arlan menerangkan pada Lio
__ADS_1
"kasihan juga ya Devina,gua akan bantu pengobatan dia,tapi jangan sampai dia terlibat dengan Jovan Ar" Lio akan menebus kesalahannya pada Intan karena mendukung Jovan tempo hari
"nggak usah takut gitu, Devina tidak ada niatan sama sekali, percaya sama gua" Arlan tetap meyakinkan Lio