
perawat datang membawa makanan untuk Intan,dan Jovan pun langsung mengambil makanan yang terletak di atas lemari
"kayak gini lo tadi kronologi nya" Jovan memberikan sayur dan daging ke nasi Intan.
"gimana coba Jo,biar gua lihat, kenapa adek gua sampai ngamuk tadi" Bobi mendekati Jovan dan Intan.
Intan yang sangat menyesal hanya bisa tertunduk, tapi Jovan selalu bisa tahan dirinya agar tidak mengamuk,jika Intan cemburu berlebihan
"buka mulutnya sayang" Jovan mengarahkan sendok nya ke mulutnya dan memberikan nya pada Intan.
"maaf Aa" Intan hanya bisa berkata-kata sepeti itu
"kalau nggak makan jangan dimaafkan Aa" Elisa menyahuti perkataan Intan, karena dia tau Intan susah makan
"buka mulutnya" baru Aa peluk
Intan membuka mulutnya dan menerima suapan suaminya dengan lahapnya Intan makan.
Meyza bertemu dengan Lio di pintu masuk rumah sakit,Boston memesan banyak seafood untuk Intan dan Meyza yang memberinya
"buk polwan" sapa Lio dengan senyum nya
"ya pak Lio,apa kabar" Meyza berhenti dan menyalam tangan Lio.
"baik buk, siapa yang sakit buk,ada.keluarga ya di sini" Lio tidak tau kalau Meyza mau menjenguk Intan
"ada pak,sekalian bawakan makanan kesukaannya ni" Meyza mengangkat tentengannya dan menunjukkan nya pada Lio
"kamar berapa buk,saya mau juga seafood nya dong,saya gabung sana keluarga ibu ya" Lio sangat suka udang
"boleh pak,mari ikuti saya pak" Meyza berjalan di depan dan Lio belakang sampai mereka di depan kamar Intan.
"permisi boleh saya masuk" Meyza tersenyum pada semua yang ada di ruangan Intan dan semuanya melihat Meyza.
"kak Meyza,sini kak masuk" Intan tersenyum senang melihat Meyza
"adek kakak yang cantik nya kayak boneka" Meyza berlari memeluk Intan
"bun, Lio bawa calon menantu bunda,polwan bun" Lio berniat menggoda Meyza
"maaf pak Lio, maksud nya siapa ya" Meyza melepas pelukannya
"ini bunda aku lagi cari menantu,sini bun kenalan dulu sama calon menantunya" Lio menarik tangan Elisa dan Elisa tersenyum pada Meyza
"maaf buk belum sempat kenalan" Meyza menyalam Elisa dan Rizal
"cantik sekali ya,2 menantu bunda cantik banget,gimana dong" Elisa memeluk Meyza dan Meyza tersenyum
Lio memainkan matanya pada Meyza, merasa dapat lampu hijau
"bagus ya kamu diam diam langsung dapat yang langsung kompak ama adek kamu" Rizal tertawa senang dan menepuk bahu Lio.
__ADS_1
"pak,buk maaf kalian semua......" Meyza terhenti bicara
"iya ni calon Lio bunda,ayah, lihat nie datang bawa seafood banyak banget untuk kita" Lio menarik bahu Meyza ke bahunya
"hahahhahah langsung jadi ya" Bobi tertawa senang
Meyza tidak bisa menjawab lagi tingkah usil Lio, dia mendekat ke telinga Lio dan menaruh tangannya di pinggang Lio
"udah pernah kena tembak mas" Meyza berbisik pelan dan tersenyum pada mereka semua
"Meyza bilang apa nak" tanya Elisa
"kapan mau di lamar mas" Lio tersenyum pada Meyza
Meyza semakin malu dengan tingkah Lio yang berhasil membuatnya nya terdiam, Elisa menarik tangan Meyza dan mereka berkumpul di tempat tidur Intan
"udah jangan kamu dengar di ya Meyza,dia emang nakal" Elisa mencoba berbicara dengan Meyza yang masih terdiam menatap Lio
"iya buk,ini saya ada bawa seafood" Meyza jadi gugup dengan Elisa
Lio mengangkat meja kecil untuk makan Intan dan menuangkan seafood nya dengan peralatan yang sudah lengkap dari restonya
"ini kesukaan bunda" Elisa membersihkan tangannya dan menyuapi Intan,dan Meyza tersenyum melihat kasih sayang Elisa pada Intan
"buka mulutnya sayang" Lio yang sudah membersihkan tangannya menaikkan lengan bajunya agar tidak kotor, Meyza terpana sekali melihat ketampanan Lio dengan kemeja hijau tosca yang 2 kancing bajunya terbuka
"awwwww" Meyza membuka mulutnya dan menggigit tangan Lio
"kenapa kamu" Elisa terkejut saat Lio berteriak
Jovan duduk terdiam di sofa,dia sudah tau Miko dalang semuanya dan Boston yang menjaga Intan
"Bob,gua nggak mungkin habisi bokap lo, bagaimana pun jahat nya dia,dia tetap bokap lo" kata Jovan dalam hatinya yang melihat Bobi tertawa senang bersama bundanya
hp Jovan berbunyi dan mendapat telfon dari Natasya
"Napa" Jovan menjawab jutek
"Devina kritis" Natasya menangis,dan Jovan memutuskan sambungan telfon nya
Jovan memandang Intan yang sedang tertawa-tawa bersama Lio dan Bobi
"Bunda, Jovan rindu sini bentar" Jovan memanggil Elisa dan Elisa menghampiri Jovan, Jovan menarik tangan Elisa keluar kamar dan membawanya cepat cepat ke parkiran.
"kenapa Jo" Elisa mengikuti putra nya yang tangannya dingin
"masuk bun" Jovan membukakan pintu mobilnya dan Elisa masuk
"gimana kondisi Devina" Jovan menelfon Natasya lagi
"berhenti kamu Jovan" Elisa marah besar pada Jovan sedangkan Jovan memberikan syarat agar Bunda nya mendengar
__ADS_1
"Devina kritis,gua nggak yakin dia akan hidup,gua nggak bisa selamatkan Devina" Natasya menangis dan Elisa masih bingung sekali sedangkan Jovan hampir menangis
"Jovan berhenti" Elisa bicara dengan sangat tegas dan Jovan berhenti,
"balik ke tempat Intan" Elisa memerintahkan Jovan
"nggak bunda, kasihan Devina,dia yatim piatu" Jovan masih mencoba kuat
"balik Jovan" Elisa tak terima sikap Jovan
"dengar Jovan bunda" Jovan memegang tangan Elisa
"nggak,balik sekarang" Elisa menghempaskan tangan Jovan
"bunda egois" Jovan berteriak pada Elisa.
"plak" tamparan Elisa kembali mendarat di pipi Jovan
"kamu bentak bunda" Elisa tidak terima
"iya, Jovan mau bunda tolong sayangi Devina sedikit saja seperti Intan,dia sebatang kara bunda" suara Jovan bergetar
"kenapa saya harus sayangi dia" Elisa tak terima
"karena kalau nggak ada dia dulu yang larang Jovan untuk makai narko*a, mungkin sekarang keluarga kita nggak sebahagia ini,tidak ada harta kekayaan, kekuasaan" Jovan pun jujur
"kamu kenapa Jo" Elisa mau menangis tak tau sama sekali
"dengarkan Jovan bunda,saat orang tua teman Jovan datang ke sekolah,untuk menghadiri rapat sekolah dan mengambil raport Jovan iri pada mereka,karena orang tua mereka bisa meluangkan waktunya hanya 2 jam saja demi anak, tapi mereka iri sama Jovan saat Jovan punya motor besar, punya mobil dan uang tak terbatas" Jovan mulai tak bisa menahan emosinya.
"kami bekerja demi kalian" Elisa menahan air matanya dan tetap tenang
"bunda dan ayah yang harusnya datang,tapi kalian suruh supir kadang asisten rumah untuk menghadiri semuanya,bunda tau nggak Jovan bilang kalau mereka orangtuanya Jovan" Jovan masih terus menumpahkan emosinya
"jaga mulut kamu Jovan,kamu anak bunda" Elisa akhirnya menangis
"kalau anak bunda,kenapa yang datang asssistant rumah semua,emang Jovan anak pembantu" Jovan berteriak keras pada Elisa
"nak,lihat bunda sayang semua sudah berlalu,jangan di ingat lagi" Elisa memegang tangan Jovan
"berlalu bagi kalian tapi tidak bagi Devina,saat Jovan hancur kurang kasih sayang Devina yang setia temanin Jovan, sampai Jovan hampir makai narko** karena Jovan lihat teman Jovan makai barang itu orang tuanya berubah total sama dia" Jovan masih melampiaskan amarahnya
"sudah kamu mau apa,bunda akan jaga Devina tapi jangan sakiti Intan" Elisa menatap anaknya
"Devina datang bunda,dia mohon mohon jangan sampai Jovan makai itu,sampai dia sengaja menabrak tembok biar celaka dan Jovan tidak mau makai itu karena dia, harusnya Intan dewasa bunda, udah tau waktu Devina tinggal sebentar lagi,apa salahnya dia beri dukungan pada Devina,jangan cemburu yang dibesarkan" Jovan akhirnya mengatakan kekesalan hatinya
"nak,dia istri kamu sayang, kita ke rumah sakit ya, bunda akan jaga dia sayang percaya sama bunda nak" Elisa memeluk Jovan dia hancur sekali, Lio dan Bobi berhasil dia selamat kan tapi anaknya terperosok jauh kedalam jurang
"bunda tau, Devina kemarin berkorban jauh untuk Intan" Jovan menceritakan semuanya dari Miko, Boston, Farid, Govar dan Joice yang memaksa Devina menghancurkan perusahaan dan keluarganya
Elisa terdiam demi ego nya anaknya ternyata menyimpan beban psikis yang berat
__ADS_1
"kenapa yang tersakiti justru anak ku sendiri
akhirnya kemarahan Jovan keluar