
"merajuk udah tu singa,aduh tambah lagi kerja gua" Lio menjatuhkan badan nya di atas tempat tidur rumah sakit
"lo tadi Napa ngamuk gitu ha" Arlan sama sekali tidak tau masalahnya
Lio menceritakan pada Arlan masa lalu nya dan tentang Tika, Arlan tidak menyangka itu terjadi pada Lio.
"maaf Lio gua nggak tau lo pernah sejatuh itu,udah lo hidup yang benar aja, nggak usah dendam lagi dengan masa lalu lo" Arlan menasehati Lio supaya dia aman.
"nggak Ar,sampai dia habis ditangan gua" Lio tidak akan memberi maaf dan ampun pada Boston Kinder
Arlan tidak mau berdebat dan dia pun meninggalkan Lio, supaya bisa beristirahat
di luar Tomi dan Ujang melihat Jovan yang duduk sendiri dalam keadaan kesal sekali.
Ujang dan Tomi masuk kedalam kamar Lio, Lio melihat Tomi dan tersenyum "Tomi jangan marah sama mas ya, Tika tetap adik kita berdua,mas nggak akan ambil Tika dari kalian,kan kalian juga adik mas"
"mas,maaf Tomi egois ya mas,harusnya Tomi tadi nggak bicara gitu,kan mas Lio anak Bu Dean jadi udah pasti mas Lio saudara Tomi juga" Tomi memeluk Lio sambil menangis
"udah atuh Tom,mas Lio kan belum sehat total nanti kepala mas Lio sakit lagi" Ujang ikut menangis juga
"udah jangan nangis lagi,kamu, Intan,dan Tika adik mas,tidak ada yang boleh ganggu kalian mulai sekarang,dan kalian tidak akan kekurangan apapun sekarang,kamu paham Tom" Lio mengelus punggung Tomi yang menangis sejadi-jadinya.
"Tomi mau kuliah mas" Tomi ingin menjadi orang sukses seperti mereka bertiga supaya bisa mengangkat derajat keluarga nya.
"kamu mau kemana saja mas bayarin,asal kamu kuliah yang benar" Lio bangga pada adik adiknya niat sekolah mereka sangat tinggi.
Jovan pulang meninggalkan Lio, Tomi dan Ujang,dia masih marah sekali dan ingin sendiri saat ini.
Elisa dan Rizal sudah dapat kabar dari Bobi tentang keadaan Lio, Vivian dan Tika,mereka tidak bisa langsung ke Bandung karena Fani tidak ada yang menjaga dirumah.
sampai dirumah Vivian, Jovan melihat nenek nya sedang istirahat di kamar, Bobi sedang mengurus pekerjaan nya.
Intan membawa makanan untuk Vivian dan Bobi, Intan yang melihat Jovan sedang berada di rumah Vivian menghentikan langkahnya dan berbalik badan kembali ke rumah nya.
Jovan yang melihat Intan mau pergi, menarik tangan Intan "hai calon Nyonya Williams mau kemana,calon suaminya datang kok nggak disapa sih"
"Aa ini makanan buat nenek dan mas Bobi, Intan mau nganterin ini" Intan memberikan pada Jovan.
"sayang, temanin Aa makan dong, Aa belum makan dari tadi pagi,perut Aa laper banget" entah kenapa Jovan jadi manja kepada Intan
"kesambet penunggu kebun teh ya Aa,udah ni Intan mau pulang dulu" Intan masih sinis pada Jovan dan wajah Intan dibuat sangat sangar
"Intan, Aa benaran lapar temanin Aa makan" Jovan menarik tangan Intan untuk masuk ke rumah Vivian untuk makan dan Intan pun menuruti Jovan,maklum diam diam rindu
Jovan duduk dimeja makan dan Intan mulai menyiapkan makanan untuk Jovan, Jovan memandangi Intan wanita yang mencuri hati nya.
__ADS_1
"Aa ini nasinya, Aa mau lauk yang mana,biar Intan ambilin" Intan melayani Jovan calon suaminya dengan lembut.
"Aa mau ikan gurame yang kamu bawa tadi" Jovan mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum makan
"gara gara ikan ini kan kaki ibu Intan pincang" intan mengingat semua cerita Elisa yang membuat dada nya sangat sesak.
Jovan melihat Intan yang tertunduk kesal, Jovan mengira Intan sudah tau ceritanya padahal Intan tau nya sama dengan Jovan dari Elisa.
"Intan maafkan Aa, Devina sudah Aa putuskan, Aa mau serius sama kamu" Jovan berdiri didepan Intan dan mengangkat dagu Intan.
"Intan belum mikirin itu semua Aa,jangan terlalu dipaksakan, Aa makan dulu nanti nasinya dingin" Intan duduk di kursi meja makan menemani Jovan.
Jovan duduk di kursi disamping Intan,dan mulai makan tapi dia tidak tau cara ambil duri ikan,karena jika dia makan ikan sudah pasti ikan itu bebas dari duri.
Intan yang melihat Jovan membolak-balikan ikannya menegur Jovan "Aa mau ngapain sih,jorok kalau dibolak-balik gitu Aa" Intan kesal pada Jovan
"Intan gimana cara sisihkan duri ikannya, Aa takut kemakan duri nanti" Jovan bertanya pada Intan.
"ha,nggak bisa pisahkan duri dari ikannya,dasar anak mami, sini Intan tolongin" Intan mencuci tangannya dan mengambil ikan dari piring Jovan.
"apa kamu bilang, Aa anak mami,kamu nanti bisa nyesal lo Aa bikin bilang gitu" Jovan menarik pinggang Intan supaya dekat dengannya.
"awwwwwwww, Aa perut Intan sakit jangan tarik gitu" Intan meringis kesakitan, Intan berbohong karena dia malas dekat dengan Jovan.
Intan memandang wajah Jovan tanpa Jovan ketahui
monolog Intan on
Aa kenapa kamu teh gantengnya kelewatan sih, Intan nggak bisa nolak Aa kalau gini, Intan pengen banget jadi istri Aa kalau udah tamat sekolah nanti.
monolog off
"udah Aa makan aja sakit nya udah kurang kok, Intan udah nggak apa apa" Intan takut orang salah sangka sama dia
Jovan makan dan Intan memberikan ikan pada Jovan yang sudah bersih dari duri,
"buka mulutnya sayang,ayo buruan,kamu pasti belum makan dari tadi kan" Jovan tau Intan paling susah makan,bisa bisa 1 hari hanya makan 1x.
"Intan nggak mau makan Aa, Intan nggak laper, Aa aja yang makan ya, Aa mau tambah lagi nggak nasinya, jangan panggil sayang Aa, Intan risih dengar nya" Intan menolak suapan Jovan
"he nggak boleh nolak calon suami,buka mulut nya ayo,kalau nggak mau makan Aa panggil sayang terus" Jovan masih berusaha menyuapi Intan makan.
Intan membuka mulutnya dan menerima suapan Jovan, Intan makan dengan lahapnya dari tangan Jovan dan mereka makan berdua.
Tika memikirkan keadaan Lio, diapun permisi pada ibu dan bapaknya untuk melihat Lio.
__ADS_1
"pak kita kerumah sakit lihat mas Lio, Tika mau lihat mas Lio pak" Tika membujuk Handoko dan Desi
"ayo nak,ganti pakaian kamu ya sayang,ibu sama bapak juga mau siap-siap" Desi mengiyakan permintaan Tika untuk melihat Lio dam Tika pun bersiap-siap menuju rumah sakit.
Vivian yang baru bangun keluar dari kamarnya merasa lapar,saat Vivian keluar dari kamarnya dia melihat Jovan dan Intan sedang makan, Bobi yang juga turun dari lantai atas melihat Vivian.
"nenek mau kemana nek, nggak usah keluar kamar dulu nek,biar Bobi yang ambil nenek mau apa" Bobi memegang tangan Vivian takut dia jatuh.
"lihat nak,2 manusia dimeja makan,mesra gitu ya,kamu jangan ledekin ya nanti Intan malu" Vivian tersenyum melihat pemandangan indah itu.
"iya nek, Jovan cinta sama Intan dia sedang berusaha mendapat kan cinta Intan, semoga aja Intan luluh nek" Bobi senang melihat Jovan yang memang bersungguh sungguh untuk mendapatkan Intan.
"nenek lapar Bobi,kita makan yuk" Vivian dan Bobi menuju meja makan dan bergabung bersama Intan dan Jovan.
"nenek sama mas Bobi mau makan ya, Intan ambilkan ya nasinya, tunggu sebentar" saat Intan hendak berdiri Jovan melarang nya karena tadi perut Intan sakit.
"udah duduk aja tadi kan perut Intan sakit,biar Bobi aja yang ambilkan makanan buat nenek" Jovan menyuruh Bobi untuk mengambil makanan Vivian.
"mas aja yang ambil,kamu duduk aja ya dek" Bobi berdiri dan menyiapkan makanan buat dia dan Vivian.
"beruntung ya cewek cewek dapetin mas Bobi,mas Lio dan Aa Jovan,udah ganteng,pekerja keras,sama cewek juga lembut kecuali Aa Jovan yang suka hina Intan" Intan berdiri dan pamit pulang pada Vivian dan meninggalkan Jovan.
Vivian tersenyum geleng geleng kepala melihat sepasang anak muda yang lagi kasmaran, Jovan berdiri dan mengejar Intan
"rasain lo,kejar deh tu cinta adek gua" Bobi tertawa dan duduk disampingnya Vivian untuk makan.
"Intan jangan judes gitu sama Aa, Aa seriusan sayang sama kamu, Intan percaya sama Aa, Devina memang pernah mengisi hati Aa saat SMA tapi itu dulu Intan, Aa ketemu kamu membuat hati Aa mulai hangat kembali,kalau Aa pengen dari dulu banyak wanita yang dekatin Aa tapi nggak ada yang bisa membuka pintu hati Aa kecuali kamu" Jovan menghadang jalan Intan saat keluar dari rumah Vivian
"Intan dengar semua pembicaraan Aa sama ibu Elisa tempo hari, Aa nggak usah maksain hal yang nggak Aa suka,dan Hutang Budi itu tidak usah diingat lagi biarkan itu menjadi masa lalu buruk" Intan menangis mengingat kata kata Jovan menolak Elisa
"Intan Aa memang salah saat itu,tapi memang kamu yang Aa sayang bukan Devina" Jovan masih mencoba meyakinkan Intan
"Intan mau menikah dengan pria yang benar-benar mencintai Intan Aa,bukan karena "Pernikahan diatas Hutang Budi", Intan meninggalkan Jovan dan berjalan menuju rumahnya
"Intan Viona,saya mencintai kamu dan akan menjadikan kamu nyonya Jovan William" teriak Jovan supaya Intan tau bahwa hatinya sudah dimiliki Intan
Handoko dan Desi yang mendengar teriakkan Jovan hanya tersenyum pada Intan yang baru masuk kedalam rumah.
"aduh kalau Intan tidak mau sama Jovan, bapak carikan wanita lain saja buat dia nya" kata Handoko menggoda Intan
"iya pak, Aa Jovan teh kasep pisan sayang atuh Intan nggak mau" kata Desi lagi pada Handoko
"biarkan Aa Jovan berusaha dulu meyakinkan Intan pak buk,jangan sodorkan wanita lain atuh pak" Intan merajuk masuk kedalam kamarnya
Handoko dan Desi tertawa melihat tingkah putri mereka yang jual mahal pada Jovan
__ADS_1