
Dirumah sakit,Intan sudah diruangan Dr Beni ditemani Arlan,sesuai dengan pesan Elisa.
Intan sedang melamun di tempat tidur ruangan Beni untuk buka perban
dia memikirkan semua ucapan Elisa tadi tentang ibunya
Beni yang melihat Intan melamun,dia merasa gemas melihat Intan yang cantik nya memang beda "Hei jangan suka termenung nanti cepat lupa ingatan".
"Nggak Intan nggak mau gila, Intan nggak boleh melamun lagi" kata Intan takut mendengar ucapan Beni
"Jangan di gangguin Ben, nanti Jovan marah lo" kata Arlan menggoda Beni
Intan kembali termenung dan hampir menangis mengingat semua ucapan Jovan,dia merasa benar-benar malu pada dirinya sendiri sudah mencintai Jovan yang mencintai Devina.
"Intan salah ya Dokter" kata Intan sambil menangis,dia tidak sadar karena sudah benar-benar frustasi dengan perkataan Jovan dan Elisa tadi
.
Arlan mendekati Intan dia tidak tau apa yang sudah terjadi,tapi dia mengalihkan pembicaraan "Hei Intan nggak sakit kok,udah siap tu buka perban nya".
"Intan udah siap dari tadi,kamu telat nangisnya" kata Beni mencoba menghibur Intan, karena dia tidak tega melihat Intan menangis
"Intan salah apa,kenapa Intan selalu dijahatin,Intan di bully,bahkan Intan harus menerima setiap hinaan orang orang karena Intan hanya anak seorang buruh kebun teh" kata Intan sambil menangis
Arlan dan Beni terdiam melihat tangisan Intan yang benar-benar terasa sangat sedih
"Intan kamu orang baik,kamu gadis hebat dan kuat,kamu seorang pemberani,hanya manusia bodoh yang menghina kamu" kata Arlan mencoba menenangkan Intan,dia teringat pada Intan yang trauma karena menyelamatkan Fani
"Intan kamu nggak boleh menjadi gadis lemah,ingat Intan semakin kamu lemah semakin banyak orang-orang yang akan berbuat seenaknya pada kamu" kata Beni lagi menenangkan Intan
"Tapi ini sudah terlalu sakit dokter" kata Intan lagi menangis sesenggukan
"Intan sekarang saya sudah siap kerja,kamu mau kita jalan jalan supaya kamu bisa tenang" kata Arlan
__ADS_1
"Tapi nanti Intan dicari sama Ibu Elisa pak Dokter" kata Intan membersihkan air mata nya
"Nanti Dokter Arlan yang memberitahu Ibu Elisa ya,kita sekarang jalan jalan saja" kata Beni yang juga sudah selesai Kerja
"Pak dokter,Intan mau pulang ke Bandung,kapan Intan bisa pulang, Intan nggak mau disini lagi" kata Intan memohon pada 2 dokter itu.
Arlan melihat Intan seperti Fani,berbeda dengan Beni yang mulai terpana melihat Intan .
"Nggak boleh Intan,masih ada 4 hari lagi,kita akan cek darah kamu dulu,sampai kamu benar-benar pulih" kata Beni menerangkan pada Intan dan di iya kan oleh Arlan
"Tapi Intan harus gimana atuh kalau pulang" kata Intan bingung,
"Sudah sekarang kita jalan jalan ya, supaya kamu bisa tenang,kamu mau kita ke pantai,enak ni sore sore gini duduk di pantai" kata Beni pada Intan
"Ya sudah pak dokter kita ke pantai aja,Intan belum pernah ke pantai" kata Intan pada Beni dan Arlan pun setuju
"Kami ke ruangan gua dulu Ben,ambil obat Intan juga sekalian, nanti kami tunggu di mobil ya" kata Arlan meninggalkan Beni di ikuti oleh Intan
Arlan pun menghubungi Bobi
"Mas Bobi ini Intan mas" kata Intan setelah Bobi mengangkat telfon Arlan
"Kamu kenapa pakai Hp Arlan dek,kamu dimana sekarang" tanya Bobi lagi pada Intan
"Intan nggak ada nomornya mas Bobi,jadi minta tolong sama Dr Arlan, Intan bingung mas" kata Intan yang takut untuk berbicara
"Kenapa dek,bilang aja" kata Bobi penasaran
"Mas,Intan nggak ada uang buat bayar buka perban sama tebus obatnya mas" kata Intan malu karena dia hanya menyusahkan keluarga Williams saja
"Dek kamu tenang ya, nanti kasih hp nya ke Arlan, biar mas Bobi transfer aja ya,kamu tenang sekarang,habis itu langsung pulang ya dek,mas Bobi sama mas Lio udah pulang ni" kata Bobi
"Makasih ya mas,maaf Intan hanya menyusahkan kalian saja,nanti Intan sampai di Bandung akan ikut lomba nyanyi lagi dan bekerja di kebun buat bayar uang mas Bobi" kata Intan menangis
__ADS_1
"Dek kamu jangan nangis ya,mas Bobi besok opening cafe,jadi kamu nyanyi aja ya,daripada kerja di kebun dek" kata Bobi supaya Intan tidak merasa bersalah
"Intan mau mas,jadi Intan bisa bayar utang Intan kan,makasih ya mas Bobi,mas ini Intan sama Dr Arlan dan Dr Beni mau ke pantai ya,mas Bobi ikut ya" kata Intan dengan senang nya
"Iya dek sama sama, kayaknya mas Bobi nggak bisa dek,mas banyak urusan hari ini" kata Bobi yang memang sibuk sekali.
Intan memberikan Hp nya pada Arlan,dan Bobi pun berbicara pada Arlan
sementara dirumah Williams Bobi,Lio,dan Jovan sedang duduk bersama di taman dekat kolam.
"Intan adek gua,emang polos nya kebangetan" kata Bobi tertawa
"emang kenapa Bob" tanya Lio penasaran
"Dia telfon gua,nggak punya uang buat bayar kontrol tadi,jadi dia minjam hp Arlan, sekarang mereka mau ke pantai katanya sama Beni dan Arlan" kata Bobi memejamkan matanya
"Intan kesal ama lo Lio, semalam lo bercanda ama dia sampai dia nangis,takut ditangkap polisi karena nggak bisa bayar rumah sakit" kata Jovan tertawa membayangkan wajah Intan
"Pantesan dia nggak mau nelfon gua" kata Lio menyesal
"Sebenarnya lo kenapa tadi sama tante Elisa,lo jangan gitu lagi ah,copot jantung gua" kata Bobi yang masih kaget saat sampai dirumah Williams.
Jovan pun menarik nafasnya dan menceritakan semua nya, Bobi dan Lio terkejut karena Devina mengalami kecelakaan sehingga menghilang begitu lama,dan juga hutang budi keluarga William yang sangat besar pada Desi dan Intan.
"Gua harus apa Lio,semua sungguh seperti mimpi,Intan dan Devina,bagaimana bisa gua akan menikahi Intan sementara Devina seperti ini karena lupa ingatan" kata Jovan putus asa
"Haduhhhhhhh rumit banget Jovan,gua takut otak gua pecah,masalah SMK berjaya,masalah lo sekarang" kata Bobi frustasi
"Kenapa harus serumit ini Jo,bagaimana kita harus menghadapi semua ini" kata Lio yang juga sangat Frustasi mendengar semua cerita Jovan.
"Gua mau nyusul Intan ke pantai nanti adek gua di rayu ama si Beni,pusing gua mikirin semuanya,gua angkat tangan" kata Bobi meninggalkan Jovan dan Lio
Jovan dan Lio masih terdiam di taman,tak ada yang bisa memberikan Jovan jalan saat ini,masalah antara Elisa akan semakin buruk lagi jika ada yang menyetujui Devina dan Jovan
__ADS_1