
Vivian mendengar teriakan Jovan dari bawah,dia menghampiri Jovan ke kamar atas penasaran dengan Jovan.
"kamu kenapa nak" Vivian takut saat Jovan memanggil nama Lio
"nek,ini semua siapa yang photo" Jovan tidak pernah tau semua photo itu diambil ny kapan karena dia tidak suka berphoto
"ini semua kakek yang photo nak,katanya kamu suka ikuti gadis kecil anak buruh di kebun,jadi kakek diam diam ambil photo kalian" Riko memang sengaja memphoto segala kegiatan Jovan dan Lio untuk kenang kenangan cucunya saat besar nanti
"ini bukannya mirip sama buk Desi nek" Jovan tidak percaya melihat semua photo nya dengan Lio
"iya itu buk Desi,yang digendong itu kayak nya Tika deh umur 1 tahun gitu" Vivian mencoba mengingat kenangan yang ada di album.
"jadi,ini siapa yang sembunyi dibelakang pak Handoko nek" Jovan benar benar ingin meledak rasanya saat masa kecil dengan gadis impiannya mulai terbuka lagi.
"iya ini Intan,yang sering kamu kasih kue,es krim, coklat dulu, Intan takut sama kamu karena selalu gangguin dia kalau bantu bapak ibu nya panen" Vivian tertawa mengingatnya
"jadi yang dulu Jovan isengin si Intan nek" Jovan tidak percaya
"iya,kamu ingat nggak,kalau Intan masih TK saat itu kamu kelas 4 sd, Lio kelas 6 sd" Vivian mengingatkan Jovan.
"memang jodoh nggak akan kemana ya nek,ini Intan yang dulu suka Jovan coel coel pipinya kan nek,ya ampun udah dari kecil cantik nya" Jovan masih sangat tidak percaya
"jodoh kamu didepan mata, berusaha lah nak jadikan dia istri mu" Vivian meyakinkan Jovan lagi
"nenek salah orang kali nek, Jovan takut udah ke pd'an,eh malah salah orang" Jovan masih sangat ragu
"photo kita yang ramai ramai ini terpajang didinding rumah Handoko,kamu bisa lihat nak,tadi pagi sebelum si Lio ngamuk nenek bujuk Intan untuk menikah dengan mu,nenek liat photo ini masih terpajang bersih dirumah Handoko" Vivian yakin karena memang dia yang memberikan photo itu.
"Intan Viona,kamu memang sudah ditakdirkan untuk ku,lihat nek aku sudah lupa semua,tadi Lio yang bahas masa kecil kami, Jovan jadi mau lihat album photo kami" Jovan menitikkan air matanya mengingat kaki Lio yang patah.
"kamu jangan diamin dia ya nak,kamu tau kan keberanian dia dulu selamat kan kakek dan perusahaan kita" Vivian ingin Jovan memaafkan Lio.
"bagaimana Jovan bisa lupa nek, Jovan masih kesal,biar aja dulu nek" Jovan masih mendiamkan Lio yang bertindak bodoh
"nenek ke bawah dulu ya, Bobi kemana ya, nggak kelihatan dari tadi" Vivian mencari Bobi
__ADS_1
"dia pergi jalan jalan sama mang Ujang dan adik adiknya Lio nek" Jovan tidak mau ikut karena kesal sama Intan yang tadi berlari memeluk Lio.
"ya sudah nenek ke bawah dulu ya,nenek mau duduk di depan teras dulu" Vivian meninggalkan Jovan dan duduk di teras rumahnya.
Jovan ingin merencanakan ulang tahun Intan dengan Handoko dan Desi,apakah mau dirayakan di hotel atau gedung.
sementara Intan, Bobi, Tomi, Tika dan Ujang baru pulang,mereka berjalan jalan puas mengelilingi objek wisata Bandung, Handoko, Desi dan Vivian sedang berkumpul di teras saat mereka datang.
"ele ele kamu teh Ujang perasaan anak muda nya,jalan jalan teh sama mereka" kata Handoko tertawa melihat Ujang yang ikut berjalan jalan bersama anak anaknya
"sekali kali atuh Doko,saya teh tadi jadi tukang photography buat mereka" Ujang senang melihat kebahagiaan anak anak Handoko dan Bobi
"mamang teh hapal pak tempat rekreasi disini, Tomi baru sekali atuh pak ketempat kayak tadi" Tomi memegang pundak mang Ujang
"iya atuh Tom,kamu kan nggak pernah kesana,makanya kamu baru tau tempat itu,dari ibu masih kecil udah ada atuh tempat kayak gitu" Desi memeluk Tika dan Intan anak gadis kesayangan nya.
"Kalian bertiga memang anak anak baik,tidak suka keliaran kesana sini tempat rekreasi saja kalian baru tau,saya salut sama kamu Desi mendidik anak anak ini dengan benar" Vivian senang sekali keluarga Handoko selalu bersama nya.
"nek si Lio mana,di balik kan lagi kerumah sakit ya ma Jovan si singa galak" Bobi tidak menemukan Lio di teras karena memang Lio sedang tidur.
Jovan yang melihat Intan dari balkon kamarnya tertawa melihat Intan yang kebingungan mencarinya.
"tuh kan pasti kamu mencari Aa mu ini kan Intan,gadis pemalu ku,aduh gua nikahkan aja kali ya hari ini, nggak kuat gua jauh jauh dari ni gadis" Jovan tersenyum tidak karuan mengingat masa kecilnya gangguin Intan.
"nek,nenek,nenek" teriak Lio keras yang berada tepat di belakang Jovan
"lo kenapa Lio, kepala lo sakit ya,apa yang sakit" teriak Jovan pada Lio
"aduh kenapa lagi mereka berdua" Vivian sudah capek naik turun tangga dia menunggu Ujang, Handoko, Bobi dan Tomi saja yang sudah berlari keatas.
"Napa woy" kata Bobi cemas.
"apa yang sakit nak,bilang sama bapak" Handoko memegang kepala Lio
"itu si Jovan ada temannya pak,dari tadi ketawa sendiri di balkon sana, Lio takut dia ada teman nya" Lio niat bercanda malah semua naik ke atas
__ADS_1
"Lio ayo kerumah sakit lo ngigau Lio,ini karena benturan keras tadi pasti, ngapain sih lo pakai pulang dari rumah sakit" Jovan benar-benar mencemaskan Lio, dia mendudukkan Lio di sofa dalam kamar itu.
Bobi, Ujang,dan Tomi berdiri di balkon meyakinkan Lio tidak ada apa apa,tapi mereka melihat Intan yang sedang bingung tidak tau apa yang terjadi.
"bercanda lo kelewatan ferguso" Bobi melempar bantal ke kepala Lio dan turun dengan kesal
"emang ada apa sih Tom" tanya Handoko yang melihat Tomi dan Ujang tertawa
"mas Jovan teh lihatin Intan dari sini pak" kata Tomi dengan polosnya
"aduh langsung saja atuh mas" Ujang tertawa dan turun bersama Tomi
"Lio,kamu jangan usil gitu,ibu Vivian cemas dibawah" kata Handoko memperingati Lio
"maaf pak, habisnya Lio kira Jovan lagi bicara sama penunggu rumah ini makanya tertawa sendiri" Lio menyesal dia hanya ingin menggoda Jovan malah heboh.
"ya sudah bapak turun lagi, jangan yang aneh-aneh kamu teh" kata Handoko, tinggallah Jovan dan Lio dalam kamar.
"lo buat gua malu,apa'an sih lo" Jovan kesal sekali karena ulah Lio,dia mengepalkan tangannya ingin menonjok wajah Lio
"ampun bang, ampun,ya gua mana tau lo liat adek gua,kan nggak kelihatan" Lio mencoba santai
HP Lio berdering mendapat telfon dari Dini bendahara sekolah SMK berjaya,yang memberitahu kalau hari Senin ulang tahun yayasan milik mereka bertiga.
"Senin ulangtahun yayasan,acaranya gimana seperti biasa aja" tanya Lio pada Jovan
"gua lagi mikirin ulang tahun Intan,sekalian gua mau lamar dia, gedung apa hotel ya" tanya Jovan pada Lio
"jangan buru-buru main lamar aja lo, pastikan dulu dia udah ok nggak ama lo,ntar ditolak lo ngamuk lagi" Lio memberikan ide pada Jovan
"gua sayang banget ama dia,aduh Intan geregetan deh jadinya" Jovan membayangkan masa kecilnya dengan Intan.
Intan naik ke atas ingin memberikan batagor untuk Lio,tidang sengaja dia mendengar semua dari luar kamar,dia pun tersenyum malu dan turun dengan wajah berbunga-bunga.
"Aa, Intan mau kok sama Aa Jovan" kata Intan saat menuruni tangga
__ADS_1