
Lio melangkah kan kaki nya masuk kedalam rumah Vivian, Rizal melemparkan map di atas meja.
"sini kamu" Rizal menyuruh supaya Lio dekat kepadanya. Lio pun mendekat pada Rizal
"Lio salah ayah" Lio tertunduk ketakutan
"kamu buka map itu" Rizal menunjuk map di atas meja dan Lio dengan sigap membukanya.
"ini apa ayah,siapa orang ini ayah" Lio melihat ada photo didalam map itu,
"Boston Kinder,dia mafia yang paling ditakuti, tapi ayah tidak takut sama sekali dengan dia" Rizal memang tidak takut padanya dan hanya keluarga William yang tidak pernah diusik oleh Boston
di photo itu Boston sedang merangkul anaknya yang sepertinya umurnya tidak beda dengan Tika,
"ini photo tahun berapa ayah, diwajahnya dia tersenyum sangat senang,apa dia tidak tau ada dua anak yang kehilangan seorang ibu,kami terpisah dari bayi dan baru tau tadi semuanya" Lio kembali menitikkan air matanya.
"Lio, sekarang Boston sedang mencari kamu dan Tika,yang ayah tau dia ingin meminta maaf pada mu dan ingin memberikan warisan untuk mu dan Tika" Rizal sudah lama memata-matai Boston
"Lio tidak butuh hartanya ayah,dan Tika tidak boleh bertemu dengan dia" Lio berbicara datar dan mengepal kuat tangan nya.
"Lio kamu menganggap saya ini apa" Rizal takut kehilangan Lio
"orang tua Lio yah" Lio menundukkan kepalanya lagi
"ayah tau nak,rasa dendam mu dan benci mu pada Boston, tapi kamu melukai dirimu sendiri,apa kamu tidak menganggap kami ini ada,dengan kamu melukai dirimu ini apa yang kamu dapat" teriak Rizal benar benar sangat keras sampai keluar rumah
"Lio bodoh ayah, Lio membuat semua cemas dan menakuti keluarga pak Handoko dan nenek" Lio masih tertunduk menyesal
Rizal menghantam kan tangannya ke dinding rumah Vivian dengan cepat Lio maju kehadapan Rizal hingga tinjuan Rizal hampir mendarat di pipi Lio
"minggir kamu Lio, kamu harus lihat bagaimana sakitnya hati saya melihat luka di wajah mu" Rizal menangis dan mendorong Lio supaya menyingkirkan dirinya dari dinding.
"nggak ayah, Lio salah ayah, jangan ayah,nanti tangan ayah bisa patah dan luka" Lio memeluk Rizal dan menangis menyesal.
semua sudah tegang diluar tidak ada yang berani masuk,
"jika Lio hanya patuh kepada pak Rizal biarkan dia menerima hukumannya dan jangan ada yang membela dia" Handoko tau maksud Rizal pasti sangat baik untuk mendidik Lio
"biarkan saja dia dulu, supaya dia jera" Vivian tenang karena dia tau sayangnya Rizal sangat besar pada Lio
berbeda dengan Elisa yang sudah menangis, mendengar Lio minta maaf pada Rizal.
__ADS_1
Jovan dan Bobi hanya diam tak berkutik, Fani sudah bergabung dengan Intan dan Tika.
"siapa nama kamu" suara besar Rizal bertanya pada Lio
"Lio Deano William ayah,anak dari Dean Ningrum, Elisa Polan,dan Desi Ningrum, ayah Rizal William dan pak Handoko" Lio selalu dihukum seperti itu jika dia mulai kelewatan batas kali ini dia.menambahkan nama Desi dan Handoko
"jika kamu anak saya,apa ini yang saya ajarkan kepada kamu ha,saya kecewa sama kamu Lio" Rizal masuk kedalam kamar dan membanting pintunya.
"sudah nak,sini sama bunda sayang,kamu kenapa gini sayang,ayah takut kamu kenapa-kenapa nak" Elisa menangis langsung masuk dan memeluk Lio.
"maafkan Lio bunda, Lio terlalu emosi" Lio meminta maaf pada Elisa dan Elisa sudah memaafkan nya
"nenek mau istirahat dulu, nenek capek" Vivian masuk kedalam rumah dan masuk ke kamarnya
Bobi dan Jovan masih di teras dengan keluarga Handoko
"itu Lio gimana pak" Desi kasihan melihat Lio yang memeluk Elisa.
"dia besar di keluarga William,dia sudah tau menghadapi nya" Handoko masuk kerumahnya dan meninggalkan Desi
"haduh, gimana caranya ni,ayah kalau ngamuk ngeri,gua nggak berani ngejawab apalagi lihat wajah ayah" Jovan sudah tau kemarahan ayahnya
"ibu masuk dulu ya nak,semoga pak Rizal mau memaafkan Lio" Desi masuk kedalam rumah nya dan Fani pun permisi pulang
"dek,gimana kita ini, ayah marah banget" Jovan memeluk Fani adik kesayangannya
"ya kita bujuk ayah sama sama mas, kasihan mas Lio" Fani melihat Lio yang menangis dipelukan Elisa
"gua ke atas dulu ya Jo,ngantuk berat gua" Bobi pun naik keatas dan masuk ke kamarnya.
Jovan dan Fani masuk bergabung dengan Elisa dan Lio
"biar bunda bujuk ayah dulu ya nak,kamu istirahat ya,kepalanya masih pusing kan" Elisa akan membujuk Rizal agar memaafkan Lio
"bunda,tolong Lio ya, Lio nggak mau ayah marah sama Lio" Lio sangat sayang kepada Rizal, Elisa pun masuk kedalam kamar untuk membujuk suaminya
"mas Lio,mas Lio kenapa emosian gini,kalau mas Lio kondisinya parah gimana mas" Fani menangis memeluk Lio
"maafkan mas ya dek" Lio menyesali semua kebodohan nya
"kalau kamu marah kepada anak-anak ayah tak pernah ikut campur,karena memang mereka salah,jadi bunda juga harus hargai ayah" teriakan Rizal terdengar sampai ke tempat Lio, Jovan dan Fani sekarang berada.
__ADS_1
"ya ampun gua buat semua kacau" Lio melihat Jovan dan Fani
"mau gimana lagi,kita harus berlutut semua didepan pintu" Fani sudah tau jika itu yang harus dilakukan jika ayahnya mengamuk
"kami bertiga salah,tidak bisa saling menjaga,saling melindungi,maafkan kami ayah bunda" akhirnya mereka berlutut didepan pintu kamar Rizal dan Elisa
Rizal menangis mengingat kata kata hukumannya masih diingat oleh mereka,sudah lama Rizal tidak mendengar kan dari 3 anaknya.
"lihat mereka masih mengingat itu yah,mereka masih saling menolong saudaranya yang kena hukumannya" Elisa senang anak anaknya masih mau saling membantu untuk minta maaf.
sementara Bobi salut melihat 2 sahabat nya itu sangat menghargai Elisa dan Rizal beda dengan dia yang orang tuanya sudah bercerai dan tidak mau tau lagi dengan nya.
"makanya lo jangan sok gitu lagi,mikir dulu Lio, sekarang jam 11 malam kita bisa tidur di sini sampai ayah maafkan kita semua" Jovan ingat terakhir yang dihukum Lio juga karena menghancurkan sepeda motor yang menabrak Fani.
"tapi waktu Fani ketabrak motor,mas Lio yang tangkap pelaku nya kan mas Jovan, sampai sepeda motor nya habis berserakan" Fani tertawa jika mengingat masa kecilnya dengan 2 mas kesayangan nya
"iya sampai ayah kunci mas di gudang karena selalu emosi, trus kalian berdua masuk juga dan kita kunci pintunya dari dalam,sampai ayah dobrak pintunya dan kita ketiduran" mereka tertawa tidak ingat Rizal sedang marah
Rizal dan Elisa pun ikut tersenyum mengingat kenakalan 3 anaknya
"kita pernah bohongi guru bahasa Inggris kita,bilang kita ke Bandung ada acara disana, padahal kita bongkar celengan buat beli kue ulangtahun ayah,trus kita simpan di dapur,kita asyik berenang sampai kelaparan,kita tiup lilin buat ayah dan kita habiskan kuenya tunggu ayah pulang kelamaan" cerita masa kecil yang indah ya
Fani, Jovan dan Lio tertawa mengingat itu lagi, Rizal juga ketawa dari kamar,dia akhirnya keluar dan mereka mengulang lagi kata kata hukuman mereka.
"berdiri kalian bertiga" Rizal memeluk 3 anaknya di ikuti Elisa dibelakang
"maafkan Lio yah, Lio keterlaluan" Lio senang Rizal sudah mau menemui nya
"anak anak nakal kalian ya,dari kecil udah ada aja tingkah kalian, ayah senang kalian menyayangi 1 sama lain,kalian harta ayah nak" Rizal dan Elisa memeluk anak anak mereka
Bobi menangis melihat kasih sayang Elisa dan Rizal, bagaimana dia bisa jadi korban dari kedua orangtuanya,dia sedih melihat nasibnya.
Rizal melihat Bobi menangis di dekat tangga,dia menghampiri nya dan memeluk Bobi
"kamu juga anak ayah nak,meskipun dulu kenakalan kamu mengalahkan Lio" Rizal kasihan melihat Bobi yang harus menjadi anak broken home
"sini turun nak" Elisa menantikan Bobi dibawah dan membuka lebar tangannya untuk memeluk Bobi
"bunda" Bobi turun dan berlari menuju Elisa
"kamu mau anggap bunda sebagai orang tua mu kan" Elisa benar benar bersyukur 2 anaknya tidak mengalami kejadian seperti Lio dan Bobi
__ADS_1
"mau bunda" Bobi menangis merasakan kehangatan seorang ibu