
"kamu kenapa terlalu baik sayang, jadi pengusaha nggak boleh terlalu baik, kalau gini kamu dirumah aja ngurusin aku aja" Jovan membelai lembut pipi Intan dan mencium keningnya lalu keluar kamar
"ada obat yang lebih bagus Ar supaya Intan cepat pulih, kasihan gua dia kalau capek pasti kesakitan terus" Jovan mengambil minuman dingin dan memberikan nya pada Arlan
"sebagus apapun obat kalau dia nggak istirahat juga percuma boss" Arlan sudah memberikan obat terbaik bagi Intan
"benar juga sih,4 hari yang lalu dia capek banget,dari ulangtahun, tunangan terus nikah langsung magang lagi" Lio pun mengingat kelelahan Intan beberapa hari yang lalu
"gimana sih lo pada, jangan main main dengan orang yang habis 2x operasi sekaligus,dan lo Jo jangan main nyosor aja lo,gua nggak jamin Intan selamat kalau lo memaksa hasrat lo,tunggu 6 bulan dulu" Arlan memperingati Jovan
Jovan terdiam mendengar penjelasan Arlan,dia tentu saja tidak mau kehilangan Intan
"gua ngerti Ar,gua akan menahan diri gua" Jovan benar-benar akan menahan dirinya
Bobi datang membawa Devina keruangan Jovan karena dia ingin membayar utangnya pada Jovan
"hai, Intan mana,aku boleh masuk nggak ni" Devina menanyakan nya dulu sebelum masuk
Jovan tersentak dari lamunannya dan tersenyum pada Devina
"masuk aja, Intan lagi istirahat tadi dia kecapekan" jawab Jovan pada Devina.
"gimana Vin, kondisinya sudah membaik kan," Lio tersenyum pada Devina dan dia melihat wajah pucat Devina
"Vin,kamu nggak apa-apa kan,wajah mu pucat sekali" Jovan berdiri dan membantu Devina untuk duduk karena wajah nya sungguh pucat.
"Jovan" Bobi mengingatkan nya untuk menjaga sikap pada Devina dan membuat Jovan duduk kembali
"gua nggak apa-apa kok,aman tenang saja" padahal kepala Devina terasa berat
"sini duduk" Arlan membawa Devina duduk disampingnya
"jangan dekat-dekat gua lagi Jo,ntar Intan marah sama gua" Devina tertawa pada semua
"maaf Vina,tadi aku liat kamu pucat, maka nya aku berdiri" Jovan malu pada Devina
"ini gua mau mengembalikan uang kemarin, berapa no rekening lo, Bobi kasihnya nggak uang cash jadi gua transfer aja ya" Devina memberikan hp nya agar Jovan mengisinya
"nggak usah Vina,aku ikhlas kok" Jovan sangat menolak uang yang sudah diberikan nya
"terima aja" Lio tak mau Intan salah paham kalau keluar dari kamar nanti
Jovan dengan terpaksa memberikan no rekening nya dan Vina mengirimkan uang Jovan
"ya udah gua pamit ya, terimakasih buat kalian semua" Devina pun berdiri dan melangkahkan kakinya keluar ruangan Jovan
"kamu naik apa" Bobi mengikuti Devina dari belakang mengantar sampai ke luar
"naik taksi aja Bob" Devina memilih naik taksi karena tadi dia bersama Arlan.
"diantar sama supir kantor aja ya" Bobi pun memanggil Narto
"ya udah gua terimakasih Bob sama lo, kepala gua sakit banget gua sama supir lo aja ya" Devina naik ke mobil dan Narto mengantarkan Devina
Lio kembali ke ruangan nya untuk bekerja, Arlan dan Jovan menunggu Intan bangun
"selamat ya,maaf gua kemarin nggak datang,gua dinas di sini nggak bisa libur" Arlan mengucapkan selamat pada Jovan
"terimakasih Ar,kalau lo sibuk gua nggak mungkin maksa" Jovan tersenyum pada Arlan
"ucapan lo tadi serius dengan keadaan Intan" Jovan menanyakan nya lagi
"Napa gua bohong Jo, untungnya buat gua apa,dan lo jangan sepelekan ucapan gua" Arlan menatap Jovan dengan seriusnya
"lo buat gua takut kehilangan dia,gua cinta banget sama dia" Jovan tidak mau kehilangan Intan cinta sejati nya.
__ADS_1
Bobi pun masuk kedalam ruangan Jovan dan mengatakan kalau Devina sudah di antar oleh Narto
"kasihan juga kalau dia naik taksi" Arlan mengingat Devina yang pucat tadi
"kepala dia sakit banget tadi katanya" Bobi merasa kasihan dengan keadaan Devina
"lo tau nggak Devina itu sendirian saat di rumah sakit kakak dia Joice tidak mau jagain dia,malahan dia paksa Devina rusak hubungan Jovan dan Intan karena Lio keluarkan Windi dari sekolah dan perusahaan mantan suami dia bangkrut total setelah putus hubungan kerjasama dengan kalian" Arlan menceritakan kondisi Devina yang ditindas oleh Joice
"gila kali saudara kayak gitu,adek sakit bukannya ditolong malah ditindas ama dia,apa perlu gua buat si Joice itu tambah melarat lagi, kesal banget gua" Bobi mengepalkan tangannya
Jovan tidak mendengarkan pembicaraan Arlan dan Bobi dia memikirkan Intan yang 1 hari di kantor nya saja sudah 2 kali mengalami kejadian tidak enak.
"jangan sampai Devina lakuin itu,gua nggak akan terima" Bobi mulai curiga pada Devina
"dia nggak mau Bobi,makanya dia di tindas sama Joice" Arlan meyakinkan Bobi lagi
"namanya cinta nggak ada yang tau kapan datang dan perginya Ar" Bobi tidak mau Intan akan terluka
"pokoknya gua nggak mau kehilangan dia" Jovan berteriak tidak sadar,dia membayangkan Intan pergi meninggalkan nya
"kalau nggak mau kehilangan dia ya udah kejar sana" Intan mendengar pembicaraan Arlan dan Bobi dari kamar,dan dia melotot pada Jovan sambil berjalan keluar dari ruang Jovan
"sayang mau kemana" Jovan menarik tangan Intan karena dia tidak tau kenapa Intan pergi dan marah padanya
"lepas, Intan mau kerja sama kak Oliv" Intan menghempaskan tangan Jovan dan keluar dengan wajah kesal
"bini gua kenapa sih,gua di suruh kejar siapa emang" Jovan bingung dan bertanya pada Bobi dan Arlan
"tadi lo kan tau kita bahas siapa" Bobi sudah tau kenapa Intan marah
"emang lo berdua dari tadi di sini,gua baru sadar,bahas siapa kalian tadi" Jovan asyik dengan lamunanan nya sehingga tidak tau siapa yang mereka bahas
"bahas Devina pak Jovan William,terus lo berteriak pokok nya gua nggak mau kehilangan dia, terus bini lo keluar dari pintu itu" Bobi memperagakan teriakan Jovan tadi sambil menunjuk pintu kamar istirahat Jovan
"dan sekarang bini lo ngambek deh,bujuk anak SMA bisa lieur euy" Arlan dan Bobi tertawa melihat Jovan yang melongo
"bapak harus berusaha atuh,kasihan si bapak teh nanti malam tidur sendirian" Arlan keluar dengan tawanya di ikuti Bobi
Intan dengan kesal duduk di mejanya dan menghidupkan komputer untuk menginput data yang diajarkan olive sambil mendengarkan musik dari hp nya menggunakan earphone
"kalau masih sayang ngapaen kamu nikahi aku,dasar laki laki buaya" Intan mengomel sendiri
Jovan duduk di kursi nya sambil mengacak acak rambutnya,
"Intan kamu salah paham sayang,aku mencintaimu bukan Devina" Jovan menyandarkan kepalanya di kursi dan menutup matanya
sementara di luar ruangan kerja Jovan,ada karyawan yang ingin meminta tanda tangan Jovan tapi tidak berani masuk
"buk Oliv,pak Jovan nya ada kan" tanya Fela karyawan yang penampilannya sengaja agar bisa menggoda para atasannya
"di dalam kok,masuk saja" Oliv tidak mau banyak bicara dengan Fela karena malas menjawab mulut genitnya
Fela pun membuka satu kancing bajunya,dan memajukan rambutnya, Intan yang melihat nya merasa dada nya terbakar amarah
"sini saya saja yang minta, kakak tunggu di sini saja" Intan menarik map ditangan Fela tapi Fela tidak mau
"hey kamu tau sopan santun nggak" Fela membentak Intan karena tidak suka dengan sikap Intan
"udah Intan kamu tunggu saja" Oliv berdiri dan menenangkan Intan, Fela masuk dengan PD nya
Jovan yang sedang frustasi karena Intan merajuk kesal dengan penampilan Fela dan mengusir nya
"keluar kamu" suara Jovan terdengar sampai keluar dan Intan terkejut sekali dan Fela pun keluar dengan rasa malunya
"dia emang ganjen,makanya pak Jovan marah,kontrak kerja dia habis 2 bulan lagi jadi mau tak mau semua boss disini harus sabar" Oliv menerangkan pada Intan
__ADS_1
"pak Jovan galak ya kak" Intan penasaran dengan sifat suaminya di kantor
"dia dingin banget makanya karyawan takut sama dia, kecuali aku sih" Oliv tertawa
"Intan juga nggak takut sama dia" Intan dan Oliv tertawa bersama.
Bobi memanggil Intan untuk mengikuti nya ke showroom mobil "ayo dek,mas ada kejutan buat kamu"
"kita mau kemana mas" Intan pun bingung tapi mengikuti Bobi juga dan pamit pada Oliv.
"kamu suka warna apa dek" Bobi bertanya pada Intan dan mereka masuk kedalam lift
"mas,ajarin naik ini dong, Intan capek lewat tangga" Intan ingin tau cara memakai lift
"kamu belum tau ya dek caranya, ini khusus buat kita saja,kamu,mas Lio,mas Bobi dan suami kamu,ini ya mas ajari" Bobi pun mengajarkan Intan dengan sabar
"coba Intan tekan ya mas" Intan pun mencoba menekan sendiri dan dia berhasil naik turun
"gampang kan dek, sekarang kita ke showroom mobil ya,kamu suka warna apa dek" Bobi bertanya lagi dan keluar dari lift ke lantai dasar
"mas nggak usah deh, Intan takut dimarahi Aa Jovan kan harus tanya Aa dulu mas" Intan berhenti dan menarik tangan Lio
"ya udah mas telfon sebentar Jovan ya" Bobi senang Intan mau menanyakan pada suaminya dulu
Bobi : woy gua mau belikan mobil buat adek gua Intan hadiah ulangtahun kemarin,warna nya nanti dia pilih sendiri.
Jovan : lo nanya atau kasih tau gua?
Bobi : gua mau pamer aja sih, nggak ada maksud apa apa
Jovan : hati hati bawa dia,bilang ya gua sayang ama dia
Bobi : kalau gua ingat ya, soalnya memory otak gua full banget
Jovan : bilang sekarang kan bisa Bob
Bobi : dih maksa banget,ok kami pergi ya.
Jovan memutuskan telfon nya dan menelfon Intan
"sayang kenapa nggak izin dulu,kamu kak istri Aa" Jovan berbicara sangat lembut pada Intan
" iya Intan izin keluar sama mas Bobi" Intan menjawab dengan jutek.
"hati hati ya sayang,aku sayang kamu lebih dari nyawaku" Jovan berharap Intan memaafkan nya tapi sebenarnya dia nggak ada salah.
Intan mematikan telfon nya dan pergi bersama Bobi
Selama perjalanan Intan cemberut tidak jelas dan membuat Bobi heran
"kamu kenapa dek, masih perih perutnya ya" Bobi khawatir pada Intan
"Aa Jovan masih cinta sama kak Devina ya mas" Intan akhirnya bertanya pada Bobi
"nggak dek, tadi itu Devina jual rumah sama mas,mas suruh ke kantor karena tadi mas ada kerjaan jadi suruh mereka datang" Bobi menjelaskan kenapa Devina datang
"jadi dia nggak mau kehilangan kak Devina ya" Intan bertanya lagi
"tadi Jovan lagi melamun dek,kami di marahin sama Arlan karena kami selalu teledor jagain kamu,dan kamu bisa nggak selamat kalau Jovan nggak bisa tahan dirinya selama 6 bulan ke depan,jadi kami bahas Devina dia melamun kamu kenapa kenapa dan teriak" Bobi menjelaskan pada Intan agar tidak salah paham dengan Jovan
"benaran kan mas, nggak sedang lindungi Aa Jovan" Intan takut ada kebohongan dalam penjelasan Bobi
"dek,mas yang paling tidak suka jika Devina mengusik kebahagiaan kalian, mas akan di depan kamu sekalipun Jovan yang akan jadi lawan mas" Bobi sayang pada Intan layaknya Fani
"mas jangan kecewakan Intan,karena Intan nggak tau Aa Jovan masih ada perasaan sayang apa nggak sama kak Devina" Intan menangis karena cemburu
__ADS_1
"Jovan sayang banget sama kamu dek,semoga mas bisa sabar kayak Jovan menghadapi istri mas kelak tapi jangan yang cemburuan kayak kamu" Bobi tertawa dan memberikan tisu pada Intan
"mudah mudahan mas Bobi cepat nikah" Intan mendoakan Bobi dengan tulus