Pernikahan Di Atas Hutang Budi

Pernikahan Di Atas Hutang Budi
Intan magang


__ADS_3

kurang lebih 2 jam Jovan menunggu Intan di cafe depan sekolah Intan pelayan wanita sibuk cari perhatian kepadanya


"risih banget gua, istri gua masih lama ya" kata Jovan dalam hatinya


tak lama Intan keluar dan Intan dengan cepat meninggalkan sekolahnya mau menemui Jovan suaminya


"Intan,kamu teh ada acara hari ini,kita jalan sebentar yok sebelum magang 4 bulan" Cika mengejar Intan dan menarik tangannya


"kamu teh kenapa buru buru atuh,kan saya teh capek ngejar kamu" Fahrul kesal dengan Intan yang kelelahan dan Geri juga terduduk di jalanan


"capek euy" Geri mengeluh


"saya teh buru buru sayang sayang,besok kita semua teh udah mulai magang,kalian disini saya teh ke Jakarta atuh, belum rapikan baju juga buat berangkat nanti" Intan mencari alasan supaya bisa lepas dari mereka


"kamu jangan nolak, cafe depan saja ya" Geri menarik tangan Intan, Intan semakin bingung mencari alasan apalagi.


"sebentar saja ya,saya takut dimarahi bapak" Intan akhirnya pasrah mengikuti sahabat sahabatnya itu


sesampainya didalam cafe, Jovan sibuk dengan hp nya dan memakai handset tidak memperhatikan Intan cs datang,dan Intan berlalu melewati Jovan


"kita pesan yang biasa saja ya" Fahrul langsung memesan makanan kesukaan mereka.


"kita bakalan lama atuh tidak ketemu" Intan menyadari dia bukan lagi gadis belia yang sudah bebas dia seorang istri dari Jovan William dan dia terdiam menatap punggung Jovan


"iya setelah lulus kita teh bebas kemana saja" Cika merangkul sahabat sahabatnya


mereka berbincang dengan senang sekali sampai Intan terdiam mendengar Jovan menelfon Arlan yang sedang dinas di Jakarta


Arlan : Jo, Devina sudah membaik sekarang dia sudah boleh pulang tapi dia wajib kontrol setiap minggu


Jovan : syukur lah Ar,gua cuma bisa bantu itu buat kesembuhan Devina karena gua sudah melakukan hal yang menyakiti hatinya kalau sempat nanti gua akan jengukin dia


Arlan : santai aja,kita sama sama berdoa supaya Devina kuat sampai akhir Jo,kalau lihat Devina bawa Intan, jangan sampai salah paham,dan selamat ya buat nikahan lo, ingat pesan Dr Beni operasi kemarin


Jovan : semoga Devina bisa sembuh ya dan melanjutkan hidupnya dengan pria yang bisa menjaga dia,kalau soal itu gua nanti bicarakan sama dia, terimakasih ucapan nya Ar,


panggilan telfon berakhir dan Intan merasa ada kecewa dalam hatinya


"kenapa nggak ajak Intan Aa, supaya kita tidak salah paham,aku juga bisa kok Aa menyakiti perasaan mu sekarang juga" kata Intan dalam hatinya dan dia melihat Alex sedang duduk dimeja kosong

__ADS_1


"Alex sini gabung sama kita,kamu kenapa duduk sendirian sini gabung sama kami" Intan memanggilnya dan Jovan yang mendengar suara Intan menoleh kepadanya tapi Intan sibuk bicara dengan Alex


Jovan melanjutkan kerjanya dia tidak mau mengganggu Intan dengan sahabat sahabatnya


"gimana besok kita sudah magang,kalian deg degan nggak" tanya Alex


"kenapa deg degan atuh kalau pimpinan nya kasep kasep atuh" Cika menjawab sambil menikmati makanannya


Intan yang merasa dicuekin Jovan berdiri dan membayar semua makanan nya dan sahabat sahabatnya,dia berjalan keluar meninggalkan mereka semua,


"dia teh kenapa" Geri bingung dan Alex mengejar Intan dan Jovan pun berdiri masuk kedalam mobilnya mengikuti Intan


"Alex kamu teh pasti akan bahagia suatu saat nanti,jangan pernah terburu-buru mengambil keputusan" Intan merasa ada sesal dalam hatinya.


"kamu teh mau sendirian ya,tidak mau diganggu" Alex tau wajah Intan sedang tidak enak


Intan hanya mengangguk saja dan berjalan menyusuri jalanan sepi, Jovan berhenti dan turun dari mobil setelah melihat Alex pergi jauh


"sayang kamu kenapa" Jovan memeluknya erat dia tau sepertinya Intan mendengar semuanya


Intan mendorong Jovan dan menatap dalam mata Jovan


"kenapa kita bahagia sementara dia terkulai lemah berbaring di rumah sakit" Intan menangis membayangkan Devina yang berjuang sendiri


"Aa sudah tanggung semuanya,paling tidak Aa bisa meringankan bebannya sedikit,Aa harus menjaga perasaan kamu sayang,kamu istri Aa,teman hidup Aa sampai kita menua,mama dari anak-anak Aa" Jovan mencium rambutt Intan


"kita jenguk nanti ya Aa kalau sudah di Jakarta" Intan ingin melihat Devina


Jovan takut jika nantinya Devina akan semakin terluka dan semakin drop


"kita bahas nanti ya, sekarang kita balik kerumah nenek siap siap pulang ke Jakarta" Jovan menarik tangan Intan dan membawanya masuk kedalam mobil


sesampainya di rumah Vivian Intan berlalu masuk ke rumahnya,dia menangis tidak ingin pergi dari rumahnya


"kamu kenapa nak" Desi masuk ke kamar Intan dan memeluknya


"Intan nggak bisa lagi ketemu kalian semua selama 4 bulan besok buk, Intan nggak bisa kumpul kumpul lagi sama sahabat Intan,mereka masih bebas buk tidak seperti Intan" Intan menangis semakin kuat


Lio mendengar pembicaraan Intan dan Desi,dia pun masuk ke dalam

__ADS_1


"dek kan ada helikopter apa yang mau ditangisi kamu kan dah coba terbang Jakarta Bandung nggak sampai 1 jam kok, kapanpun kamu mau mas akan antar" Lio mengusap kepala Intan


"kan ada mas Lio nak,ada Jovan ada mas Bobi mereka yang akan lindungi kamu" Desi pun menitikkan air matanya akan berpisah dari Intan


"ibu do'akan Intan ya supaya bisa tetap sehat dan selalu dalam lindungan yang kuasa" Intan membersihkan air mata ibunya


"doakan Lio juga buk" Lio memeluk Desi dan menangis membayangkan jika itu Dean mamanya


"pasti ibu akan bawa kalian semua dalam doa ibu nak" Desi pun mencium kening Lio


Jovan sudah bersiap siap untuk berangkat ke Jakarta,semua sudah menunggu di halaman rumah Vivian


"nenek,kakek, Intan pamit ya,doakan Intan supaya sehat selalu" Intan menangis dipelukan Risa dan Vivian


"sudah nak,kamu akan terbiasa nanti dengan status baru kamu" Risa tersenyum membelai rambut Intan


"hey lihat nenek,jika kamu dijahatin sama mereka bertiga,akan nenek hukum mereka" Vivian mencium Intan


"mbak Desi,mas Handoko Caca bawa menantu Caca ya, terimakasih sudah mengizinkan si cantik ini menjadi istri Jovan" Caca memeluk Desi


"tolong jaga dia ya Ca,dia sedikit cengeng kamu sabar ya sama dia" Desi percaya sama Caca akan kebahagian Intan


"Jovan,jika anak bapak salah dan kamu tidak bisa lagi menasehati nya tolong jangan pernah layangkan tangan mu kepadanya,itu sama saja kamu menampar bapak,dan jika kalian tidak bisa lagi menerimanya berikan dia pada Lio maka saya akan menjemput nya" Handoko sedih melepaskan anak pertama nya


"pak,izinkan saya membahagiakan dia pak,saya tidak akan pernah melukai nya" Jovan memeluk Handoko


"saya yang akan membawa Intan kesini jika hal itu terjadi pak dan saya yakin itu tidak pernah terjadi" Lio merangkul adiknya Tika dan Tomi


"mas naik helikopter nya kapan" Tika benar benar penasaran


"akan mas jemput kalau kalian libur dan mas nggak sibuk ya dek" Lio sedih meninggalkan Tika tapi dia tau Handoko akan lebih sedih jika Tika diambil olehnya.


"Pokas kamu ikut ke Jakarta untuk jaga Intan,dan anak buah kamu untuk 2 rumah ini dan jaga adik adik ku harus banyak" Lio ingin adik nya aman saat dia jauh dan Pokas pun setuju.


setelah semua pamitan mereka menuju mobil dan meninggalkan Vivian, Polan, Risa, Ujang dan keluarga Handoko, Intan menangis dalam mobil melihat Tika dan Tomi yang menangis.


sesampainya di Jakarta, Elisa membawa Intan ke mall untuk membeli baju untuk magang di kantor Jovan besok


"Intan,kamu coba ini sayang,kamu harus tampil menarik dihadapan suami kamu,ingat sayang buat dia tidak bisa jauh dari kamu" Elisa memberikan beberapa potongan blezer,celana,dan rok pendek untuk Intan, Intan menuruti Elisa dan masuk kedalam kamar ganti

__ADS_1


"bunda,gimna Intan pakai ini cocok nggak" Intan keluar dari kamar ganti dan Elisa bertepuk tangan senang dengan penampilan Intan


__ADS_2